Setelah selesai membuatkan minuman, Ratih segera menyuguhkannya pada Edler.
"Silahkan diminum, tuan." ucap Ratih menyuguhkan teh panas pada Edler.
"Trimakasih." ucap Edler tersenyum.
Kemudian ia langsung menyeruput tehnya yang masih panas itu.
"Oh ya, ngomong-ngomong, jangan panggil aku dengan sebutan Tuan. Panggil saja namaku. Agar terlihat lebih akrab." ucap Edler.
"Emm.. Jika kami memanggil nama, itu tidak akan sopan, karna anda adalah kaum bangsawan Tuan." jelas Ratih.
"Tidak apa-apa. Aku tidak keberatan. Jika aku memakai pakaian seperti kalian, lagipula aku juga tidak akan terlihat seperti bangsawan, bukan?" ucap Edler.
Ratih dan Lenna mengangguk mendengar jawaban Edler.
Disini Lenna mulai merasa jika Edler adalah orang yang baik. Walau ia baru saja mengenalnya. Ia merasa jika Edler berbeda dengan orang Belanda yang lainnya.
Lenna merasa sangat jarang seorang bangsawan penjajah bisa sebaik itu pada orang pribumi. Walau Lenna sendiri belum mengetahui siapa Edler dan tentang bagaimana sifat aslinya.
Kemudian Edler membuka obrolan pada mereka. "Oh ya, dimana suamimu bu?" tanya Edler.
"Suamiku sudah lama meninggal, sejak Lenna masih dalam kandungan." jawab Ratih.
"Begitu ya, jadi selama ini Lenna hidup tanpa seorang ayah." ucap Edler.
"Iya." Lenna mengangguk.
“Dulu suamiku juga seorang Belanda. Dia berstatus sebagai perwira tentara Belanda kala itu. Tapi karena suatu hal yang membuatnya harus membela seseorang dari kalangan kami, ia harus tewas karena di pandang berpihak pada orang-orang kami.” Ucap Ratih menjelaskan.
Mendengar hal itu, lalu Edler bertanya mengenai kejadian yang di ceritakan Ratih. “Benarkah? Apa yang membuatnya sampai di perlakukan seperti itu oleh bangsanya sendiri?”
“Ia hanya membela seorang pekerja yang di tindas oleh tentara Belanda. Karena sebenarnya ia orang yang baik dan tidak suka terhadap penindasan. Tapi karena ia mengemban tugas sebagai tentara Belanda yang di tugaskan disini, ia mau tidak mau harus melakukannya. Tapi pada dasarnya, ia orang yang membenci peperangan.” Jelas Ratih.
Edler yang mendengar hal itu, merasa sedikit prihatin dan terenyuh oleh sikap bangsanya sendiri.
“Miris sekali. Aku baru mengetahui jika bangsaku sedemikian kejam terhadap bangsamu. Karena aku sendiri baru pertama kalinya menginjakkan kaki di tanah ini. Jadi aku tidak mengetahui secara pasti tentang bagaimana perlakuan bangsaku disini.” Ucap Edler.
Edler merasa kecewa terhadap bangsanya sendiri yang dengan tega membunuh warganya sendiri hanya karena berbuat baik.
Lalu Edler menanyakan tentang siapa yang membunuh ayah Lenna itu. Ia berniat membalaskan perbuatan dari bangsanya sendiri.
“Lalu apa ibu tau siapa yang membunuh suamimu? Jika ia masih ada negeri ini, mungkin aku bisa membalaskan perbuatannya.” Ucap Edler
“Aku tidak tau pasti siapa yang membunuhnya. Yang aku tau, ia hanyalah sesama perwira Belanda yang menjabat sebagai pemimpin tentaranya.” Ucap Ratih.
“Begitu ya. Jika dia masih sesama anggota perwira, tentunya dia masih jauh di bawahku dan aku masih memegang kekuasaan sebagai petinggi.” Ucap Edler.
“Mungkin sebaiknya tuan tidak perlu membalaskan, karena pembalasan tidak akan pernah ada ujungnya. Lagipula kejadian itu sudah lama berlalu.” Imbuh Ratih.
“Hmm. Tapi itu bagiku adalah hal yang sangat memalukan. Membunuh anggotanya sendiri yang masih sesama dalam satu bangsa.” Ucap Edler.
“Mungkin nanti aku akan menyelidiki kembali tentang kejadian itu dan tentang siapa pelakunya.” Imbuhnya lagi.
Ratih dan Lenna yang mendengar itu hanya bisa terdiam, tanpa memberikan tanggapan apapun.
Lalu Edler mencoba mengalihkan pembicaraan. Karena jika di bicarakan lebih dalam, ia takut menyinggung perasaan Ratih dan Lenna sebagai keluarga yang kehilangan.
Lagipula, menurutnya informasi singkat dan jelas itu sudah membuatnya merasa cukup.
"Hmmmm.. Suasana disini sangat indah, nyaman, sangat damai ya." ucap Edler mengalihkan pembicaraan.
"Apa di negeri tuan tidak ada suasana seperti ini?" tanya Lenna.
Edler menggeleng, "Tidak ada. Yang ada hanyalah hamparan rumput dingin. Tanpa adanya pepohonan yang rimbun seperti ini, Hahaha." ucap Edler tertawa.
