"Maaf," kata Revan.
"Jangan." Hasna mengangkat satu jari dari seprai, lemah, seperti menunjuk sesuatu yang jauh. Suaranya serak dan lambat karena obat. "Jangan bilang maaf dulu. Aku belum selesai."
Revan menutup mulut.
"Kamu telat. Aku mau kamu tahu aku mencatatnya." Ia menatap langit-langit sebentar, lalu kembali pada wajah Revan. "Tapi aku tahu kenapa. Kamu mengantar dia dulu."
"Na..."
"Aku tahu kamu memilih dia hari ini." Tidak ada getar di suaranya, dan itu justru membuat Revan merasa tertusuk. "Aku nggak marah, Van. Aku capek. Aku sudah menangis seminggu penuh, dan tadi di meja operasi aku sadar ternyata aku nggak punya air mata lagi. Yang tersisa cuma capek. Kamu tahu bedanya?"
"Aku mulai tahu."
"Kamu nggak memilih dia dengan meninggalkan aku." Hasna memejamkan mata. "Kamu memilih dia sampai pintu, lalu lari ke sini. Aku dengar dari Dimas, kunci mobilmu dilempar ke valet. Sambil nangis."
"Aku tidak nangis di mobil."
"Dimas bilang kamu nangis."
"Dimas tidak lihat."
"Dimas orang yang selalu tahu." Sudut bibir Hasna bergerak, setengah senyum yang tidak sampai ke mata. "Duduk. Jangan berdiri terus di situ seperti petugas."
Revan duduk. Kursi itu terlalu rendah, lututnya hampir menyentuh tepi ranjang. Hasna menggerakkan tangannya, sedikit, dan Revan baru paham bahwa itu undangan. Ia menggenggamnya. Telapaknya dingin.
"Sudah lihat bayinya?" tanya Hasna.
"Sudah. Aku gendong."
"Dia mirip siapa?"
"Mirip kamu waktu cemberut." Revan nyaris tertawa. "Dahinya berkerut-kerut. Terus dia mengantuk waktu aku bilang halo."
"Sama." Hasna terkekeh pelan dan segera meringis memegang perutnya. "Aduh, jangan lucu. Jahitannya."
"Maaf."
"Kamu bilang maaf lagi."
"Itu bukan permintaan maaf. Itu refleks."
"Fina sudah masuk?" tanya Hasna, lebih pelan.
"Jam tujuh lewat tiga puluh."
"Dia takut?"
"Dia menyuruhku tersenyum di mobil."
"Dan kamu bisa?"
"Gagal." Revan mengusap wajah. "Langga bilang aku kayak orang mau dicabut gigi."
Hasna tertawa lagi, tertahan, mata terpejam. "Anak itu. Kalau dia dewasa nanti, kasihan orang-orang yang bohong di depannya."
Hening sesaat. Dari balik tirai biru terdengar bunyi mesin pemantau yang berbunyi teratur. Hasna menelan ludah, dan Revan memberinya segelas air dengan sedotan. Ia meminumnya pelan-pelan, mata tidak lepas dari wajah Revan.
•||•
Perawat membawa Kirana pukul sepuluh lewat seperempat, dalam boks kecil beroda, dan meletakkannya di dada Hasna dengan hati-hati. Hasna tidak berkata apa-apa. Ia menunduk, menatap wajah merah kecil yang tertidur, lalu air matanya jatuh tanpa isak ke selimut putih.
"Halo, Kirana," bisiknya.
Revan terdiam.
"Cahaya," lanjut Hasna. "Aku mau dia lahir dan dunianya sudah terang. Aku sudah memilih nama itu dari tiga bulan lalu. Aku nggak bilang karena aku takut kamu bilang ide lain, atau nama ibumu, atau nama dari keluarga."
"Aku tidak akan..."
"Aku tahu sekarang. Tapi waktu itu aku nggak tahu." Hasna menggenggam jarinya lebih keras. "Fina nggak bilang ke kamu, kan?"
"Bilang apa?"
"Aku kasih tahu dia Jumat lalu. Aku minta dia nggak bilang."
Revan memandang wajah istri keduanya yang pucat dan lelah, kemudian ia mengerti: seseorang yang baru saja kehilangan hampir semua kendali masih sempat menjaga satu rahasia kecil agar bisa memberikannya sendiri. Dan seseorang lagi, yang sedang terbaring di ruang operasi di gedung lain, sudah menjaga rahasia itu selama berhari-hari tanpa membocorkannya sedikit pun.
