Bagaimana caranya agar Hana menyukaiku? Biasanya cewek-cewek suka hal-hal yang romantis, kejutan, ataupun barang-barang yang indah. Akan tetapi, aku tidak mau asal tebak. Hana berbeda, kesukaannya juga pasti lain dari cewek pada umumnya. Aku tidak akan bertanya padanya secara langsung, aku akan menyelidikinya. Sekarang aku mau jadi detektif.
Saat istirahat pertama, aku mengamati kelasnya, dia ada di kelas fisika sekarang. Bermodalkan secarik kertas dan bolpoin, aku sudah siap menuliskan apa yang akan aku lihat. Dia keluar kelas! Aku harus bersembunyi di balik tembok sembari memperhatikannya.
Dia sedang bersama Sella, sepertinya sedang mengobrol. Aku harus mendekat agar tahu apa yang mereka obrolkan. Dengan pelan-pelan aku melangkah ban bersembunyi di belakang pintu kelas yang kosong.
“Aye utang dong, Han,” kata Sella ke Hana.
“Utang budi harus dibayar,” jawab Hana.
Kemudian aku tidak mendengar apa yang Sella katakan, yang jelas dia segera pergi setelah mendapatkan uang sepuluh ribu dari Hana. Dasar, umur segitu sudah suka utang, mau jadi apa dia? Melupakan Sella, aku kini memperhatikan Hana lagi. Dia bergerak ke arah pot bunga.
Dia tidak melihat bunganya, tetapi potnya. Aku langsung menulis di kertasku bahwa Hana suka dengan pot bunga. Setelah itu, dia beranjak pergi. Sebelum aku mengikutinya, aku menghampiri pot yang dilihat oleh Hana. Pot itu bermerek Cappede. Angga, kerja bagus, kamu sudah tahu satu hal yang disukai Hana.
Kini aku mengikuti Hana, dia berjalan perlahan dan cowok-cowok di depan kelas melirik ke arahnya, bahkan ada yang diam-diam memotretnya. Kurang ajar mereka, lihat saja nanti kalau Hana sudah jadi pacarku, kalian akan iri setengah mati padaku.
Hana mengambil bungkus jajan di lantai, dia mengamatinya. Aku memperhatikan apa yang dia amati, oh ternyata komposisinya. Setelah mengamati bungkus jajan itu dia membuangnya ke tempat sampah dan kembali pergi. Aku pun segera menuju tempat sampah dan mengambil bungkus itu.
Aku perhatikan komposisinya, bahan utamanya singkong. Oke, sekarang aku tahu kalau dia suka singkong. Dengan cepat aku sudah tahu dua hal yang dia sukai, sekarang aku harus melanjutkan misiku. Dia sekarang tengah membaca artikel di majalah dinding.
Aku memperhatikannya dari jarak dekat. Tiba-tiba dia menoleh, aku segera menghadap belakang dan pura-pura membaca kertas di tanganku. Astaga, kalau ketahuan bagaimana? Jangan sampai ketahuan, aku belum tahu banyak tentang dia. Nanti kalau aku sudah tahu cukup banyak, ketahuan tidak masalah.
Sepertinya dia sudah tidak melihatku, aku segera menoleh ke arah majalah dinding lagi dan dia ternyata sudah pergi ke arah perpustakaan. Aku segera menuju majalah dinding dan melihat ke artikel yang sebelumnya dibaca Hana.
Cara Mendeteksi Keberadaan Penguntit di Sekitar Kita.
Mampus! Aku sudah disangka tukang ojek sama Hana, kalau dia bisa mendeteksi aku mengikutinya, aku akan disangka penguntit juga. Jangan-jangan di matanya aku adalah pembimbing kelompok MOS yang berpindah haluan menjadi tukang ojek yang suka menguntit. Astaga, mimpi buruk!
“Bangga, sedang baca apa?” tanya seseorang yang tiba-tiba muncul di dekatku.
“Kamu membuatku kaget saja,” kataku ke Sella.
“Bangga harus bangga dong dikageti sama cewek seaduhai aye,” katanya, kemudian mengibaskan rambutnya.
“Siapa yang bilang kamu aduhai?” tanyaku dengan mata disipitkan.
“Babe aye. Katanya kalau mau jadi aduhai, aye harus meniru dandanan Emak, jadi aye tiru, deh. Gambar alis dari subuh, pakai bedak tiga merek dan lipstik yang diolesi minyak zaitun. Jadilah aye kayak Emak yang aduhai,” jelasnya sembari menunjukkan setiap bagian wajahnya.
“Dandan itu sesuai umur, Sella,” ujarku menasihatinya.
