Clarissa mendorong bahu prajurit tersebut, debar jantungnya tak karuan. Tangan Clarissa menggenggam erat saling bertautan, tak ada yang bisa membantunya kecuali keberuntungan hingga detik ini itulah yang Clarissa percaya.
Prajurit itu semakin mendekat membuat Clarissa terjebak tak bisa lari kemana-mana.
"Pergi kau prajurit hina! Terkutuk! Beraninya kau!" teriak Clarissa berusaha mendorong lelaki itu sayangnya tenaga yang ia miliki kalah jauh.
Entah bagaimana kekuatan yang ia miliki saat ini tak berfungsi, Clarissa tak tahu bagaimana cara mebgeluarkannya atau ada hal lain yang membuat kekuatannya tertahan? Tapi hal apa yang mampu meredam kekuatan yang ia sendiri tak bisa meredamnya.
"Apa yang kamu lakukan!" bentak Louis ketika melihat apa yang prajuritnya lakukan.
Tatapan mata Louis sangat mengerikan dengan tangan membentuk kepalan hingga menampakkan urat-urat di tangan dan lehernya. Louis merasa ada yang memantik api di dalam dirinya, melihat prajurit ini membuatnya takut tak bisa mengendalikan diri dan dengan mudah menghabisi nyawa prajurit tersebut.
"Maaf pangeran," mohon prajurit tersebut sadar Louis sangat marah.
Louis menyeringai seram, pedang Louis terangkat.
"Sejak kapan kamu berani melanggar perintah saya?" tanya Louis dengan nada rendah.
Suara Louis pelan tapi serasa menusuk di telinga menghasilkan debar mengerikan penuh ketakutan. Lelaki ini tak sembarang lelaki, ia bisa dengan mudah memusnahkan nyawa bahkan hingga tak tersisa sedikitpun dari orang yang ia benci. Ia memang cenderung diam namun jika mendapati pengkhianat berkeliaran di dekatnya hal itu membuat Louis begitu antipati.
"Maafkan saya pangeran," mohon prajurit tersebut menekuk lututnya dan menangkupkan kedua tangan.
Badan besarnya tak akan sebanding dengan satu kibasan pedang dari Louis, seharusnya dari awal ia sadar akan hal itu. Sayangnya ia terlalu bodoh dengan nafsu yang tak mampu ia redam dari kecantikan Clarissa. Siapa yang tak takjub dengan wanita secantik Clarissa, berkulit putih mata bulat kehijauan dengan rambut putih semakin menambah kecantikan parasnya.
"Pergilah sebelum saya berubah pikiran," ujar Louis berbalik menatap Clarissa.
Prajurit tersebut berdiri tegap lalu pergi meninggalkan penjara sebelum hal buruk terjadi membuat pangeran berubah pikiran dan menebas lehernya. Setelah keluar dari ruang bawah tanah barulah ia bisa mengembuskan napas lega sembari mengusap pelan dadanya merasa terbebas dari sarang buaya.
Sementara di dalam penjara terjadi keheningan di antara dua manusia yang kini saling berbalas tatap. Clarissa merasa Louis memang mengerikan namun di sisi lain ia merasa di kerajaan ini ia hanya bisa aman jika berada di dekat Louis selain itu orang-orang tampak begitu menjijikkan di mata Clarissa. Ia membenci kerajaan LOV bukan karena dendam turun temurun yang diwariskan melainkan karena ia membenci sejarah mengapa kerajaannya begitu haus kuasa dan ingin merebut semua kerajaan lain untuk memperluas wilayah hingga menimbulkan banyak pertumpahan darah. Hanya karena ingin menguasai kerajaan LOV sudah terlalu banyak darah yang tumpah, sudah terlalu banyak nyawa tak berdosa melayang dan sudah begitu banyak anak yang kehilangan orangtuanya hanya karena ambisi raja Charles.
"Ikut saya!" titah Louis menarik tangan Clarissa.
Dengan tergesa Clarissa berusaha menyeimbangkan jalannya dengan langkah pangeran yang begitu cepat seolah menyeretnya. Jika dilihat-lihat mereka begitu serasi, sayangnya sejarah kerajaan tak akan menyatukan keserasian itu.
"Mau apa kamu!" bentak Clarissa berusaha menolak.
