Malam perlahan datang, dengan mata kepalaku sendiri aku melihat padang rumput tinggi yang tadi membuat bingung kini perlahan menghilang menjadi lapangan luas.
Luar biasa!
Aku membangunkan yang lain untuk melihat keajaiban ini. Namun, tidak ada satupun dari Roar, Steven ataupun Frans yang terbangun dari tidur mereka.
"Oh sudah malam rupanya," ucap Steven yang baru bangun setelah beberapa saat aku membangunkannya.
Frans dan Roar juga terbangun dari tidur mereka. Melihat padang rumput tinggi telah hilang, Frans dan Steven marah padaku dengan alasan tidak memberitahu mereka saat padang rumput tinggi perlahan menghilang.
Mereka tidak tahu saja, tenagaku hampir habis untuk membangunkan mereka yang tidurnya sudah seperti mumi. Bahkan, untuk membela diri saja aku sudah tidak mampu kali ini. Jadi, kubiarkan mereka marah padaku.
"Kita tidak akan melanjutkan perjalanan ini?" ucap Roar yang terkesan meminta Frans dan Steven untuk menyudahi permasalahan padang rumput. Frans dan Steven terdiam, mereka seolah mengerti sindiran tersirat dari Roar.
"Eliza, mari kita lanjutkan perjalanan. Sebelum pagi, kita harus sudah sampai di pasar yang terletak diujung jalan ini," lanjut Roar.
Aku, Frans dan Steven kembali mengikuti Roar. Sebenarnya, kakiku masih terasa sakit, hanya saja tidak mungkin aku beristirahat lagi. Apalagi perjalanan ini berpacu dengan waktu. Jika aku dan yang lain belum keluar dari jalan ini maka terjebak adalah situasi yang akan terjadi lagi.
"Kau lelah, Eliza," tanya Roar. Pemimpin Roughus itu seakan tahu apa yang sedang aku rasakan sekarang.
"Kau bisa bacakan mantra "La Pia Rose" padaku, maka keajaiban akan terjadi padaku," lanjutnya.
Aku tidak mengerti dengan maksud Roar. Apa hubungan antara rasa lelahku dan mantra perubah wujud itu? Roar ingin aku mengubahnya jadi apa?
"La Pia Rose." Mantra itu seketika membuat seluruh tubuh Roar bercahaya. Kira-kira, apa yang akan terjadi pada pemimpin Roughus itu?
Perlahan cahaya yang menyelimuti Roar redup dan aku tidak percaya dengan hal yang kulihat. Roar berubah menjadi serigala besar yang besarnya seperti gajah. Sungguh menakjubkan. Bahkan Frans dan Steven pun seolah lupa cara menutup mulut setelah melihat perubahan yang terjadi pada Roar.
"Ayo, naiklah ke punggungku, Eliza. Kau tidak akan merasa lelah," ajak Roar seraya menurunkan tubuhnya.
"Kau yakin Roar? Bagaimana dengan Frans dan Steven?"
"Mereka juga boleh ikut naik."
Frans dan Steven menolak untuk naik ke atas punggung Roar, jadi dengan terpaksa hanya aku yang naik. Jika kakiku tidak terasa sakit, aku akan lebih memilih berjalan kaki dengan yang lain.
Saat aku telah naik ke punggung Roar dengan bantuan Steven dan Frans, tiba-tiba sekumpulan kunang-kunang terbang mengelilingiku. Pemandangan yang sangat indah. Ini kali pertama aku melihat kunang-kunang seindah mereka.
"Mereka indah sekali," puji Frans yang ikut takjub melihat para kunang-kunang itu terbang.
"Tutup mulutmu, Frans. Kunang-kunang bisa masuk ke mulutmu jika terbuka lebar seperti itu," ledek Steven.
Mendengar ledekkan Steven, Frans langsung menutup mulutnya seolah tak ingin lagi diledek oleh Steven. Aku ingin tertawa. Namun, jika aku tertawa Frans akan marah padaku dan menganggap aku bukan teman yang setia padanya.
"Sudah jangan bercanda, kita harus segera melewati padang rumput ini sebelum matahari terbit," ucap Roar mengingatkan.
Aku merasa lebih baik sekarang karena untuk sementara waktu tak perlu berjalan. Mungkin, setelah melewati padang rumput ini aku akan berjalan sendiri lagi.
Saat matahari hampir terbit, aku dan yang lain hampir bisa melewati padang rumput kebingungan ini. Semoga aku dan yang lain sampai di ujung jalan ini sebelum matahari terbit sempurna.
"Lihat, padang rumputnya mulai terlihat. Kita harus segera pergi dari sini sebelum terjebak lagi," ucap Steven yang berjalan paling belakang.
