Keesokan harinya, Jelita membuka mata kerena tiba-tiba ia ingin buang air kecil. Ia masih kesulitan untuk turun dari tempat tidur. Ia melihat jam dinding masih menunjukkan pukul 5 pagi. Tombol nurse call, yang ia tekan sejak tadi belum ada respon apa-apa. Mungkin suster jaga masih tertidur. Ia berusaha untuk turun tapi luka di perutnya sakit jika bergerak sedikit saja.
Apa ia harus menahan kencing? Bagiamana ini? ia melirik Abizar yang masih tertidur dengan lelapnya di sofa. Apa ia harus membangunkan suaminya itu? tapi masa iya, ia memintanya untuk menemaninya masuk ke kamar mandi. Meskipun suami istri tapi, ia masih merasa canggung dan malu terhadap Abizar, tapi perutnya sudah mulai mulas, tidak ada pilihan lain.
“Pak…!” panggilnya dengan ragu-ragu. Tapi ia cukup terkejut, karena Abizar