Ayu menyandarkan tubuhnya ke kursi, menyesap kopi dingin dari gelas plastiknya. Cairan hitam itu mengalir di tenggorokannya, memberikan sensasi dingin yang menyegarkan setelah setengah hari penuh pasien di rumah sakit.
"Akhirnya Setelah perjuangan dari tadi bisa ngopi juga." Ayu katakan itu sambil menyesap dan menikmati kopi di dalam mulutnya.
Baru saja sebentar ia hendak menikmati ketenangan sesaat, suara langkah tergesa-gesa terdengar dari luar.
"Ayu!"
Seorang pria bertubuh tinggi dengan rambut sedikit berantakan masuk ke ruangannya dengan napas tersengal. Teddy teman seperjuangan sejak kuliah muncul dengan ekspresi panik.
"Kenapa, Ted?" Ayu mengangkat alis, tak terpengaruh dengan kepanikan temannya.
Teddy berdiri di depan meja, tangannya bertumpu di permukaan kayu. "Maaf, gue telat! Tadi ada urusan mendadak, sumpah! Terus pas sampai sini, gue dengar dari perawat ada keributan di IGD. Lo baik-baik aja?"
Gosip di rumah sakit itu sangat menyebar dengan cepat. Apalagi mereka tahu kalau Tedi adalah sahabat dari Ayu. Dan begitu Teddy melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah sakit, suster-suster sudah memberitahu Teddy apa yang terjadi tadi.
Ayu menyandarkan punggungnya, memainkan sedotan di tangannya sambil terkekeh kecil. "Oh, itu? Nggak ada yang seru, cuma ada pasien cengeng."
Dia ingat betul Bagaimana Saga tadi mengatakan dengan keras Kalau tidak mau ditangani oleh dokter perempuan. Ayu pikir pria itu mempunyai nyali yang besar. Nyatanya, baru segitu saja sudah dapat teriak-teriak tidak karuan.
Teddy mengerutkan kening. "Cengeng? Maksud lo?"
Ayu mengangkat bahu santai. "Ada pasien laki-laki, gede, sok jagoan. Tangan terkilir, lukanya kotor, tapi nggak mau ditangani dokter perempuan. Udah gitu, pas gue bersihin lukanya, baru dikit aja langsung meringis."
Teddy berkedip beberapa kali, lalu tertawa. "Lo serius? Orang gede petantang- petenteng tapi gitu doang nangis?"
Ayu menyeringai, meletakkan gelas kopinya. "Makanya. Drama banget, kan?"
Teddy menggelengkan kepala, masih terkikik. "Untung bukan gue yang tangani. Kalo iya, pasti udah gue kasih plester Hello Kitty."
Ayu tertawa, lalu meraih ponselnya. "Udah, gue laper. Dari tadi belum makan. Yuk, cari makanan."
Tanpa perlu diminta dua kali, Teddy langsung mengangkat tasnya. "Setuju! Kita makan dulu sebelum ada pasien lain yang lebih drama dari yang tadi."
Keduanya kemudian berjalan bersama menuju kantin. Di tengah jalan mereka bertemu Kinan, Ayu kemudian mengajak dokter muda itu menunjukkan tim bersama. Mereka duduk di salah satu kursi, kemudian saling mengobrol tentang kejadian hari ini.
"Sayang sih tadi dokter Teddy nggak ada di sini titik pasti ketawa ngakak deh kok nggak ngelihat gimana Dokter Ayu nanganin pasien. Padahal harusnya disiram NaCl itu sama sekali nggak sakit atau perih sih, cuman orang itu terus aja teriak-teriak kayak disiramen jeruk nipis di lukanya." Kinan katakan sambil tertawa terbahak-bahak kemudian meneguk milkshake Strawberry miliknya.
"Iya nih, sayang banget jadi melewatkan pertunjukan yang menarik," sesal Teddy.
"Gue juga nggak ngerti deh kenapa dia anti banget sama perempuan Emang apa salahnya diperiksa sama Dokter perempuan? Khawatir kalau dia itu gay deh." Ayu berucap asal.
"Mungkin bukan gay sih, atau mungkin dia ada trauma sama perempuan jadi semua perempuan itu salah di mata dia. "Sambung Teddy mencoba mengutarakan pendapatnya.
