"Selamat pagi Mommy." Sapa Leticia kepada Brenda yang sedang mencuci piring. "Bibi Jeany kemana Mom?" Tanya wanita itu saat tidak melihat Jeany, pelayan dirumah mereka.
"Jeany sedang keluar sayang. Membeli sesuatu katanya."
Leticia ber-oh-ria. "Aku langsung berangkat ke kantor saja ya Mom. Takut terlambat." Ucapnya seraya mengecup pipi kanan Brenda.
"Iya. Sana. Daddy sama Leo sudah berangkat duluan. Kalau nunggu kamu dulu kelamaan. Kamu tidak apa-apa kan kalo naik taxi?"
Leticia mengangguk. "Tidak apa-apa, Mom. Aku kan sudah biasa naik taxi. Daah Mommy." Ucapnya seraya melambaikan tangan, lalu melangkah keluar rumah.
Sekarang pukul tujuh lewat dua puluh menit, dan itu berarti sepuluh menit lagi waktu bagi dirinya jika tidak ingin datang terlambat ke kantor dan berakhir dimarahi oleh Lukas.
Untunglah saat Leticia keluar dari rumah ada taxi yang lewat. Dia langsung memberhentikan taxi tersebut dan menyebutkan tempat yang ditujunya.
Dua puluh menit kemudian, taxi tersebut berhenti didepan lobi kantor. Membayar uang taxi kepada sopir, dia lalu keluar dan melangkah dengan tergesa-gesa.
"Aku benar-benar terlambat!" Ucapnya pelan.
Baru saja Leticia mendudukkan bokongnya dikursi, telepon dimeja wanita itu sudah berdering. Dan dia sudah bisa menebak siapa yang menelpon.
Siapa lagi kalau bukan Lukas.
"Ke ruanganku sekarang!" Ucap Lukas dengan nada perintah. Lalu mematikan sambungan telepon begitu saja.
Leticia menghembuskan napas pasrah. Menyiapkan mental sebelum masuk ke kandang macan.
Tok tok tok.
Leticia mengetuk pintu, lalu membukanya setelah ada perintah masuk dari dalam. Dia melangkah mendekati meja Lukas dengan langkah yang terlihat enggan. Dadanya berdebar kencang, bukan karena dia memang jatuh cinta kepada pria itu, namun karena dia harus siap menerima apapun yang akan disampaikan oleh pria yang berstatuskan atasannya ini.
"Maaf Tuan, saya terlambat." Ucap Leticia seraya menundukkan wajahnya.
"Kau tahu aku tidak suka bawahan yang terlambat bukan?" Suara Lukas terdengar sangat tegas.
Leticia menelan salivanya dengan gugup. "Saya minta maaf."
"Apa alasanmu datang terlambat?"
"Saya...ketiduran Tuan." Leticia lagi-lagi menelan salivanya.
Habislah dia sebentar lagi. Dia tidak akan tidur lewat dari tengah malam lagi jika akan berakhir bangun kesiangan lalu ditatap tajam seperti saat Lukas menatapnya sekarang.
"Kenapa kau menunduk terus? Ada yang salah dengan wajahku?"
Leticia sontak menegakkan kepalanya. Menatap Lukas dengan gugup. "Tidak ada yang salah dengan anda Tuan. Anda terlihat tampan seperti bi..." Leticia menghentikan pembicaraannya saat sadar dia telah keceplosan memuji ketampanan Lukas. Astaga ! Dia malu sekali sekarang. "Maaf, saya tidak bermaksud apa-apa." Ucap wanita itu lagi. Meminta maaf akan kelancangannya barusan.
"Kembali ke mejamu!"
"Hah?"
Lukas menggeram. "Aku bilang kembali ke mejamu. Sekarang juga!" Ucapnya sedikit membentak.
Leticia mengangguk sekilas lalu melangkah dengan tergesa-gesa. Keluar dari ruangan yang auranya sangat menegangkan.
Seperginya Leticia, Lukas tersenyum geli sambil menyandarkan badan dikursi kebesarannya.
Melihat wanita itu gugup membuatnya merasa terhibur.
"Dia bilang aku tampan?" Ucapnya pelan, lalu terkekeh pelan.
***
Leticia mengelus d**a. Rasanya lega sekali sudah bisa keluar dari ruangan Lukas. Dia fikir dia akan dimaki-maki dulu seperti biasa. Tumben sekali atasannya itu terlihat jinak. Salah makan atau bagaimana ya?
Mengabaikan keheranan akan sikap Lukas, Leticia lalu mulai membuka berkas-berkas yang harus dikerjakan. Jangan sampai Lukas kembali memarahinya saat tahu kerjaannya belum selesai.
Leticia bekerja dengan fokus, hingga tidak sadar bahwa sekarang sudah hampir memasuki jam makan siang. Ponselnya berdering, nama Dimmy tertera disana. Tanpa menunggu lama, wanita itu langsung menerima panggilan dari pria bernama Dimmy tersebut.
"Halo Dim." Sapa Leticia.
"Aku di lobi kantor. Mau makan siang bersama?" Tawar Dimmy.
Ngomong-ngomong Dimmy adalah satu-satunya sahabat laki-laki Leticia, mereka bertemu saat dibangku perkuliahan, dan masih berhubungan baik hingga saat ini.
"Oke. Tunggu lima menit lagi ya. Aku siap-siap dulu."
"Take your time baby."
