Eliora lahir di hari kematian ayahnya.
Hari di mana satu nyawa pergi, dan satu lagi datang dengan tangisan lirih yang tidak disambut.
Hari itu hujan turun dengan deras, namun tak ada yang menatap langit dengan harap. Tak ada senyum,Tak ada pelukan Hanya isak,yang diselimuti oleh kabut kehilangan.
Ibunya tidak pernah benar-benar memaafkannya sejak hari itu.Tak perlu kata-kata untuk membuktikan hal itu,Cukup dengan tatapan dingin yang dilemparkan setiap hari seolah Eliora adalah reruntuhan dari sesuatu yang tidak pernah dicintai, dan kini ia harus dirawat karena tak ada pilihan lain.
Sejak kecil, Eliora tahu bahwa dirinya adalah kutukan yang bernapas.
Kamar tidurnya berada paling ujung rumah, dekat gudang. Jauh dari kamar ibunya, jauh dari kawasan adik tirinya, dan tentu saja... jauh dari tawa.
Ia sudah terbiasa makan paling akhir,mengenakan baju bekas adiknya, dan merasa seperti tamu di rumahnya sendiri.
Ia belajar membaca dari buku-buku tua milik almarhum ayah, yang tertumpuk oleh debu tebal di rak terbengkalai.
Kadang Eliora berpikirmungkin ayahnya tidak benar-benar meninggalkan nya, hanya terlalu cepat pergi agar tak perlu melihat anak seburuk dirinya dan semenderita dirinya.
Tak pernah sekalipun ibunya memberinya foto ayah Satu-satunya peninggalan yang dimiliki Eliora hanyalah selembar surat, yang ditemukan diam-diam di laci meja tua—ditulis dengan tangan gemetar:
"Jika nanti kamu membaca surat ini, berarti ayah tidak sempat melihat matamu Tapi percayalah, kamu bukan sebuah kesalahan."
Sejak saat itu, surat itu disimpannya dalam dompet kecil, yang tidak pernah berisi siapa pun selain harapan yang tipis. Kata-kata itu menjadi satu-satunya perlindungan dari dunia yang terus menegaskan bahwa dirinya tak layak.
Dan kini, hidup memaksanya kembali memulai dari awal Sekolah baru,Seragam baru, Luka lama yang belum juga sembuh.
Pagi itu, gerimis mengaburkan jendela bus. Eliora duduk sendiri, memeluk ransel lusuh yang sudah beberapa kali dijahit ulang.
Nama sekolah barunya tercetak besar di sebuah brosur murahan: St. Helora High School.
Sekolah untuk yang tak punya banyak pilihan. Sekolah “murid pindahan.” Sekolah tempat orang-orang aneh dikumpulkan... atau disingkirkan.
Ibunya menyuruhnya pindah dengan alasan klise:
"Aku tidak ingin adikmu dibuli karena kamu Tapi Eliora tahu. Itu hanyalah cara halus untuk mengatakan.
“Aku tidak tahan melihatmu Ia melangkah masuk gerbang dengan langkah pelan."
Mata-mata asing menyapu tubuhnya, menilai, mengukur, lalu menertawakan dalam diam.
Ia mengenali pola itu. Dunia tak pernah berubah Hanya latar dan pelakunya yang berganti.
“Eh, itu anak baru, kan?” bisik seseorang.
“Serem banget mukanya kayak gak pernah tidur selama seminggu.”
Eliora menunduk,Ia tahu jika menjawab, mereka akan mengejek. Jika diam, mereka tetap akan menertawakan Tak ada pilihan yang tak menyakitkan.
Namun langkahnya terhenti, saat sebuah suara menyapanya.
“Namamu Eliora?”Ia menoleh.
Seorang pria berdiri di sana, mengenakan jas hitam panjang. Wajahnya keras tapi teduh. Matanya tajam, namun bukan untuk menakuti lebih seperti sedang mengukur apakah gadis di depannya akan hancur sebelum waktunya.
Eliora mengangguk pelan.
“Iya, Pak…”
“Galen Aku wali kelas barumu."
”Wali kelas? Sosok seperti itu lebih pantas jadi tokoh bayangan dalam film thriller, bukan guru SMA Namun tatapan Galen berbeda dari siapa pun Ia menyimpan luka terlalu dalam untuk seseorang yang berdiri di ruang kelas.
Tanpa sadar, Eliora menatapnya lebih lama. Dan entah mengapa, Galen pun membalas dengan tatapan serupa.
Hari pertama sekolahnya berlangsung seperti neraka yang diputar ulang. Ia dipanggil anak kutukan oleh beberapa siswa. Entah dari mana mereka tahu. Mungkin dari bisik ibu mereka, atau dari artikel lama yang masih tersimpan di internet.
