Mulai part ini panggilan nada berubah jadi Alvin yaa..
Akhirnya Kikan memutuskan mengikuti Alvin. Kikan merasa dongkol dengan kelakuan Alvin yang menurutnya seperti anak kecil. Hanya perihal kasur saja. Membuat mereka berdua kini dalam taksi menuju hotel yang entah apa namanya. Karena Kikan tidak bisa berbahasa korea selain kata hai dan terima kasih.
Selama ini jika Kikan berkunjung ke korea. Alvin yang selalu menjadi tourguide nya. Kikan melirik alvin yang malah sibuk dengan ponselnya. Melihat ponsel, Kikan jadi teringat pesan dari nenek Alvin yang harus ia sampaikan.
"Vin, Grandma bilang, dia mau ketemu kamu" ucap Kikan menyampaikan pesan dari wanita paruh baya yang akhir-akhir ini sering bertanya tentang alvin padanya. "Katanya kita disuruh makan bersama di mansion nenekmu" lanjut Kikan dengan telunjuk mengetuk- ngetuk dagunya.
"Aku tau, acaranya akhir minggu ini". Alvin menghela nafas lelah. Melirik ponselnya yang kini menampilkan kotak pesan. Dengan tanda sudah dibaca. Pesan itu berasal dari grandma.
Grandma Eva. Ia biasa memanggilnya seperti itu.
Eva merupakan nenek dari ibu kandung Alvin. Sebenarnya selama ini tanpa Alvin sadari, banyak mata- mata yang mengawasi aktivitasnya setiap hari. Mereka memantau dengan sangat profesional. Buktinya hampir belasan tahun ia tidak menyadarinya. Entah apa maksud Eva memata-matai cucu nya itu.
Kembali melirik pesan. Memaksa matanya membaca pesan dalam hati. Pesan yang berisi paksaan untuk menghadiri makan malam. Dengan tambahan sederet ancaman jika ia tidak datang. Badannya mulai ia sandarkan pada punggung kursi taksi. sebelum ia kembali melanjutkan. "Sepertinya orang tuaku juga akan ada disana, kita akan pergi ke Arizona besok".
"Besok...... oh my God gila, apa kau tau Arizona itu jauh". Kikan mengacak rambutnya frustasi yang justru malah terlihat lucu bagi Alvin. Sebenarnya ia sendiri tidak tega pada sahabatnya itu. Tapi Alvin butuh Kikan disampingnya. Setidaknya keberadaan Kikan membuat Alvin bisa berpikir jernih.
Mereka pun sampai di hotel yang dituju. Alvin turun terlebih dahulu dan menunggu sang supir menurunkan barang barangnya. Ia melirik Kikan yang masih di dalam taksi seperti enggan untuk turun. Kini Kikan malah terlihat melipat kedua tangannya di depan d**a.
"Aku berada di sekeliling orang orang kaya, yang menganggap naik turun pesawat sama seperti naik turun taksi" masih dalam mode kesalnya. Alvin menaikkan alis matanya sebelah dan mulai tersenyum miring. "Kalau kamu gak suka, gak ikut juga gpp" ucap Alvin. "tapi kalau kamu ikut, aku akan mengabulkan permintaanmu yang dari dulu ingin ke club di distrik gangnam. gimana, mau gk?" ucap Alvin mencoba bernegosiasi. Karena tentu saja ia tidak mau pergi sendiri. Dan demi mewujudkan keinginannya Alvin juga harus mengabulkan Permintaan Kikan yang terus merengek mengajaknya k club selama 3 tahun terakhir ini. Anggap aja biar impas batin alvin.
Mata Kikan langsung berbinar mendengar penawaran Alvin. Tanpa babibu Kikan langsung turun dari taksi dan menarik Alvin untuk masuk ke dalam hotel. Tak lupa juga ia menarik kopernya. Setelah Alvin membuka pintu kamar hotel. Kikan langsung terkagum-kagum dengan kamar hotel yang dipilih Alvin.
Kamar suit eksklusif yang dipesan Alvin bernuansa putih dan gold. Dikelilingi kaca-kaca besar yang memperlihatkan pemandangan distrik gangnam kota seoul. Tak lupa di belakang tempat tidur terdapat ruangan luas yang Kikan yakini sebagai ruang tamu karena ada sofa berwarna abu .
