Aku merupakan salah satu pengurus OSIS, sehingga selama seminggu ini aku ikut mempersiapkan MOS. Kami menyusun segalanya, mulai dari acara, materi, perlengkapan pendukung, hingga konsumsi. Semua sudah dibahas habis oleh pengurus OSIS yang terdiri dari dua puluh siswa kelas dua belas dan dua puluh lagi dari kelas sebelas.
Sekarang, kami sudah berkumpul di sekolah pada pukul enam, jadwal hari Sabtu ini adalah technical meeting. Radit, sang Ketua OSIS, memimpin briefing untuk mengarahkan kami agar bersemangat menjalani aktivitas pagi hari ini. Setelah itu, kami segera memulai pekerjaan kami sesuai dengan bagiannya. Aku dan bagian perlengkapan lainnya mengecek ruangan yang akan dipakai, menata bangku, proyektor, dan berbagai perlengkapan lain yang akan digunakan.
“Cek, cek....” Aku mengecek suara mik di aula.
“Gue aja yang check sound sini!” teriak Gio yang sedang menata bangku.
Gio adalah sahabatku, dia seorang vokalis band sekolah yang punya suara serak dan berat. Dia tinggi, tampan, dan seorang playboy. Dia suka sekali berganti-ganti pacar, sepertinya tidak ada istilah kesulitan move on baginya. Walau begitu, dia anak yang rada konyol dan sering kali menyebalkan.
“Jangan! Nanti kamu malah konser, bukannya kerja,” kataku yang segera mematikan mikrofon hitam di tanganku ini.
“Pelit amat, gue kan pengin nyanyi,” katanya seraya menyipitkan mata.
“Sudahlah, mending kamu persiapkan diri. Kamu pasti tidak sabar untuk tebar pesona ke adik-adik kelas nanti, kan?” sindirku yang kemudian menghampirinya untuk membantu menata bangku.
“Kayaknya gue nggak butuh tebar pesona. Pesona gue pasti akan terpancar sendirinya. Lu kali yang butuh, Ngga,” balasnya seraya menyeringai dan memainkan alisnya.
“Kamu mengejekku?” tanyaku dengan sinis.
“Jadi lu merasa tersindir, ya?” Dia balik bertanya dengan menahan tawa. “Ratna makin mulus aja sekarang sehabis putus sama lu, Ngga,” ujar Gio dengan nada meledek.
Sebenarnya yang dikatakan Gio tidak salah, Ratna memang semakin mulus dan cantik. Ini salahku tidak memblokir akun-akun media sosialnya. Tanpa sadar aku jadi melihat foto-fotonya berseliweran di beranda. Itu juga membuatku membuka profilnya. Semakin jauh scroll ke bawah, semakin dalam pula aku mengenangnya. Kenapa masih ada rasa kecewa di d**a saat harus mengingatnya lagi?
Ini sungguh tidak baik, aku harus bisa berpindah hati. Masih banyak cewek yang bisa kudekati. Bagaimana dengan gadis yang aku temui di kereta itu? Entah kenapa aku sering memikirkannya, bahkan di jalan aku sering merasa melihatnya.
Ada penyesalan besar karena aku tidak mengejarnya waktu itu. Seharusnya aku menanyakan namanya, mengambil gambarnya, atau mengikutinya hingga aku punya petunjuk untuk bisa menemukannya lagi. Sekarang yang ada hanya harapan agar aku berjumpa dengannya lagi. Sungguh sulit.
Senyumannya yang manis, dua gigi serinya yang lucu, lalu perkataannya yang membuatku bingung. Ah, imut banget gadis itu. Andai saja dia bersekolah di sini, pasti aku sudah berusaha mati-matian mendapatkannya.
“Ngga, kalau lu mau gue kenalin ke cewek, bilang aja! Gue banyak kenalan,” ujar Gio dengan nada seperti mengasihaniku.
“Aku bisa cari sendiri, lagi pula kamu pasti nanti minta bayaran,” ungkapku seraya menyipitkan mata penuh curiga.
“Harga teman, Ngga,” ujarnya seraya menyeringai.
