Tatapan Serena jatuh pada lututnya yang sudah diolesi salep dengan rapi.
Entah kenapa, jantungnya tiba-tiba berdetak sedikit lebih cepat.
“Berhentilah untuk menatap.”
Suara dingin Julian langsung memutus lamunannya.
Setelah berkata demikian, pria itu berbalik dan keluar dari kamar.
Serena hanya duduk di tempat dengan wajah bingung.
Ia bersandar di kepala ranjang, sementara pandangannya perlahan beralih ke luar jendela.
Hutan di kejauhan masih diselimuti kabut pagi.
Sinar matahari menembus jendela kaca besar dan menerangi seluruh ruangan, membuat suasana terasa begitu tenang.
Ujung jarinya mengusap pelan layer ponselnya.
Di daftar kontak, hanya ada satu nama yang tersimpan – Drake.
Serena menatap nama itu cukup lama sebelum menghela napas pelan.
“Kapan sebenarnya aku bisa pulang…”
Ia menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur dan menatap lampu kristal mewah yang menggantung di langit-langit.
Dengan suara kecil, ia bergumam,
“Dunia orang kaya…tetap saja semewah ini.”
Tok tok –
Pintu kamar diketuk pelan.
“Nona, saya boleh masuk?”
Suara lembut Claire terdengar dari luar.
Serena buru-buru duduk tegak dan marapikan rambut yang jatuh di samping wajahnya.
“Masuk.”
Pintu terbuka perlahan.
Claire masuk sambil membawa sebuah nampan.
Senyum hangat seperti biasa masih menghiasi wajahnya.
“Nona, Julian bilang Anda belum boleh makan makanan yang terlalu berat. Jadi saya memasakkan bubur untuk Anda.”
Ia meletakkan nampan itu di atas meja.
Uap hangat langsung mengepul ke udara.
Di dalam mangkuk porselen putih terdapat bubur ayam suwir yang dimasak hingga sangat lembut, mengeluarkan aroma ringan yang menenangkan.
Serena menunduk melihatnya.
Padahal tadi perutnya masih terasa lapar.
Namun melihat bubur itu, selera makannya langsung berkurang setengah.
Meski begitu, ia tetap menerimanya dengan sopan.
Ia mengambil sendok lalu menyuap sedikit bubur ke mulutnya.
Claire berdiri di samping dengan kedua tangan bertumpuk di depan tubuhnya.
Tatapannya penuh kasih saying.
“Apakah rasanya cocok dengan lidah Anda?”
Serena mengangguk, “Lumayan.”
Namun baru saja selesai bicara, ia menyadari sesuatu.
Sejak masuk ke kamar tadi…
Claire terus menatapnya.
Tatapan itu bukan seperti sedang menilai seseorang.
Tatapan itu bukan seperti sedang menilai seseorang.
Lebih seperti sedang melihat benda langka yang sangat berharga.
Serena mulai merasa tidak nyaman.
Ia berdeham pelan.
“Bibi Claire.”
“Ya?”
“Bisakah... jangan terus menatapku seperti itu?”
Claire tampak terkejut sesaat.
Lalu ia tertawa kecil.
“Maaf, Nona.”
Nada suaranya tetap lembut.
“Saya sudah mengikuti Tuan Drake selama bertahun-tahun. Ini pertama kalinya saya melihat beliau membawa seorang wanita pulang secara langsung.”
Ekspresi Serena langsung membeku.
Ia menunduk dan mengaduk buburnya perlahan.
Dalam hati ia mengeluh,
“Kenapa semua kepala pelayan selalu mengatakan kalimat yang sama persis sih...”
“Hm? Anda bilang apa?”
“Tidak apa-apa kok!”
Serena langsung menggeleng cepat dan buru-buru mengganti topik.
“Bibi Claire, silakan lanjut bekerja saja. Aku bisa makan sendiri.”
Claire tersenyum dan mengangguk.
“Baik.”
