Perjalanan mengikuti angsa hitam tidak mudah. Aku kesal dengan angsa itu, dia seolah memperainkan aku dan yang lain. Berlari tak tentu arah, dia seolah berusaha melindungi telur emas yang dia simpan.
"A-aku lelah." Steven berhenti karena kelelahan, diikuti Frans yang bahkan hampir jatuh tersungkur karena kelelahan.
"Kita akan apakan angsa itu jika kita bisa mendapatkannya nanti?" tanya Frans sambil terengah-engah.
"Kita bakar pasti enak," jawab Steven yang juga terdengar kesal karena angsa hitam itu.
Aku juga sebenarnya merasa kesal. Angsa hitam itu keterlaluan mempermainkan aku dan yang lain.
"Aku mau pulang saja, ayo Freylin kita pulang," ajak Boma.
"Tunggu, jika kami lelah kalian juga harus lelah, Boma." Frans menghalangi Boma dan Freylin yang ingin pulang.
Boma terlihat kesal karena Frans menghalanginya pulang. Pada akhirnya semua orang kembali mencari angsa hitam yang menyebalkan itu.
Semua orang berpencar untuk mencari si angsa hitam. Aku pergi ke arah kiri dan berharap bertemu dengan angsa yang menyebalkan itu.
Saat aku mulai masuk ke arah lebih dalam dari hutan bagian kiri, aku mendengar suara air terjun. Apa ada air terjun di sana?
Aku mendekat ke arah suara itu dan ... benar sekali, ada air terjun di sini. Pemandangannya sungguh sangat cantik. Luar biasa, indah. Ingin aku masuk dan mandi di sana.
"Apa maumu, Nona?"
Aku menoleh ke arah belakang, rupanya sang angsa hitam itu yang bertanya.
"Aku hanya ingin meminta telur emas milikmu, ada dua batu giok yang tersimpan di telur emas milikmu."
"Apa kau Putri Youlexa? Keturunan suci Lootopia?"
Aku mengangguk sebagai jawaban. Semoga setelah dia tahu aku adalah Putri Youlexa, dia akan memberikan telur emasnya secara sukarela.
"Maafkan aku, Tuan Putri. Aku ingin memberimu telur emasku, tapi ... aku tidak rela berpisah dari telur emasku." Ucapan sang angsa hitam membuatku sedih.
Ya, mana ada seorang induk angsa yang mau memberikan telurnya pada orang lain. Akupun menyadari hal itu. Sulit memang, tapi jika aku tak dapat gioknya, bagaimana bisa mengalahkan Ratu Samara.
"Aku mengerti, kau seorang induk betina yang menyayangi telurmu, tapi-"
"Induk betina? Aku ini jantan, Tuan Putri?"
Oo, aku salah sebut. Aku kira angsa hitam ini betina karena punya telur emas, tapi nyatanya angsa itu mengaku sebagai angsa jantan.
Tapi, bagaimana bisa angsa jantan punya telur sedangkan aku tidak melihat angsa lain selain dia.
"Lalu, telur siapa yang kau miliki?"
"Telur ini aku temukan malam itu. Saat aku sedang mandi di sungai, aku melihat telur itu terbawa arus sungai. Jadi aku membawanya dan menjaganya."
Oh, jadi telur itu hanyut. Jadi, jika aku minta telur itu bukan kejahatankan karena telah memisahkan telur dari induknya, kan?
"Sebenarnya, ini darurat. Aku harus membawa dua batu giok yang ada di telur emas itu untuk menyelamatkan Lootopia. Boleh, kan?"
Angsa hitam itu memberikan telurnya secara sukarela. Namun, sepertinya ia terlihat sedih. Aku tidak bisa berbuat apa-apa kecuali memeluknya untuk menghilangkan rasa sesdihnya walau sedikit.
Angsa hitam mengikutiku kembali ke teman-teman. Setiap langkah, dia hanya diam. Aku jadi tidak tega, atau ... aku kembalikan lagi saja telurnya? Tapi, aku akan kehilangan dua giok warna sekaligus.
"Angsa hitam, siapa namamu?" tanyaku dengan lembut pada sang angsa hitam itu.
"Namaku Glitser, Putri Youlexa."