Bukannya terbebas dari lelaki bejad tadi kalau seperti ini ia malah lebih terjebak lagi dengan pangeran dingin yang tak bisa ia tebak ke arah mana pikirannya.
Satu demi satu anak tangga mereka lewati hingga Clarissa bisa melihat terangnya mentari yang sudah seminggu ini tak ia lihat di ruang bawah tanah. Clarissa merasa akan ada hal buruk yang menimpanya hari ini, ah bukannya sudah setiap hari hal buruk jadi temannya. Seharusnya ia tak begitu terkejut ketika diperlakukan seperti ini oleh Louis bukankah ia sekarang berada di posisi musuh di tengah orang-orang yang bisa kapan saja melenyapkannya.
Bagaimana Clarissa bisa melawan mereka ketika kekuatan es yang ia miliki untuk saat ini tak bisa ia keluarkan.
"Kamu akan menjadi pelayan kerajaan LOV," tegas Louis tak terbantahkan.
"Tidak akan pernah!" tolak Clarissa mentah-mentah.
Louis menyeringai mengerikan lalu menghentikan langkahnya, sangat menarik dengan penolakan Clarissa.
"Sayangnya ini perintah bukan pilihan," sambung Louis.
Clarissa dilempar menuju dapur kerajaan, ia akan dipekerjakan sebagai pelayan kerajaan dan hal ini sudah Louis pikirkan secara matang jika hanya berada di penjara mungkin tak akan sampai kabar tersebut kepada keluarga kerajaan. Louis akan menjadikan Clarissa sebagai pancingan, mungkin ia bisa melakukan hal-hal yang mampu memancing keluarga kerajaan Iceland untuk menolong Clarissa.
Harga diri Clarissa terluka ketika diperlakukan secara tak layak oleh Louis, ia tak tahu akan sampai kapan penderitaan ini mengikatnya.
"Kamu tak akan bisa memerintahku!"
"Kita lihat saja," tantang Louis kemudian meninggalkan dapur dengan beberapa dayang yang siap memberikan pengarahan pada Clarissa.
Tatapan tak bersahabat dari mereka semua membuat Clarissa semakin merasa terpojokkan, Clarissa hendak berbalik pergi namun sayangnya pintu dapur sudah dikunci oleh kepala pelayan yang berwajah tegang dan cukup mengerikan.
"Bersihkan semua ini!" titahnya sembari menunjuk tumpukan piring kotor yang sudah tinggi tersebut ditambah alat dapur lainnya yang Clarissa rasa sengaja dibuat kotor untuk menyulitkannya.
"Tidak akan pernah!" tolak Clarissa.
Pelayan tersebut mengeluarkan sebuah pedang dan mengarahkan pada Clarissa. Melihat hal tersebut Clarissa baru sadar yang di hadapannya bukan pelayan sembarangan, dengan terpaksa ia akhirnya menuruti perintah pelayan tersebut daripada ia mati konyol karena tak ingin mencuci piring.
Ketika Clarissa tersika batin di kerajaan LOV, keluarga kerajaan Iceland tengah memikirkan strategi serangan balik untuk kembali merebut kerajaan. Robert yang berada di penjara yang berbeda dengan Clarissa tak tahu bagaimana kabar sang putri apakah masih hidup atau tidak. Robert menunggu celah melihat penjagaan sedang legang ia mulai melakukan aksinya dengan menggesekan batu runcing pada penjara dan berusaha keluar dari sana. Sudah seminggu ini ia melakukan hal tersebut setiap ada kesempatan dan hari ini Robert merasa kesempatan bebas itu sudah semakin terbuka lebar ketika satu besi berhasil ia bengkokkan, tinggal sedikit lagi ia akan mampu keluar melalui celah penjara.
Dengan usaha kerasnya hingga menghasilkan bulir keringat dan mampu membasahkan tubuhnya ia berhasil keluar dari sana. Perlahan Robert mengendap-endap agar tak ketahuan, dua orang penjaga tengah duduk bersantai di depan pintu utama penjara. Sejenak Robert berpikir bagaimana cara melarikan diri tanpa harus mengeluarkan tenaga besar karena di depan sana ia masih harus menembus penjagaan berlapis jangan sampai perjuangannya sia-sia hanya karena strategi yang kurang matang.