Aku tidak menggubrisnya dan memilih menghitung kursi. “Sudah pas sepertinya. Ada 90 kursi untuk Jurusan Teknik Komputer dan Jaringan, 90 kursi untuk Jurusan Akuntansi, 60 kursi untuk Jurusan Teknik Bangunan,” kataku sembari mengecek kertas catatan.
Sekolah kami, SMK Bunga Bangsa, memang hanya membuka tiga jurusan, ketiganya benar-benar tidak ada hubungannya. Aku sendiri sejurusan dengan Gio, yaitu Teknik Komputer dan Jaringan. Jurusan kami jumlah cowok dan ceweknya tidak jauh beda, berbeda dengan Akuntansi yang hampir semuanya cewek dan Teknik Bangunan yang hampir semuanya cowok.
***
Satu per satu para calon peserta didik masuk, wajah-wajah mereka tampak tak berdosa—belum tahu apa yang akan terjadi selama tiga tahun ke depan. Ada yang merekahkan senyum di bibir, ada juga yang tampak canggung dan bingung. Namun, mereka semua tetap duduk di kursi-kursi plastik yang sudah disediakan dan berbaur dengan calon peserta didik lainnya.
Sekarang, Rani yang menjadi pembawa acara tengah menjelaskan susunan organisasi di depan para peserta didik. Kami para panitia berdiri rapi di pinggir-pinggir ruangan dengan sikap tegap, namun tetap saja mata kami entah menuju ke mana. Aku mulai waswas saat pembagian kelompok karena aku dapat bagian menjadi pembimbing.
Calon peserta didik dibagi sepuluh anak per kelompok dan para pembimbing akan menuntun mereka ke ruang-ruang yang akan digunakan untuk penjelasan teknik MOS. Aku mendapatkan sembilan anak dan segera mengajak mereka ke ruangan di lantai dua. Mereka duduk melingkar di tempat duduk yang sudah terpisah dengan dua kelompok lain di ruangan ini.
Ada dua cowok dan tujuh cewek yang ada di depanku, mereka semua adalah jurusan Akuntansi. Nama kelompoknya adalah HPP kependekan dari Harga Pokok Penjualan. Kenapa namanya agak aneh di otakku? Biarlah, setidaknya masih berhubungan dengan jurusan mereka.
Beberapa dari mereka melihatku dengan tatapan aneh, aku rasa aku sudah pakai pomade tadi pagi. Terlebih pandangan cewek berpipi tembam yang duduk di dekat cowok berjambul itu. Dia menatapku terus-terusan.
Aku pun mengambil napas dan mengeluarkannya perlahan. “Kakak cek dulu ya nama-nama kalian,” ucapku seraya mengambil kertas catatan di saku jas almamater merah yang aku pakai.
“Iya, Kak Lana,” kata sebagian dari mereka.
“Panggil Kak Angga saja, ya,” pintaku.
Mereka mengangguk, gadis berpipi tembam itu terlihat berseri-seri melihatku. Dia tersenyum padaku, walau gadis yang lain juga, tetapi dia yang paling aneh. Itu membuatku merasa bingung.
“Roni Wardoyo!” panggilku.
“Hadir,” jawab cowok berjambul dengan mata seperti berkeliling ke seisi ruangan.
Aku memanggil mereka satu per satu sampai panggilan terakhir, “Sella Nuraini!”
“Hadir, Kak Angga,” jawab gadis berpipi tembam itu dengan senyum yang semakin lebar.
“Jadi yang tidak datang hanya Hana Paramita, ya?” tanyaku yang tidak mereka jawab.
“Cakep banget ya pembimbing kita. Kece, ya, kan?” bisik Sella pada yang lain dengan intonasi girang. Aku dengarnya kok kayak ada perasaan risi dan bangga secara bersamaan, ya?
“Kak Angga, boleh aye panggil Bangga aja? Akronim dari Abang Angga, biar lebih akrab, ya?” pinta Sella sambil memainkan kelopak matanya, berkedip-kedip.
Tidak menggubris Sella, aku bersikap profesional. “Oke, kalian silakan ikuti penjelasan dari kakak di meja itu, ya. Jangan lupa dicatat!” kataku tegas, namun tetap menebar senyum.
