Jakarta, 9-2018
Seperti biasa saat bel pelajaran selesai semua murid akan kembali ke rumah dan berhamburan keluar kelas saat bel berbunyi. Aku dan kedua temanku mengambil motor yang terparkir dengan bercanda gurau, saat hendak keluar gerbang ada sosok adik kelas dengan motor honda c70 yang mengalihkan pandanganku, karna warna motornya mencolok yaitu kuning. Temanku yang satu ini memang usil, dia dengan sengaja memanggil adik kelas itu dengan meledeki kalau aku menyukainya, padahal sama sekali aku saja tidak kenal. Lalu sambil mendorong motornya dia hanya menengok dan tertawa setelah itu pergi meninggalkan sekolah. Semenjak itu temanku jadi sering iseng meledeki jika kami sedang disekolah dan ada dia. Semakin hari aku jadi penasaran juga seperti apa sih orangnya. Akhirnya, saat malam hari aku iseng mencari tau instagramnya dan mengikuti akunnya, ya karna aku memang seperti itu oranya ‘iseng’. Ternyata, besok paginya dia mengikuti balik akunku, dan ketika pulang sekolah dia membalas cerita instagramku ya seperti biasa basa-basi saja. Semakin hari kami jadi sering bertukar pesan lewat i********:. Oh ternyata dia anaknya asik dan suka bercanda. Sekitar dua bulan kita sering bertukar pesan, pada akhirnya kita memuttuskan untuk bertemu diluar sekolah. Saat itu malam hari dia menjemputku di depan gang dengan si kuning, iya motor tua kesayangannya yang berwarna kuning itu. Aku gugup karna takut temanku tau kenyataannya aku jadi beneran dekat dengan dia. Pertama kalinya dia mengantarkanku kerumah cut, temanku. Karna awalnya kita tidak punya tujuan mau kemana. Sebenarnya disitu aku tidak enak karna dia hanya mengantarkanku, bukannya jalan-jalan malam keliling Jakarta. Esok paginya teryata aku mendapat pemberitahuan dari pesan linenya, dia menelfonku dan mengajak untuk sekedar jalan-jalan malam keliling Jakarta. Tapi tidak jadi karna aku sudah tertidur. Sebenarnya isi dari pesan yang selalu kami bicarakan tidaklah penting. Mulai dari lebih asyik naik kendaraan bermotor yang model bebek atau matic. Tapi itu jadi kesan tersendiri untukku karna dia mampu membuatku tersenyum setiap kali baca pesan darinya. Aku selalu berfikir kenapa sih dia seru banget untuk diajak bercerita. Setelah semakin akrab, di sekolah kami juga makin sering eye contact. Dan temanku benar benar belum ada yang sadar satu pun atas kedekatan kita, bukannya aku tidak mau bercerita tapi aku malas menghadapi pertanyaan kenapa bisa aku sama dia jadi akrab. Terlebih kepemilikian motor tua warna kuning yang dia miliki menjadi daya tarik sendiri untuk aku. Lucu ternyata menyukai warna kuning. Semenjak itu aku jadi menyukai barang yang berwarna kuning juga. Setiap hari aku selalu mencari keberadaannya, di sekolah entah kenapa jadi sering mencari perhatiannya lewat depan kelas dia. Sebenarnya ada kesalahan selama kami dekat karna aku saat itu mempunyai pasangan juga. Tapi kita ldr karna dia di Jogja. Tadinya aku rasa ini hanya rasa penasaran dan ingin kenal lebih dekat dengan dia. Sering telfon tatap muka setiap malam ternyata semakin membuat aku berharap ingin terus terusan lebih dekat dengan dia. Tidak tau memang sikapnya seperti itu atau memang dia sengaja memberi kami jarak untuk tidak terlalu sering bertukar pesan, sebenarnya kami tidak melulu setiap hari bertukar cerita dan telfonan, hanya paling seminggu 3 hari. Tapi entah kenapa itu yang semakin membuatku jadi lebih penasaran terhadapnya