Tanpa merasa lelah Kikan buru-buru masuk ke dalam kamar mandi. Ia ingin cepat-cepat berendam untuk menghilangkan penat dan pegal-pegal dibadannya. Alvin menggelengkan kepala melihat semangat Kikan. Alvin merasa lelah dan mencoba berbaring di sofa sambil menunggu Kikan selesai dengan aktivitas mandinya.
"Vin...Vin..ayooo bangun". Kikan mengguncang pelan badan Alvin. Berusaha membangunkan Alvin. Alvin pun terbangun dan melihat Kikan yang telah siap pergi. Kikan memakai gaun yang sangat seksi berwarna merah. Gaun tersebut membungkus dengan pas tubuh mungil Kikan.
"Oh my god malah bengong, ayoo cepet mandi sana". Kikan berkacak pinggang "Jangan bilang kita gk jadi pergi" tuduh Kikan. Alvin memutar mata jengah. Ia menempelkan telapak tangannya di bibir Kikan dan mulai berjalan k kamar mandi. "ALVIN LIPSTIK KU JADI BELEPOTAN AHHHHHH" teriak Kikan.
***
Club Octagon Gangnam
Distrik Gangnam adalah distrik terbesar ketiga di Seoul dengan luas wilayah sekitar 39.5 km2. Berada di sebelah selatan sungai han. Berdasarkan sensus tahun 2010, Distrik Gangnam berpopulasi sekitar 527,641 jiwa, membuatnya menjadi distrik paling padat populasinya ke-4 di Seoul. Area Gangnam secara luas dikenal karena kekayaannya sangat terkonsentrasi dan standar hidup yang tinggi, yang telah dibandingkan dengan kota-kota lainnya. Indikator yang paling signifikan adalah kawasan perumahan yang sangat mahal.
Setelah berjalan kaki selama 5 menit, Alvin dan Kikan telah sampai di salah satu club terkenal di dekat tempat mereka menginap. Club yang bernama octagon, ini terletak di 279-143 Nonhyeon 2 (i) -dong, Gangnam-gu, Seoul, Korea Selatan ini adalah club terbaik ke-12 di dunia. dan merupakan club peringkat tertinggi di Asia. menjadi lokasi yang cukup hot untuk para selebriti. Yang katanya Boyband seperti SHINee pernah menjadi DJ di klub malam ini. Kadang setiap pekan, akan ada idol yang berbaur dengan pengunjung VIP.
Mereka memasuki club tersebut setelah melewati pemeriksaan identitas di depan pintu masuk. Alvin menunjukkan member card VIP yang telah didaftarkan jauh-jauh hari. Mereka berdua langsung dituntun masuk ke dalam oleh salah satu karyawan menuju lantai VIP. Kikan memandang takjub Alvin yang mempunyai akses VIP. Dan mulai bertanya-tanya apakah Alvin sering pergi ke club?, atau bahkan melakukan one night stand? Memang sih ini negara bebas, wajar-wajar aja kan kalau Alvin melakukannya. Kikan menggelengkan kepala berusaha menolak pemikiran yang terlintas begitu saja.
Gerakan kepala Kikan yang terlalu kentara. Sedikit memunculkan senyum geli di wajah Alvin. Seolah ia mengerti apa yang berkecamuk di pikiran Kikan.
"Ini pertama kalinya aku ke club". Alvin duduk di sofa berwarna merah yang merupakan tempat duduk VIP di lantai 3. Ia duduk menyilangkan kakinya dengan gerakan anggun. Tatapannya tertuju pada orang-orang dibawah sana. Di dance floor. Yang sibuk meliuk-liukkan badan mengikuti irama musik. Kikan duduk di samping Alvin. Memperhatikan Alvin dengan tatapan intens seolah meminta melanjutkan perkataannya.
Tanpa mengalihkan tatapannya, Alvin melanjutkan ucapannya "Profesi ku model Kikan, manajerku menganggap ini bagian dari lingkungan pergaulan. Dia juga yang mendaftarkan aku, untuk menjadi salah satu VIP disini. Mungkin maksudnya ingin melindungku dari pria-pria yang menatapku seperti santapan makan malam". Kemudian Alvin melirik Kikan dengan tatapan tajamnya dan mengatakan " So, i'm virgin. Believe me ok?". Memaksa Kikan untuk percaya. Akhirnya Kikan tersenyum lega ternyata sahabatnya itu bisa menjaga diri dengan baik. Ia melihat sekeliling club. dan benar saja banyak mata-mata nakal para pria yang menatap Alvin. Seolah Alvin adalah mangsa nya.
