POV FIAN
Sesampainya di ruang Poliklinik Kandungan, Suster Reta menyapa kami,
"Pagi, Dok," sapanya ramah.
"Pagi, Sus," jawab Rizkar.
"Kenalin sus, ini temanku dr.Fian ...dokter kandungan baru disini," lanjut Rizkar.
"Saya Reta dok ... Suster disini, Reta memperkenalkan dirinya.
Kubalas dengan senyuman dan menangkupkan tangan di d**a.
"Mohon kerjasamanya dan bantuannya ya, Sus," jawabku.
Suster Reta, perawat yang bertugas di Poli Kandungan, dia yang akan membantuku bekerja di poli ini.
Menurut informasi dari Suster Reta, pasien di Poli rata-rata 20-25 orang perharinya, jadi praktek bisa selesai sampai pukul 16. 00. jika pasien banyak, bisa juga tak sampai jam 12.00, jika ada panggilan operasi mendadak.
"Ini pasien terakhir dok," kata Suster Reta.
"Oke," jawabku.
Segera kuperiksa pasienku sebaik mungkin dan kujelaskan kondisinya dengan bahasa yang mudah dipahami pasien dan keluarga.
Aku hanya ingin memberikan pelayanan yang maksimal sehingga semua pasienku tidak kecewa, karena bagiku untuk menyembuhkan luka dan hidupku tak sia-sia, Aku harus menjadi manusia yang bisa menebar manfaat bagi sesama.
"Dok, saya mau beli makan siang di kantin, dokter mau Saya belikan juga?" tanya Suster Reta.
"Iya Sus, Tolong belikan untuk Saya 1 ya Sus, terima kasih," jawabku.
Kulihat arlojiku menunjukkan pukul 12.30, segera Aku menuju ke mushola rumah sakit, kutunaikan sholat zuhur serta berzikir, memohon ampun pada Nya dan memohon pertolongan serta kemudahan dalam bekerja, karena profesiku menyangkut nyawa pasien dan bayinya, Aku tak punya kuasa menolong pasien jika tanpa pertolongan dari Nya.
Hatiku menjadi tenang sepulang dari mushola tadi, Reta telah datang membawa pesananku.
Usai makan, Aku meminta Reta untuk mengantarku berkeliling Rumah sakit, karena Aku belum begitu hafal letak ruangan di rumah sakit ini.
RS Mitra merupakan RS swasta tipe C yang melayani pasien umum dan BPJS. Sehingga pasien kandungan disini lebih banyak dari sebelumnya, karena telah menerima layanan BPJS.
Jika RS Mitra tak mampu melayani pasien karena kurangnya fasilitas yang dimiliki, maka dari pihak Rumah Sakit akan merujuk ke RSUD yang terletak 1 km dari Rumah sakit ini.
Peraturan dari manajemen RS Mitra bagi para dokter spesialis yaitu mengharuskan dokter untuk selalu mengaktifkan selulernya, guna mengabarkan kondisi kegawatan yang bisa terjadi sewaktu-waktu.
Apalagi profesiku yang berfokus menangani kasus-kasus kebidanan dan kandungan sehingga Aku harus siap ditelpon pihak rumah sakit jika sewaktu-waktu ada kondisi kegawatan persalinan dan kehamilan.
Sore hari seusai jaga, Rizkar membawaku ke tempat praktek dokter bersama sekitar 200 meter dari rumahnya, karena klinik ini baru buka dan memang membutuhkan dokter kandungan.
Aku sangat bersyukur, karena ternyata ada peluang rejeki untukku disini.
Praktek di klinik dimulai pukul 17.00 hingga 21.00, namun bisa saja lebih tergantung dari jumlah kunjungan pasien.
Kulihat sudah ada plang namaku di depan klinik, dr.Mira, sang pemilik klinik memintaku untuk memulai praktek besok.
Setelah dari klinik, Rizkar membawaku keliling Kota Samarinda mencicipi nasi kuning di kawasan Lambung Mangkurat yang merupakan area wisata makanan khas di Kota ini.
Nasi kuning di Samarinda berbeda dengan di tempat lain, karena disini nasi kuning tidak hanya dikonsumsi saat sarapan, tapi bisa sepanjang waktu, Aku memesan nasi kuning ikan haruan. Pun disini juga ditemukan nasi kuning berlauk ikan, yaitu ikan haruan.