"Glitser, kita akan bertemu teman-temanku. Kau bisa terhibur saat bertemu dengan mereka."
Angsa hitam itu hanya diam dan terus berjalan di sampingku.
"Nah, itu angsa hitamnya. Steven, kau siap bakar angsa?" tanya Frans pada Steven dan hal itu membuat Glitser takut. Angsa itu bersembunyi di belakangku.
"Sudahlah, Frans, Steven. Dia angsa yang baik." Aku mencoba membela Glitser karena memang tidak ada niat buruk, dia hanya berusah melindungi seauatu yang berharga baginya.
Aku menunjukan telur emas yang diberikan Glitser padaku. Roar pun berterima kasih pada angsa hitam itu karena telah rela memberikan telur emas berharganya.
"Sebagai ganti, apa aku boleh pergi menyelamatkan Lootopia bersama kalian?" Glitser tampak yakin dengan ucapannya.
Satu angsa tidak akan membebani perjalan ini, jadi aku mengijinkan Glitser untuk bergabung. Dia pasti bisa membantu dalam perjalan menuju tujuan terakhir yaitu gunung Manhwa.
"Tujuan akhir sudah di depan mata. Gunung Manhwa menyimpa empat batu giok. Nah, karena kita sudah hampir sampai di tujuan terakhir, aku dan Freylin juga akan ikut bersama kalian." Boma dan Freylin juga ikut bergabung. Mendengar hal itu, aku jadi tambah senang.
Gunung Manhwa akan melihat betapa kompaknya aku dan teman-temanku untuk mengalahkan Ratu Samara. Kita lihat, siapa yang kuat, kebenaran atau kejahatan.
"Sebelum kita lanjutkan perjalanan. Kita pecahkan dulu telur emas dan ambil giok-gioknya," usul Freylin.
Benar juga, aku harus menyimpannya agar aman. Apalagi, sudah bisa dipastikan Ratu Samara mengawasi setiap langkahku.
Steven membantuku memecahkan telur emas itu, tapi ... anehnya telur itu susah sekali untuk dipecahkan.
"Sulit, Frans ayo bantu."
Frans membantu memecahkan telur itu dengan sebuah batu. Namun, lagi-lagi tetap tidak bisa dipecahkan. Dua orang tidak bisa, maka aku membantu memecahkan telur itu. Belum sempat kupecahkan dengan tenaga, telur itu tiba-tiba pecah saat aku memukulnya dengan jariku.
"Wah ... telur itu tahu siapa pemiliknya," ujar Frans.
Ya, mungkin yang dikatakan Frans ada benarnya. Ada dua giok yang tersembunyi di dalam telur ini dan giok ini ditakdirkan menjadi milikku, mungkin itulah yang membuat telur ini dengan mudah kupecahkan.
Batu giok merah muda dan oranye benar-benar ada di dalam telur emas. Aku menyimpan keduanya bersama batu giok yang lain dalam kotak ajaib. Sudah lima giok, tinggal empat lagi. Aku tidak boleh sampai kehilangan giok-giok warna ini.
Ayah, Ibu, tunggulah, aku akan membebaskan kalian dari Ratu Samara. Aku berdoa agar kalian terus diberikan kesehatan dan kesabaran dalam menanti aku datang.
"Ayo, kita lanjutkan perjalanan," ajak Roar yang memimpin perjalan ini.
Tiap langkah aku terus berharap semua akan berjalan lancar sampai di gunung Manhwa, sedangkan dengan santai Boma duduk di punggung Roar yang kini berubah menjadi wujud aslinya, yaitu serigala mistis yang besar.
"Boma, turun! Santai sekali di punggung Roar. Apa kau tidak kasihan pada serigala tua ini?" Frans langsung menutup mulut saat Roar menatapnya dengan sedikit emosi, mungkin karena tanpa sadar Frans telah meledek Roar dengan sebutan serigala tua.
"Roar makan saja si Frans, dia pria yang terlalu banyak bicara." Boma membalas dengan kata-kata yang sepertinya cukup membuat Frans tidak mengganggunya lagi.
"Eliza, kau tidak mau naik ke punggungku. Kau pasti lelah," ucap Roar menawarkan tumpangan.
Aku merasa masih kuat untuk berjalan, jadi kutolak tawaran Roar. Lagipula teman-teman yang lain juga berjalan bersamaku.
