Hari penjualan datang setiap Kamis, dan setiap Kamis para penambang Sangkar Arang berbaris di depan gudang Toke Bahar dengan gerobak penuh, wajah penuh harap, dan pulang dengan dompet yang lebih kosong dari yang mereka kira.
Kasan tiba pagi-pagi, mendorong gerobak yang ia isi dengan arang dua hari penuh. Punggungnya nyeri. Telapak tangannya pecah-pecah meski sudah berlapis kapal. Di depannya sudah ada Mahmud, penambang tua bertangan satu — yang satunya hilang di runtuhan tujuh tahun lalu — dan di belakangnya Pendi, gelisah seperti biasa, menggoyangkan kaki.
Kasan memperhatikan timbangan. Ia selalu memperhatikan timbangan, sejak ayahnya pernah berbisik di ranjang kematiannya: "Lihat tangan Toke saat menimbang, Nak. Bukan jarumnya. Tangannya."
Mahmud menumpahkan karungnya. Toke Bahar — atau lebih sering anak buahnya, Si Lukas, lelaki kurus berwajah datar — menata arang di atas wadah timbang. Jarum bergerak ke angka, lalu Lukas menekan tepi wadah, ringan sekali, dengan ujung jari, dan jarum mundur sedikit. Bukan banyak. Setengah kilo, mungkin. Tapi setengah kilo dikali lima karung, dikali tiga puluh penambang, dikali setiap Kamis selama bertahun-tahun, adalah gunung arang yang lenyap ke dalam celah yang tak terlihat.
Lalu ada harga. Toke Bahar mengumumkannya pagi itu seperti membaca takdir. "Pasaran turun, saudara-saudara. Pabrik di kota tahan beli. Minggu ini aku cuma bisa bayar segini." Angka yang ia sebut lebih rendah dari minggu lalu, dan minggu lalu sudah lebih rendah dari bulan lalu. Tidak ada yang tahu apakah pabrik di kota benar-benar menahan beli. Tidak ada yang pernah ke kota. Toke Bahar adalah satu-satunya pintu antara Sangkar Arang dan dunia di luar, dan ia memutar engsel pintu itu sesuka hatinya.
Giliran Kasan. Ia menumpahkan arangnya, arang terbaik yang bisa ia kumpulkan, bongkahan padat mengkilap. Lukas menata, menimbang, dan jari itu kembali menyentuh tepi wadah. Kasan menahan napas, lalu berkata, suaranya lebih keras dari yang ia rencanakan. "Jangan dipegang, Bang."
Lukas mengangkat wajah. Datar. "Apa?" "Tangannya. Jangan dipegang wadahnya. Mengganggu jarum." Antrean di belakang terdiam. Toke Bahar, yang sedang menghitung di mejanya, mengangkat kepala perlahan, seperti gajah yang baru menyadari ada nyamuk.
"Kasan," kata Toke Bahar, ramah. "Kau menuduh anak buahku curang?" Jantung Kasan berdebar, tapi ia menunjuk. "Saya cuma minta tangannya tidak menyentuh wadah saat menimbang. Itu hak saya." Toke Bahar berdiri. Ia tidak marah. Itu yang paling menakutkan. Ia berjalan ke timbangan, mengangkat tangan Lukas menjauh dengan gerakan sopan, lalu menimbang ulang arang Kasan dengan tangannya sendiri yang bersih dari trik. Jarum berhenti di angka yang sedikit lebih tinggi. "Nah," katanya. "Lebih adil sekarang. Senang?"
Dan itulah pukulan yang sebenarnya. Karena selisihnya kecil. Sangat kecil. Tidak cukup untuk membuat Kasan menang, hanya cukup untuk membuat Toke Bahar tampak murah hati. Ia membayar Kasan dengan angka rendah yang sudah ia umumkan, dan selisih kejujuran tadi tertelan di dalam harga yang ditahan. Kasan menang di timbangan dan kalah di harga, dan ia paham, dengan kepahitan yang merembes ke tulang, bahwa sistem ini tidak bisa dikalahkan dengan teriakan. Curangnya tidak ada di satu tempat. Curangnya ada di mana-mana sekaligus — di timbangan, di harga, di buku utang, di kenyataan bahwa tak ada pembeli lain.
Kasan menerima uangnya, menghitung, dan langsung mengembalikan sebagian besar ke meja yang sama. "Cicilan utang," gumamnya. Toke Bahar mencatat dengan senyum. "Pintar. Bapakmu juga selalu disiplin. Sayang umurnya pendek."
Di luar gudang, Pendi menepuk pundak Kasan. "Gila kau berani. Tapi percuma, San. Kita ini ikan dalam jaring. Mau mberontak ke mana? Air pun dia yang punya." Kasan tidak menjawab. Ia memandang ke arah bukit di seberang, ke mulut-mulut lubang yang dulu produktif dan kini mengering. Sebentar lagi semua orang di sini tidak punya apa-apa untuk ditimbang, curang atau tidak.
Sore itu, ketika antrean sudah bubar, Si Lukas menghampiri Kasan yang sedang membenahi gerobaknya. "Toke mau bicara," katanya. Kasan masuk ke ruang belakang gudang, ruangan yang lebih sejuk, berisi lemari besi dan kalender bergambar pemandangan luar negeri. Toke Bahar menuangkan teh, dua gelas, dan mendorong satu ke arah Kasan. Gestur itu sendiri sudah aneh. Cukong tidak menuang teh untuk penggali.
"Kau penambang yang teliti," kata Toke Bahar. "Aku perhatikan. Bapakmu cangkulnya buta, tapi kau punya telinga. Itu langka." Ia menyeruput teh. "Utangmu besar, Kasan. Kita berdua tahu lubang dangkalmu tidak akan melunasinya seumur hidup. Kau akan tua di sini, lalu mati, lalu utang itu pindah ke Nurlela. Begitu seterusnya."
Kasan menggenggam gelas tehnya, tidak meminum. "Bapak saya bilang begitu juga," katanya pelan. "Sebelum dia mati." Toke Bahar mengangguk, seakan turut sedih. Lalu ia mencondongkan badan, dan suaranya merendah jadi nada konspirasi. "Tapi ada jalan, Kasan. Ada lapisan di kota ini yang belum pernah disentuh tangan miskin seperti kalian. Lapisan gemuk. Setebal paha. Arang terbaik yang pernah keluar dari tanah Sumatera." Ia menjeda, membaca wajah Kasan. "Satu minggu di sana, dengan tim yang benar, dan utang bapakmu lunas. Lunas, Kasan. Nurlela sekolah, ibumu berobat ke kota."
Kasan merasakan sesuatu di tengkuknya, perasaan yang sama dengan saat atap mulai berdenyut. Bahaya yang belum kelihatan. "Lapisan mana, Pak?" ia bertanya, meski separuh dirinya sudah tahu, separuh dirinya sudah merasakan dingin merayap. Toke Bahar tersenyum dan tidak menyebut nama. Ia hanya berkata, "Jalur lama. Di bukit utara. Yang ditinggalkan." Dan dari cara para penambang tua di luar, yang sebagian mendengar bisik-bisik itu, tiba-tiba berhenti bicara dan menatap tanah, Kasan tahu jalur mana yang dimaksud.