Matahari masih bersembunyi di gugusan awan yang sangat rendah di pagi yang semerbak. Kelepak beburungan terbang mewarnai langit yang bersih membiru. Angin manis berkesiur menerbangkan dedaunan pepohonan yang melambai-lambai.
"Monitor... Perhatian... untuk semua unit penjemputan. Sebentar lagi, Queen akan mendarat. Siap dalam posisi masing-masing. Ganti!" suara berat terdengar dari HT dari salah satu unit penjemput.
"Roger dicopy. Ganti!"
Di langit biru cerah, muncul setitik obyek berwarna gelap turun menuju bandara kecil Butterfly Airport yang berada di sebelah Barat Laut di negara bagian United Forgetable State, Flame City.
Negara bagian yang begitu "kotor dan suram". Tempat yang nyaman bagi para klan besar yang menguasai Flame City dengan kekuasaan, uang dan intrik berdarah, tanpa ada yang mampu mengusiknya.
Karena para penegak hukum pun terjerat di dalamnya.
Obyek warna gelap keperakan itu, ternyata sebuah pesawat jet. Semakin turun jet itu dari ketinggiannya, semakin jelas bentuk dan warnanya. Nampak sepasang roda pendarat sudah diturunkan dari tempatnya.
Jet semakin menurunkan ketinggian hingga roda pendarat menyentuh landasan.
Suara decit roda menyentuh landasan, lenyap tersapu oleh seru derum mesin pesawat jet yang yang bergemuruh.
Sebuah jet pribadi rupanya, Dassault Falcon 900 warna biru metalic yang mampu mengangkut penumpang 7 orang turun dan kemudian mendarat mulus di landasan pacu. Di ekor pesawat ada lambang Naga Emas begitu gagahnya. Pesawat jet pribadi ini pasti milik Klan Naga.
Suara derum mesin pesawat jet yang itu mengejutkan satwa liar yang asyik mencari makan di pagi yang penuh sinar matahari.
Beburungan yang asyik bercengkarama di dahan pohon terkejut dan melenting terbang berserabutan di udara.
Sesatwaan yang hidup di darat, seperti kelinci dan kambing liar pun berlarian menjauh dan kemudian bersembunyi di semak-semak yang tumbuh liar di sekitar bandara.
Setelah suara mesin sirap, dan jet itu mendarat mulus di landasan, tidak berselang lama pintu penumpang jet sebelah kiri terbuka. Otomatis tangga pesawat yang semula terlipat di badan pesawat jet berdesir terbuka.
"Silakan, Tuan Puteri Sandra Dragono!" ucap singkat pengawal tinggi tegap berpakaian ringkas.
Sandra Dragono berdiri dari duduknya, tanpa memberikan reaksi balasan. Muka cantiknya terlihat wajar dan datar.
Lalu...
Tepat sinar matahari menyoroti pintu pesawat dengan sinarnya yang cemerlang. Munculah sepasang kaki panjang ramping yang putih indah dengan high heel warna merah di ujung kakinya yang mungil saat angin nakal tiba-tiba menerbangkan gaun panjangnya yang berwarna putih.
Warna yang sangat kontras antara high heel dengan dress putih seputih kapas itu. Hanya dalam hitungan detik dress itu melambai ditemperasan angin nakal. Ujung dress pun tersibak, namun dengan tangkas sepasang tangan cantik nan mulus putih dengan arloji warna merah melingkar, dan gelang emas putih yang elegan, sigap mencegah gaun indah itu terbang ke atas lebih tinggi. Gerakan alami yang mempesona, hanya dalam hitungan detik tapi mampu membuat d**a berdebar bagi siapa yang memandangnya tidak terkecuali para pengawal Sandra Dragano yang berdiri tegak berjarak 500 meter dari tangga.
"Luar biasa, kecantikan Tuan Puteri!" gumam salah satu penjemput yang baru pertama kali melihat Sandra Dragono.
Rupanya penjemput ini adalah bodyguard baru yang direkrut.
Hanya sepersekian detik mencuri pandang, dan secepatnya membuang pandang ke arah lain.