Melihat sedikit peluang hadir di depan mata, Robert melemparkan batu kecil ke arah berlawanan membuat dua penjaga tersebut langsung siaga dan memeriksa tempat tersebut. Ternyata tak sesulit itu membodohi penjaga, kini Robert berhasil keluar namun lagi-lagi langkahnya terhenti karena ada penjaga lain di dekat pintu utama kerajaan dan bukan hanya satu dua orang melainkan sekumpulan orang berdiri tegak siaga menjaga keamanan.
Tak ada pilihan lain kecuali melawan mereka, Robert mengambil sepotong balok yang tampaknya disiapkan untuk kayu bakar kerajaan. Ketika penjaga lengah, Robert berlari dan memukul keras kepala bagian belakang penjaga hingga langsung tumbang lalu ia beralih pada penjaga lain dan mengayunkan balok tersebut. Satu, dua, tiga hingga semua tumbang tak bersisa.
Setelah menumbangkan penjaga kerajaan LOV Robert berhasil membebaskan diri tapi sayangnya ia tak bisa membawa putri Clarissa bersamanya. Terdengar desas-desus dari rakyat kerajaan LOV bahwa putri dari kerajaan Iceland telah menjadi b***k kerajaan.
"Katanya putri kerajaan Iceland itu sangat cantik, padahal katanya keturunan asli kerajaan Iceland sudah tak tersisa lagi setelah pembataian keluarga kerajaan pada masa Raja Antonio."
Seorang wanita paruh baya duduk sembari menjajakan dagangannya dan seorang pembeli ikut menimpali perkataannya.
"Jika saja tak ada permusuhan seperti ini dan kerajaan Iceland tetap menjadi saudara kerjaan LOV pasti ketakutan dan kecemasan yang kita rasakan setiap terdengar kata perang tak akan pernah kita rasakan."
Robert tak tahu bagaimana sejarah kerajaan LOV dan kerajaan Iceland sebelum abad ini. Ia hanya tahu kerajaan LOV sudah menjadi musuh bebuyutan bagi kerajaan Iceland dan tak ada kata damai di antara keduanya. Semakin ia berjalan semakin sayup terdengar suara yang tengah bercerita bagaimana makmurnya dua kerajaan ini sewaktu masih bersahabat.
Clarissa mendengar bahwa tahanan bernama Robert telah berhasil meloloskan diri dari penjagaan ketat kerajaan LOV, Clarissa sangat berharap Robert akan membantu dan membebaskannya dari tempat terkutuk ini. Ia sudah lelah menjadi pesuruh sedangkan sejak kecil kebutuhannya saja selalu disiapkan bagaimana bisa ia melakukan pekerjaan berat yang semakin lama semakin tak manusiawi ini.
Pangeran Louis. Nama itu tak akan pernah Clarissa lupakan, nama terkutuk yang menjadikannya seperti seorang b***k dengan tak berperasaan membuat Clarissa bekerja tak kenal waktu seperti ini.
"Cepat!" desak wanita mengerikan itu sembari memukulkan cambuk ke tanah untuk menggertak Clarissa.
Tangan Clarissa sudah panas karena mencuci pakaian segunung di hadapannya bahkan kuku Clarissa yang dulu terawat cantik kini patah dan terlihat begitu rusak.
"Apa kau tak memiliki mata?" balas Clarissa kesal.
Ia bukan hewan yang bisa dipacu tanpa memikirkan kata lelah, ia bukan peliharaan yang wajib mengikuti arahan majikannya. Ia adalah seorang putri terhormat dan Clarissa tak sudi berlaku seperti ini dalam hati ia berjanji akan membalas mereka semua yang telah membuatnya kehilangan harga diri seperti ini.
"Berani melawan?"
Cambukan keras mengenai punggung Clarissa, ia yakin dengan pukulan sekeras itu pasti akan menimbulkan memar atau paling tidak membiru di punggungnya.
Ia menegakkan kepala angkuh, pelayan itu samasekali tak berhak mencambuknya. Clarissa mengeram marah, dagunya terangkat dengan mata membulat sempurna. Tangan Clarissa terkepal kuat lalu tanpa sadar air yang berada di hadapannya mulai tergerak naik dan tersiram pada pelayan itu tapi yang lebih parah lagi air itu bukan hanya mengguyur pelayan yang mencambuknya melainkan berubah menjadi es yang mengunci pelayan itu di dalamnya.
