Di dalam kamar.
Serena membuka ponsel yang ada di dalam kotak itu. Jelas sekali ponsel tersebut masih baru.
Ia langsung merebahkan tubuh di atas ranjang sambil melihat ponsel. Tatapannya tertuju pada satu nomor yang sudah tersimpan di daftar kontak.
Serena terdiam sejenak.
Ia membuka aplikasi telepon lalu menekan serangkaian angka.
Namun saat jarinya hampir menyentuh tombol panggil, gerakan Serena justru berhenti.
Perlahan Serena meletakkan ponselnya di samping ranjang, lalu memiringkan tubuh sambil mengusap lembut seprai yang halus.
Kelopak matanya semakin berat, sampai akhirnya tertutup sepenuhnya.
Kamar sebelah.
Drake menatap telapak tangannya yang tadi sempat memeluk pinggang Serena.
Bibir pria itu perlahan terangkat samar.
Tatapannya dalam saat mengarah ke kamar sebelah. Jemarinya tanpa sadar menggesek butiran tasbih di pergelangan tangannya.
“Tok tok—”
Axel berdiri di depan pintu sambil membawa sebuah map dokumen.
“Tuan, ini data pribadi Nona Serena yang Anda ingin lihat kemarin.”
Drake menerima map itu dari tangan Axel lalu membukanya perlahan.
Jemarinya menyapu foto Serena di atas kertas.
Axel melihat bosnya sekilas sebelum diam-diam menutup pintu dan meninggalkan ruangan.
Dokumen tersebut dibalik halaman demi halaman oleh Drake.
Setiap kalimat yang tertulis di sana membuat dadanya terasa semakin sesak.
Saat membuka salah satu halaman, gerakannya mendadak berhenti.
Di atas kertas tertulis:
[Setelah keliarga Vale bangkrut, kedua orang tuanya menikah lagi dengan orang lain dalam 6 bulan kemudian]
[Selama kuliah, dia bekerja paruh waktu dalam jangka panjang]
[Dia pernah pingsan karena hipoglikemia dan dilarikan ke rumah sakit]
Tatapan Drake langsung menggelap.
Tasbih di pergelangan tangannya digenggam semakin erat. Butiran demi butiran masuk jauh ke dalam telapak tangannya.
Semua berita itu sebenarnya pernah ia dengar sebelumnya.
Namun setelah melihatnya secara langsung, tetap saja membuat hatinya terasa sakit hingga mati rasa.
Matahari perlahan tenggelam.
Ruang makan.
Sebuah meja panjang sudah tertata rapi di tengah ruangan.
Drake duduk di kursi utama, sementara di belakangnya berdiri deretan pelayan wanita yang berseragam maid.
Axel keluar dari pintu kecil di sudut ruang makan sambil membawa sebuah kursi.
Drake melirik sekilas, “Taruk sini saja.”
Langkah Axel terhenti di tengah udara.
Ia menoleh dan bertemu dengan tatapan pria itu sebelum akhirnya diam-diam menuruti perintah dan meletakkan kursinya itu tidak jauh dari Drake.
Claire melihat semuanya dengan tenang lalu meminta para pelayan menaruh makanan yang sudah disiapkan di depan kursi tersebut.
Jam besar di belakang Drake berdetak perlahan.
Waktu berlalu menit demi menit.
Namun sosok yang ditunggu tetap tidak muncul di pintu ruang makan.
Suasana ruang makan perlahan berubah sunyi.
Para maid yang berdiri di kedua sisi bahkan sampai menahan napas mereka dengan halus.
Claire diam-diam melirik Drake beberapa kali, pria itu masih duduk di tempatnya.
Tak satu pun makanan di meja disentuhnya.
Hanya saja, jemari yang tadinya diam di atas meja mulai mengetuk sandaran kursi perlahan.
Tidak keras, namun cukup membuat seluruh ruang makan terasa menyesakkan.
Axel memiringkan kepalanya lalu berbisik pelan pada Claire, “Nona Serena belum turun?”
Suaranya sangat pelan, tatapannya hari-hati melirik ke arah Drake.
Claire menjawab lembut, “Sejak tadi Nona Serena masuk ke kamar, dia tak pernah lagi keluar dari kamar itu.”
Axel langsung menahan napasnya.
Sementara pria di hadapan mereka sudah kehilangan kesabarannya, tidak ada sedikit pun ekspresi yang sisa di wajahnya.
“Cepat suruh orang memanggilnya turun.”
Claire buru-buru mengangguk kepala, lalu hendak menyuruh bawahannya pergi.
“Brak—”
Kursi utama terdorong menjauhi meja.
Wajah Drake tampak berat saat ia melangkah cepat meninggalkan ruang makan.
Axel segera mengikuti langkah Drake dan ikut keluar dari ruang makan.
“Bibi Claire.”
Axel yang baru beberapa langkah meninggalkan ruang makan tiba-tiba menoleh kembali.
“Tolong antarkan makanan itu ke kamar Nona Serena.”
Claire bahkan belum sempat menjawab, Axel sudah kembali hilang dari pandangannya.
“Brrmm—”
Lampu belakang merah membelah gelapnya malam.
Sebuah mobil Aston Martin hijau gelap terparkir di bawah hujan.
Tubuh mobil yang basah terkena air hujan terlihat semakin gelap...bagaikan binatang buas yang bersembunyi dalam kegelapan.
Claire sendiri yang membawa nampan makanan ke lantai dua.
“Tok tok tok—”
Ia berdiri di luar kamar cukup lama, namun Serena tak kunjung membuka pintu.
“Nona Serena.” Panggil Claire lembut, “Sudah waktunya untuk makan malam.”
Tetap tidak ada balasan.
Claire berpikir mungkin Serena masih marah dan belum ingin bertemu siapa pun dari manor ini.
Akhirnya ia meletakkan nampan makanannya di depan pintu.
“Nona Serena, makanannya saya sudah tarok di depan pintu ya.”
Setelah mengatakan itu, Claire pun pergi meninggalkan lorong lantai dua.
Jam satu dini hari.
Axel kembali ke manor sendirian.
Ia berjalan menyusuri lorong lantai dua.
Tatapannya jatuh pada nampan makanan di depan kamar tamu.
Makanan itu sama sekali belum disentuh sama sekali.
Kening Axel langsung berkerut.
Langkahnya segera bergerak menuju ruang kerja di samping kamar utama.
Tak lama kemudian, Axel keluar sambi membawa setumpuk dokumen.
Ia melirik sekilas nampan makanan yang masih tak berubah sedikit pun di lantai...
Lalu dia pergi begitu saja.