Tiba-tiba aku rasa ada yang menarikku. Aku segera keluar dari ruangan karena ditarik oleh seseorang. Ternyata itu adalah Erna, sekretaris OSIS berambut keriting yang punya t**i lalat di dekat hidungnya. Wajahnya tampak bingung sekarang.
“Hana Paramita salah satu anak kelompok yang kamu bimbing, kan?” tanya Erna.
“Iya, tetapi dia tidak berangkat,” jawabku sembari mengangguk.
“Dia ada di aula sekarang. Rani dan Radit sedang kebingungan dengan anak itu,” ujar Erna. “Ayo, kita ke sana saja!” jawab Erna yang segera membawaku kembali ke aula.
Aku benar-benar tidak mengerti. Ada apa memangnya dengan Hana Paramita sampai membuat sang ketua OSIS dan anak secerewet Rani kebingungan. Saat sampai di sana, entah kenapa tiba-tiba detak jantungku berdegup kencang. Erna memanggil nama Hana dan menepuk pundak gadis yang tengah berdiri di dekat Rani dan Radit, gadis berambut bergelombang hitam berkilau itu menoleh.
“Astaga,” kataku tanpa suara, “gadis itu.”
“Ini adalah Kak Angga, dia adalah pembimbingmu untuk kegiatan MOS nanti,” kata Erna.
“Pembimbing?” tanya gadis yang sedang aku perhatikan tanpa berkedip itu.
“Dia akan membantumu jika kamu bingung.”
“Orang-orang yang bingung memang butuh dibantu. Kadang di kantor polisi ada orang-orang bingung karena anggota keluarga mereka menghilang,” jawab Hana tersenyum.
Aku tidak mengerti apa yang dia katakan, tetapi senyumnya—bentuk dua bibir yang terangkat cantik itu—membuatku tak bisa mengalihkan pandangan. Matanya yang jadi seperti bulan sabit saat tersenyum, hidungnya yang seperti perosotan, pipinya yang manis, dan bentuk rahangnya yang sempurna. Ah, Hana.
“Dia akan membantumu jika kamu bingung,” kata Erna lagi dengan lebih hati-hati.
“Aku tidak bingung,” jawab Hana.
“Hana, kamu ikuti Kak Angga yang rambutnya klimis itu ke ruangan belakang untuk mengikuti technical meeting, ya,” kata Radit yang langsung membawa Rani menjauh.
“Mengikuti?” tanya Hana lagi.
“Iya, mengikutinya,” kata Erna dengan perlahan.
“Aku tidak punya media sosial, aku tidak bisa mengikuti siapa pun,” kata Hana cemberut. Astaga! Dia cemberut pun masih tampak sangat menawan.
“Maksudnya kamu nanti berjalan di belakang kakak ganteng ini,” kata Erna menunjuk ke arahku.
“Di belakangnya?” tanya Hana bingung.
“Sudah, sudah! Bawa anak ini, Angga!” ucap Erna yang tiba-tiba kesal sendiri.
“Jadi, Hana, kamu tolong ikut berjalan di belakangku menuju ke ruang di gedung belakang, ya,” kataku dengan hati-hati agar dia mengerti.
Dia mengangguk-angguk dengan lucu. “Apa kita akan berpetualang?” tanyanya.
Aku mengangguk dan dia tersenyum. Saat aku berjalan, akhirnya dia mau mengikutiku di belakang. Aku menatap wajah Erna, Radit, dan Rani yang tampak pucat pasi menyaksikan kami keluar aula.
***
Rapat terakhir sebelum MOS ini dilakukan setelah technical meeting yang berjalan cukup lancar itu. Alih-alih mendengarkan Radit berceramah, aku memilih membayangkan Hana. Bahagianya diriku bisa melihatnya lagi tanpa perlu mencarinya. Dia lucu sekali dan juga menggemaskan. Aku tidak bisa mengalihkan pandangan dari senyumnya.
