Senin pagi Revan turun ke ruang makan dengan dasi yang belum terpasang. Fina sudah duduk di sana dengan secangkir air hangat dan sepiring bubur yang hampir tak tersentuh, karena sejak kemo kelima lidahnya masih menolak banyak rasa. Revan menarik kursi, tidak langsung duduk, lalu berdiri dengan dasi menggantung di leher seperti anak yang lupa pelajaran.
"Mas kenapa?"
"Aku mau bicara dengan Hasna pagi ini. Yang tuntas, seperti syaratmu." Ia menatap tangannya sendiri. "Aku tidak bilang karena minta dipuji. Aku cuma mau kamu tahu aku mulai."
Fina meletakkan sendok. Ia memandangnya seperti sedang menimbang sesuatu yang kecil tapi penting, kemudian mengambil ujung dasi itu dari dada Revan dan menyimpulnya dengan dua tarikan rapi. Jarinya tidak menyentuh kulit.
"Boleh?" tanya Revan terlambat.
"Sudah terlanjur." Sudut bibir Fina naik sedikit. "Pergilah. Bicara pelan-pelan. Dia sedang membawa bayi."
Revan naik tangga dengan langkah yang terasa lebih berat tiap anak tangga.
•||•
Hasna duduk bersandar pada tumpukan bantal di kepala ranjang, satu tangan di atas perut yang menggunung, satu lagi memegang baju bayi mungil berwarna kuning yang sedang ia lipat berkali-kali. Reffa pergi ke pasar bersama Mbak Marni, dan rumah terasa seperti menahan napas.
"Kamu bawa wajah itu lagi," kata Hasna tanpa menoleh. "Wajah mau bilang sesuatu yang bikin aku nangis."
"Aku mau bilang sesuatu yang tidak akan kubuat manis."
"Duduk."
Revan duduk di tepi ranjang. Jarak mereka kurang dari satu lengan, dan ia sadar ia tidak pernah merasa sejauh ini dari Hasna sekalipun mereka berdekatan. Baju kuning itu dilipat sekali lagi.
"Fina memberiku syarat," katanya. "Dia bilang aku harus jujur sampai tuntas padamu. Bukan demi dia. Demi kamu. Karena kamu berhak tahu apa yang terjadi pada pernikahanmu sendiri."
Gerakan tangan Hasna berhenti. "Dia bilang begitu?"
"Dia bilang begitu."
"Dasar." Hasna tertawa kecil yang tidak jadi tawa. "Perempuan itu bahkan membelaku di belakang punggungku."
Revan menarik napas. "Na, aku tidak lagi mencintaimu seperti dulu. Aku tidak mau berbohong. Bukan karena kamu hamil, bukan karena Dimas, bukan karena kamu salah apa pun. Aku yang berubah. Aku tidak bisa menunjuk tanggal. Yang kutahu aku tidak bisa lagi mengatakan kata itu kepadamu dengan jujur, dan aku lebih memilih menyakitimu hari ini dengan kebenaran daripada besok dengan kebohongan."
Hasna tidak menjawab. Tangannya yang memegang baju bayi bergeser perlahan ke perut dan berhenti di sana. Sekilas ia terlihat sangat muda, sangat takut, dan sangat mirip perempuan yang menangis di dadanya bertahun-tahun lalu dan mengira dunia hanya berisi mereka berdua.
Revan menunggu tamparan. Atau tangis. Atau teriakan yang bisa terdengar sampai kebun. Tapi Hasna hanya diam, lama sekali, dan itu jauh lebih berat.
"Aku tahu," katanya akhirnya, nyaris tanpa suara. "Aku sudah tahu sebelum malam di kamar itu. Perempuan tahu, Van. Dari cara kamu lupa memeluk. Dari cara kamu tidak lagi bilang sayang di telepon." Ia mengelus perutnya dengan lingkaran lambat. "Tapi mendengarnya dari mulutmu tetap beda."
"Maaf."
"Jangan minta maaf. Kamu sudah minta maaf pada semua orang minggu ini." Hasna mengangkat mata, sembab tapi kering. "Terima kasih. Karena kamu tidak bohong."
Revan menunduk. Kerongkongannya sakit.
