Kursi tunggu poli onkologi terlalu rendah untuk laki-laki berkaki panjang. Revan duduk dengan siku di lutut, menatap pintu bertuliskan nama dokter Iqbal yang baru saja menutup di belakang Fina, dan menghitung berapa kali ia memandangi pintu tertutup selama enam minggu terakhir. Terlalu sering.
"Mas tunggu di sini sebentar, ya," kata Fina tadi di depan pintu itu. "Lima menit pertama biar aku sendiri. Nanti aku panggil."
Bukan penolakan. Revan tahu bedanya sekarang. Ia menjawab "Iya", lalu duduk, dan duduk itu ternyata lebih sulit daripada berdiri.
"Om Revan?"
Ia menoleh. Seorang anak perempuan berkuncir kuda berdiri dengan ransel di dada, bibirnya sudah setengah tersenyum seakan tebakannya benar sebelum dijawab. Taya. Putri Iqbal itu menjatuhkan diri ke kursi sebelah tanpa menunggu dipersilakan.
"Aku ikut Papa. Sekolah pulang cepat, gurunya rapat, di rumah nggak ada orang. Papa suruh aku duduk manis di sini." Ia melirik pintu. "Tante Fina di dalam, ya?"
"Iya. Sedang diperiksa."
"Berarti Om yang antar." Taya mengangguk puas pada kesimpulannya sendiri. "Biasanya Tante Fina datang sendirian. Aku suka lihat dari jendela mobil. Sampai aku mikir, suaminya ke mana."
Kalimat itu mengenai Revan tepat di tempat yang sama dua kali. Ia tidak membela diri. "Om tersesat agak lama, Taya. Sekarang Om di sini."
Taya memeriksa wajahnya sebentar, lalu merendahkan suara, yang bagi anak dua belas tahun berarti hanya turun separuh. "Om jangan bilang Papa, ya. Kemarin Papa nangis di mobil."
Revan menegakkan punggung. "Nangis?"
"Aku pura-pura tidur di kursi belakang. Papa bilang, 'Tante Fina lebih kuat dari semua orang.' Terus Papa diam lama banget sambil pegang setir, padahal lampunya sudah hijau dan mobil di belakang bunyiin klakson." Taya mengerutkan hidung. "Aku nggak ngerti kenapa orang dewasa nangis kalau muji orang."
"Kenapa kamu cerita ke Om?"
"Soalnya kalau aku nggak cerita ke siapa-siapa, perutku sakit." Jawaban itu begitu lugas sampai Revan nyaris tertawa. "Lagian Om kelihatan bisa simpan rahasia."
Revan hampir menjawab bahwa ia justru terlalu lama menyimpan rahasia, dan yang membayar mahal adalah orang-orang di rumahnya. Tapi pintu poli terbuka, dan suster Citra menyembulkan kepala.
"Pak Revan? Bu Fina minta Bapak masuk."
Di dalam, Fina duduk di kursi pasien dengan lengan baju tergulung sampai siku, bekas jarum kebiruan di lipatannya. Iqbal berdiri di sisi meja dengan map hasil lab terbuka. Ia menyebut "Pak Revan" dan mengangguk sekali, lalu langsung berbicara kepada map, bukan kepada wajah siapa pun.
"Hitung darah Bu Fina sudah pulih, demamnya tidak kembali. Responsnya terhadap kemo kelima baik. Pekan ini tidak ada kemo. Berikutnya saya atur setelah kita lihat gambaran ulangnya."
"Gambaran ulang itu CT scan?" tanya Revan.
"Betul, Pak. Jadwalnya saya kabari."
"Saya boleh buka toko, Dok?" tanya Fina.
"Boleh, asal duduk. Jangan angkat yang berat."
"Dia tidak akan angkat apa pun," kata Revan. "Saya yang angkat."
Fina meliriknya dengan sudut bibir yang naik sedikit. Iqbal tidak ikut tersenyum. Suaranya mantap dari awal sampai akhir, tetapi pulpen di tangan kanannya berputar di antara jari, sekali, dua kali, sampai suster Citra mengambilnya dari tangan itu dengan alasan butuh menulis.
"Ambil darah sekali lagi di lab lantai bawah, ya, Bu Fina," kata Iqbal. "Hasilnya bisa diambil sore."
