Hujan turun di luar jendela, tapi mata Eliora tak pernah berpaling dari bayangannya sendiri. Tubuh itu masih miliknya, tapi pikirannya mulai meragukan asal-usulnya.
Kalung jam pasir menggantung di lehernya, berayun pelan saat ia bangkit dari tempat tidur. Pasirnya masih mengalir ke atas tanda bahwa fase ini belum selesai, atau belum berakhir.
Ia membuka lemari, mencari apa saja. Sesuatu yang bisa membuktikan bahwa ia benar-benar pernah hidup sebagai Eliora Zephyer. Album foto, buku harian, surat kecil dari masa kecil.
Namun yang ditemukan justru sebuah foto hitam putih yang diselipkan di balik rak sepatu.
Foto itu memperlihatkan wajah seorang pria.
"Mirip Galen Tapi lebih muda, dengan bekas luka di pelipisnya. Di balik foto itu tertulis dengan tulisan tangan:
“Jika dia kembali, jangan biarkan Eliora mengingat siapa dirinya. Itu bisa membunuh kita semua.”
Tangannya gemetar. Setiap lapisan kenyataan seperti kain yang mulai robek satu per satu. Siapa “kita” yang dimaksud? Apa hubungannya dengan dirinya?
Dan kenapa namanya disebut seperti sebuah senjata, bukan manusia?Pagi itu, Eliora datang ke sekolah lebih awal. Matahari masih malu-malu muncul. Di taman belakang, tak ada siapa pun. Hanya daun-daun gugur dan suara air hujan semalam yang belum kering dari rumput.
Namun, seseorang menunggunya.
Dara.
Dia berdiri di dekat bangku, dengan tangan menyembunyikan sesuatu di belakang tubuhnya Wajahnya aneh, tidak seperti biasanya.
“Aku tahu kamu menyembunyikan sesuatu,” kata Dara tanpa basa-basi.
“Kamu berubah sejak Galen datang.”
Eliora menahan napas. “Maksudmu?”
“Eli… aku tahu kamu bukan Eliora yang dulu. Bukan yang biasa tidur di kelasku, yang main piano di ruang musik setiap Jumat.”
Eliora menegang. “Apa maksudmu, ‘yang dulu’?”
Dara mengeluarkan sebuah rekaman kaset kecil yang jelas bukan milik zaman mereka.
“Ini aku temukan di laci ruang arsip belakang Labelnya: Zephyer v2.1.”
"v2.1?"Eliora merebut kaset itu dari tangan Dara, matanya bergetar menatap label lusuh itu. Ia bahkan belum berani menyalakannya.
“Dara… siapa aku?” tanyanya pelan.
Dara menatapnya dengan mata penuh kesedihan.
“Beberapa tahun lalu, ada berita anak hilang di distrik pusat Namanya… juga Eliora. Tapi kasusnya tak pernah ditemukan mayat. Beberapa bulan setelah itu, kamu pindah ke sekolah ini Tanpa data mutasi sekolah, tanpa akta lahir, tanpa catatan medis.”
Hati Eliora seperti dibekukan es.
“Aku pikir kamu cuma anak yang dirahasiakan masa lalunya Tapi sekarang... aku nggak yakin lagi kamu manusia biasa.”
Keheningan merambat seperti kabut di antara mereka. Dara duduk perlahan di bangku taman, seperti kehabisan tenaga untuk tetap berdiri.
“Aku pernah curiga sejak hari kamu mimisan di laboratorium Tapi waktu itu aku pikir kamu cuma stres. Tapi kamu nggak pernah berubah. Rambutmu selalu sama. Luka di tanganmu sembuh terlalu cepat. Kamu tahu nama-nama enzim sebelum kita mempelajarinya.”
Eliora mencoba berbicara, tapi tak ada suara keluar Dalam pikirannya, potongan-potongan aneh mulai berkelindan seperti wajah-wajah yang tak dikenalnya, tempat gelap dengan suara mesin berdengung, dan suara... tangis bayi?
“Dan Galen...” Dara melanjutkan dengan suara pelan.
“Dia bukan guru biasa, kan?”
Eliora menggeleng.
“Aku bahkan... tidak tahu siapa dia sebenarnya.”
Mereka duduk dalam diam. Hujan pagi yang tadi gerimis kini berubah menjadi kabut tipis yang menyelimuti taman.
Tiba-tiba Dara berdiri. “Aku nggak tahu kamu siapa Tapi kamu temanku Dan kalau kamu mau tahu kebenarannya, kamu harus cari sendiri.”
Dara menyerahkan pemutar kaset mini yang sudah berkarat.
“Ini juga ada di arsip. Tapi aku belum pernah mendengarnya.”
Hari itu, Galen tidak masuk sekolah Kelas Biologi kembali digantikan guru lama Pak Handoko, yang lebih banyak bicara soal pentingnya menjaga pola tidur daripada genetika manusia.