Saat teman-teman sekelompoknya bingung berkomunikasi dengan Hana, aku justru tersenyum-senyum di pojokan sampai tidak sadar Sella memanggilku beberapa kali. Habisnya wajahnya sangat adiktif untuk dipandangi. Kalau bukan karena posisiku sebagai panitia MOS, aku sudah langsung tancap gas menggodanya. Lagi pula, aku sudah dapatkan nomor ponselnya. Angga, santai saja, pelan-pelan saja. Dia pasti bisa jadi pacarmu!
Bagaimana dengan Ratna? Aku ucapkan selamat bersenang-senang dengan cowok modal duit orang tua itu! Dia memang semakin cantik, tetapi jika aku harus membandingkannya dengan Hana, dia bukan apa-apa. Hana punya kecantikan natural walau aku belum tahu kelebihan apa yang dipunyai Hana selain wajah menawan dan senyum yang menggetarkan jiwa itu. Aku berharap dia gadis yang baik.
“Lu dari tadi bengong.” Gio menepuk punggungku. “Lihat, tuh, si Risa lihat lu terus, Ngga!”
Aku menoleh ke arah Risa. “Dia sedang memainkan ponselnya,” ujarku pada Gio.
“Itu pengalihan, tadi pas lu belum ngelirik, matanya lihat ke lu,” kata Gio yang sepertinya serius.
“Ya, emang kenapa kalau dia lihat ke arahku?” tanyaku bingung.
“Dia suka lu, tahu!” jawabnya membuatku sedikit kaget.
“Dia tak mungkin suka sama aku, aku bukan tipenya. Lagi pula, dia sahabatku,” kataku menyanggah pendapat Gio.
“Denger, Ngga! Justru sahabat sendiri yang paling mungkin suka sama kita, soalnya udah tahu kita sampai akar-akarnya. Risa memang tomboi, tapi dia juga kelihatan imut. Lucu aja buat dipeluk,” kata Gio yang kini melirik ke arah Risa.
“Aku lebih tahu Risa, dia suka sama kamu, Gio!” ujarku yang seharusnya tidak kukatakan.
“Apaan? Dia justru benci sama gue. Kami kan sering ketemu di ekskul musik. Dia cuek sama gue,” jawab Gio. “Dia mikirin orang lain pas ngobrol sama gue, dan pastinya orang itu lu!”
“Dengarkan Radit bicara saja!” kataku yang tak mau ambil pusing dengan kata-kata Gio itu.
Risa itu sahabatku dari SMP, bahkan rumah kami tidak berjauhan. Aku mengenalnya sangat baik, begitu juga dia. Risa memang suka berpenampilan layaknya cowok. Itu mungkin karena dia punya dua kakak cowok dan suka main sama cowok, tetapi aku tahu hatinya itu sangat feminin.
Rapat ini akhirnya selesai dan aku pulang dengan Risa. Biasanya dia dijemput kakaknya naik mobil atau naik motor sendiri. Berhubung kakaknya sedang ke luar kota dan motornya belum lama ini rusak karena dia menabrak tukang bubur, aku jadi berangkat dan pulang bersamanya.
Gara-gara perkataan Gio, fantasiku untuk segera merebahkan tubuh di kasur sembari berkirim pesan dengan Hana terganggu karena aku jadi berpikir tentang perasaan Risa sebenarnya. Walau aku tahu Gio suka bercanda dan bicara asal, tetapi dia tak mungkin membuat lelucon mengenai perasaan orang seperti ini.
“Kata Erna tadi ada anak nggak nyambung kalau ditanya, ya? Dia bilang lu pembimbingnya?” tanya Risa saat kami sama-sama ke parkiran.
“Eh, iya. Namanya Hana,” jawabku seraya menoleh padanya.
Aku tidak menanggapi lagi dan segera mengambil motor. Kami berdua pulang lewat jalan perkampungan sehingga tak perlu memakai helm. Aku masih memikirkan pendapat Gio mengenai perasaan Risa padaku, tetapi lebih baik aku tanyakan saja padanya agar jelas.
“Risa, aku boleh tanya sesuatu?”
“Tanya tinggal tanya,” jawabnya.
“Apa benar kamu suka sama aku?” tanyaku pada akhirnya.