“Nggak harus, Bangga. Aye kan sudah dikaruniai tubuh montok nan bahenol seperti ini. Jadi harus dimanfaatkan agar semakin aduhai, caranya dengan dandan kayak Emak,” katanya yang tetap ngotot.
“Ya sudah, itu pilihanmu. Aku mau ke kelas, ya,” kataku yang langsung melangkah untuk pergi.
Akan tetapi, dengan begitu gesit Sella merebut kertas yang ada di tanganku. “Apa ini, Bangga? Daftar hal yang disukai doi?”
“Sella, kembalikan!” kataku ingin merebutnya, tetapi dia bisa menghindari tanganku.
“Pot merek Cappede dan singkong. Kok ini aye banget? Astaga, jadi Bangga suka sama aye juga? Bangga sampai tahu apa yang aye suka. Ih, Bangga so sweet!” kata dia langsung memelukku.
Bajuku kena make-up-nya lagi!
***
Jam dua lebih Pak Wiwit, guru mata pelajaran kejuruanku, pergi. Dia bilang sih mau menyelamatkan dunia, tetapi mana kami percaya. Selama dia pergi, aku ada di kantin bersama Gio, Aldi, dan Risa. Kami memang sering berempat akhir-akhir ini karena kami kini satu kelas. Walau terkadang Gio akan berkumpul dengan anak-anak musik kalau mereka datang.
“Malas sekali kita ada pelajaran Ibu Markonah habis ini,” ujar Gio yang tengah menggunakan tusuk gigi, padahal dia belum makan.
“Kita tiga tahun bertemu guru galak itu terus,” sahut Aldi yang tengah memainkan ponselnya.
“Kamu diam saja, Ris,” kataku ke Risa.
“Pengin sok cool,” jawabnya singkat.
“Cewek itu sok cantik, bukan sok cool,” kataku pada Risa.
“Sok cantik itu berarti nggak cantik!” jawab Risa singkat.
“Berarti kamu cantik, ya, Ris?” tanyaku.
“Risa cantik, kok,” sahut Gio.
Aku langsung bisa melihat lirikan Gio ke Risa dan sebaliknya. Mereka tampak canggung, terlebih Risa yang pipinya memerah.
“Besok lu berangkat ekskul, nggak?” tanya Gio ke Risa.
“Berangkat aja, gue pengin main drum,” jawab Risa. “Lu sendiri?”
“Berangkat, gue pengin lihat lu main drum,” jawab Gio cengengesan.
Aku diam saja mendengar mereka berbicara. Risa memang tampak cuek dengan Gio, tetapi dia peduli. Aku sebenarnya bisa merasakan kalau Gio itu suka sama Risa. Lucu saja melihat mereka berdua. Sayangnya Gio itu playboy, aku takutnya kalau Risa benar-benar menyukai Gio dan kemudian mereka pacaran, Gio bisa menyakiti hati Risa. Sahabatku itu memang tomboi, tetapi hatinya begitu lembut dan sensitif.
“Namanya Hana, dia cantik, tapi rada-rada.”
Ucapan seseorang di dekatku itu membuatku menoleh.
Di meja lain, ada anak kelas sebelas yang aku tahu adalah Adnan dan kedua temannya, Jamal dan Udin. Mereka bertiga adalah geng Adnan Jamaludin, sudah sangat terkenal karena Adnan adalah anak pendonor dana terbesar sekolah kami.
“Aku kan modus, tahu kan kalian. Aku basa-basi, tapi dianya nggak respons. Pas aku tanya nomornya, dia malah bilang apa coba?” tanya Adnan, seakan berusaha membuat teman-temannya penasaran.
“Apa?” tanya Udin.
“Kalau kita ke bank, kita harus ambil nomor antrean. Budayakan mengantre sejak dini,” ucap si Adnan, langsung membuat wajah teman-temannya bingung.
“Kok bisa? Dia melawak?” tanya Jamal.
“Aku tanya rumahnya di mana. Dia malah menunjuk ke semua arah. Dia bilang kalau semua tempat harus dianggap seperti rumah,” terang Adnan lagi.
“Kayaknya kupingnya kemasukan gajah, atau dia mengidap tulalit akut,” ujar Udin tertawa.
Aku benar-benar emosi dengan kata-kata anak itu. Ingin rasanya berdiri dan menggebrak meja itu, namun kata-kata Adnan tiba-tiba menurunkan emosiku. “Buat apa cantik kalau diajak komunikasi saja tidak bisa? Hubungan kan yang paling penting komunikasi.”
