St. Petersburg, Rusia
Hujan tidak pernah jatuh dengan cara yang sopan di kota ini.
Zefran Damianovich Volkov berdiri di ambang pintu kamarnya, memandang koridor yang sudah kosong. Semua koper telah dibawa turun sejak dua jam lalu oleh Alexei. Kamar itu kini hanya menyisakan jejak tipis kehidupan yang pernah ada. Sehelai kaus Daniil yang terselip di bawah ranjang, bekas cangkir kopi di atas meja, dan buku rusak berpenanda kertas yang tidak pernah selesai dibaca.
Ia membiarkan semuanya. Bukan karena lupa. Tapi karena ada hal-hal yang memang lebih baik ditinggal.
"Ayah."
Daniil muncul dari balik pintu dengan ransel besar yang hampir sebesar badannya. Seragam perjalanan: kaus abu tua, celana jogger hitam, sepatu kets yang talinya sudah dikencangkan rapi. Usianya kini sebelas tahun, dan anak itu membereskan barangnya sendiri tanpa perlu disuruh sejak usia delapan.
"Sudah?" tanya Zefran.
"Sudah." Daniil mengangkat tali ransel. "Kopibara sudah ada di dalam kandangnya. Viktor bilang akan dijaga.
"Viktor akan melupakan itu dalam dua hari."
"Aku sudah meninggalkan instruksi tertulis."
Zefran menatap anaknya sebentar. Lalu berbalik mengambil jaketnya dari balik kursi, dan melangkah turun tanpa kata tambahan. Daniil mengikutinya.
Mikhail sudah menunggu di ruang bawah. Bukan di kursi. Pria itu tidak pernah duduk ketika ada sesuatu yang mengganjal di benaknya. Ia berdiri di depan jendela, punggungnya menghadap pintu, memandang jalanan St. Petersburg yang basah dengan tatapan yang sudah lama terlatih untuk tidak memperlihatkan apapun.
"Kau sudah tahu apa yang harus dilakukan," kata Mikhail tanpa menoleh.
"Ya."
"Amankan semua aset di sana. Jangan hubungi aku kecuali darurat." Mikhail berhenti sejenak. "Dan jaga Danya. Jika terjadi sesuatu pada dia—"
"Tidak akan terjadi."
Mikhail akhirnya berbalik. Ada sesuatu di wajahnya yang tidak biasa. Sesuatu yang lebih dekat ke lelah daripada ke amarah. Pria yang telah kehilangan empat anak dari lima, dan kini harus meminjamkan yang kelima kepada dunia yang tidak ramah.
"Cukup Damian di sisiku," katanya pelan. "Kau pergi. Bawa anakmu. Dan kali ini, Zefran—" Mikhail memandangnya lama. "Pulang dengan selamat."
Itu bukan perintah. Itu sesuatu yang lebih rumit dari perintah.
Zefran mengangguk sekali.
…
Di dalam mobil, Daniil duduk dengan tenang di sebelahnya. Kota kini bergerak di luar jendela kaca mobilnya. Deretan gedung tua yang ia kenal seperti menghafal punggung tangan sendiri. Lampu jalan yang memantul di genangan, juga pejalan kaki yang membuka payung berwarna gelap.
"Kita lama di sana?" tanya Daniil.
"Dua atau tiga bulan. Mungkin lebih."
"Sekolahku—"
"Sudah diurus. Kau akan belajar jarak jauh selama di sana."
Daniil mengangguk pelan. Ia tidak bertanya lebih lanjut. Bukan karena tidak ingin tahu, tapi karena anak itu sudah cukup lama hidup di dunia ini untuk mengerti bahwa ada pertanyaan yang jawabannya tidak akan diberikan di dalam mobil.
Mereka tiba di Pulkovo empat puluh menit kemudian. Alexei telah menunggu di tarmak dengan dua koper tambahan yang tidak ada dalam daftar. Pavel berdiri di dekat tangga pesawat dengan muka seperti orang yang dipaksa berlibur ke tempat yang tidak ia pilih sendiri.
"Indonesia lagi," gumam Pavel saat Zefran melewatinya.
"Kamu tidak harus ikut," kata Zefran tanpa menoleh.
Pavel tidak menjawab. Tapi ia naik ke pesawat juga.
Zefran duduk di kursi paling belakang kabin, memandang ke luar jendela saat pesawat mulai bergerak. St. Petersburg mengecil perlahan dan mulai tertutup awan putih. Lampu-lampunya menjadi titik-titik kuning yang memudar di balik awan rendah, lalu hilang sama sekali.
Ia tidak merasakan apa yang biasa disebut orang sebagai rindu kampung halaman. Baginya, rumah bukanlah tempat, melainkan tugas. Orang-orang harus dilindungi, dan ancaman harus diselesaikan sebelum sempat mendekat.
Tapi ada satu hal yang diam-diam ia akui hanya pada dirinya sendiri dalam keheningan kabin pesawat yang berguncang ringan menembus awan—. Magelang bukan hanya tentang aset.
Tidak pernah.
