Matahari mulai condong ke barat saat Senja akhirnya menyelesaikan seluruh tugasnya di area belakang rumah. Jemari tangannya yang mungil tampak memutih, berkerut, dan terasa agak kaku karena terlalu lama terendam di dalam air dingin bercampur deterjen kimia. Mencuci kemeja-kemeja mahal milik Tuan Danu ternyata membutuhkan ketelitian yang luar biasa menyiksa fisik; ia harus menguceknya dengan sangat lembut menggunakan tangan kosong tanpa bantuan mesin cuci, persis seperti instruksi ketat dari Bi Inah yang terus mengawasinya dengan pandangan mata yang menghakimi dari ambang pintu.
Setelah memeras helai kemeja terakhir dan menjemurnya di barisan jemuran halaman belakang yang berpagar tinggi, Senja menyeka keringat dingin yang mengalir di pelipisnya menggunakan ujung lengan gamisnya yang sudah agak basah. Rasa pusing yang hebat tiba-tiba menghantam kepalanya dengan telak, membuat pandangan matanya memburam sejenak. Perutnya melilit perih, mengeluarkan suara keroncongan yang menyedihkan karena sejak tadi pagi ia belum menyentuh makanan berat sama sekali akibat rasa mual dan cemas yang terus mengaduk lambungnya.
Namun, di tengah rasa lelah yang teramat sangat itu, ingatan Senja langsung melayang pada satu tugas terakhir yang harus ia persiapkan sebelum malam tiba. Memasak makan malam untuk Danu.
Dengan langkah kaki yang kembali diseret tertatih menahan sisa rasa ngilu semalam, Senja melangkah menuju dapur bersih. Bi Inah tampak sedang sibuk membersihkan kulkas besar dua pintu saat Senja masuk.
"Bi Inah..." panggil Senja dengan suara yang sangat lembut, hampir berupa bisikan serak yang melelahkan. "Pakaian kotor milik Tuan Danu sudah selesai saya cuci dan jemur semuanya dengan hati-hati. Untuk menu makan malam nanti, apa yang biasanya disukai oleh Tuan Danu?"
Bi Inah menghentikan aktivitasnya, membalikkan tubuhnya perlahan lalu mendengus sinis dengan senyuman meremehkan yang terpatri di wajah tuanya. "Suka? Memangnya kau pikir Tuan Danu mau memakan masakan hasil tangan desamu yang kumuh itu, hmmm? Selama dua tahun ini, Tuan Danu dan Nyonya Melani selalu memesan makanan dari restoran bintang lima, atau koki catering premium yang datang langsung ke sini untuk memasak. Tuan Danu itu lidahnya sangat berkelas, Senja. Beliau tidak akan sudi menyentuh makanan kampung yang baunya aneh."
Kalimat sinis dari Bi Inah terasa seperti sengatan lebah yang menusuk ulu hati Senja. Nama Melani yang kembali disebut seolah menjadi pengingat yang kejam di rumah ini, bayang-bayang kakak tirinya yang glamor itu masih melekat kuat di setiap sudut dinding marmernya. Senja meremas jemari tangannya yang terluka akibat gesekan detergen dengan erat. Ia menunduk dalam, mencoba menguatkan batinnya sendiri.
"Meskipun begitu... bolehkah saya mencoba memasak sesuatu yang sederhana untuk malam ini, Bi?" pinta Senja dengan tatapan mata yang memohon dengan tulus. "Di desa, saya sering memasak sup ayam kampung dengan rempah-rempah hangat untuk Ibu saat beliau sedang lelah atau sakit. Setidaknya, jika Tuan Danu nanti menolaknya, saya tidak akan memaksanya. Saya hanya ingin menjalankan tugas saya dengan baik sebagai orang yang tinggal rumah ini."
Bi Inah menatap Senja dengan pandangan mata yang sulit diartikan, perpaduan antara rasa tidak suka, heran, sekaligus muak dengan kepolosan gadis di hadapannya. "Terserah kau saja! Bahan-bahannya ada di dalam kulkas besar itu. Tapi ingat, jika Tuan Danu mengamuk karena masakanmu merusak selera makannya, jangan pernah berani membawa-bawa namaku di hadapannya!"
"Baik, Bi. Terima kasih," ucap Senja pelan.
Selama dua jam berikutnya, Senja menenggelamkan dirinya di dalam kesibukan dapur mewah yang asing baginya. Ia memotong sayuran dengan gerakan yang sangat telaten, merebus daging ayam hingga empuk, dan menumbuk rempah-rempah tradisional secara manual menggunakan cobek batu kecil yang ia temukan di sudut lemari bawah, sebuah alat tradisional yang tampak sangat tidak cocok berada di tengah kemewahan dapur modern tersebut.
Rasa pening di kepalanya kian merajalela, dan keringat dingin semakin deras membasahi punggungnya. Pada satu momen, saat ia hendak memindahkan panci sup yang masih mendidih dari atas kompor induksi, tangannya yang gemetar hebat akibat lemas membuat air sup yang panas itu menciprat, mengenai permukaan kulit punggung tangannya yang halus.
"Aakhh!" Senja memekik tertahan, reflex menjatuhkan kembali panci tersebut ke atas tungku.