Fina bangkit. "Mas, tolong air putih. Mulutku pahit sekali." Ia berjalan keluar bersama suster Citra tanpa menunggu jawaban.
•||•
Dispenser terdekat ada di ujung lorong, dan Revan kembali dengan dua gelas kertas di tangan. Dari jauh ia melihat Fina duduk di bangku besi depan lab, memegang kertas antrean, kerudungnya miring sedikit. Ia sudah mau mempercepat langkah ketika matanya menangkap seseorang yang lain.
Iqbal berdiri di ambang pintu poli. Jas putihnya terbuka, kedua tangan masuk saku. Ia tidak bergerak, tidak memanggil, hanya memandang ke arah bangku besi itu dengan wajah yang sudah lama berhenti menyamarkan apa-apa.
Revan berhenti dua langkah di sampingnya. Ia tidak perlu bertanya. Ia hafal tatapan itu karena ia sendiri pernah memakainya di depan pintu kamar yang tidak berani ia ketuk.
Iqbal menoleh dan tersentak. Pandangannya jatuh ke lantai. "Saya hanya dokternya, Pak."
"Saya tahu."
"Saya tidak..."
"Saya tidak bertanya apa-apa, Dok."
Hening. Dari ruang tunggu terdengar suara Taya menyanyikan sesuatu yang fals. Revan menunggu amarah naik seperti dulu, ketika Iqbal bercakap dengan Fina di Bandung dan ia membawa istrinya pulang di tengah acara. Amarah itu tidak datang. Ia hanya tidak punya hak untuk itu. Hell, tidak ada orang di lorong ini yang lebih tidak berhak darinya.
"Anda berhak bertanya," kata Iqbal pelan. "Karena itu saya bilang lebih dulu. Ada hal pribadi yang ingin saya sampaikan kepada Bu Fina. Bukan soal penyakit. Dan saya tidak mau ada yang bersembunyi di belakang siapa pun."
Revan menatap gelas kertas di tangannya, permukaan air yang bergetar karena jarinya sendiri. Ia menenangkan jari itu. "Itu bukan keputusan saya."
"Saya tahu. Karena itu saya akan tanya langsung kepada beliau."
Fina muncul dari arah lab dengan kapas di lipatan siku, melangkah pelan dan berhati-hati. Ia melihat kedua laki-laki itu berdiri berdampingan dalam diam, dan langkahnya melambat.
"Bu Fina," kata Iqbal, "hasil lab bisa diambil sore. Ada satu hal lagi." Ia menelan ludah. "Sabtu, saya minta sepuluh menit dari waktu Ibu. Di taman rumah sakit. Bukan soal medis."
Fina memandang Iqbal, lalu Revan. Revan menyerahkan gelas air kepadanya dan membiarkan wajahnya tetap datar. Kali ini jari-jarinya diam.
"Sabtu sore," kata Fina akhirnya. "Setelah toko tutup. Sepuluh menit, Dok."
"Sepuluh menit saja. Terima kasih."
Iqbal masuk kembali ke poli dan menutup pintunya tanpa suara.
•||•
Di mobil, hujan gerimis sudah berhenti, tapi kaca depan masih berembun. Pak Ucup menyetir dengan telinga yang sengaja tidak mendengar apa pun. Fina memandangi jalan, kapas masih menempel di lengan bajunya.
"Mas tidak tanya apa-apa," katanya.
"Tidak."
"Kenapa?"
"Karena itu urusanmu dengan dia, dan kamu sudah menjawab." Revan menarik napas. "Kalau kamu mau cerita, aku dengar. Kalau tidak, aku tetap duduk di kursi tunggu. Aku sudah belajar duduk."
Fina menoleh. Ada sesuatu yang bergerak di wajahnya, bukan senyum, bukan sedih, sesuatu di antaranya.
"Aku mau cerita, Mas," katanya pelan. "Tapi bukan sebelum Sabtu. Aku mau dengar dulu apa yang ingin ia katakan, supaya aku tidak menceritakan setengah."
Revan memandang tangan Fina yang terlipat di pangkuan, lalu ke jendela. "Boleh aku antar Sabtu nanti?"
"Boleh. Tapi Mas menunggu di toko."
Revan menelan sisa kata di tenggorokan, lalu menjawab, "Aku menunggu."