Mata Jovanka tajam berkilat, amarahnya seketika membuncah menguasai akal logisnya. Ia langsung mendorong David dari kursinya hingga pria itu terjungkal kebelakang.
“Kau pikir kau siapa bisa mengancamku seperti itu?! kau pikir kenapa aku bisa menjadi seperti ini? itu semua gara-gara kau. Kau yang merenggut semua harga diriku hingga tidak ada yang tersisa untuk aku banggakan. Katrina adalah satu-satunya alasan aku masih bisa bertahan sampai sekarang, tapi kau malah ingin mengambilnya dariku? Memangnya kau siapa, hah…!!!” suara Jovanka melengking membuat polisi yang berjaga di sekitar ruangan itu menghampiri mereka.
“Tolong jangan buat keributan, Pak David, sekarang Anda keluar saja dari sini karena tahananku sepertinya tidak nyaman.” Polis i itu meminta David untuk meninggalkan tempat itu