Lola dan Angkasa semakin semangat menyiapkan pernikahan mereka. Tinggal 2 minggu
lagi pernikahan mereka akan berlangsung.
Lola dan Angkasa benar-benar mempersiapkan semuanya sendiri, ya walaupun masih
dibantu dengan weeding organizer. Tapi mereka lah yang memilih segala warna, decor, baju,
dan semuanya untuk pernikahan mereka berdua. Banyak sekali ketidak cocokan yang terjadi
akhir-akhir ini sebelum pernikahan mereka. Maklumlah untuk orang yang akan menikah. Hal
ini sangat sering terjadi. Namun untungnya Lola dan Angkasa masih bisa untuk
menangulanginya.
Saat ini mereka sedang mencoba baju mereka. Mereka memilih baju pengantin dari butik
ternama. Saat Angkasa dan Lola sama-sama mencobanya semuanya yang melihat menjadi
terpana dengan kecantikan dan ketampanan Lola dan Angkasa yang malam itu datang ke tempat fitting baju bersama-sama.
"Yang ini gimana?" tanya Lola sambil memutar setengah badan di depan cermin.
Angkasa menatap gaun itu cukup lama.
"Bagus."
"Cuma bagus?"
"Bagus banget."
"Lo bilang gitu juga ke gaun yang tadi."
"Ya soalnya yang tadi juga bagus banget."
Lola menoleh dengan tatapan datar.
"Angkasa."
"Apa?"
"Ini gaun kedelapan."
"Terus?"
"Lo bilang bagus banget delapan kali."
Angkasa menaruh gelas air mineralnya. "Ya emang delapan-delapannya bagus banget, La. Gue harus gimana? Gue bohong biar keliatan punya selera?"
Mbak dari butik yang berdiri di sudut ruangan menutup mulutnya menahan tawa.
Lola melempar bantal kecil dari sofa ke arah calon suaminya.
***
Ketidakcocokan mereka minggu itu ada tiga.
Yang pertama soal warna. Lola mau nuansa putih gading, Angkasa mau biru muda karena katanya "biar seger". Perdebatan itu berlangsung dua hari dan berakhir dengan kompromi yang membuat keduanya sama-sama tidak puas.
Yang kedua soal jumlah undangan. Angkasa punya keluarga besar yang jumlahnya tidak masuk akal, dan setiap kali Lola mencoret satu nama, ibunya Angkasa menambahkan dua.
Yang ketiga—dan ini yang paling lama—soal siapa yang akan mengantar Lola ke pelaminan.
***
"La."
Lola tidak menoleh dari daftar undangan di pangkuannya.
"La."
"Hm."
"Kita harus ngomongin itu."
"Ngomongin apa?"
"Lo tahu apa."
Lola meletakkan pulpennya.
Mereka sedang duduk di ruang tengah apartemen Lola, dikelilingi sampel kain, contoh undangan, dan tiga cangkir kopi yang sudah dingin.
"Gue jalan sendiri," ucap Lola.
"La—"
"Boleh kok. Gue udah tanya ke penghulu, nggak ada aturan yang ngelarang."
"Bukan itu masalahnya."
"Terus apa?"
Angkasa menghela napas dan bergeser mendekat.
"Masalahnya lo belum nelepon mereka sama sekali."
Lola menatap daftar di pangkuannya.
Nama-nama di kertas itu ada seratus dua puluh tiga. Tidak satu pun bermarga Wijaya kecuali dirinya sendiri.
"Gue udah nelepon Bang Leon," ucapnya.
"Iya, Bang Leon. Terus?"
"Terus dia dateng. Sama istri sama anaknya."
"La."
"Angkasa, gue nggak mau bahas ini."
"Kita harus."
"KENAPA HARUS?"
Suaranya keluar lebih keras dari yang ia mau, dan ruangan itu langsung sunyi.
Angkasa tidak mundur. Ia juga tidak membalas dengan suara tinggi.
Ia hanya duduk di sana, menunggu.
"Maaf," bisik Lola.
"Nggak apa-apa."
"Gue nggak bermaksud—"
"Gue tahu."
Lola menutup wajahnya dengan kedua tangan.
"Gue takut," ucapnya akhirnya. "Kalau gue telepon terus mereka nggak dateng, gue bakal hancur di hari pernikahan gue sendiri."
Angkasa mengulurkan tangan dan menarik tangan Lola turun dari wajahnya.
"Kalau lo nggak telepon terus mereka nggak dateng," ucapnya pelan, "lo bakal mikirin itu seumur hidup, La. Dua-duanya sakit. Bedanya yang satu masih ada kemungkinan baiknya."
Lola menatap calon suaminya.
"Kalau mereka nolak?"
"Ya berarti jawabannya udah jelas, dan lo bisa berhenti nunggu."
"Kalau mereka dateng terus bikin ribut?"
"Gue yang urus."
"Kalau—"
"La." Angkasa menggenggam kedua tangannya. "Apa pun yang terjadi, lo tetep nikah hari itu. Sama gue. Itu nggak berubah."
Lola menunduk.
Cukup lama.
"Besok," bisiknya.
"Besok apa?"
"Besok gue telepon."
"Mau gue temenin?"
"…mau."
***
Teleponnya terjadi besok sore, di balkon apartemen, dengan Angkasa duduk di lantai bersandar ke pintu kaca sambil memegang pergelangan kaki Lola.
Nada sambung berbunyi lama sekali.
Lalu diangkat.
"Halo?"
Suara ibunya.
Delapan tahun.
Delapan tahun Lola tidak mendengar suara itu, dan ternyata ia masih hafal setiap tekanannya.
"Halo?" Suara itu terdengar lagi. "Siapa ini?"
Tangan Lola gemetar hebat. Angkasa mengeratkan genggamannya di pergelangan kakinya.
"Ma."
Hening.
Hening yang begitu panjang sampai Lola sempat mengira sambungannya terputus.
Lalu terdengar sesuatu yang mirip napas tertahan.
"Lola?"
"Iya."
"Lola... "
"Ma, Lola mau ngomong sebentar aja."
"Kamu—" Suara di seberang pecah. "Kamu di mana, Nak?"
Dan mendengar dua kata terakhir itu, Lola yang sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak menangis, langsung kalah di detik pertama.