Apa yang dikatakan Adnan itu benar, ya? Jika aku menjalin hubungan dengan Hana yang sangat sulit berkomunikasi, apa itu akan menjadi halangan bagiku? Aku yang salah karena ingin mendekatinya dan menjadikannya pacarku atau Adnan yang salah? Jawabanku adalah Adnan yang salah! Cara orang berkomunikasi itu berbeda-beda, Hana adalah contoh yang berbeda, dia unik dan aku justru semakin semangat untuk mengenalnya lebih jauh. Aku yakin komunikasi kami akan lancar jika sudah saling mengenal dengan baik.
“Dari tadi lu bengong, Ngga? Ada apa?” tanya Gio sembari menusuk tanganku dengan tusuk giginya.
“Jorok! Itu kan sudah kena jigongmu!” kataku kaget.
“Orang jorok bilang jorok,” sindir Risa padaku.
“Aku memang cuma mandi sekali, tetapi aku tidak jorok,” kataku pada Risa.
“Itu jorok,” tegas Risa, “walau aku juga.” Dia kemudian tertawa.
“Sama aja ente, Ris,” sindir Aldi sambil geleng-geleng.
Makanan yang kami pesan datang, tetapi saat itu datang seorang cewek berpipi tembam dengan dandanan yang dia bilang aduhai. Siapa lagi kalau bukan Sella.
“Ada pujaan hatinya Angga, tuh!” kata Gio seraya menunjuk ke Sella.
“Berisik,” kataku pada Gio dengan nada kesal.
“Bang Aldi, minta duit!” teriak Sella. “Ada Bangga juga ternyata! Kenapa Bangga tadi kabur? Katanya suka sama aye?” tanya Sella yang mengingatkanku pada insiden tadi pagi saat dia memelukku.
“Ente boros amat! Buat beli apa uang sakunya?” tanya Aldi yang sepertinya punya hubungan dengan Sella.
“Aye beli pembalut sama beli pembalut lagi,” jawabnya tanpa malu.
“Ini, goceng aja!” ucap Aldi memberikan uang lima ribuan pada Sella.
“Pelit amat! Ceban, dong!” kata Sella dengan kesal.
Aldi memberikan lima ribuan lagi pada Sella dengan terpaksa. Terlihat mukanya seperti malu dan risi dengan kedatangan Sella.
“Kak Gio!” teriak Sella. “Oh iya, sudah bukan MOS,” gumamnya pada dirinya sendiri. “Bang Gio!” panggil Sella lagi.
Aku melotot ke Gio agar dia tidak melakukan hal yang aneh-aneh. “Apa?” tanya Gio dengan cuek sembari menyantap mi ayamnya.
“Ada salam dari Tari, Julia, Renata, Mawar, Aida, Hena, Siti, Miti, dan lain-lain karena banyak. Mereka tadi lihat konser Bang Gio di YouTube. Katanya Bang Gio keren banget!” kata Sella seperti menghitung nama-nama yang titip salam ke Gio.
“Makasih,” jawab Gio tanpa menoleh ke Sella.
“Kalau menurut aye, sih, Bang Gio biasa aja! Mainstream, mending nggak usah konser lagi. Nggak ada gregetnya sama sekali, begitu doang, cemen!” ucap Sella berpendapat.
Aku hampir saja memuncratkan makananku karena mendengar kejujuran Sella. Kulihat juga wajah Risa ingin tertawa. Sedangkan wajah Gio tampak kaget dengan mata melotot, dia diam saja karena tidak bisa berkata-kata lagi.
“Bangga, aku bikin puisi buat Bangga, loh. Cek pesanku, ya! Bagus banget puisiku! Paling bagus sejagat raya! Judulnya ‘Tidak Bisa Tidur Karena Bangga Tersayang yang Sedang Memimpikanku’,” kata Sella yang langsung pergi membawa uang ceban dari Aldi.
Risa tampak ingin tertawa dengan ucapan Sella, tetapi dia tahan-tahan.
“Gio, maafin adik ane, ya! Dia emang kayak gitu,” kata Aldi yang akhirnya buka kartu bahwa Sella adalah adiknya.
“Adik lu itu harus digiling! Tidak sopan sama titisan Adam Levine!” kata Gio kesal, tetapi masih sempat membanggakan diri.
“Adikmu itu bikin bajuku kotor terus, sadarkan ya biar tidak ganggu aku,” bisikku ke Aldi.
Aldi menggeleng. “Dia itu pejuang sendiri. Dia tidak akan pernah berhenti kalau udah suka sama orang, tidak pernah berhenti selama-lama-lama-lamanya,” kata Aldi yang secara tak langsung membuatku takut setakut-takutnya.
Kata-kata Aldi menggema sampai pulang, sampai-sampai terbawa mimpi juga. Aku dikejar-kejar oleh Sella versi raksasa sampai akhirnya aku dimakan olehnya.