Ayu menganggukkan kepalanya. "Bisa juga sih. Ya udahlah ya, enggak udah dipikirin. Kita makan dan minum aja dulu. Butuh tenaga buat jaga."
***
Di ruang kerja yang luas dan mewah, dua pria duduk berhadapan dengan raut wajah serius. Asap cerutu melayang di udara, memenuhi ruangan dengan aroma tembakau yang khas.
Bramantyo menyandarkan tubuhnya ke kursi, menatap sahabatnya, Endra Majendra, yang duduk di seberangnya. Mata mereka bertemu dalam diam, seakan saling membaca pikiran masing-masing.
"Kita nggak bisa menunda ini lagi, Bram," suara Endra berat, mencerminkan beban yang ia pikul selama bertahun-tahun. "Perusahaan kita terlalu besar untuk dibiarkan tanpa pewaris yang jelas. Kita hanya punya satu anak, dan mereka sudah cukup umur."
Bram mengangguk pelan, menyesap kopi hitam di cangkirnya. "Aku tahu, Ndra. Tapi Ayu bukan anak yang mudah diatur. Dia keras kepala. Kalau aku paksa, bisa-bisa dia melawan."
Bram itu tahu betul Bagaimana putrinya. Tidak akan mudah bicara akan meminta Ayu. apalagi dalam masalah seperti ini. Akan banyak perdebatan, kan banyak hal yang dipertanyakan oleh Ayu. Dan pasti akan ada juga penolakan.
Endra terkekeh pelan. "Anak perempuan memang begitu. Tapi pada akhirnya, mereka akan mengerti."
Bram hanya mendengus. Menurutnya ini akan jadi hal yang benar-benar sulit. Namun dia tetap akan bicara dengan Ayu tentang hal ini tentu saja karena itu sudah disepakati. "Kamu sudah bicara dengan Saga?"
Endra meletakkan cerutunya di asbak, menghela napas panjang. "Dia tidak akan setuju. Aku sudah tahu jawabannya bahkan sebelum aku bertanya. Dia membenci pernikahan, menganggap semua wanita hanya mengincar uangnya."
Rasa ketakutan yang dimiliki Saga lebih karena ia takut dimanfaatkan. Namun, Ayu jelas tidak akan memanfaatkannya? Karena saham brang pun lebih besar daripada saham milik Indra. Jadi rasanya tidak ada ketakutan untuk itu. Setidaknya itu yang ada di dalam pikiran Bram.
Bram tertawa kecil. "Persis seperti ibunya dulu."
Endra ikut tersenyum, meskipun ada kepedihan tersirat di matanya. Ingat betul Bagaimana istrinya dulu meninggalkan karena hal-hal yang aneh. Padahal Ia memberikan segalanya kok namun istrinya ....
"Ya, dan itulah yang membuatnya jadi seperti sekarang. Tapi tidak ada pilihan lain. Jika kita ingin bisnis ini tetap berjalan, mereka harus menikah." Endra menekankan.
Bram terdiam, pikirannya melayang pada putrinya. Ayunda… apakah kamu akan membenciku setelah ini? Rasa takut itu jelas muncul, apalagi mereka cukup lama tidak bersama-sama. Setelah kuliah Ayu melanjutkan untuk tidak tinggal di rumah ya tinggal di tempat pilihannya sendiri. Rumah lama, yang memang disiapkan oleh Bram.
"Kita sudah yakin kalau kita akan gabungkan perusahaan kan?" Endra melanjutkan, suaranya penuh pertimbangan. "Ayu bisa tetap menjadi dokter, dan Saga yang memimpin bisnis. Dengan begitu, mereka tetap punya kehidupan masing-masing."
Bram menatap sahabatnya lekat-lekat. "Apa kau yakin bisa adil? Jangan sampai Ayu hanya jadi simbol dalam pernikahan ini."
Endra tersenyum kecil. "Aku sudah memikirkannya matang-matang. Aku tidak akan membiarkan putriku sendiri sengsara."
Bram menghela napas panjang. "Baiklah. Aku akan bicara dengan Ayu. Mungkin dia akan menolak, tapi aku tidak akan memberinya pilihan."
Endra mengangguk. "Dan aku akan menangani Saga."
Di antara kepulan asap dan segelas kopi yang semakin dingin, dua pria itu mengikat kesepakatan yang akan mengubah hidup anak-anak mereka selamanya.
***