Beruntung, saat padang rumput itu kembali, aku dan yang lain telah berhasil melewati tempat ajaib itu.
Kini, sebuah pasar beserta kerumunannya menyambut kedatanganku dan yang lain. Anehnya, saat seorang pria keluar dari pasar dan melihat Roar, dia berteriak ketakutan seolah Roar sangat menakutkan.
Aku rasa wajah Roar tidak menakutkan, kenapa pria itu berlari ketakutan? Apa yang salah?
Pria yang ketakutan tadi membuat langkahku dan yang lain berhenti. Perjalanan harus terus berjalan walau apapu yang terjadi. Aku dan yang lain masuk ke pasar untuk melewatinya sekaligus mencari tahu apa yang terjadi hingga ada orang yang takut melihat Roar.
Saat masuk ke pasar, semua orang berlari ketakutan. Mereka menyebut "serigala pemangsa" telah datang. Semua orang berlari, berusaha menghindar.
"Siapa yang mereka sebut serigala pemangsa?" tanya Frans keheranan.
Aku berlari ke arah sebuah kedai makanan, pemiliknya berusaha kabur. Namun, aku mencegahnya. Aku ingin tahu sebenarnya apa yang terjadi di pasar ini.
Aku meminta Frans dan Steven untuk mencegah pemilik kedai itu pergi. Aku belum sempat bertanya. Namun, pemilik kedai yang merupakan seorang pria sudah terlihat ketakutan, bahkan kakinya gemetar.
"Kami tidak bermaksud jahat, Tuan. Kami hanya ingin bertanya, kenapa kalian menyebut temanku ini sebagai serigala pemangsa?" Aku mencoba bertanya pelan agar rasa takut pria itu sedikit hilang.
"Dia memang serigala pemangsa! Satu minggu yang lalu, istriku tewas dimangsa olehnya!" jawab pria itu dengan nada keras.
Tidak mungkin seorang pemimpin Roughus memangsa manusia. Lagi pula cerita tentang Roughus penjaga yang berubah menjadi Rougus pemangsa hanyalah rumor belaka.
"Maaf, Tuan. Dia temanku, tidak mungkin memangsa manusia. Dia adalah pelindung bukan pemangsa," ucapku membela Roar.
"Pergi! Jangan mangsa putraku! Pergi" teriak seseorang.
Aku dan Roar berlari, mencoba mencari tahu asal suara itu, rupanya teriakan itu berasal dari sebuah kedai yang letaknya tak jauh dari tempatku berbicara dengan pria pemilik kedai.
Aku melihat seekor serigala sedang menatap seorang wanita yang menggendong bayi. Serigala itu seperti hendak memangsa wanita itu dan bayinya.
"Hentikan, Eldorado!" seru Roar mencoba menghentikan serigala itu.
"Roar ...."
"Hentikan! Atau aku akan membunuhmu hari ini juga," lanjut Roar mengancam.
Roar dan serigala yang dipanggil Eldorado terlihat saling mengenal. Roar sepertinya sangat tahu kalau serigala pemangsa itu adalah Eldorado. Siapa Eldorado? Kenapa dia menjadi serigala pemangsa?
Eldorado pergi meninggalkan mangsanya dan berlari menjauh dariku dan Roar. Aku berusaha menenangkan wanita dan bayinya sedangkan Roar berlari mengikuti Eldorado.
"Nyonya, kau tidak apa-apa? Bagaimana dengan bayimu?" tanyaku memastikan keadaan mereka.
Wanita itu masih terlihat ketakutan walau Eldorado telah pergi. Ya, tentu saja rasa takutnya sulit hilang untuk saat ini. Beberapa waktu yang lalu dia dan bayinya hampir menjadi mangsa Eldorado, jadi wajar jika dia masih ketakutan. Jika Roar tidak menghentikan Eldorado, mungkin wanita ini dan bayinya sudah meninggal.
"Terima kasih, Nona karena telah menyelamatkanku dan bayiku," ucap wanita itu terbata-bata.
"Kau lihat, Tuan. Temanku itu bukan serigala pemangsa," ucap Steven yang menghampiriku bersama Frans dan Tuan pemilik kedai.
Kemana perginya Roar dan Eldorado? Kenapa aku jadi sangat penasaran? Aku takur Eldorado menyakiti Roar.
Beberapa saat kemudian, Roar kembali. Untunglah dia terlihat baik-baik saja. Dia menghampiriku dengan penuh wibawa, itu artinya dia tidak terluka karena Eldorado.
"Roar, kau tidak apa-apa, kan?" tanyaku memastikan keadaan Roar.
"Aku tidak apa-apa, Eliza."