Siapa yang berani berlaku kurang ajar dengan puteri dari pemimpin Klan Naga ini. Bisa-bisa nyawa yang hanya selembar itu bisa ikut melayang bersama debu yang disapu angin.
---
Seraut wajah nan cantik rupawan dengan senyum yang menggarisi bibirnya yang merah senada dengan tas tangan dan warna sepatunya. Hidungnya mancung namun mungil, pipinya tinggi dan sepasang matanya cemerlang mengalahkan sinar mentari yang menyambutnya. Lagi-lagi topi berenda warna merah menutupi rambutnya yang hitam panjang sebahu diusik angin pagi.
Sandra Dragano, cantik rupawan, puteri Surya Dragano pemilik perusahaan tambang batubara dan beberapa perusahaan ekspor-impor. Yang mengukuhkannya sebagai konglomerat di Flame City.
Sepagi ini, jet pribadi ini, telah membawa pulang puteri kesayangan setelah beberapa tahun berselang menimba ilmu bisnisnya di West Far Far Away. Negeri yang mempunyai dua musim saja.
"Ah... Akhirnya, aku bisa kembali ke tanah kelahiranku!" gumamnya tercenung, melihat perubahan sekilas dari landasan pacu pribadi milik Papanya.
Dihirupnya udara pagi di tanah kelahirannya sepuas-puasnya untuk memenuhi seluruh rongga d**a, dan kemudian menyesap sinar mentari pagi, yang membuat kulitnya semakin cemerlang.
"Ah... Sinar mentari yang aku rindui!"
Di luar negeri sana West Far Far Away, sinar matahari adalah sesuatu yang langka. Karena hampir sepanjang tahun, matahari hanya 2 bulan saja beredar, selanjutnya, hari-hari penuh salju.
"Hati-hati... Tuan Puteri!" suara dalam dari sayang pengawal yang berjalan membuntuti dalam jarak aman.
Dengan langkah-langkah satu-satu dituruninya tangga pesawat. Pemandangan yang begitu mempesona, begitu indah.
"Silakan, Tuan Puteri. Mari!"
Satu orang pengawal berbadan tegap, dengan rambut dipotong pendek, berpakaian hitam-hitam yang tadi sempat membuang muka, karena melihat dress nona mudanya terbang, berlari tergopoh-gopoh menyambut dan kemudian mengiringinya memasuki Range Rover Velar 2000 cc, warna hitam yang telah siap menunggu dengan mesin menyala.
Suara mesin begitu halus, hampir tidak terdengar oleh telinga telanjang, namun ketika supir menginjak gas, gigi presneling otomatispun bergerak dengan sendirinya. Range Rover itu, berisi tiga penumpang, satu supir dan dua pengawal yang menjaga keamanan Sandra Dragano menggelincir ke depan dengan halus dan untuk beberapa detik kemudian melesat cepat seperti terbang.
"Bruuummm!"
Range Rover hitam itu membawa Sandra Dragano menjauh Butterfly Airport menyisiri di pinggir tebing yang di bawahnya adalah pantai yang terjal berbatu karang putih tak beraturan. Tubir tebing itu hanya dibatasi oleh plat-plat alumunium campuran untuk pengaman jalanan.
---
Jalan hambatan sepagi ini masih terlihat sepi.
Perjalanan menuju rumah yang menyenangkan bagi Sandra Dragano. Melintasi sepanjang jalan berpemandangan indah pantai dan laut Pasifik Utara dengan ombak yang bergulung biru kehijauan dan deburan ombak menghantam karang, terlihat putih membuih bergulung dan pecah bertemperasaan ke delapan penjuru angin.
Nampak beberapa pasang burung Camar asyik bermain di atas ombak yang saling berkejaran.
Butterfly Airport dengan cepat bayangannya terlihat samar karena tabir sinar mentari menghalangi pandangan mata. Semakin menjauh kemudian menghilang karena jalan bebas hambatan itu melengkung dalam tikungan yang lebar.
---
Setelah melewati perjalanan yang lumayan panjang, jalan bebas hambatan itu berbelok ke kiri dengan sedikit tajam, sehingga putaran roda mobil mengeluarkan decit dan asap di jalanan.
"Ciiitttttt!"
