Walau terbang, aku tetap sulit menangkap kera hitam itu. Gerakannya yang cepat membuatku kewalahan. Sekarang, apa yang harus aku lakukan untuk menagkapnya? Jika seperti ini terus, waktu akan terbuang banyak di sini.
Karena lelah, akhirnya aku turun dan beristirahat sejenak. Namun, tetap harus hati-hati agar tidak terkena serbuk perubah emosi yang dibawa kera hitam itu.
"Sulit, ya, Eliza?" tanya Frans.
Aku mengangguk, memang terasa sulit. Namun, aku tidak boleh menyerah begitu saja. Aku harus menangkap kera itu secepatnya setelah beristirahat sejenak.
"Aku bawa pisang," celetuk Frans seraya meringis.
Melihat buah pisang, ada ide yang terlintas di pikiranku. Kera tidak mungkin menolak pisang yang enak itu, kan?
"Frans, kau dapat pisang dari mana?" tanya Steven mencaritahu asal-usul buah pisang yang dibawa Frans.
"Aku sengaja menyimpan pisang yang dibawa Boma. Aku berpikir mungkin pisang ini aka membantu, mengingat yang kita hadapi adalah seekor kera," jelas Frans panjang.
Aku bersyukur, Frans memiliki ide itu. Jika tidak, aku tidak tahu harus melakukan apalagi untuk menangkap kera hitam itu.
Setelah cukup puas beristirahat. Aku mencoba memancing kera itu keluar dengan pisang yang dibawa Frans.
"Aku punya pisang, kera. Kau mau?" Aku berusaha untuk memancing kera itu.
Sesuai rencana, kera hitam itu berjalan dengan santai ke arahku. Hati-hati, itulah yang aku lakukan sekarang, takutnya kera hitam itu langsung menaburkan serbuk perubah emosi padaku.
Pelan tapi pasti, sang kera hitam meraih pisang di tanganku. Saat asyil memakan pisang itu, aku menangkapnya dengan kantung emas yang diberikan Tuan Pecth melalui Boma.
Dan, ya! Kera hitam itu berhasil di tangkap. Anehnya, di dalam kantung emas ini, sang kera tidak melakukan perlawanan.
"Eliza, buka kantungnya" perintah Roar.
Aku tidak mungkin membuka kantung ini. Bagaimana jika sang kera kabur? Aku sudah bersusah payah menangkapnya. Jadi, tak akan kubiarkan dia kabur.
"Eliza, biarkan kera itu keluar," perinta Roar lagi.
Karena Roar terus memerintahku untuk melepas kera itu, maka dengan berat hati aku melepas kera hitam itu. Aku terkejut saat membuka kant7ng emas, bukannya kera yang keluar melainkan sebuah cahaya putih yang keluar.
Perlahan cahaya putih berubah wujud menjadi seorang pria paruh baya dengan rambut yang sedikit beruban. Ia tersenyum padaku saat cahaya yang menyelimuti tubuhnya hilang.
"Terima kasih, Putri Youlexa," ucapnya.
"Aku adalah pemimpin desa ini. Namaku Tanrakul," lanjutnya.
Aku hanya diam, rasanya ingin berbicara. Namun, entah kenapa mulutku ini sulit digerakan.
"Eliza, kau tidak menyapa pemimpin desa ini?" tanya Roar yang mungkin merasa aneh karena aku diam saja.
"Anda, pemimpin desa ini. La-lalu bagaimana Anda bisa menjadi kera hi-hitam tadi?" tanyaku sedikit terbata-bata.
Pemimpin desa yang bernama Tanrakul itu duduk di sebuah batu besar yang dekat dengan gerbang masuk desa boneka hidup. Ia terus tetsenyum seolah sangat bahagia saat ini.
"Warga desa ini disihir oleh Ratu Samara menjadi boneka sedangkan aku disihir menjadi kera hitam untuk menjaga desa ini oleh Ratu samara. Ratu itu jaga memberiku serbuk perubah emosi dan memerintahkaku untuk membuat orang-orang yang lewat sini menggila," jawab Tuan Tanrakul panjang.