Malam telah datang, semua tampak kelelahan setelah menempuh perjalan cukup jauh, hanya Boma yang tidak kelelahan. Ya, Boma duduk di atas punggung Roar sepanjang jalan, jadi dia tidak merasa kelelahan.
Frans dan Steven membuat api unggun, sedangkan aku dan yang lain mencari tempat yang nyaman untuk tidur.
Aku merasa sangat lelah, ditambah rasa sakit di d**a datang lagi. Memang tidak terlalu sakit, tapi tetap saja membuatku tidak nyaman.
Saat semua terlelap tidur, aku masih saja belum bisa memejamkan mata. Samar-samar aku mendengar langkah kaki seseorang mendekatiku.
Rasa penasaran menyelimutiku, aku berusaha untuk memeriksanya. Namun, aku mengurungkan niat, takutnya orang yang mendekat adalah Ratu Samara.
"Tolong!"
Aku mendengar seseorang meminta tolong, entah berasal dari mana suara itu. Namun, terdengar sangat jelas. Aku membangunkan yang lain untuk mencaritahu asal suara itu.
"Aku tidak dengar apa-apa, Eliza." Frans tertidur kembali saat yang lain sudah bangun dan mencoba mencari asal suara yang aku katakan.
"Frans, ayo bangun. Cepat cari, takutnya ada yang butuh pertolongan." Aku terus memaksa Frans untuk bangun dan mencari asal suara itu.
Akhirnya Frans benar-benar bangun dan membantu yang lain walau sangat terlihat kalau kesadarannya hanya setengah. Berkali-kali dia jatuh dan bangun lagi.
"Di sini!" teriak Steven tanda dia menemukan sesuatu. Kuhampiri pria itu dan mendapati seorang gadis kecil dengan pakaian yang kotor dan penuh lumpur sedang menangis.
"Hey, Nak. Ada apa? Kenapa pakaianmu kotor sekali?" tanyaku pelan pada gadis kecil itu.
Gadis kecil itu seperti ingin mengatakan sesuatu. Namun, ia terus menangis. Sebenarnya ada apa ini? Gadis kecil itu tidak menjawab dan malah menarikku untuk mengikutinya.
Aku mengikutinya tanpa protes, aku berpikir mungkin dia sedang butuh bantuan tapi tidak tahu cara mengatakannya.
Gadis kecil itu membawaku ke sebuah desa yang tidak jauh dari tempatku beristirahat tadi. Aku sangat terkejut saat melihat seluruh warga desa diikat satu sama lain dan pangkal tali itu dipegang oleh Ratu Samara. Apa yang sebenarnya dia inginkan?
"Selamat malam, Putri Youlexa. Tenyata kau gadis yang sangat kuat ya. Aku sampai bingung harus melenyapkanmu dengan cara apa."
Wajah Ratu Samara seolah sedang merendahkan aku. Dia wanita jahat yang tak punya hati, bagaimana bisa dia mengikat tangan semua penduduk desa satu sama lain dan tangan kirinya memegang obor yang apinya besar.
"Aku akan menyalakan api pada tali ini. Kau tahu, jika tali ini dibakar, maka seluruh penduduk desa akan terbakar dan itu ... salahmu." Ratu Samara mengancamku, lagi dan lagi dia begitu licik.
"Tapi jika dengan sukarela, kau memberikan giok warna yang telah kau kumpulkan, maka aku tidak akan menyalakan api pada tali ini," lanjut Ratu jahat itu.
"Aku tidak mau!"
"Baiklah, obor ini akan menyambar seluruh pendusuk desa." Ratu Samara mulai mendekatkan obor itu ke tali yang mengikat seluruh pendusuk desa.
Apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku tidak bisa kehilangan giok warna yang telah kukumpulkan, tapi aku juga tidak bisa melihat warga desa mati terbakar.
Api obor semakin dekat dengan tali, tapi aku masih bingung harus memutuskan yang mana? Giok warna atau nyawa penduduk desa.
"Tunggu! Baiklah, aku akan berikan giok warna." Aku mengambik giok warna yang kusimpan. Frans dan Steven berusaha menghentikan keputusanku. Namun, aku tidak berhenti. Aku harus memikirkan nyawa.