Indira berlari dengan sekuat tenaganya, ia menembus kerumunan orang yang ada di depannya. Setelah melewati petugas, akhirnya ia pun masuk ke dalam konser dan langsung menuju seat-nya.
"Permisi," katanya sambil berjalan menundukkan badannya.
Saat kedua matanya telah melihat nomor bangku miliknya, ia pun langsung menjatuhkan tubuhnya ke atas bangku tersebut dengan cepat.
Ia terlambat 30 menit setelah konser dimulai.
"Hhh." Napasnya terengah-engah. Ia mencoba mengatur ritme napasnya dan sesekali melihat ke arah panggung.
ia membuka tasnya, dan mengeluarkan beberapa benda dari tas tersebut. Ia juga mengatur posisi duduknya agar ia semakin nyaman. Tak lama kemudian, ia menyalakan lightstick yang ia bawa dan ikut bersorak dengan para penonton yang lainnya yang sudah lebih dulu menyalakan lightstick milik mereka.
Tak hanya itu, Indira juga memakai lampu menyala yang berbentuk seperti bando di kepalanya. Tangannya terus bergerak mengayunkan lightstick yang ada di tangannya saat ini. Ia teriak. Ia bersorak. Ia bahkan meneriakkan nama para artis yang sedang tampil di atas panggung.
Suaranya yang kencang dan keberadaannya yang tak jauh dari panggung sontak membuat kelima personel yang sedang di atas panggung melihat ke arahnya.
Indira mengembangkan senyumnya dan melayangkan sebuah tanda permintaan maaf dengan mengacungkan kedua tangannya ke udara.
Kelima personel itu tersenyum.
Tak terkecuali Aksa.
Kekasih Indira.