Padahal apa yang dipakai Alvin tidak terlalu seksi, dibanding dirinya. Alvin hanya memakai dress berwarna hitam dengan motif bunga berwarna putih. Memiliki belahan d**a rendah dan di bagian bawah ada belahan memanjang ke atas di sepanjang pahanya. Kikan akui memang mereka memiliki hobi untuk memakai baju atau dress yang membentuk lekuk tubuh. Body bagus harus dipamerkan. Benar begitu bukan? Batin Kikan.
Pelayan datang membawa pesanan mereka yaitu sebotol white wine. Lalu menuangkannya di kedua gelas di depannya. Setelah pelayan pamit. Alvin langsung meminumnya hingga tandas. Sementara Kikan menggoyang-goyangkan gelasnya dengan anggun sebelum meminumnya.
Alvin menuangkan kembali ke dalam gelas. Entah itu gelas keberapa. Kikan tidak memperhatikan, hanya membiarkannya saja. Mungkin alvin butuh pelampiasan batin Kikan.
Sementara itu pikiran Alvin sibuk memikirkan semua yang terjadi di hidupnya. Memori yang ingin dilupakannya sibuk datang silih berganti. Membuat ia semakin kalut. Perasaannya tiba-tiba gusar. Dan satu penyebab nya, yaitu pesan dari Eva beberapa jam yang lalu. Dengan sisa kesadaran yang dimilikinya, ia berusaha berbagi keresahannya dengan Kikan. Kikan yang sudah ia anggap seperti kakaknya.
"Kikan" panggil Alvin yang sepertinya mulai mabuk. Kikan menoleh dengan mengerutkan kening mendengar nada suara lirih saat memanggil namanya. Walaupun suasana club yang semakin ramai. Tapi saat Alvin memanggil namanya, walaupun sangat pelan. Ia masih bisa mendengarnya. Suara yang entah kenapa sarat dengan putus asa.
Alvin menatap langsung pada kedua bola mata Kikan. Tatapan seperti meminta tolong. Alvin terduduk lesu, tak seperti saat mereka pertama kali datang. "Kikan, entah kenapa aku merasa hidupku akan hancur mulai besok". Alvin menundukkan kepala semakin dalam.
"Vin, semuanya akan baik-baik saja". Kikan mendekat dan mengusap-ngusap perlahan punggung Alvin. "Kamu sudah mabuk Vin, sebaiknya kita pulang". Alvin menggelengkan kepala tanda menolak usulan Kikan.
Setelah hening beberapa saat. Alvin tiba-tiba berdiri dengan sempoyongan. Menggelengkan kepala mengusir rasa pusing yang mulai mendatanginya. Kemudian menatap orang-orang yang berada di bawah sana. "Sebelum hidupku hancur, bisakah kita bersenang-senang disana?". Tanpa menunggu jawaban Kikan. Alvin menyeret Kikan untuk mengikutinya. Kikan mengikuti langkah Alvin dengan terseok-seok akibat High Heels 12 cm yang ia gunakan. Ia sangat merutuki sifat Alvin yang ternyata sangat menyebalkan jika mabuk seperti ini. Sampai di dance floor, Alvin melepaskan tangan Kikan, dan mulai meliuk-liukkan badan mengikuti musik. Kikan pun tergoda untuk mengikuti gerakan Alvin. Mereka tertawa bersama. Menikmati malam, melepaskan penat dan beban yang ada.Jika memang benar besok adalah awal kehancuran, Kikan hanya bisa berdoa agar Alvin mampu melewatinya.Harapan yang mudah sekali terucap
***
Langit semakin gelap, beberapa jalan mulai beranjak sepi. Suasana jalanan tentu saja berbanding terbalik dengan keadaan club yang makin di penuh sesak dipadati pengunjung. Tak sedikit dari mereka datang hanya untuk menghilangkan penat selepas bekerja, One Night Stand, atau sekedar berpesta membuang lembar-lembar kertas yang tersimpan di dompet.
Dari arah pintu club terlihat seorang pria melangkah masuk ditemani barisan bodyguard yang berada di sisi kanan kirinya. Melihat pria tersebut sontak saja membuat para pengunjung khususnya wanita berjingkrak-jingkrak dan histeris. Tak sedikit pula yang memandang penuh kekaguman dan mereka rela bersimpuh bahkan berlutut hanya demi bisa bersama berkencan dengannya.