Risa tak menjawab, aku menunggunya sepuluh detik. Ketika tidak juga terdengar jawaban, aku menghentikan laju motor bebekku ini dan segera menoleh padanya.
“Ris, kok kamu tidak jawab pertanyaanku?”
Dia menunduk dan tak melihatku. Aneh. Dia seharusnya bilang tidak, kenapa diam?
“Jadi lu baru tanya itu ke gue sekarang?” tanyanya segera mengangkat kepala.
Aku menelan ludah melihat wajahnya yang tampak kecewa itu. “Jadi?” tanyaku lagi.
“g****k! Mana ada gue suka sama lu!” ucapnya sambil mendorong dahiku. “Pertanyaan nggak mutu!”
Aku kemudian menatapnya dan kemudian langsung tertawa. “Syukurlah! Ternyata mimpi burukku tidak terjadi!” ujarku masih terus tertawa.
“Jadi kalau gue suka lu, itu mimpi buruk, ya?” tanyanya dengan wajah kesal.
“Ya iya lah, nanti aku dikira tidak normal lagi suka sama cewek kayak kamu, Ris!” ujarku yang akhirnya segera bersiap melajukan motor lagi.
“s****n lu, Ngga!” ucap Risa yang akhirnya tertawa juga.
Beban pikiranku terangkat dengan mudah. Memang benar, lebih baik bicara daripada memendam pertanyaan terus-menerus. Tentu saja perkataan Gio hanya pendapat tanpa dasar, aku seharusnya tidak perlu memikirkannya.
***
Setelah mengantar Risa sampai rumah, aku langsung pulang. Nala membukakan pintu untukku dan aku segera memasukkan motor ke dalam rumah. Tempat tinggalku ini cukup sempit, khas rumah-rumah di pemukiman Jakarta yang padat, tetapi setidaknya kami merasa nyaman sehingga tidak begitu mempermasalahkan ukuran rumah ini.
Saat makan malam bersama Ibu, Ayah, dan Nala, aku masih tak henti-hentinya memikirkan Hana. Aku rasa aku sudah move on. Apa dia sebenarnya seorang bidadari atau penyihir yang membacakan mantra padaku agar aku terus memikirkannya? Ada-ada saja pemikiranku, dia itu gadis biasa. Aku menggeleng pelan sembari meringis senang.
“Lana, kenapa kamu senyum-senyum sendiri?” tanya ibuku tiba-tiba.
Aku kaget dan mengalihkan pandangan ke perempuan berumur empat puluhan di depanku itu. Dia ibuku, seorang guru Bahasa Indonesia di SMA yang letaknya sangat dekat, hanya satu menit berjalan dari rumah ini. Dia yang membuatku selalu berbicara dengan agak baku. Dia bilang bahasa pergaulan di luar itu mulai mengkhawatirkan, banyak kata-k********r dan nilai-nilai kesopanan dalam berbahasa mulai terpinggirkan, jadi dia selalu memperingatkan aku dan adikku untuk berbahasa dengan sopan.
“Paling Kak Lana sedang memikirkan cewek. Iya kan, Yah?” sahut Nala yang melirik ke Ayah.
Ayahku adalah lelaki yang pendiam, dia sedikit sekali berbicara. Aku merasa mirip dengannya secara fisik, walau aku rasa dia lebih baik dariku. Dia punya mata yang menawan, pandangannya seakan bisa membuat siapa saja nyaman menatapnya, wajah kalemnya mengekspresikan bahwa dia punya pribadi yang tenang. Apalagi dia memakai kacamata, semakin terlihat bahwa dia adalah lelaki baik-baik.
“Raut wajah kakakmu itu terlalu mudah ditebak,” jawab Ayah ke Nala yang membuatku malu.
“Bawa dia ke sini, Kak!” ucap Nala ke aku dengan girang.
Nala adalah adikku yang baru naik kelas sembilan. Adikku ini punya perawakan hampir sama dengan ibuku. Dia punya rambut panjang yang lurus, pipinya sangat tirus dan dahinya agak lebar, bagiku dia cantik sama seperti ibuku. Walau kadang bocah ini membuatku kesal, tetap saja aku menyayanginya karena bagaimanapun juga dia adikku satu-satunya.
