Saat mendengar namanya di panggil, Jelita hanya terpaku. Dadanya semakin bergemuruh, ia menoleh ke arah suaminya yang tersenyum kepadanya. Rupanya Abizar sudah siap sedangkan dirinya masih berkutat berusaha menenangkan perasaannya yang kalut. Ia belum memiliki cukup keberanian untuk melihat apa yang selama ini ia rindukan.
“Ayo, sayang. Kita masuk,” ajak Abizar sambil mengulurkan tangannya. Jantung Jelita semakin bergemuruh, ia berjalan perlahan mengikuti suaminya. Tangannya menggenggam erat tangan Abizar, ia merasa sangat gugup. Ini adalah saat kali pertama ia akan melihat buah hati yang selama ini ia kandung di dalam perutnya. Ia juga bahkan belum tahu jenis kelamin bayinya itu. Apakah ia cantik sepertinya atau tampan seperti Abizar?
“Sebelah sini, silakan,” sang sunter mengarahkan me