Kulit punggung tangannya seketika berubah menjadi kemerahan, melepuh kecil, dan terasa luar biasa panas seperti terbakar api j*****m. Rasa perihnya berdenyut-denyut hebat, beradu dengan rasa ngilu di tubuh bagian bawahnya akibat sisa kebrutalan Danu semalam. Namun, Senja tidak menangis. Ia mengingat aturan pertama dari Danu: jangan pernah menangis di depanku. Meskipun Danu belum pulang, ia tidak mau membiasakan matanya mengeluarkan air mata yang rapuh di rumah terkutuk ini. Ia segera mengalirkan air dingin dari keran ke atas luka lepuhan, lalu memaksakan dirinya untuk menyelesaikan penataan makanan di atas meja makan besar yang sepi.
Setelah memastikan meja makan tertata rapi, Senja berjalan perlahan menuju ruang tamu. Seluruh sendi di tubuhnya terasa mati rasa. Ia duduk di salah satu sudut sofa, menyembunyikan punggung tangannya yang melepuh di balik kain gamis. Luka itu terus berdenyut, memberikan sensasi terbakar yang konstan, namun rasa sakit itu tidak sebanding dengan rasa hampa yang perlahan menggerogoti jiwanya.
Keheningan di rumah mewah ini terasa begitu mencekam. Setiap detak jarum jam dinding berbunyi seperti hitungan mundur menuju penderitaan berikutnya. Senja memeluk lututnya sendiri, menatap kosong ke arah lantai marmer yang berkilat. Pikiran-pikiran buruk mulai berkecamuk di kepalanya. Bagaimana jika Danu benar-benar murka melihat makanan kampung itu? Bagaimana jika malam ini pria itu kembali menjelma menjadi monster dan menyiksanya lebih kejam dari semalam?
Setiap kali bayangan sepasang mata sehitam jelaga milik Danu melintas di benaknya, tubuh Senja secara otomatis bergidik ngeri. Ia terjebak. Di satu sisi ada ancaman Danu yang dingin, di sisi lain ada bayang-bayang Melani yang angkuh, dan di atas segalanya... ada nyawa ibunya yang bergantung pada setiap helai napas di ruang ICU.
Senja memejamkan mata, membiarkan tubuhnya bersandar pada bantalan sofa yang empuk namun terasa sedingin es. "Ibu... Senja lelah sekali," bisiknya parau pada kegelapan. Ia memaksakan matanya tetap terbuka, menolak untuk menyerah pada rasa kantuk yang berat, karena ia tahu, ketenangan di rumah ini tidak akan pernah bertahan lama.
Sore pun perlahan merayap naik, mengubah warna langit di balik jendela kaca besar menjadi jingga keunguan yang suram. Angin di luar mulai berhembus kencang, menggoyang dahan-dahan pohon di halaman, seolah sedang memberi isyarat bahwa badai baru akan segera datang menerjang hidupnya.
TOK! TOK! TOK!
Ketukan pintu yang sangat keras, ketat, dan berwibawa tiba-tiba memecah keheningan rumah besar itu, bergema di sepanjang koridor langit-langit marmer dan seketika membuat jantung Senja mencolot hebat.
Senja terkesiap, tubuhnya langsung menegak kaku. Detak jantungnya berpacu liar dalam sekejap. Ini baru jam lima sore, terlalu cepat bagi Danu untuk pulang kerja.
Dengan perasaan cemas yang campur aduk dan lutut yang masih lemas, Senja merapikan gamis lusuhnya, lalu melangkah perlahan menuju pintu depan. Setiap langkahnya dipenuhi keraguan. Siapa yang datang ke rumah ini di jam seperti ini? Apakah lintah darat dari desa yang berhasil melacaknya? Atau ada kabar buruk dari rumah sakit mengenai kondisi ibunya?
Ketukan itu kembali terdengar, kali ini lebih tidak sabaran dan menuntut.
Senja menarik napas dalam-dalam, mengunci rasa takutnya di dasar hati, lalu mengulurkan tangannya yang gemetar untuk membuka selot pintu jati yang besar tersebut. Begitu pintu terbuka, sosok seorang pria paruh baya dengan aura yang luar biasa dingin dan angkuh sudah berdiri tegak di ambang pintu, menatapnya dengan sepasang mata yang tersembunyi di balik kacamata tebal yang berkilat tajam.
Wajahnya kaku seolah dipahat dari semen. Tanpa sepatah kata pamit atau senyuman formalitas, pria itu melangkah masuk begitu saja, menerobos ruang pribadi rumah Aryawangsa seolah dialah penguasa tunggal di sana. Aroma parfum berbau tembakau mahal yang pekat langsung menguar, mengusir aroma masakan rumah yang dengan susah payah disiapkan Senja di dapur tadi.
"Cepat sekali kamu membukanya. Baguslah, saya tidak suka membuang waktu," ucap pria itu ketus, langsung menghempaskan tubuhnya ke atas sofa kulit Italia di ruang tamu. Ia meletakkan sebuah tas kerja berbahan kulit buaya tiruan yang kaku di atas meja marmer dengan dentuman pelan yang sengaja ditekan.
Senja tertegun di ambang pintu. Jantungnya berdegup kencang, perpaduan antara rasa bingung, takut, sekaligus tersinggung yang amat dalam. Tangannya yang melepuh masih ia sembunyikan di balik lipatan gamis, berdenyut nyeri seakan menyamai ritme dadanya yang kian sesak.
"Maaf, Anda siapa? Tuan Danu tidak bilang akan ada tamu yang datang sore ini," ucap Senja berusaha menata suaranya agar tidak bergetar.
Bersambung