Plak!
Satu tamparan mendarat mulus di pipi gadis itu.
Tubuhnya sampai terhuyung beberapa langkah. Rasa panas langsung menjalar di kulit pipinya, sementara rambut panjang yang semula menutupi sebagian wajahnya kini berantakan akibat kerasnya tamparan sang ayah.
Sea baru saja pulang kuliah.
Tas masih menggantung di bahunya. Pakaiannya pun masih sama seperti ketika ia meninggalkan kampus beberapa jam lalu. Namun, bahkan sebelum sempat meletakkan barang-barangnya, ia sudah harus berhadapan dengan amarah sang ayah.
Pria itu berdiri di hadapannya dengan wajah merah padam. Tatapannya penuh tekanan, seolah keputusan yang diambil Sea merupakan sebuah penghinaan besar bagi keluarganya.
“Apa yang kamu lakukan, Sea? Hah? Kenapa bisa-bisanya kamu menolak Reza?”
Suara sang ayah menggema di ruang keluarga.
Sea menggigit bagian dalam pipinya. Matanya mulai memanas, tetapi ia berusaha menahan air mata yang sejak tadi memenuhi pelupuk matanya.
“Aku tidak mau, Ayah. Aku tidak mau pacaran dengan Reza. Aku sudah punya pacar. Reza itu seorang duda, Ayah. Aku tidak mau. Dia itu benar-benar kejam. Ayah tidak tahu saja, dia itu—”
“Tidak mau aku?” bentak sang ayah.
Tangannya mengepal kuat.
“Hah, anak pembangkang! Anak tidak tahu diri! Hah. Kenapa? Kenapa kau tidak mau? Reza itu terbilang masih muda. Dia baru berusia 27 tahun. Hah? Kenapa bisa-bisanya kau menolak? Kau mau ayahmu ini mendekam di penjara?”
Sea menatap ayahnya dengan mata berkaca-kaca.
Bagaimana bisa masalah hutang ayahnya tiba-tiba menjadi tanggung jawabnya?
“Aku tidak mau!”
Suara Sea bergetar, tetapi kali ini ia memaksa dirinya untuk melawan.
“Itu masalah urusan hutang Ayah, kenapa harus aku yang dijadikan tawanannya Ayah?”
Sentak Sea kepada sang ayah, Jakob.
Ia benar-benar tidak percaya dengan jalan pikiran ayahnya.
Bagaimana mungkin seorang ayah tega mengorbankan anaknya sendiri hanya demi membayar hutang?
Sea selama ini selalu berusaha menjadi anak yang baik. Menuruti banyak hal yang diminta keluarganya. Namun kali ini, ia tidak bisa.
Ia tidak mau menyerahkan seluruh hidupnya kepada seorang pria yang bahkan tidak ia cintai.
“Aku tidak mau! Aku tidak mau!”
Plak!
Satu tamparan lagi mendarat di pipinya.
Kepalanya terlempar ke samping. Tubuhnya kembali terhuyung hingga hampir kehilangan keseimbangan.
Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya jatuh.
“Keluar dari rumah ini! Keluar kalau kamu tidak mau menikah dengan Reza!”
Sea mengangkat wajahnya.
“Kenapa? Kenapa harus aku? Kan ada Kak Evelyn. Kak Evelyn usianya lebih tinggi daripada aku.”
“Tapi kakakmu itu sudah punya pacar.”
Sea tertawa getir.
“Lalu apa bedanya dengan aku, Ayah? Apa bedanya? Aku nggak mau menikah dengan laki-laki yang tidak aku cintai.”
“Cinta, cinta!” Jakob mencibir kasar. “Makan tuh cinta! Pergi kamu dari rumah ini!”
“Mas!”
Teriakan Elizabeth langsung menyela pertengkaran mereka.
Wanita itu segera mendekati suaminya, wajahnya dipenuhi kecemasan.
“Kenapa harus menyuruh dia pergi kalau Mas menyuruh dia pergi, lalu bagaimana dengan hutang-hutang kita? Siapa yang akan membayarkannya?”
Elizabeth menatap Sea, kemudian kembali kepada suaminya.
“Bukankah Tuan Firman menginginkan Sea sebagai tawanan untuk menikahi anaknya?”
Kata tawanan itu membuat d**a Sea semakin sesak.
Jadi, seperti itulah dirinya di mata keluarganya?
Bukan seorang anak.
Bukan seseorang yang memiliki masa depan.
Melainkan jaminan untuk melunasi hutang.
“Ah, Tuan—”
Jakob akhirnya berteriak frustrasi.
“Sial! Semua ini gara-gara kalian!”