"Fina tidak bilang," katanya. "Dia cuma bilang punya rahasia yang hangat."
Mata Hasna basah. "Dia bilang begitu?"
"Dia menyuruhku menyampaikan sesuatu padamu." Ia merogoh ingatan untuk menyusun kata-kata persis seperti diucapkan. "Dia mendoakan kamu, Na. Dia bilang jangan titip salam. Dia bilang mendoakan."
Hasna menekan telapak tangan yang bebas ke bibirnya. Tubuhnya terguncang halus, tetapi tidak ada suara.
"Kirana," ulang Revan, pelan, mencoba bunyinya di lidah. "Bagus."
"Bagus?"
"Nama yang bagus. Cocok untuk dia."
Ponsel di saku Revan bergetar.
Ia mengabaikan getarannya pada deringan pertama. Pada deringan kedua, ia melihat layar. Iqbal. Dadanya mengencang, dan ia melirik jam dinding di atas pintu: sepuluh empat puluh.
"Angkat," kata Hasna.
"Na..."
"Angkat."
Ia menggeser layar. "Halo."
"Pak Revan." Suara Iqbal bersih dan datar dalam cara yang tidak membuat Revan percaya padanya sedikit pun. "Saya harus bicara cepat. Ada pendarahan yang lebih besar dari perkiraan. Dokter Hendra sedang menanganinya. Kalau terkendali, sebagian ginjal bisa dipertahankan. Kalau tidak, beliau perlu persetujuan untuk mengangkat seluruhnya. Sekarang."
Revan berdiri. Kursinya terguling ke belakang.
"Bu Ressie dan Pak Wira ada di sini bersama saya, di ruang tunggu, sebagai saksi," lanjut Iqbal. "Sesuai kesepakatan terakhir, Bapak boleh memberikan persetujuan lewat telepon."
Seluruh kata yang pernah Fina ucapkan hari Rabu berputar di kepalanya, jelas seperti rekaman: Selamatkan nyawaku dulu. Ginjal bisa diganti mesin. Ibu untuk Langga tidak.
"Selamatkan nyawanya," ujar Revan. Suaranya terdengar dari jauh. "Kalau tidak ada cara lain, angkat. Nyawanya yang pertama. Saya setuju. Katakan kepada dokter Hendra, saya yang setuju, atas nama suaminya."
Di ujung sana terdengar suara Ressie, jauh dari mikrofon, memanggil nama Fina dalam napas pendek yang patah. Seseorang menenangkannya. Wira mengucapkan sesuatu yang tidak jelas, mungkin istighfar, mungkin hanya nama anaknya. Revan menekan ponsel ke telinga sampai tulangnya sakit.
Di ranjang, Hasna menggerakkan bibir tanpa suara. Iya. Iya, Van.
"Dicatat, Pak. Dua saksi mendengar." Ada jeda tipis. "Saya perlu Bapak datang untuk menandatangani berkas susulan dan melihat sendiri, kalau Bapak bisa."
"Saya datang."
"Terima kasih." Iqbal menutup telepon.
Revan menurunkan ponselnya. Tangannya gemetar sampai ponsel itu hampir lepas. Kursi yang terguling masih tergeletak di lantai, dan ia menatapnya dengan pandangan kosong.
"Pergi, Van," kata Hasna.
Ia menoleh. Hasna masih berbaring, tetapi tangannya sudah terulur ke arah pintu, jari-jarinya terbuka seperti mengusir burung yang terjebak di ruangan.
"Aku tidak bisa..."
"Pergi. Dimas ada. Mama ada. Kirana ada di ruang bayi dan dia aman. Fina yang nggak aman." Matanya basah tetapi pandangannya tidak goyah. "Kamu sudah menepati janji ke aku hari ini. Sekarang tepati yang satunya. Pergi."
Revan menatapnya sedetik terlalu lama. Kemudian ia membungkuk, mencium dahi Hasna dengan cepat, dan berbalik.
Di luar pintu, Dimas sudah berdiri. Ia tidak bertanya apa pun. Ia hanya menyodorkan kunci mobil yang tadi Revan lempar ke valet, hangat karena lama digenggam.
"Mobil lo sudah gue minta bawa ke pintu depan. Tangki penuh. Pergi sekarang, Van."