Pria yang memiliki tubuh atletis dengan tinggi 187 cm, rahang yang kokoh, alis mata tebal , sorot mata yang tajam. Bibir tipis yang melengkung manis membuat kaum hawa bermimpi ingin bisa merasakan berciuman dengannya. Pria itu merasa tidak risih dengan perlakuan serta tatapan pengunjung. Dengan tersenyum manis sedikit tebar pesona ia memantapkan melangkah memasuki club. Pandangan matanya menelusuri dan meneliti keseluruhan club seolah-olah sedang mencari sesuatu. Ia menghentikan langkahnya lalu memberikan isyarat mata kepada para bodyguad . mengkode agar mereka langsung menyebar. Sementara pria tersebut duduk dikursi bar menunggu.
10 menit, 20 menit Pria itu terus melirik jam rolex kesayangannya seraya menghela nafas kasar . tangannya mulai mengacak rambut frustasi. Membuatnya malah terlihat makin seksi bagi para kaum hawa. Sedari tadi banyak wanita silih berganti datang menghampirinya hanya sekadar untuk menggodanya. Tapi ia tak mempedulikan semua itu. karena alasan nya pergi ke tempat ini bukan untuk bersenang-senang ataupun untuk mencari wanita. Melainkan demi ibunya.
Ya sang Nyonya besar Achazia. Ibunya ingin bertemu dengan seorang model fashion yang menjadi cover majalah favoritnya. Majalah fashion nomor satu korea. Walaupun beda benua karena ibunya tinggal di amerika . Toh masalah selera berbusana simple dan elegant ala drama korea menjadi ciri khasnya. Dan akibat dari keinginan itu, mengharuskan ia untuk melakukan perjalanan berjam-jam untuk sampai di negeri asal model tersebut.
Tanpa mempedulikan jetlag yang ia rasakan. Ia buru-buru pergi ke club ini untuk mencarinya.Karena berdasarkan info yang ia dapat. Gadis itu sedang ada berada disini.
Wajah tampannya kini mulai terlihat lelah tapi ia harus segera mendapatkan buruannya itu. Jika tidak , Ibunya mengancam akan menjual seluruh koleksi mobil sportnya. Memang terdengar gila. Tetapi percayalah keinginan yang biasa orang-orang disebut dengan istilah ngidam akan selalu terdengar hororr bagi para kaum pria. Yups wanita yang begitu ia sayangi itu kini sedang hamil di usia yang telah memasuki kepala empat.
Demi tuhan harusnya ia yang memberikan cucu pada orang tuanya. Bukan orang tua nya yang justru malah memberikan adik. Yang langsung otomatis menggeser posisinya sebagai satu-satunya cucu pewaris. Hatinya tentu saja tidak ikhlas jika mulai tahun depan ia harus mulai berbagi segalanya dengan calon adiknya.
Oke lupakan itu, sekarang ia harus fokus mencari wanita yang akan menjadi sang penentu nasibnya kedepan. Dan ia berharap semoga saja perempuan itu cantik alami bukan cantik buatan dari manusia alias operasi plastik. Seperti yang ia sering dengar diluaran sana bahwa rata-rata gadis remaja dari negeri ginseng ini hobi melakukan operasi plastik. Ia tidak akan pernah rela kalau calon adiknya memiliki kecantikan dibawah standar, ralat harus diatas standar. Bukankah gen lebih kuat?. Pikirnya meracau
Satu hal fatal yang disesali Darren adalah Darren tidak tahu nama model tersebut. Namanya saja tidak tahu apalagi dengan wajahnya. Dan meminta bantuan kepada mesin pencarian google yang katanya bisa menjawab semua pertanyaannya. Tentu menjadi hal yang terlihat mustahil. Darren hanya mengetahui nama majalahnya. Apakah itu bisa membantu banyak?. Info yang dia dapat juga berasal dari ibunya.
Darren masih mengingat dengan jelas peristiwa kemarin malam. Dengan mata berbinar-binar, ibunya memaksa darren menemaninya ke korea untuk bertemu model favoritnya. Tanpa darren mau melihat wajah dan namanya itu, ia dengan berat hati mengiyakan permintaan wanita yang disayanginya itu. Sekarang Darren hanya bisa meringis dengan sikap cuek yang kini hanya bisa membuatnya senngsara.
