Abizar benar-benar tidak bisa menahan emosinya lagi, ia murka, harga dirinya sebagai seorang suami terhina.
“Bima…?! kau tidak apa-apa? Kak! apa yang kau lakukan?!” jerit Jelita, ia terkejut buka main. Dirinya sama sekali tidak menduga Abizar akan muncul tiba-tiba dan menyerang Bima seperti itu.
“Seharusnya aku yang bertanya pada kalian, apa yang kalian lakukan berdua di sini? kenapa kau bergandengan tangan dengan pria yang buka suamimu di tempat umum seperti ini? apakah kau sudah kehilangan harga diri, bukankah kau masih berstatus istriku dan bahkan mengandung anak dariku? Dan kau b******n, pergi dari sini dan jangan pernah mencoba mendekati istriku lagi…!” hardik Abizar tak terkontrol. Emosi benar-benar telah menguasainya sehingga semua kekalutan yang ia rasakan meluncur tanpa bisa diredam.
“Apa yang kau katakan itu? setelah semua hal yang kita sepakati bersama saat itu kau masih menganggapku istrimu?! Dengarkan baik-baik tuan Abizar Bhalendra, aku telah melepaskan semuanya dan sejak itu, aku menganggap kau bukan suamiku lagi. Kita tidak memiliki hubungan apa-apa lagi, tunggu setelah bayi ini lahir, aku akan menyerahkannya. Jadi jangan pernah menganggap diriku sebagai wanita yang tidak punya harga diri. Tapi terim kasih, karena kau telah memberikan anggapan rendah itu padaku, setidaknya aku bisa mengetahui kalau kau selama ini hanya menganggapku sebatas itu saja. Ayo Bima, kita pergi dari sini,” balas jelita tak kalah telak. Mereka pun meninggalkan Abizar yang hanya bisa berdiri tanpa tahu apa yang harus ia lakukan.
“Aaaaarrrgghhh….!!!” Abizar mengacak rambutnya frustrasi. Ia baru menyadari kesalahannya setelah semuanya pergi dari hadapannya.
Ia baru menyesali perbuatannya setelah melihat Jelita menjauh. Padahal, niat awal ia akan mengunjungi Jelita di apartemen dan kembali melakukan pendekatan, ia ingin Jelita tahu isi hatinya sehingga istrinya itu bisa kembali menjalin hubungan seperti dulu lagi. Tapi apa yang ia lakukan? ia sudah mengacaukan semuanya.
“Bodoh kamu Abizar, bodoh…!!” umpatnya pada dirinya sendiri.
Sementara itu, Jelita hanya bisa menangis terisak mengingat semua perkataan Abizar yang sangat menghina dirinya. Bima hanya duduk di sampingnya sambil sesekali menepuk lembut punggung Jelita untuk menenangkannya.
“Kakak yang sabar, ya. Kakak tinggal bertahan sekitar beberapa bulan lagi dan semuanya akan baik-baik saja. Setelah itu Kakak tidak perlu berhubungan dengan mereka lagi. Orang-orang seperti mereka hanya bisa menginjak –injak harga diri orang lain, menganggap jika hanya merekalah makhluk yang mulia karena kekayaan yang mereka miliki, menganggap orang lain adalah sampah yang hina,” ucap Bima penuh emosi. Wajahnya yang lebam karena pukulan Abizar masih tampak membiru.
Jelita mengangkat wajahnya dan menatap pemuda itu dengan tatapan menyesal.
“Maafkan aku. Gara-gara aku wajahmu sampai terluka begini,” ucap Jelita.
“Kakak tidak perlu cemas, aku baik-baik saja. Luka ini tidak seberapa dibandingkan sakit yang Kakak rasakan karena hinaan pria itu, kan? jadi jangan bebani diri kakak dengan memikirkan wajahku ini. Ketampananku tidak akan luntur hanya karena sebuah pukulan kecil, buktinya aku masih tampak tampan, kan?” Bima mencoba menghibur Jelita dengan guyonannya.
Jelita pun tersenyum. “Kamu ini, masih bias bercanda saat situasi begini. Sebaiknya kita segera pulang, kau harus mengobati lukamu itu,” ucap Jelita lalu beranjak dari duduknya.
Bima pun mengikuti langkah Jelita. Hatinya kalut, ia sedih melihat Jelita terpuruk. Pria b******k itu banar-benar tidak tahu malu. Tega-teganya ia menghina Jelita. Padahal ia sangat tahu kalau Jelita bukan wanita seperti itu. Seandainya saja ia bisa membantu lebih dari ini?
Sebuah taksi berhenti di hadapan mereka, Bima membuka pintu taksi dan meminta Jelita untuk masuk. Jelita masuk dan tersenyum ke arah Bima.
