Abizar kembali ke rumah dengan wajah lesu, pakaiannya acak-acakan. Dasi yang biasanya terpasang rapih di lehernya yang kokoh, kini terlihat menjuntai dan berantakan. Ia berjalan sempoyongan masuk ke dalam kamar dan menghempaskan tubuhnya begitu saja di atas kasur.
Jovanka yang baru saja keluar dari kamar mandi terkejut melihat Abizar. Baru kali ini ia melihat suaminya pulang ke rumah dalam keadaan berantakan seprti itu, bau alkohol twrcium, apa sebenarnya yang sudah terjadi? apa jangan-jangan ia sudah mengetahui sesuatu?
Jovanka berjalan ke arah ruang ganti dan buru-buu mengenakan pakaian tidurnya. Ia melangkah ke arah ranjang dan membenarkan posisi tidur suaminya. Membuka sepatu dan kos kaki Abizar lalu melepas dasi di lehernya.
Wajah Abizar tampak tenang dengan dengkuran lirih yang terdengar, Jovanka menatap wajah damai Abizar sambil tersenyum. Ia mengelus lembut wajah tampan itu.
Terbayang kembali saat untuk pertama kali ia melihat sosok tampan berjalan sendiri di taman sambil membawa dua buah gelas jus di tangan. Mungkin jus itu untuk kekasihnya.
Saat itu dirinya baru saja mengalami kejadian buruk dalam hidupnya. Orang yang ia cintai dan percayai sepenuh hati telah dengan tega merebut seluruh kehormatannya. Pria yang selama ini terlihat menyayanginya ternyata menyimpan akal licik untuk dirinya. Harga diri dan kehormatan yang selama ini ia jaga telah direnggut paksa oleh pria jahat itu.
Ia duduk sendiri di sebuah kursi yang ada di ujung taman, memikirkan nasib dirinya ke depan. Nasib yang sungguh tidak pernah adil untuknya, tampa sengaja melihat pria tampan itu.
Sang pria berjalan ke arahnya dan tersenyum lembut. Melihat senyum hangat itu, hatinya bergetar. Seandainya saja ia bisa memiliki kekasih seperti pria itu, betapa beruntungnya hidupnya. Wanita yang menjadi kekasihnya pasti sangat beruntung. Tapi kenapa pria itu bejalan ke arahnya? apakah pria tampan itu hendak menyapanya?
Wajahnya berubah cerah, ia berdiri hendak menyambut pria itu tapi ternyata pria itu melewatinya begitu saja dan terus berjalan ke arah seorang gadis yang sedang tersenyum. Matanya terbelalak saat melihat gadis itu, hatinya kembali merasa sedih, ia merasa tidak berguna.
Lagi-lagi perempuan itu yang memiliki semuanya, saudara kembarnya. Kenapa harus kembarannya itu yang selalu mendapatkan semua keberuntungan hidup? Sedangkan ia sendiri, hanya tersisa kemalangan dalam hidupnya.
Ia terus menatap ke arah pria tampan itu, melihatnya memeluk gadis yang sedang tersenyum itu. Menyaksikan mereka tertawa bahagia. Hah… alangkah bahagianya hidup mereka. Hatinya perih, air matanya kembali berlinang, jika dibandingkan kembarannya, hidupnya sangat sengsara. Di banding-bandingkan oleh keluarga dan di perlakukan tidak adil. Akhirnya ia memilih untuk pergi dari rumah dan menjalin hubungan dengan seorang pria b******k yang kini telah mencampakkannya.
Ia kini tidak tahu lagi akan hidup seperti apa, ingin kembali kepada siapa. Kembali kepada keluarga, ia sudah tidak punya muka. Ia sendiri lah yang telah memutuskan hubungan dengan keluarga dan memilih untuk pergi mencari kebahagiaanya sendiri. Akan tetapi, setelah melihat saudara kembarnya ternyata hidup semakin bahagia tanpanya, ia justru merasa semakin membencinya.
Hari berganti, dan ia menyadari jika si b******k itu ternyata meninggalkan bekas yang harus ia tanggung seumur hidup. Perutnya semakin lama semakin membesar. Ia menjalani kehidupan yang penuh derita tanpa dukungan keluarga.
Satu-satunya orang yang selalu mendampinginya yaitu sang sahabat. Sahabatnya itulah yang membantu setiap kesulitan hidupnya, sahabatnya itulah yang bahkan menyadarkannya saat ia hampir kehilangan arah dan membunuh kehidupan baru yang ada di dalam perutnya.
Sampai akhirnya ia melahirkan dan terus menjalani kehidupannya yang hampa. Akan tetapi, kejadian yang tidak terduga tiba-tiba terjadi. Ia mengetahui jika saudara kembarnya mengalami kecelakaan saat dirinya bertugas sebagai perawat di sebuah rumah sakit.
