Aku sebenarnya tidak terlalu setuju ide makan malam ini. Ini saran Gamma yang terus membujuk papa agar mengumpulkan keluarga kami demi Anita. Bagaimana tidak, Anita tidak kembali ke Jogja tapi malah tinggal di apartemen Sam, dengan alasan tak tega melihat kaki Sam yang sebenarnya harus segera diamputasi. Bahkan Anita tidak mengangkat telpon dari semua orang kecuali telpon dariku. Dan pengakuannya di telpon minggu lalu tentang pilihannya untuk menikah dengan Sam membuatku geleng-geleng kepala.
Anita dan Sam bahkan memutuskan untuk membawa Tara tinggal dengan mereka. Bagaimana seharusnya keluarga kecil bahagia, katanya. Oh my God, Anita masih saja naif.
"Ma... Pa.... Gam... Maafkan Nita Ya..." Anita menunduk takut-takut. Keluargaku sepertinya sudah tak sabar menyidang Anita dan Sam, padahal makan malam belum dimulai. Mereka justru memulai makanan pembuka seperti ini.
"Begini Om... Tante... "
Sam mengambil alih, membetulkan posisi kakinya dengan tangan kanannya, aku merasa ngilu sendiri melihat kernyitan halus yang muncul di dahi Sam.
"Saya memohon maaf, atas apapun yang terjadi kepada Anita selama ini." Sam menjelaskan sejenak, Anita meremas lengan Sam, mereka tampaknya saling menguatkan satu sama lain. Benar-benar saling mencintai.
"Saya menyesal dan sungguh ini diluar kemampuan saya sebagai manusia." Dengan mata memerah Sam terus mencoba untuk mengungkap apapun yang ingin ia jelaskan. Aku lebih memilih putraku yang bisa saja mendengarkan semua ini. Jadi aku membawanya ke lantai atas tanpa sepengetahuan semua orang. Aku hanya berpesan pada mbak Sri kalau makan malam sudah bisa dimulai agar memanggilku di kamar Tara.
"Bunda, jadi kapan?" Tara berjalan di depanku sambil bersedekap. Tadi Tara sempat menolak saat aku memaksanya naik ke kamarnya. Tapi saat ku bilang tidak ada bocah yang boleh menguping pembicaraan orang dewasa, ia mengerti.
"Apanya sih, sayang?"
"Menikahnya?"
"Hah, Siapa yang mau menikah?"
"Bunda dan Ayah?"
Aku menelan kasar ludahku, aku tak tau apa yang Tara pikirkan. Jadi lebih baik aku bertanya saja padanya.
"Tara mau bunda menikah dengan Ayah?"
"Iyalah, dimana-mana keluarga itu menikah baru punya anak" aku terus mendengar apa yang ingin disampaikan Tara.
"Tapi bunda dan ayah punya anak dulu sebelum menikah?" Its Ok, sepertinya ada yang salah disini. Kenapa Tara jadi berpikir demikian.
"Big D, ayah kandungku kan Bun?" Baiklah, terjawab sudah. Berobat dari Singapura kenapa otak Tara menjadi aneh saja. Mungkinkah perasaan ini yang disimpan Tara selama ini, keinginan memiliki keluarga utuh, seorang ayah.
"Wajahku kenapa mirip sekali dengan wajahnya." Wajahmu lebih mirip Sam dan Anita sayang, kamu perpaduan keduanya. Tapi hanya bunda yang selalu menyayangimu sejak kamu bayi.
"Uncle Sam juga mirip denganmu" semoga saja kata-kataku ini tidak mengganggu Tara.
"Tapi aku lebih suka mirip Ayah dari pada Uncle, lagi pula bunda lebih dulu mengenal ayah, tidak mungkin Uncle ayah kandungku." Baiklah, kalau putraku sudah bicara sepanjang ini tandanya ia mulai kesal dan tak mau dibantah. Khas Jillian sekali.
"Pantas saja, aku anak kecil yang boleh dibawa bunda ke kantor, karena aku memang cucunya Opa kan Bun?" Aku tersenyum, anggukan serasa lebih tepat untuk momen begini. Analisa pintar seorang bocah sungguh mengejutkan. Mungkinkah Tara mencari-cari kotak memori yang hilang dalam ingatannya, hingga membuat memori baru yang yang ia inginkan. Pak D harus tahu ini.
"Jadi, lamaran di bawah itu sudah selesai bun?"
"Lamaran?" Aku bertanya bingung.
"Siapa yang lamaran Little D?" Dan itu Pak D yang tiba-tiba muncul di pintu kamar Tara.
"Call me Tara Ayah"