“Terima kasih untuk hari ini dan aku minta maaf soal kejadian tadi. Jangan lupa obati lukamu, ya?” ucap Jelita mengingatkan. Ia bahkan sudah mengulang itu baberapa kali.
“Iya, Kakak bawel. Kau sudah bilang itu berulang kali. Sebaiknya kau cepat pulang dan beristirahat. Kita ketemu lagi nanti,” ucap Bima.
Jelita tersenyum. “Baiklah, aku pergi dulu. Kau juga langsung pulang.” Jelita melambaikan tangannya. Bima mengangguk sambil menatap taksi yang melaju meninggalkan tempat itu. Bima menghela nafas dalam lalu berjalan menuju motor yang terparkir di taman tempat ia menunggu jelita tadi.
Jelita masuk ke dalam apartemen dan langsung menuju meja makan, di sana sudah tersedia jus segar dan nasi goreng kesukaannya. Bibi memang sangat tahu kebutuhannya sehari-hari. Melihat makanan yang melimpah, Jelita langsung duduk dan mulai menyantapnya. Ia terlihat makan dengan lahap. Tidak heran, tubuhnya semakin hari semakin besar seiring dengan bobot perutnya yang juga semakin bertambah.
Setelah kenyang, ia berdiri meninggalkan meja makan lalu melangkah menuju kamarnya. Tapi langkahnya terhenti melihat sosok yang berdiri di hadapannya.
“Kau… buat apa ke sini?” tanyanya dengan sinis.
“Aku datang kemari untuk meminta maaf,” jawab Abizar sambil melangkah menghampiri Jelita.
“Maaf katamu? kau mudah sekali meminta maaf setelah dengan seenaknya menghinaku. Tidak perlu meminta maaf, toh itu tidak akan ada pengaruhnya. Kita juga akan berpisah tidak lama lagi. Satu hal yang aku minta padamu, tolong jangan ganggu hidupku lagi karena kita sudah selesai. Jangan menciptakan masalah baru dalam kehidupan keluargamu lagi, aku minta kau melupakan semua yang pernah terjadi diantara kita karena aku menganggapnya hanya sebuah kesalahan,” ucap Jelita lalu melangkah pergi. Tapi Abizar memegang tangannya.
“Apa yang kau lakukan? Lepaskan tanganku tuan Abizar!” ucap Jelita.
“Jelita aku mohon, jangan bersikap seperti ini. Tadi itu aku benar-benar khilaf. Aku tidak bisa mengontrol amarahku melihat pemuda itu memegang tanganmu. Kenapa kau membiarkannya memegangmu?” ucap Abizar.
“Kau sendiri, kenapa kau memegang tanganku sekarang?”
“Itu karena kau masih istriku, aku masih berhak menyentuhmu di tempat yang aku suka, tapi pria itu tidak berhak menyentuhmu,” ucap Abizar.
“Aku sama sekali tiak keberatan Bima memegang tanganku. Ingat tuan Abizar, hubungan kita hanya sebatas akad nikah saja dan di saat bayi ini lahir, hubungan itu akan terputus. Aku tidak pernah menganggapmu sebagai suamiku dan kita sudah sepakat dengan itu, jadi tolong hargai keputusanku.”
“Keputusanku itu tidak masuk akal, Jelita. Sampai saat ini kau masih istri sahku, tidak ada seorang pun yang bisa menyanggah itu. Kau masih istriku, kau mengerti…?!” Abizar melangkah menghampiri Jelita dan mendekatkan wajahnya ke arah Jelita. Hembusan nafas Abizar yang hangat terasa di permukaan kulitnya, ia menelan ludahnya gugup, Jantungnya berdebar kencang.
“Kau terlalu dekat, tolong menjauhlah…” ucap Jelita terbata.
“Apa kau yakin sudah tidak memiliki perasaan apapun padaku, Hmm?” Abizar semakin mendekatkan bibirnya ke mulut Jelita.
Jelita memejamkan matanya dan menguatkan hati untuk tidak tergoda lagi. Ia lalu mendorong tubuh Abizar, namun saat ia hendak kabur menjauh kakinya malah terpeleset sehingga tubuhnya oleng dan jatuh menimpa Abizar, untung saja tangan Abizar degan sigap menahan tubuhnya sehingga perutnya tidak sempat menyentuh lantai, posisi Abizar yang berada di bawah tubuhnya membuat tubuh mereka bertindih satu sama lain.
“Hati-hati, perutmu…” ucap Abizar menatap Jelita dengan dalam.
Lama mereka saling menatap, sampai Jelita tersadar dan bangkit dari tubuh Abizar. Tapi lagi-lagi Abizar menahannya.
“Jelita, tolong dengarkan aku sekali ini saja. Setelah itu kau bisa memutuskan apa yang akan kau lakukan, aku mohon.”