* * *
Magelang, Indonesia
Ruang sidang tidak pernah berbau kemenangan.
Yang Fenny cium selalu sama: kertas lama, AC yang terlalu dingin, dan sedikit keringat milik semua orang yang menyadari bahwa hari ini akan menentukan sesuatu yang tidak bisa diulang. Juga bau kecemasan yang sudah familiar seperti seragam kerja.
Ia membuka map-nya tanpa terburu-buru.
Di seberang meja, kuasa hukum perusahaan sedang menyusun argumennya. Pria paruh baya dengan jam tangan mahal dan nada bicara yang telah terlatih terdengar meyakinkan meski tidak mengucapkan apapun yang sepenuhnya benar. Fenny pernah berhadapan dengan tipe seperti ini tiga belas kali. Hitungannya selalu tepat.
Kliennya duduk dua kursi di sebelah kirinya. Wanita empat puluh dua tahun, mantan operator mesin tekstil, dirumahkan tanpa pesangon setelah tujuh tahun bekerja. Pergelangan tangannya masih ada bekas luka tipis dari kecelakaan kerja tahun lalu yang tidak pernah diproses klaim asuransinya.
Tangan itu yang membuat Fenny mengambil kasus ini.
"Pihak tergugat menyatakan bahwa klien kami telah memenuhi seluruh kewajiban sesuai kontrak," kata kuasa hukum perusahaan dengan suara yang terdengar seperti ceramah. "Sementara pihak penggugat tidak dapat membuktikan adanya hubungan kausal antara kondisi tempat kerja dan—"
"Majelis," Fenny menyela, suaranya datar dan tidak meminta maaf atas interupsi itu. "Kami memiliki dokumen dari klinik Puskesmas setempat, rekam medis internal perusahaan yang diperoleh melalui proses discovery, dan laporan inspeksi K3 yang sudah tiga kali diabaikan oleh manajemen dalam rentang dua tahun. Jika pihak tergugat ingin berbicara tentang hubungan kausal, kami dengan senang hati akan memperlihatkan semuanya secara berurutan."
Hakim memandangnya. Kuasa hukum perusahaan sedikit menggeser posisi duduknya.
Fenny tidak bergerak.
…
Sidang berlangsung dua jam lebih. Ketika hakim mengetuk palu dan menyatakan penundaan hingga minggu depan, nama kliennya, Bu Sarmi, menarik napas panjang di sebelahnya seperti orang yang baru saja selesai menahan napas terlalu lama.
"Bagaimana, Mbak Fenny? Masih bisa menang?"
"Bisa," jawab Fenny tanpa ragu, sambil memasukkan dokumen kembali ke dalam map. "Tapi jangan cerita dulu ke siapa-siapa. Kita tunggu minggu depan."
Bu Sarmi mengangguk. Ada sesuatu di matanya yang bukan sepenuhnya lega, tapi lebih ke arah percaya. Percaya adalah hal yang lebih mahal dan lebih mudah hancur.
Fenny memilih untuk tidak merusaknya.
Di luar gedung pengadilan, angin sore Magelang membawa bau tanah basah dari arah timur. Fenny melepas blazer-nya, melipat rapi di lengan, dan berjalan ke arah parkiran dengan langkah yang lebih santai dari tampilan ruang sidangnya.
Ponselnya bergetar. Theo.
Ia mengangkatnya. "Kak?"
"Kamu sidang masih lama?" suara kakaknya terdengar santai tapi ada sesuatu yang tidak santai di baliknya. Intonasi yang Fenny kenal sejak kecil. Theo sedang menimbang sesuatu.
"Baru selesai. Kenapa?"
"Nanti malam ada waktu?"
"Tergantung. Mau apa?"
Hening sebentar. Terlalu sebentar untuk jeda biasa, terlalu lama untuk tidak ada artinya.
"Cerita nanti kalau ketemu. Jangan pulang terlalu malam,” pinta Theo.
Lalu telepon terputus satu pihak.
Fenny menatap layar ponselnya sebentar. Sudah lama ia belajar membaca jeda dalam kalimat Theo. Kakaknya itu bukan tipe dramatis. Jika ia bilang cerita nanti, artinya ada sesuatu yang perlu dipikirkan dulu sebelum diucapkan.
Fenny memasukkan ponsel ke saku, memakai blazer-nya kembali, dan masuk ke mobilnya.
Magelang di sore hari selalu terlihat seperti kota yang tidak punya masalah besar. Jalan-jalan yang tidak terlalu ramai, orang-orang yang saling kenal di warung pinggir jalan, angkot biru langit yang selalu ngetem terlalu lama di perempatan. Kota yang tenang dengan cara yang berbeda dari diam.
Fenny mengemudi melewati jalan menuju rumah neneknya, melewati pasar yang sudah mulai menurunkan kiosnya, melewati tukang sate yang asapnya selalu mengular ke tengah jalan.
Hari ini seperti hari-hari lainnya. Ia tidak tahu bahwa di suatu tempat di atas Dusun N, sebuah vila yang sudah lama tidak berpenghuni kini menyala lampu-lampunya.