aneh. Setelah hampir dua bulan kita dekat sebenarnya dia seperti menjauh dan menghindar entah mengapa, padahal aku sudah berharap denganya. Tapi semakin aku menyadarkan diri untuk menjauh juga darinya dia malah datang, pernah sekali aku bilang kepadanya “ pergilah, mungkin memang hanya aku yang ingin aku sudah ikhlas”. Namun, keesokannya dia malah kembali kepadaku dan berkata “maaf, bukan itu maksudku kemarin” namanya perempuan jika lelaki sudah meminta maaf dengan mudahnya pula aku memafkan dan berharap lagi, terus seperti itu sampai kita semakin dekat. Di lain sisi aku dan pacarku semakin jauh. Bukan, bukan karna pacarku tau aku sedang dekat dengan adik kelas ku tapi ini permasalahan ldr. Dia bermain di belakangku, ternyata benar pasangan adalah cerminan dirimu sendiri, tapi bukannya aku sadar untuk berhenti bermain dibelakang pacarku, aku malah semakin ingin lebih dekat dengan adik kelasku. Setiap aku butuh bantuan dia selalu ada beda dengan pacarku ketika itu dia susah dihubungi dan banyak tingkah anehnya seperti mulai cuek dan tidak peduli dengan ku. Aku juga bukan tipe yang memikirkan sekali jika ada masalah di dalam hubungan, akhirnya kami malah semakin tidak pernah memberi kabar dan hubungan ku dengan adik kelas semakin dekat. Waktu itu Jakarta sedang hujan, aku sehabis bermain disalah satu cafe bersama temanku, Shafa namanya dia sahabat baikku dari kecil hingga sekarang. Kita makan disalah satu tempat makan di Kemang. “aku sedang kasmaran’ ucapku pada temanku, entah dari mana dia langsung menebak “aku tau dengan siapa” aku bingung karna memang selama dekat dengan adik kelas ini aku belum pernah cerita kepada teman dekatku. “waktu itu kamu minta anterin dia untuk membeli es krim didekat sini kan” katanya, “kenapa kamu tau? Aku kan belum pernah cerita sebelumnya” jawabku dengan bingungnya. “iya kemarin waktu aku berkumpul dengan teman smp-ku dia memberi ponselnya dan memberitahukan isi pesanmu dengannya” aku kaget saat temanku bilang seperti itu, karena aku sendiri saja tak pernah menceritakan kedekatku dengannya tapi ternyata dia berani untuk bercerita ketemannya. Shafa ini memang teman semasa smp-nya tapi aku tidak menyangka bahwa dia akan menceritakan kepada temannya secepat itu. Lalu, disela makan aku bilang ke temanku “yah sudah ketauan, iya aku memang sudah lumayan lama dekat dengan dia tapi memang belum mau menceritakannya kesiapa pun. Setelah perbincangan itu di tempat makan kami turun hujan deras sekali, kami bingung mau pulang bagaimana karna biasanya ojol jika hujan deras akan sulit didapatkan. Akhirnya, kami menunggu di dalam sampai reda. Temanku ini memang sudah punya pacar jadi dia berinisiatif untuk meminta pacarnya jemput. Aku yang tak mau kalah dan kebetulan sedang berkabar dengan adik kelas ini pun pura-pura untuk meminta jemput karna lokasi tempat ku makan memang tidak jauh dari kediamannya,
“lagi di mana na?hujan nih” katanya
“iya lagi di Kemang, makan sama shafa” jawab ku
“gaya banget ya, banyak uang nih”
Dia memang begitu senang sekali meledeki aku.
“ih apan sih ngga, pulang naik apa ya hujan gini pasti ojol susah” kode ku supaya dia peka
“ngapain naik ojol, kalo aku bisa jemput kamu” jawabnya
Kamu tau? Waktu kamu bilang gitu aku senyum-senyum sendiri sampai Shafa heran, dia sudah bias membaca gelagatku pasti aku minta dijemput sama kamu. Karna, aku masih tidak mau shafa melihat secara langsung kalau aku dijemput dia.