“Kalau Nona membutuhkan sesuatu, panggil saya kapan saja ya.”
Setelah berkata demikian, ia keluar dari kamar dengan tenang.
Pintu kembali tertutup.
Kamar kembali sunyi.
Serena menunduk menatap bubur hangat di dalam mangkuk.
Namun perlahan pandangannya beralih ke ponsel yang terletak di samping ranjang.
Beberapa detik berlalu.
Pada akhirnya, ia meletakkan mangkuk itu lalu mengambil ponselnya.
Layar menyala.
Serena menggigit bibir bawahnya sebelum membuka aplikasi media sosial.
Di kolom pencarian, ia mengetik beberapa huruf.
Drake.
Halaman pencarian segera muncul.
Namun hasil yang tampil membuatnya mengernyit.
Informasinya sangat sedikit.
Tidak ada foto.
Tidak ada wawancara.
Tidak ada profil publik.
Bahkan tidak ada berita yang benar-benar menjelaskan siapa pria itu.
Serena mengerutkan kening.
“Ini nggak masuk akal...”
Pria itu kaya.
Tampan.
Berkuasa.
Bagaimana mungkin tidak ada informasi apa pun tentang dirinya?
Tatapannya kembali jatuh pada mangkuk bubur di depannya.
Perasaan aneh perlahan memenuhi dadanya.
Beberapa saat kemudian—
Ia akhirnya menghabiskan bubur itu sedikit demi sedikit.
Kehangatan bubur mengalir ke perutnya dan perlahan mengembalikan tenaga yang hilang.
Setelah selesai, ia mengambil tisu dan mengusap sisa bubur di sudut bibirnya.
Kemudian ia menyingkap selimut dan turun dari ranjang.
Lantai marmer yang dingin langsung menyentuh telapak kakinya.
Rasa dingin itu menjalar naik perlahan.
Serena refleks meringkuk sedikitkan jari-jari kakinya.
Dengan satu tangan bertumpu pada lemari di samping, ia berdiri perlahan.
Lalu berjalan menuju pintu.
Pintu kamar terbuka.
Koridor lantai dua sangat sunyi.
Yang terdengar hanya suara langkahnya sendiri.
Ia berpegangan pada pagar tangga dan berjalan turun perlahan.
Ruang Tamu Lantai Satu
Sinar matahari masuk melalui jendela kaca besar.
Aroma kayu yang samar memenuhi udara.
Julian sedang bersandar santai di sofa.
Kaki jenjangnya disilangkan dengan malas.
Di tangannya terdapat sebuah buku kedokteran tebal yang sedang ia baca.
Ponsel di sampingnya sesekali menyala karena notifikasi pesan.
Ia melirik layar sekilas lalu membetulkan kacamata berbingkai emas di pangkal hidungnya.
Saat itu juga—
Aroma lembut yang familiar tiba-tiba tercium dari belakang.
Gerakan membalik halaman di tangan Julian berhenti.
Ia menoleh.
Serena sedang berjalan perlahan memasuki ruang tamu tanpa alas kaki.
Gadis itu mengenakan pakaian rumah yang longgar dan lembut.
Rambut panjangnya tergerai santai di atas bahunya.
Karena baru sembuh dari demam, wajahnya masih terlihat sedikit pucat.
Ia berdiri di tengah ruang tamu yang luas sambil melihat sekeliling.
Seperti anak kucing kecil yang tersesat di tempat asing.
Julian menutup buku di tangannya lalu meletakkannya di samping.
Kemudian ia berdiri dan berjalan menghampiri Serena.
“Sudah bisa turun dari tempat tidur?”
Suaranya hangat, dengan nada santai yang khas.
Tubuh Serena sedikit menegang.
Barulah ia mengangguk pelan.
“Mm.”
Julian melirik mangkuk kosong yang masih berada di tangannya.
Lalu menunjuk ke arah lorong panjang di belakang.
“Dapur ada di sana.”