Sebenarnya sedari tadi sebelum memasuki club. Darren sudah terus berusaha untuk menghubungi ibunya. Tapi belum membuahkan hasil hingga saat ini. Alhasil karena terlanjur berada diclub. Darren hanya bisa memerintahkan para bodyguardnya untuk bertanya kepada para wanita yang memiliki ciri-ciri layaknya model, Apakah mereka bekerja di majalah In Style?. Sungguh memalukan. Sebagai calon pewaris Achazia group yang bergerak di bidang keamanan dan komunikasi. Ini benar-benar mencoreng kredibilitasnya. Jika kakeknya tahu hal ini mungkin ia akan menertawakan darren selama berhari-hari. Darren bodoh rutuk ia dalam hati.
Alvin yang merasa suasana club menjadi agak aneh, akibat dari tatapan para wanita yang hanya fokus pada satu objek. Membuat ia mau tidak mau juga ikut melihat apa yang terjadi. Dan betaga kagetnya Alvin melihat sosok pria yang sedang menjadi objek cuci mata itu. Bahkan alkohol yang entah dia minum berapa gelas efek mabuknya seperti pergi menguap begitu saja. Siapa yang tak mengenal pria itu, atau haruskah ia menyebutnya laki-laki mengingat usia nya masih muda hampir seusia dengannya. Laki-laki dengan postur tubuh yang sangat cocok untuk seorang model, memiliki senyum yang memikat manis para lawannya dan mata netra birunya hanya dimiliki oleh seorang penerus satu-satunya Achazia Group. Darren Achazia
Seolah alarm tanda berbahaya berbunyi di otaknya, membuat Alvin bergerak dengan cepat. Alvin menyeret tubuh Kikan yang masih semangat menari-nari untuk ikut berjalan bahkan menyelinap keluar dari dalam club. Awalnya Kikan ingin menjerit kaget tapi genggaman di tangannya yang terasa menyakitkan seolah memberi kode untuk diam. Bukan hal mudah tapi berkat badan mereka yang rutin melakukan diet ketat. Membantu pergerakan mereka menjadi lebih cepat. Setelah melewati toilet di depan, maka ia hanya perlu membuka pintu dan langsung keluar dari keadaan yang tidak diinginkannya. Oh s**t ia hanya ingin menghilangkan penat bukan menambah kepenatan dengan bertemu sosok yang tidak pernah masuk list orang yang ingin dijumpai di masa depan. Dan ia tidak tau mengapa naluri hatinya berkata bahwa laki-laki itu sedang mencari dirinya.
Merasa dirinya diikuti, membuat Alvin terpaksa mendorong Kikan masuk ke salah satu bilik toilet tanpa mencari tahu terlebih dahulu apakah ada seseorang dibaliknya. Dan ketika ekor matanya menangkap seseorang yang baru keluar dari bilik toilet, langsung membuat menarik lengan pria tersebut dan melakukan gerakan seolah mereka sedang b******u. Pria itu tampak terkejut dengan gerakan refleks yang dimiliki wanita di depannya. Bahkan kini kedua tangannya diarahkan untuk memegang pinggang mungil yang terasa pas di tangannya.
"Apa yang kau lakukan?" pria itu akhirnya membuka suara. Dengan nafas yang masih tersengal-sengal Kedua mata gadis cantik itu pun terbuka. Menampilkan warna netra hitam yang indah. "Alvin" ucap pria itu berjengit kaget. Alvin buru-buru membungkam mulut pria itu dengan tangannya. Tak lama pintu toilet. Terlihat laki-laki tampan yang melangkah masuk dan mengernyitkan alisnya melihat pemandangan di depannya.
"Kau bisa mencari hotel bung, ah tapi untuk melakukan kegiatan kotor , bukankah lebih cocok di tempat kotor juga" komentar pria tampan itu dengan senyum meremehkan. Tangan Alvin mengepal dengan kuat. Tak terima dengan ucapan penuh penghinaan. Posisi Alvin memang membelakangi lelaki itu. Tapi Alvin sangat yakin jika lelaki itu adalah Darren. Lelaki yang akan langsung masuk ke dalam list orang yang akan dia prioritaskan.
Perlahan melangkah mendekati pasangan itu, tiba-tiba ia menyentak tangan Alvin hingga Alvin menabrak d**a bidangnya. Aroma maskulin langsung menyeruak keindera penciumannya. Tatapan mata mereka kini bertemu. Saling melempar senyum mengejek. "Dan siapa nona kotor ini, yang begitu tidak tahu diri melakukan hal kotor di toilet pria" Darren menyeringai.
Alvin hanya bisa menyembunyikan rasa shocknya.