"Menunduk sedikit, Mas."
Revan menunduk. Fina berdiri di depannya di ruang tengah, setinggi dagunya, dengan bergo hitamnya dan dua tangan yang sedang membetulkan kerah kemejanya. Kemeja putih itu sudah ia setrika sendiri tadi malam dan menolak dibantu siapa pun.
"Kerahmu miring sejak Mas keluar kamar," katanya. "Aku diam saja dari tadi."
"Kenapa tidak bilang dari tadi?"
"Supaya aku bisa membetulkannya." Jemarinya merapikan lipatan terakhir, ringan, tidak menyentuh kulit lehernya. Ia mundur setengah langkah dan menilai hasilnya dengan kepala miring. "Boleh aku tepuk bahu Mas?"
"Boleh."
Tepukannya pelan, dua kali. "Pergilah dengan kepala tegak," kata Fina. "Dan pulang dengan hati yang tidak berat."
"Kalau berat?"
"Pulang saja. Berat atau tidak, pulang."
Di mobil, Pak Ucup menyetir lebih pelan dari biasanya. Revan tidak bicara. Di tangannya ada map biru berisi surat-surat yang sudah ia periksa tiga kali dan tetap ia periksa lagi di lampu merah.
"Pak," kata Pak Ucup tiba-tiba, tanpa menoleh. "Tadi Bu Fina titip pesan. Kalau Bapak lupa sarapan, ada roti di laci dasbor."
"Aku sudah sarapan."
"Bapak cuma minum teh. Saya lihat."
Revan membuka laci. Di dalamnya ada roti isi keju yang dibungkus kertas roti, dan selembar kertas kecil dilipat dua dengan tulisan tangan yang rapi: Habiskan. F. Ia menahan sesuatu di dadanya dan menggigit roti itu sampai habis, setengah rasa kertas dan setengah rasa takut.
•||•
Pengadilan agama itu lebih biasa daripada yang Revan bayangkan. Halaman parkir sempit, tangga beton yang cat pegangannya mengelupas, lorong panjang dengan bangku-bangku plastik biru dan deretan orang yang menunggu seperti di mana pun orang menunggu hal yang tidak menyenangkan. Seorang bapak tertidur dengan topi di wajah. Seorang ibu menyuapi anak kecil bubur kemasan. Papan elektronik di dinding menampilkan angka merah yang berkedip, dan di tangan Revan ada secarik kertas bernomor 31.
Hasna sudah ada di sana. Ia duduk di bangku ujung, di sebelah Reffa, dengan gamis krem dan kerudung cokelat susu. Wajahnya bersih dari riasan. Kirana tidak ikut. Dimas tidak terlihat; Revan tahu ia menunggu di mobil karena Hasna sendiri yang memintanya, dua hari lalu, lewat pesan singkat: "Biar ini urusan kami berdua."
Reffa menatapnya. Sebentar. Lalu ia mengangguk satu kali, formal, seperti dua orang asing yang saling mengenali di ruang tunggu dokter.
Revan memilih bangku yang berjarak lima kursi. Ia duduk, memegang kertas nomornya, dan membaca ulang angka itu seolah angka bisa berubah.
"Van."
Hasna yang memanggil, tanpa menoleh, dari ujung bangku. Suaranya cukup pelan supaya hanya terdengar sampai situ.
"Ya?"
"Kamu sudah sarapan?"
"Sudah. Roti. Dari Fina."
"Hm." Hasna menekan bibirnya, entah menahan senyum atau yang lain. "Dasar. Orang itu mengurusimu sampai ke pengadilan."
"Dia mengurusi semua orang."
"Kecuali dirinya sendiri," kata Hasna. "Itu yang selalu bikin aku kesal. Dan hormat."
Revan tidak menjawab, karena tidak ada jawaban yang tidak melukai satu pihak.
"Nomor tiga puluh satu."
"Nomor tiga puluh dua."
Dua suara dari pengeras suara memanggil, dan petugas berseragam datang mempersilakan mereka masuk. Hasna berdiri duluan. Reffa menyentuh sikunya, tapi Hasna menggeleng pelan, dan ia melangkah sendiri.
Ruang sidang kecil dan dingin. Ada meja panjang, bendera, tiga kursi untuk majelis, dua bangku di depan. Revan dan Hasna duduk di bangku yang sama, di kedua ujungnya, dengan ruang kosong di tengah yang cukup untuk satu orang ketiga.