Di kantin, ia duduk sendiri. Tak ada yang menemani. Tak ada yang peduli ketika tangannya gemetar saat memegang sendok. Tak ada yang tahu... bahwa semalam, Eliora kembali muntah darah.
Kanker Tapi tak ada yang tahu,
Ia menyimpannya rapat-rapat. Dunia tidak perlu tahu bahwa ia sedang sekarat. Dunia sudah cukup menjauhinya, bahkan tanpa mengetahui itu.
"Apa gunanya mengundang simpati dari orang-orang yang sejak awal menganggap hidupnya sebuah kesalahan?"Eliora memilih diam.
Seperti biasanya Namun hari itu, sesuatu berubah.
Di dalam lokernya, tergeletak sebuah amplop hitam.
Tanpa nama,Tanpa cap Hanya satu kalimat:
"Seseorang ingin kamu mati lebih cepat dari takdir."
Tangannya membeku,Matanya menyusuri lorong, mencari tanda. Tapi koridor itu kosong. Terlalu sunyi untuk jadi wajar.
Ia menyimpan surat itu dalam saku seragam. Tidak boleh ada yang tahu bahwa ia mulai takut. Tidak di hari pertama.
Sepulang sekolah, Eliora duduk di halte. Sendirian. Angin sore meniup rambutnya perlahan.
Namun hari itu, kesepian terasa berbeda. Seseorang berdiri tidak jauh darinya.
Galen.
Ia berdiri dengan satu tangan di saku, menatap langit mendung.
“Tak banyak yang bisa dipilih dalam hidup, Eliora,” ucapnya tanpa menoleh.
“Tapi kita bisa memilih… apakah akan menyerah, atau pura-pura kuat.”
Gadis itu tidak menjawab Kata-kata itu terlalu dekat dengan isi hatinya.
“Kenapa Bapak mengatakan itu pada saya?”tanyanya lirih.
Galen menoleh. Untuk pertama kalinya, Eliora melihat sesuatu di mata pria itu bukan kemarahan, bukan belas kasihan... melainkan pengakuan.
“Kita sama. Kita menyembunyikan sesuatu, kan?”
Tubuhnya menegang. Namun sebelum ia sempat bertanya, bus datang.
Galen berbalik dan hanya meninggalkan satu kalimat:
“Jangan percaya semua orang yang tersenyum. Termasuk aku.”
Malam itu, Eliora kembali ke rumah yang sunyi.
Ibunya tidak menyapanya. Adiknya tertawa di ruang tengah bersama ayah tirinya.
Ia melewati mereka seperti hantu tidak dilihat, tidak dianggap.
Sebelum tidur, ia membuka dompet kecil. Surat itu masih ada. Tulisan ayahnya masih jelas:
"Kamu bukan kesalahan."
Tapi dunia tidak peduli Dan sekarang...Seseorang ingin ia mati lebih cepat dari penyakitnya sendiri.
Eliora berdiri lama di depan cermin kamar mandi sekolah, esok harinya. Pandangannya kosong. Rambutnya kusut. Matanya sembab, tapi bukan karena menangis melainkan karena terlalu lama pura-pura kuat.
Ia basuh wajahnya dengan air dingin, mencoba membekukan semua yang bergejolak di dalam dadanya. Namun rasa was-was tetap tak pergi. Amplop hitam itu masih ada di dalam sakunya, terasa seperti beban yang menghantui setiap langkah.
Ia menarik napas dalam-dalam dan menatap amplop hitam itu yang masih diam di dalam saku seragamnya. Rasanya seperti batu yang membebani setiap langkah yang harus ia jalani hari ini. Sebuah ancaman yang datang dari bayang-bayang, tanpa wajah, tanpa nama.
Di dalam hatinya, pertanyaan terus mengganggu:
"Siapa yang mengirim surat ini?"
"Apa maksud mereka?"
"Apakah mereka tahu tentang penyakit yang tersembunyi?"Eliora tahu, hari-hari ke depan tak akan mudah. Tapi ada sesuatu dalam dirinya yang tak mau menyerah. Meski dunia seakan menolak, meski ibunya sendiri memandangnya dengan dingin, ia harus bertahan.
Matanya kembali menyapu ruangan kamar yang sederhana dan sunyi. Tidak ada pelukan hangat. Tidak ada kata-kata penyemangat. Hanya sepi yang mengiringi malam-malam panjangnya.
Namun malam ini, sebuah tekad mulai tumbuh perlahan di dalam dirinya.
"Aku bukan kesalahan,Aku bukan kutukan."ucapnya pelan penuh tekanan.
Aku akan berjuang bukan hanya untuk bertahan hidup, tapi untuk membuktikan bahwa aku layak dicintai.
Ia memejamkan mata sejenak, mempersiapkan diri menghadapi hari baru yang penuh ketidakpastian.