Sementara Sea sudah tidak tahan lagi dengan semua itu.
Ia berbalik.
Tanpa menghiraukan suara kedua orang tuanya, gadis itu melangkahkan kaki menuju kamarnya.
Pintu dibuka kasar.
Sea segera mengambil tas besar, memasukkan pakaian satu per satu dengan tangan gemetar. Air matanya terus mengalir, tetapi ia tidak lagi peduli.
Yang ada di pikirannya hanya satu.
Ia harus pergi.
Ia tidak tahu akan pergi ke mana.
Yang penting, ia tidak ingin lagi berada di rumah ini.
Sea menyeret kopernya keluar kamar.
“Sea, kamu mau ke mana?” sentak Mama Elizabeth.
Sea tidak menjawab.
Ia terus berjalan.
Suara ibunya semakin lama semakin jauh ketika gadis itu akhirnya keluar dari rumah.
Untuk pertama kalinya, Sea benar-benar meninggalkan tempat yang selama ini disebut rumah.
Namun, ia tidak tahu bahwa malam itu hidupnya akan kembali menghancurkannya.
Mobil berhenti di depan sebuah apartemen.
Sea turun perlahan.
Matanya sembap. Wajahnya masih menyisakan bekas kemerahan akibat tamparan sang ayah. Tangannya menggenggam erat ponsel.
Tujuannya hanya satu.
Pandu.
Kekasihnya.
Ia sudah tahu PIN apartemen milik Pandu meskipun berkali-kali diajak oleh pria itu datang ke sana. Hubungan mereka selama ini memang berjalan seperti itu—Sea masih menjaga batas, sementara Pandu terus meyakinkannya bahwa semuanya baik-baik saja.
Malam ini Sea hanya ingin satu hal.
Menemukan seseorang yang bisa membuatnya merasa bahwa hidupnya masih memiliki tempat untuk pulang.
Ia berjalan menuju pintu apartemen.
PIN dimasukkan.
Klik.
Pintu terbuka.
Sea melangkah masuk.
Namun, baru beberapa langkah, tubuhnya langsung membeku.
Suara dari dalam ruangan membuat langkahnya terhenti.
Ada seseorang di sana.
Lebih dari satu orang.
Sea perlahan mengangkat wajah.
Dan apa yang dilihatnya seketika menghancurkan sisa kepercayaan yang masih ia miliki.
Pandu.
Bersama seorang perempuan yang tidak ia kenal.
Keduanya berada dalam keadaan yang sama sekali tidak seharusnya Sea lihat.
Suara desahan terdengar jelas memenuhi ruangan.
Sea menatap tanpa berkedip.
Jantungnya seperti berhenti.
Dunia di sekelilingnya seolah mendadak kehilangan suara.
Pria yang selama ini ia percaya.
Pria yang selama ini ia anggap sebagai satu-satunya tempat untuk berpegangan.
Ternyata sedang mengkhianatinya.
“Sialan, Pandu!”
Teriakan Sea membuat Pandu langsung menoleh.
“Sea?”
“Anjing! b*****t lo, Pandu! Bisa-bisanya lo malah berhubungan dengan perempuan lain, b*****t!”
Pandu buru-buru bangkit.
“Sea, saya bisa jelasin!”
“Apa jelasin apa?”
Suara Sea pecah.
“Siapa dia, b*****t! Dasar perempuan murahan, tante-tante gila!”
Sea tidak sanggup melihat lebih lama.
Ia berbalik dan berlari keluar.
“Sea!”
Pandu mengejarnya sampai ke ambang pintu.
Namun Sea sudah tidak mendengar apa pun.
Ia terus berlari.
Tidak peduli ke mana kakinya membawanya.
Tidak peduli bagaimana orang-orang memandangnya.
Air matanya jatuh tanpa henti.
Rumah yang seharusnya menjadi tempatnya berlindung baru saja menolaknya.
Ayahnya ingin menjadikannya alat pembayaran hutang.
Ibunya tidak mampu melindunginya.
Dan satu-satunya pria yang ia pikir bisa menjadi tempat untuk berpegang ternyata mengkhianatinya.
Semuanya runtuh.
Semuanya.
Sea berlari semakin jauh sampai napasnya tersengal.
“Ah!”
Teriakannya pecah di tengah malam.
Ia berhenti, membungkuk sambil memegangi dadanya yang terasa sesak.
Tangannya mengepal.
Air mata terus mengalir.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Sea benar-benar tidak tahu harus pergi ke mana.
Ia hanya tahu satu hal.
Hidupnya sudah tidak memiliki tempat untuknya.