Sembari menikmati nasi kuning, yang rasanya ternyata nikmat, Aku membahas banyak hal bersama Rizkar mulai dari pekerjaan hingga pasangan.
Baru kali ini Aku mencoba makan nasi kuning berlauk ikan, Aku kurang tahu kesamaan jenis ikan haruan ini di Jawa, tapi yang pasti, enak sekali rasanya.
"Mantap banget ini rasanya," komentarku mengenai nasi kuning yang baru sesendok kusantap.
********
Pagi hari, setelah sholat berjama'ah di masjid bersama Pak Burhan, Aku melanjutkan kegiatanku mengaji di kamar.
Bau harum masakan bu Sofia menggugah selera makanku, Aku, Pak Burhan dan Bu Sofia sarapan bersama, Rizkar tak ikut bergabung, karena mendapat panggilan mendadak dari rumah sakit sebelum subuh tadi.
"Mas, nanti ke rumah sakitnya biar diantar Pak Broto saja, Rizkar ke rumah sakit tadi ada operasi," saran Pak Burhan.
Pak Broto, sopir keluarga Rizkar.
"Ini kunci cadangan rumah ini mas, nanti kalau Mas sewaktu-waktu ada panggilan operasi, bisa minta antar Pak Broto juga," lanjut Pak Burhan.
"Terima kasih banyak pak atas tawarannya," jawabku.
"Saya naik ojek online saja pak, biar tidak membangunkan Pak Broto malam-malam," tolakku secara halus.
Setibaku di rumah sakit, kulihat telah banyak pasien menunggu.
"Selamat pagi, Bu," sapaku pada Bu Santi, pasienku yang sedang hamil 5 bulan.
"Pagi, Dok," jawabnya.
"Gimana bayi Saya dok?" tanyanya penuh harap sesaat setelah Aku melakukan USG
"Alhamdulillah, janinnya sehat-sehat bu, beratnya cukup, geraknya juga cukup aktif," jawabku.
"Anak saya laki-laki atau perempuan dok?"cecarnya.
"Perempuan bu sepertinya, Adiknya masih malu- malu ini Bu, wajahnya diumpetin, kelaminnya juga, jawabku sembari mengarahkan kursor komputer ke area wajah bayi.
"Yah, padahal saya penginnya cowok dok," jawabnya.
"Cowok atau cewek yang penting sehat bu," jawabku.
"Saya penginnya cowok dok, biar ganteng kayak dokter," candanya.
Aku tersenyum mendengar pujiannya.
"Semoga sehat terus ya ibu dan janinnya sampai lahiran nanti, kontrolnya sebulan sekali ya bu," pesanku.
"Iya, Dok," jawabnya.
Senang rasanya bisa membuat pasien tenang dan bahagia, Akupun juga turut bahagia, meski kesempatan untuk menjadi orang tua belum terwujud.
Terlebih pasienku adalah pasangan yang menanti kelahiran dan kehamilan, sebisa mungkin Aku memilih kata- kata yang menenangkan bukan mencemaskan, karena kata-kata yang diungkapkan juga dapat berpengaruh terhadap psikologis pasien.
Yup, komunikasi yang baik merupakan kemampuan yang diperlukan oleh dokter sepertiku, untuk membantu pasien agar tak cemas dan stres menghadapi kondisi kesehatannya.
Bersyukur, bersyukur dan bersyukur itu yang harus Aku lakukan, selain Tuhan memberikan jalan rejekiku di Kota ini, Tuhan juga mempertemukanku dengan orang - orang baik disini, menemukan keluarga baru dan lingkungan baru yang nyaman adalah kenikmatan yang tiada tara.
Aku berharap ilmuku dapat bermanfaat di kota ini, selain melakukan praktik dokter, Aku juga berharap dapat mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya kesehatan terutama bagian reproduksi.
Semoga kesibukanku mengurus pasien dapat membantuku mengubur luka hatiku karena perbuatan Risa dan Deon.
Meski kecil kemungkinan Kami dapat bertemu di kota ini, namun Aku berharap agar Tuhan tak lagi mempertemukan kami bertiga.
Aku tak ingin menjadi emosi karena mengingat masa laluku. Cukuplah sekali itu terjadi padaku. Semoga kelak hal itu tak terulang lagi pada pernikahan keduaku. Untuk saat ini Aku belum terpikir untuk menikah lagi, Aku masih berfokus membangun karierku di kota ini.