Namun pikiran Eliora tetap tertuju pada satu tempat laboratorium tempat ia pernah direkam.
Saat jam pulang, Eliora tidak pulang ke rumah. Ia menyelinap ke ruang bawah tanah gedung musik yang sudah lama terkunci. Tempat itu dulu digunakan sebagai gudang peralatan laboratorium ketika sekolah ini masih menjadi fasilitas akademi medis swasta.
Tangannya menggigil saat menyentuh panel akses sidik jari Anehnya, pintu besi itu terbuka dengan bunyi klik lembut, seolah memang telah menunggunya.
Ruangan itu luas, dingin, penuh alat-alat yang berdebu namun masih tampak aktif. Lampu neon berkedip lemah. Di dinding sebelah kiri, deretan layar monitor menyala dengan grafik denyut otak dan pola gelombang yang asing.
Di tengah ruangan, sebuah kapsul bening berdiri.
Dan di dalam kapsul itu… ada sosok yang persis seperti Eliora. Terbaring dalam cairan biru, tubuhnya tersambung kabel-kabel yang menempel di kepala, d**a, dan lengannya.
Eliora menjerit.
“APA INI?!”
Galen berdiri di sana, tanpa berusaha menyembunyikan apa pun kali ini.
“Dia… kamu. Versi lama. Yang tidak berhasil.”
“Aku… kamu bilang aku Subjek #07?”
“Dan dia Subjek #06.”
Mata Eliora berkunang. Ia hampir jatuh, tapi Galen sigap menangkapnya sebelum tubuhnya menghantam lantai dingin.
“Kamu harus tahu semuanya sebelum fase 3 selesai,” bisik Galen.
“Kamu bukan hasil gagal. Tapi kamu juga bukan satu-satunya Eliora. Kamu adalah hasil akhir dari trauma, penderitaan, dan kematian yang terus diulang.”
Eliora ingin muntah. Tapi yang keluar hanyalah erangan perih, seolah semua luka yang tak pernah ia buka pecah serempak.
“Aku dulunya penjaga,” kata Galen sambil menatap kapsul itu. “Tugasku mengawasi eksperimen Aetherium Tapi aku jatuh cinta pada salah satu subjek. Subjek #07 pertama. Dia gagal bertahan. Setelah itu... aku melanggar semua aturan.”
“Jadi kamu… menyelamatkanku?”
“Tidak. Aku menciptakanmu kembali.”Eliora mundur satu langkah, lalu dua. Udara di ruangan itu seakan berubah jadi logam, tipis dan menusuk paru-paru.
“Berapa kali aku… dibuat ulang?”Galen menunduk.
“Enam kali. Dan kamu adalah versi terakhir. Satu-satunya yang bisa bertahan hingga fase ini.”
Tiba-tiba, suara alarm menggelegar dari panel utama. Notifikasi besar muncul di layar:
PHASE 2 NEAR END. IDENTITY CORE UNSTABLE.
Eliora mencengkeram dadanya, merasa seperti jantungnya berusaha mengingat sesuatu yang tak boleh diingat.
Galen menatapnya dengan panik.
“Kalau kamu tidak bertahan di fase berikutnya, kamu akan mengulang semua ini lagi Tapi ingatan ini tidak bisa diputar lagi dua kali.”
“Aku tidak mau hidup seperti ini!” teriak Eliora.
“Setengah diri! Setengah ingatan! Semua orang bohong! Bahkan kamu!”Galen memeluknya. Namun pelukan itu terasa lebih seperti penjara daripada penghiburan.
“Kamu benar Aku juga penjahat dalam kisahmu, Eliora Aku menciptakanmu. Aku mencintaimu. Dan aku juga yang memusnahkan dirimu sebelumnya… agar kamu tak lagi mengingat luka itu.”
Tapi kali ini, Eliora ingin mengingat.Ia ingin tahu siapa yang telah disakiti, siapa yang telah dihancurkan. Dan mengapa ia menjadi proyek yang tak boleh hidup terlalu lama.
Kalung jam pasir berdengung halus. Butir terakhir pasir hampir sampai ke puncak,
Ia menatap Galen.
“Kalau aku akan mati… maka kali ini aku mau mati sebagai diriku sendiri.”Galen mengangguk, air matanya jatuh.
Dari sudut ruangan, muncul siluet lain.
Alex Kakaknya.
Dengan pistol tergenggam di tangan.
“Aku sudah lama tahu,” katanya lirih.
“bahwa kamu bukan adikku. Tapi aku ingin percaya… kamu bisa diselamatkan.”Eliora menatapnya, tak ada air mata, hanya rasa syukur. Karena setidaknya, kini ia tidak sendirian.
Namun sebelum ia sempat bicara…
Monitor mati.
Lampu padam.
Satu suara menggema dari speaker yang tak terlihat:
Phase 3 initiated. All memories unlocked. Self-destruction protocol begins in 6:00 minutes.