Leticia mematikan sambungan telepon, lalu membereskan apa yang tadi sedang dikerjakannya.
Sepertinya ide makan siang bersama Dimmy tidak terlalu buruk. Pria itu selalu tahu bagaimana cara membuat moodnya kembali baik.
Leticia mengambil tas diatas meja kerjanya lalu melangkah menuju lift, dan langsung masuk begitu lift terbuka. Saat lift akan menutup kembali, Leticia melihat Lukas yang baru keluar dari ruangannya. Dan pria itu memberi kode kepada Leticia untuk menahan lift agar tidak tertutup. Dan wanita itu menurutinya.
Leticia langsung menggeser badannya, berdiri didekat dinding lift. d**a wanita itu berdebar saat matanya tidak sengaja bertatapan dengan Lukas. Pria itu menatapnya dari pantulan dirinya di dinding lift. Dan entah kenapa Leticia merasa semakin gugup dan sesak berada didalam lift berdua saja bersama Lukas.
Leticia mengalihkan pandangannya. Lalu berdeham pelan. Berharap kegugupannya berkurang.
Lukas memundurkan langkahnya, menyandarkan badan didinding lift, tanpa menjauhkan pandangannya dari Leticia. Entah kenapa matanya hanya terpaku kepada sosok wanita yang selama tiga tahun selalu berusaha dihindarinya itu. Wanita itu terlihat sangat gugup. Rona merah dipipinya semakin membuat wanita itu terlihat menggemaskan.
"Sial!" Umpat Lukas dengan pelan, namun ternyata masih terdengar oleh Leticia.
"Maaf, ada yang salah Tuan?" Tanya Leticia, menatap Lukas dengan heran.
Lukas menegakkan badannya. "Kapan lift ini akan berhenti." Ucapnya dengan nada kesal. Sebenarnya dia merasa tidak sanggup lagi berada didalam lift berdua saja dengan wanita itu. Dia takut tidak bisa mengontrol dirinya dan berakhir dengan mencium wanita yang memiliki bibir berwarna pink itu.
Untunglah tidak lama kemudian lift itu berhenti. Baru saja Lukas akan keluar namun tidak jadi karena mendengar suara bernada lirih yang keluar dari bibir Leticia.
"Anda bisa menyuruhku keluar jika tidak ingin berlama-lama satu ruangan denganku, Tuan. Itu lebih baik daripada saat berada dalam satu ruangan, tapi anda menunjukkan ketidaksukaan anda terang-terangan." Ucap Leticia lalu melangkah keluar dari lift tanpa menunggu balasan dari Lukas.
Hatinya serasa diremas saat mendengar u*****n pria itu. Seolah-olah dia tidak ingin berlama-lama terjebak bersama Leticia. Sebenarnya kesalahan apa yang telah dia perbuat? Kenapa pria itu selalu bersikap dingin dan mencoba untuk selalu menyakiti hatinya?
Sementara Lukas. Hanya bisa terpaku mendengar apa yang diucapkan oleh Leticia. Wanita itu salah paham. Bukan itu maksud umpatannya tadi.
Astaga!
Kenapa jadi serumit ini?
Lukas keluar dari lift, dan tangannya tiba-tiba mengepal melihat pemandangan didepan lobi. Dimana Leticia sedang dirangkul oleh seorang pria yang dia tahu namanya adalah Dimmy.
Dia menatap tajam kearah pasangan itu. Dia marah. Ada perasaan tidak rela saat melihat Leticia dirangkul oleh pria itu. Dia tidak suka. Tidak boleh ada yang menyentuh Leticia.
Tapi kenapa?
Kenapa dia harus marah?
Memangnya siapa Leticia?
***
"Kau ingin makan apa?" Tanya Dimmy seraya membuka buku menu restoran yang mereka datangi.
Mereka memiliki restoran yang menyediakan semua makanan dengan olahan seafood.
"Terserah kau saja. Aku tidak akan menolak apapun jika berhubungan dengan seafood." Ucap Leticia seraya tersenyum lebar. Wanita itu memang menyukai semua makanan yang diolah dengan bahan dasar seafood.
"Oke." Dimmy memanggil pelayan lalu menyebutkan pesanan mereka kepada pelayan tersebut.
"Kenapa dengan wajah kusutmu itu? Si b******k itu menyakitimu lagi?" Tanya Dimmy seraya mendengus.
Pria itu memang sudah mengetahui bagaimana perasaan Leticia terhadap Lukas. Dan dia adalah orang yang menentang wanita itu saat pertama kali tahu. Sebagai seorang pengusaha, Dimmy tahu bagaimana sepak terjang seorang Lukas Benyamin dengan wanita-wanita dihidupnya. Pria itu seolah tidak pernah puas hanya dengan satu wanita.
Namun dia bisa apa jika Leticia sudah memohon kepadanya dengan wajah memelas. Wanita itu meminta untuk mendukung apapun yang dilakukan dan merahasiakan hal tersebut dari keluarganya.
Leticia berdecak. "Kau selalu saja mengait-ngaitkan perubahaan moodku dengan Lukas. Padahal belum tentu dia yang menjadi penyebabnya."
Dimmy mencibir. "Dan kau selalu saja mencoba membela pria itu. Menceritakan seolah-olah dia memperlakukanmu dengan baik. Aku tidak sebodoh itu untuk percaya semua kebohonganmu, Leti..."
Leticia memberengut. "Kau terlihat seperti sedang cemburu saja."
***