Range Rover terus melaju ke arah Timur Laut, tempat mansion keluarga Dragano yang berada di pulau Mandalika tepat di kaki pegunungan Candala Rupa yang indah.
Masih tidak terlihat, karena Daratan Flame dengan Pulau Mandalika masih disambungkan oleh jalan pribadi yang dibuat oleh penguasa Klan Dragano. Lalu lintas terbatas untuk semua kegiatan dari Klan Dragano sendiri. Tidak ada seorang pun yang bisa masuk dan keluar sembarangan ke dan dari pulau Mandalika!
Gerbang Khusus itu masih 2 jam perjalanan.
Perjalanan baru saja tertempuh dalam jarak dua kilometer, terjadilah peristiwa di luar dugaan.
"Awaaaasss... Ada yang muncul!"
Saat jalanan melengkung memutar karena ada persimpangan jalan yang bercabang, tiba-tiba muncul seperti hantu tiga mobil Volvo MPV CX5 melesat cepat membuntuti Range Rover dalam jarak setengah kilo meter lebih. Dari jauh Range Rover dan ketiga Volvo MPV seperti sebuah konvoi dengan tujuan yang sama.
Namun, sekitar 10 menit kemudian tujuan 3 mobil Volvo MPV terbuka jelas kedoknya. 1 Volvo MPV yang terdepan, segera melesat cepat ke depan untuk mempersempit jarak, lesatan itu pun diikuti Volvo MPV ke 2 dan ke 3 yang mengejar beriringan. Volvo MPV ke 2 terus melesat cepat menjajari Volvo MPV pertama, kemudian dua Volvo MPV yang berjajar memecah posisi ke arah kanan dan ke arah kiri memakai bahu jalan untuk mengapit Ranger Rover yang bergerak cepat ke depan.
"Bahayyaaaa!" teriak pengawal di samping supir
"Brruuummmm!"
Melihat gelagat tidak baik ini, supir Ranger Rover menekan pedal gas dalam-dalam, mobil menderum, membuat roda mobil belakang berputar cepat mengeluarkan suara mendecit dan asap berbau sangit, karena roda belakang bergesakan dengan jalan bebas hambatan terlalu cepat. Ranger Rover terlonjak ke depan dan melejit cepat meninggalkan pengurungnya. Bersamaan berkilatnya cahaya terang dari moncong senapan panjang yang menyalak gencar menghujani Ranger Rover.
"Treetetet... Treetetet... Treetetet!"
Range Rover meliuk cepat, bermanuver ke kiri dan ke kanan, menghindari rentetan tembakan yang dilepas oleh penumpang Volvo MPV yang berada paling depan.
"Trangg... Tranng... Clanng!'
Peluru memantul di body mobil yang anti peluru, suaranya berdentang dan meninggalkan bayangan asap mesiu.
"Treetetet... Treetetet... Treetetet!"
Pengawal Sandra Dragano, yang satu segera mengeluarkan badan dari sisi jendela kanan memberikan tembakan balasan. Sebuah senapan laras panjang teracung ke belakang memuntahkan dua tiga peluru yang mendesing cepat ke arah Volvo MPV hitam yang mengejarnya.
Arah tembakan balasan mudah terbaca, dengan mudah para pengejarnya menghindari rentetan tembakan itu.
"Treetetet... Treetetet..!"
Satu, dua tembakan menyalak membalas Ranger Rover yang terus melaju pesat meninggalkan para pengejarnya
Sandra Dragano dengan bibir terkatup rapat melihat ke belakang melihat para pengejarnya. Tiga Volvo MPV Hitam terus merangsek maju mengejar. Sesaat Sandra Dragano berpaling ke kaca depan, Pulau Mandalika masih terlalu jauh terlihat. Akan sia-sia juga, jika ia minta pertolongan.
"Menunduk... Tuan Puteri!" teriak pengawal yang berada di samping Sandra Dragono.
Peristiwa ini, siapa pun tidak pernah menduga. Tidak juga Surya Dragano sendiri!
Sandra Dragano, urung mengambil Smart Phonenya yang disimpan di dalam tas tangan merahnya.
Pagi yang masih yang harusnya masih basah oleh titik embun, kini menjadi kering dan berasap!
Bersambung...