Saudara kembar yang tidak pernah ia temui lagi sejak memutuskan untuk pergi, saudara yang selalu dilimpahi kebahagiaan hidup sedang terkapar tidak bernyawa di hadapannya bersama dengan kekasihnya. Mereka mengalami kecelakaan dan kondisi mereka kritis.
“Keadaan kedua pasien sangat memprihatinkan, salah satu diantara mereka meninggal dan satunya lagi sedang dalam perawatan intensif karena cidera parah di kepalanya.”
Percakapan dokter saat itu yang ia dengar saat mendampingi dokter berkeliling mengobservasi setiap pasien.
“Suster Jovina, kau akan ditugaskan untuk merawat pasien itu, sedangkan yang lain akan segera dikebumikan. Rumah sakit sudah menyimpan jenasahnya selama empat hari dan jika samiwi besok pagi keluarganya belum bisa kita hubungi terpaksa kita harus segera mengebumikannya.”
Iya, segera kebumikan saja dan hilangkan jejaknya dari dunia ini, karena aku yang akan menggantikannya untuk menjalani kehidupan. Tuhan telah memberikannya kesempatan untuk merasakan kehidupan yang selama ini ia idamkan. Kehidupan bahagia seperti sauara kembarnya rasakan. Iya, memang itulah yang paling benar. Tidak sia-sia ia melenyapkan identitas kembarannya, karean dirinyalah yang akan menggantikannya. Kehidupan Jovanka yang baru.
***
Tangan Jovanka bergerak menyentuh rambut suaminya sambil tersenyum.
“Betapa besar pengorbananku untuk mendapatkanmu, Mas. Aku tidak akan membiarkan wanita manapun memilikimu karena hanya akulah yang berhak atasmu. Kau adalah milikku dan akan seperti itu selamanya. Aku menggantikan hidup Jovanka karena dia tidak pantas untukmu, akulah yang pantas,” gumannya sambil ikut berbaring di samping Abizar, sampai akhirnya ia pun terlelap.
Kicau burung bersahut-sahutan, membuat mata Abizar terbuka. Ia menoleh dan mendapati Jovanka sedang terlelap di sampingnya. Ia mendengus kesal melihat wanita yang selama ini ia anggap cintanya, ternyata seorang pembohong besar.
Wanita ini ternyata telah mengambil kesempatan hidup bersamanya selama bertahun-tahun dengan merasakan limpahan cinta dan kasih sayang, dan telah membuatnya menjadi seorang yang bodoh telah bertekuk lutut di hadapannya.
“b******k…!!!” umpatnya tanpa sadar, emosinya langsung meledak hanya dengan membayangkannya saja. Rupanya suaranya agak keras sehingga Jovanka terbangun dan sedikit terkejut melihat Riftan menatapnya dengan tatapan tajam.
“A..Ada apa, mas. Kenapa kau berteriak?” tanya Jovanka bingung.
“Dan kenapa wajahmu seper…” Jovanka hendak menyentuh wajah Abizar tapi dengan kasar Abizar menepisnya. Jovanka semakin bingung, ada apa dengan suaminya ini?
Abizar beranjak dari ranjang dan keluar kamar, ia muak dengan wanita itu, bisa-bisanya ia dengan tidak tahu malu bersikap seolah-olah jika ia adalah Jovanka? Keterlaluan.
Ia harus pergi untuki menenangkan diri, jika ia terus-terusan berada di sekitar wanita itu, ia akan meledak dan rencananya akan berantakan. Ia harus segera menghentikan kebohongannya dengan haraga mahal yang ia harus bayar.
Abizar tidak menghiraukan teriakan Jovanka yang mengejarnya sampai ke depan pintu utama. Ia masuk ke dalam mobilnya dan melesat meninggalkan rumah.
“b******k, keterlaluan! Wanita itu benar-benar telah membuatku kehilangan akal bahkan sejak awal. Dan aku dengan bodohnya mencintainya sepenuh hati seperti orang gila. Sial..!” Abizar benar-benar murka dan geram kepada dirinya sediri. Kebodohannya selama bertahun-tahun membuatnya tidak waras karena penipu itu.
Ponselnya berdering, nama my Love tertera di layar ponsel. Ia menepikan mobilnya dengan berhenti di pinggir jalan. Menghela nafas kasar lalu mengangkatnya.
“Halo..” ucapnya menyapa. Meskipun hatinya panas kerena emosi yang sedang meledak-ledak, ia haru tetap mengontrolnya. Karena hanya itulah cara untuk bisa membalas wanita penipu ini.
“Mas, kau ada di mana? Kenapa kau bertingkah aneh pagi ini? kau pulang, ya? aku akan memasak masakan kesukaanmu. Sepertinya kita perlu bicara,” ucap Jovanka dari sambungan telepon.