“Sembarangan,” jawabku ke Nala.
“Kamu sudah baikan sama Ratna? Ibu kangen dia, loh,” kata Ibu padaku. “Kalau lihat anak-anak cewek yang ibu ajar, selalu teringat sama Ratna.”[A1]
Perlu diketahui, Ratna dan ibuku sudah sangat akrab. Dia sering aku ajak ke sini saat kami masih pacaran. Aku harus mengakui bahwa dia adalah calon menantu yang sangat ideal. Dia pintar memasak, sangat sopan pada Ibu dan Ayah, juga baik dengan adikku. Itulah mengapa sangat sulit bagiku untuk tidak memikirkannya setelah hubungan kami kandas. Akan tetapi, Dia sekarang adalah masa lalu, aku sudah punya gebetan baru. Aku begitu optimis saat ini.
“Bu, aku dan Ratna sudah putus, kami tidak akan kembali lagi. Dia sudah ada yang lain, sosok yang lebih dariku,” kataku yang langsung membuat wajah ibuku tampak sedikit berubah.
***
Setelah makan, aku berbaring di atas kasur. Walau banyak barang berserakan di mana-mana, aku tetap saja merasa nyaman di kamar ini. Aku segera mengambil ponsel dan melihat ada puluhan pesan yang masuk. Aku segera bangkit untuk duduk dan membuka pesan-pesan ini.
Ini Sella, Bangga! Aye mau tanya, kalau topinya pakai rumbai-rumbai, boleh, kan? Biar lucu.
Ini Sella, Bangga! Aye mau tanya kalau tasnya dari karung goni, tetapi dihiasi rumput-rumput, boleh, kan? Kami mau kreatif.
Ini Sella, Bangga. Aye mau tanya kalau kalungnya pakai kerang-kerang, boleh, kan? Kami juga buatkan untuk Bangga, loh!
Aku tidak mau membuka pesan-pesan selanjutnya karena semuanya dari nomor yang sama. Padahal aku berharap ada pesan dari Hana, tetapi tidak ada satu pun. Aku menuliskan pesan untuk Sella agar mengembangkan kreativitas kelompok asal sesuai dengan materi yang diberikan tadi siang. Setelah mengirim pesan itu, aku kembali membaringkan tubuh. Belum ada satu menit, aku langsung dapat balasan.
Bangga username sosial medianya apa? Biar aye mudah menghubungi Bangga. Boleh, kan?
Astaga ini anak! Sepertinya tidak apa-apa aku berikan username-ku. Akan tetapi, semua sosial mediaku memiliki username yang sama. Jika satu ketahuan, semua akan ketahuan juga! Ah, mau bagaimana lagi, dia pasti akan terus meminta jika tidak aku serahkan sekarang.
Kini, aku ingin mengirim pesan pada Hana. Apakah ini tidak baik? Aku yang pertama mengirim pesan pada dia? Ah, aku sudah tidak sabar, aku harus mengirim pesan padanya. Masa bodoh dengan jawabannya nanti.
Hai, Hana! Ini Kak Angga. Bagaimana kerja kelompokmu? Jangan sungkan-sungkan bertanya, ya! Kakak akan selalu membalasnya kok kalau kamu bertanya.
Kenapa jantungku berdetak keras, ya? Aku jadi bimbang dengan jawabannya. Apa itu terlihat seperti modus? Aku takut kalau dikira cowok genit olehnya. Beberapa kali aku mengecek ponsel sembari membuka laptop untuk bermain game. Saat tiba-tiba pesan masuk dari Hana, aku segera membukanya dengan cepat.
Bangga, ini yang membalas pesan Bangga, aye, Sella. Kalau mau tanya ke aye aja, ya. Hana sedang membuat topi bersama yang lain. Benar Bangga mau balas setiap aye tanya? Nanti aye tanya macam-macam! Confirm pertemanan f*******: aye, add balik Line sama follow balik Twitter sama i********:, ya! Bangga ganteng deh, apalagi yang foto pakai jaket cokelat di i********: itu! Aye boleh ngefans, ya?
Aku menggeleng dan kemudian melempar ponsel ke kasur.