Tuan Tanrakul menghela napas panjang. Ia terlihat seperti orang putus asa saat membicarakan warga desanya yang disihir menjadi boneka.
"Lalu, bagaiman cara melepas sihir dari semua warga desa?" tanyaku.
"Jika mereka semua direndam denfan air giok merah, mereka akan lepas dari sihir. Hanya keturunan suci yang bisa menggambilnya, jadi kami menunggu dan terus menunggu hingga keturunan suci itu datang menyelamatkan kami semua," jawab Tuan Tanrakul panjang.
Ada yang aneh menurutku, dari mana Tuan Tanrakul tahu kalau aku adalah putri Youlexa? Aku dan dia tidak pernah bertemu dengannya sebelumnya.
"Tuan Tanrakul, dari mana Anda tahu kalau aku adalah keturunan suci Lootopia?" tanyaku penasaran.
"Kalung itu adalah kalung pelindung bagi keturunan suci dan gelang yang kau pakai adalah milik Ratu Annika yang tak lain adalah nenekmu, kan?"
Aku mengangguk membenarkan ucapan Tuan Tanrakul. Ternyata dia tahu banyak tentang keturunan suci.
Para jiwa warga desa pasti sangat menderita karena terkurung dalam boneka. Ini bukan kali pertama aku melihat secara langsung sifat jahat Ratu Samara. Namun, rasa sakit tetap ada tiap kali melihat rakyat Lootopia menderita.
"Kalau begitu, ayo cari giok merah dan selamatkan seluruh warga desa," ajak Frans penuh semangat.
Semangat Frans menambah semangat dalam diriku. Aku harus menolong rakyatku yang menderita.
"Kalian, akan bertemu merak yang cantik di sana. Dialah penjaga giok merah. Ingay ucapanku, merak itu suka dipuji,"
Tuan Tanrakul mengatakan kalau batu giok merah berada di hutan di jalanan sebelah kanan. Jadi, aku dan yang lain menyusuri jalanan sebelah kanan untuk masuk ke hutan.
Tidak perlu berjalan lebih dalam ke hutan, aku sudah melihat seekor merak yang sangat cantik, bulunya sangat indah dan di atas kepalanya ada sebuah mahkota. Merak itu berjalan mondar-mandir entah mengapa dia melakukannya.
Aku dan yang lain menghampiri merak yang terlihat sedang kebingungan itu. Merak itu terlalu sibuk mondar-mandir hingga sepertinga tidak menyadari keberadaan aku dan teman-temanku.
"Merak cantik, apa yang sedang kau lakukan?" tanya Frans yang berjalan lebih dekat dengan merak itu.
"Matamu buta, ya? Aku ini tidak cantik! Ada sesuatu yang hilang dari diriku dan hal itu membuatku tidak cantik," ucap merak itu dengan nada keras.
Seketika, Frans mundur. Dia seakan takut karena merak itu terdengar sedang marah.
"Eliza, aku tidak salah dengar, kan? Tuan Tanrakul bilang merak itu suka dipuji, kenapa malah marah saat aku menyebutnya cantik," bisik Frans padaku.
"Ada yang hilang dari mahkota yang ada di atas kepalanya." Steven menunjukan bagian yang hilang dari mahkota merak itu.
Aku mencoba mendekati sang merak. Sebuh batu giok berwarna merah ada di sebuah batu besar di dekat merak cantik itu mondar-mandir.
Aku rasa, giok merah adalah bagian yang hilang dari mahkota merak cantik. Bentuk ruang yang hilanh di mahkota itu sama dengan bentuk giok merah. Tapi, bagaiman kalau benar giok merah itu adalah milik merak cantik? Dia pasti tidak akan memberikan giok merah itu padaku.
Aku berniat untuk tidak memberitahu merak itu dan ingin mengambil giok merah itu tanpa ijin. Namun, saat aku melihat merak itu terus mondar-mandir, aku tidak tega melihatnya. Jadi, aku putuskan untuk memberitahu merak cantik itu.
"Merak cantik, aku rasa giok merah ini adalah hal yang hilang dari dirimu. Benda ini akan membuatmu menjadi tambah cantik," ucapku seraya memasangkan giok merah di mahkota merak cantik.