Hakim ketua membaca sesuatu. Suaranya datar, bukan kejam, bukan lembut. Revan hanya menangkap beberapa kalimat: pihak-pihak telah sepakat, tidak ada keberatan, mohon dinyatakan di hadapan sidang. Ia memandang tangannya sendiri di lutut. Tangan yang sembilan tahun lalu menandatangani buku nikah, yang menandatangani buku nikah kedua dengan hati yang berbeda, dan sekarang menandatangani sesuatu yang lain.
"Revan Ramandha Arsyad," kata hakim. "Apakah Anda menyatakan ikrar dengan kesadaran penuh, tanpa paksaan, dan atas permintaan istri Anda?"
Revan menelan ludah. Di sampingnya, Hasna tidak bergerak. Namun ketika Revan menoleh sekilas, ia melihat Hasna, tanpa sadar, telah bergeser sedikit di bangku itu, mengurangi ruang kosong di tengah sampai tinggal sejengkal.
"Ya, Pak Hakim," jawab Revan. Suaranya serak. "Dengan kesadaran penuh."
Sidangnya berlangsung kurang dari lima belas menit. Selesai begitu cepat sampai Revan tidak yakin ia benar-benar hadir.
Hasna menangis tanpa suara. Air matanya jatuh satu-satu ke pangkuan, dan ia tidak menyekanya, tidak menunduk, tidak membuang muka. Ia hanya duduk tegak dengan wajah basah, dan Revan, yang ingin sekali mengulurkan sapu tangan tetapi tahu tidak berhak, menyadari matanya sendiri panas. Ia menunduk, dan setetes jatuh ke map biru.
Mereka tidak berkata apa-apa sampai petugas memberi tahu semuanya selesai dan salinan akan diambil minggu depan.
•||•
Di lorong, Reffa menunggu di dekat pintu. Ia memandang Hasna, lalu Revan, lalu ke arah lain.
"Bima," katanya tiba-tiba, kepada Revan. "Dia suka sup jagung kalau demam. Jangan dikasih yang pakai wortel."
"Aku ingat, Ma."
"Bagus." Reffa tidak tersenyum, tapi suaranya tidak lagi tajam. "Dan kalau Kirana nangis tengah malam, jangan buru-buru menyerahkannya ke pengasuh. Dia butuh ayahnya yang jaga."
"Iya, Ma. Aku jaga."
Reffa mengangguk lagi, pendek, lalu berjalan ke tangga lebih dulu supaya anaknya punya waktu.
Hasna menyeka wajah dengan tisu dari tas kecilnya, akhirnya, dan mendekat sampai berdiri satu lengan dari Revan.
"Sudah ya," katanya.
"Sudah."
"Rasanya aneh. Kupikir akan lebih berat dari ini."
"Kupikir juga." Revan menghela napas. "Mungkin beratnya sudah kita bayar duluan."
"Mungkin." Tangga beton di belakangnya panjang dan terang oleh matahari yang menembus kaca lorong.
"Van."
"Na."
"Terima kasih untuk tahun-tahun yang tidak semuanya buruk."
Revan merasa tenggorokannya menyempit. Ada banyak kalimat yang ingin ia ucapkan, permintaan maaf yang sudah ia ulang sepuluh kali, janji yang tidak ingin ia ingkari, tetapi semuanya terlalu besar untuk lorong sempit itu.
"Terima kasih juga," katanya. "Aku tidak akan lupa mana yang bagus."
Hasna tersenyum. Itu senyum yang Revan kenal dari dulu, bukan yang manja, bukan yang sinis, tetapi yang tulus dan sedikit capek. Ia mengangguk padanya sekali, lalu berbalik dan menuruni tangga dengan punggung lurus.
Revan memandang punggung itu sampai ke anak tangga paling bawah. Di halaman, sebuah hatchback abu-abu menunggu, dan Dimas berdiri di sampingnya dengan tangan di saku. Ia tidak mendekat, tidak melambai, hanya membuka pintu belakang ketika Reffa dan Hasna sampai, lalu menutupnya pelan.
Pak Ucup sudah menunggu di bawah dengan pintu mobil terbuka. Revan menuruni tangga yang sama, satu anak tangga tiap kali, dan di saku jasnya ia merasakan kertas kecil dari laci dasbor: Habiskan. F.
"Langsung pulang, Pak?" tanya Pak Ucup.
Revan berhenti di pintu mobil. Rumah sedang menunggunya, dengan teh yang pasti sudah diseduh dan seorang istri yang akan menatap wajahnya sepuluh detik untuk tahu hari ini berat atau tidak.
"Mampir beli sup jagung dulu," katanya. "Tanpa wortel. Hari Sabtu Bima datang."