Clarissa menutup mulutnya yang terbuka takjub, akhirnya kekuatan Clarissa kembali. Ia tak tahu bagaimana bisa ia melakukan semua ini tapi Clarissa sangat bersyukur sudah dibuka jalan kebebasan baginya.
Clarissa berlari menuju pintu sayangnya pintu terkunci tapi dengan sekali semprot dengan kekuatan es pintu baja tersebut langsung tumbang. Clarissa mengangkat tangan menatap takjub dengan wajah merona, rasanya kehidupan sudah kembali menyapa. Gelap yang menjebaknya dalam kebutaan pencarian jalan keluar kini sudan menemukan lentera yang akan menuntunnya untuk menghirup udara bebas.
Langkah tergesa itu melewati koridor panjang hingga di ujung sana terlihat punggung yang bisa Clarissa tebak adalah punggung pangeran Louis. Dendam kesumat di dalam dirinya membuat Clarissa melangkah mendekat ke sana bukan malah memilih kabur dan bebas. Clarissa berdiri tepat dua meter dari tubuh Louis, tangannya mulai terayun mengayunkan air yang berada di kolam tak jauh dari tempat Louis berdiri.
"Mati kau!" teriaknya.
Seandainya Clarissa lebih bisa mengontrol diri mungkin ia tak akan masuk dalam jaring penyerap kekuatan es yang kini melingkupi tubuhnya. Bodohnya Clarissa tidak memilih langsung pergi saja tapi malah mendekat pada Louis yang jelas-jelas jauh lebih cerdas dan memiliki strategi mencengankan. Seharusnya Clarissa sadar Louis bukan tandingannya.
"Apa kau kira kau secerdas itu, PUTRI?" sinis Louis menekan kata putri di sana.
Clarissa sudah tak bisa berkutik, tubuhnya kaku tak mampu bergerak seperti tertarik hingga terikat pada jaring yang mengukuhnya. Lidah terasa kelu, bukan hanya itu tubuh Clarissa juga sudah seperti mati rasa tak mampu berbuat apapun. Mungkin satu-satunya oragan yang masih berfungsi hanya mata hijaunya yang melirik kesana-kemari berusaha mencari celah. Sayangnya, Clarissa gagal.
"Mungkin kau harus belajar lebih dalam bagaimana caranya mengatur strategi," bisik Louis menempelkan mulutnya di telinga Clarissa.
Bisa Clarissa rasakan napas hangat Louis menerpa wajahnya, jantung Clarissa serasa akan terbang dan kupu-kupu di perutnya mulai menunjukkan eksistensinya. Clarissa tak tahu perasaan seperti apa yang sudah mengganggunya, mungkin kebencian yang begitu besar membuat Clarissa kesulitan mengontrol diri. Jika saja di dunia ini tak ada kata "Andai" mungkin akan lebih baik. Penyesalan memang menjadi bagian terburuk dari pengalaman tapi bagi Clarissa ia tak akan pernah menyesal sudah berusaha membunuh Louis. Mungkin belum untuk hari ini, ia masih memiliki seribu satu kesempatan di depan sana untuk membalaskan dendamnya.
"Prajurit bawa dia ke ruangan yang telah saya siapkan," titah Louis.
Setelah mendengar perintah tersebut, dua orang penjaga langsung membawa Clarissa ke tempat yang telah Louis siapkan. Di tempat ini kekuatan es yang Clarissa miliki tak akan berfungsi, hal tersebut dikarenakan ruangan tersebut sudah dilengkapi penangkal kekuatan es yang sudah dibentuk berpuluh-puluh tahun yang lalu di kerajaan LOV. Louis memang berencana memenjarakan Clarissa di sana karena baginya tempat itu adalah tempat satu-satunya yang aman bagi Clarissa.
"Tergesa-gesa hanya akan membuatmu kalah."
"Kecurangan adalah cara licik yang dilakukan seorang pecundang!" hina Clarissa memaksa mulutnya mengeluarkan suara dalam kesulitan.
Louis menyeringai, mungkin Clarissa menganggap cara Louis adalah cara pecundang tapi sebenarnya cara ini adalah cara cerdas yang tak semua orang kepikiran melakukannya.
"Berhenti keras kepala dan menyerahlah, sudah tak ada harapan bagimu."