"Sekarang dengar aku." Hasna menegakkan punggung dengan susah payah. "Tidak ada keputusan apa pun sebelum anak ini lahir. Tidak ada surat, tidak ada pengacara, tidak ada obrolan siapa tinggal di mana. Aku tidak mau melahirkan sambil memikirkan apakah pernikahanku masih ada."
"Setuju."
"Kamu mau aku pergi dari rumah ini?" Hasna menatapnya, dan di balik nada tegasnya ada ketakutan yang ia tak sanggup sembunyikan. "Dengan Bima? Dengan anak ini?"
"Tidak. Kalian tidak ke mana-mana. Ini rumahmu juga, Na. Itu tidak berubah karena apa pun yang kukatakan hari ini."
"Dan setelah dia lahir?"
"Kita bicarakan setelah dia lahir. Dengan kepala dingin dan dengan Bima tidak di dalam ruangan." Revan menarik napas. "Aku tidak akan membiarkan kalian kekurangan apa pun. Itu bukan janji manis. Itu kewajiban."
Hasna mengangguk lambat. Lalu ia meringis kecil, menahan napas, dan menarik sebelah tangan dari pangkuan. "Dia menendang kalau kamu bicara. Dari tadi. Kayak mau ikut menjawab." Ia ragu, lalu menatap Revan. "Mau pegang?"
"Boleh?"
"Kamu ayahnya."
Revan meletakkan telapak tangannya di sisi perut yang ditunjuk Hasna. Hangat, keras, dan di bawah kulit ada sesuatu yang bergerak, kecil dan tegas, menendang tepat di tengah telapaknya. Sesuatu di dada Revan yang sudah retak berminggu-minggu retak sedikit lebih lebar. Ia tersenyum tanpa sadar.
"Dia nggak salah apa-apa," bisik Hasna. "Apa pun yang terjadi sama kita."
"Aku tahu. Dia nggak akan pernah kuanggap salah."
Hasna menarik tangan Revan dari perutnya dengan lembut, dan jeda itu bukan penolakan.
"Dan satu hal lagi." Suaranya bergetar sedikit. "Waktu aku melahirkan, kamu datang. Saat itu, Van. Bukan setelahnya. Bukan 'maaf, Na, ada urusan Fina'. Aku tahu Fina lebih sakit. Aku tahu jadwalnya. Tapi aku mau satu kali saja dalam hidup ada seseorang yang datang tepat waktu untukku."
Kalimat itu memukul Revan lebih keras daripada tamparan mana pun. Ia teringat Fina dulu, yang melahirkan Langga tanpa ia di sisinya. Sekarang dua perempuan, dua persalinan, dan ia berdiri di antaranya.
"Aku berjanji," katanya. "Apa pun yang terjadi, aku datang."
"Ingat kata itu." Hasna mengusap sudut matanya dengan punggung tangan. "Aku akan menagih."
•||•
Revan keluar dan menutup pintu pelan. Lututnya lemas, dan ia berdiri sebentar bersandar di dinding lorong sebelum turun. Di ujung tangga, di bawah, Dimas sedang berdiri dengan kantong buah di satu tangan, wajahnya tidak bisa ditebak.
Pintu rumah rupanya sudah dibukakan Mbak Marni dan Dimas masuk tanpa suara. Revan tidak tahu seberapa banyak yang ia dengar. Dari cara Dimas memandang lantai, mungkin cukup.
"Gue dateng bawa jeruk," kata Dimas datar. "Buat Hasna."
"Dia di atas."
"Lo dengar?" tanya Revan. Suaranya lebih lelah dari yang ia mau.
"Sebagian. Cukup." Dimas tidak bergerak. Ia memindahkan kantong ke tangan lain, rahangnya mengeras lalu mengendur. "Gue cuma minta satu hal, Van."
"Apa?"
"Lo tetap jujur ke dia. Sampai akhir. Jangan pernah nutup-nutupin, walaupun itu bikin dia nangis." Ia menatap Revan sekarang, tanpa marah, tanpa belas kasihan. "Dia sudah cukup dibohongi hidup. Gue nggak mau liat lo nambahin."
Revan mengangguk. Sekali. Dalam.