“Jadi, berarti di negeri tuan sana suasananya sangat berbeda ya?” Lenna bertanya karena penasaran.
“Ya. Di negeriku hanya ada musim dingin, tapi tidak seindah dengan suasana disini.” Ucap Edler.
"Emm, tuan, permisi aku ingin berganti pakaian dulu." ucap Lenna.
"Oh ya. Silahkan. Baiklah. Aku akan menunggu." jawab Edler.
Lalu Lenna berjalan masuk menuju kamarnya untuk berganti pakaian.
Sementara Ratih, tetap berada di luar untuk menemani pria bangsawan Belanda itu.
Lalu Ratih mencoba membuka pembicaraan dengan Edler.
"Tuan, apa rombonganmu itu tidak keberatan saat tadi mengetahui tuan mengantar orang seperti kami dengan kereta kudamu?" tanya Ratih.
"Tidak. Jangan kawatir. Itu tidak masalah. Lagipula ini urusanku pribadi." jawab Edler.
"Syukurlah, aku hanya tidak ingin disangka yang bukan-bukan. Dan aku tidak ingin juga terjadi apa-apa pada keluargaku hanya karna tuan bertindak seperti itu pada kami." tutur Ratih.
"Jangan takut, itu bukan urusan mereka. Aku menjamin keamanan kalian berdua.” jelas Edler.
"Oh ya ibu. Apa tidak keberatan jika aku mengunjungi tempat ini semauku?" tanya Edler.
"Emm.. Silahkan saja jika tuan tidak keberatan dengan kondisi rumah kami. Aku tidak masalah akan hal itu. Rumahku terbuka untuk siapapun.” Ucap Ratih.
“Emm. Tolong jangan panggil aku dengan sebutan itu lagi. Panggil saja namaku. Agar tidak ada ketegangan di antara kita.” Ucap Edler
“Eee. Tapi, aku belum terbiasa memanggil orang seperti anda dengan sebutan nama.” Ucap Ratih.
“Tidak apa-apa. Jangan di permasalahkan. Aku hahya ingin kita lebih akrab saja.” Jelas Edler.
“Emm, baik tuan. M-maaf, maksudku, Edler.” Ucap Ratih gugup.
Edler hajya tersenyum.
Lalu, tanpa basa-basi Edler langsung mengutarakan tentang perasaannya pada anak Ratih itu. Karena di Edler sendiri adalah type orang yang tidak suka berbasa-basi.
"Oh ya ibu, Langsung saja aku terus terang. Aku ingin menyampaikan apa yang sedang aku rasakan sekarang. Aku tidak suka berbasa-basi. Aku menyukai putrimu, sejak pertama tadi aku melihatnya. Karna itulah aku ingin sering mengunjungi tempat ini." jelas Edler.
Ratih terbelalak kaget mendengar hal itu.
Secepat itukah menurutnya?
Ada rasa kawatir dan takut atas ucapan Edler yang dia dengar.
Dia kawatir jika Lenna putri satu-satunya di apa-apakan oleh Edler.
Tapi disisi lain, dia juga merasa ragu.
Padahal baru hari ini ia berjumpa dengan Lenna, tapi ia sudah menaruh perasaan dan mengungkapkannya langsung melalui Ratih sebagai ibu dari wanita yang ia sukai.
"Secepat itukah dia menaruh perasaan pada wanita yang baru dia lihat? Atau jangan-jangan dia memiliki maksud lain? Walau dia memperlihatkan sedikit perhatiannya, tapi aku tidak bisa percaya begitu saja." batin Ratih.
"Kenapa melamun ibu?" tanya Edler.
"Eh, tidak. Soal itu, aku tidak bisa melarang. Semua tergantung pada Lenna. Jika Lenna mau silahkan saja, tapi jika Lenna tidak mau dan menolak, aku harap kamu jangan lakukan apapun pada kami. Itu saja permintaanku." tutur Ratih.
Edler tersenyum, "Aku akan menunjukkan yang terbaik, aku adalah orang yang suka mengejar apa yang aku inginkan, kalaupun Lenna tidak menyukaiku, aku tidak akan memaksa." jelas Edler.
Tak lama kemudian keluarlah Lenna yang baru selesai dari kamarnya.
Namun bukannya dia berganti pakaian, tapi dia hanya memakai kemben yang membalut setengah tubuh indahnya. Ia bermaksud untuk mandi. Karena ia merasa gerah dengan badannya selepas ia bekerja.
"Ibu, Edler, aku ingin mandi dulu, badanku terasa kotor hari ini." ucap Lenna.
Ratih mengangguk. “Iya nak. Mandilah. Segarkan tubuhmu.”
Edler yang melihat Lenna hanya memakai balutan kemben pun terpesona pada seksi tubuh dan cantiknya Lenna saat itu juga.
Mata Edler tak berkedip melihatnya.
Dari ujung kepala sampai ujung kaki dia amati.
Begitu semakin cantik dimata Edler melihat Lenna yang berpenampilan seperti itu menurutnya. Sangat natural dimatanya.
Lenna yang melihat Edler terus memandanginya, merasa risih di pandangi seperti itu.
Lalu ia cepat-cepat berjalan ke sumur untuk mandi.
"Sudah cepat sana mandi. Jangan hanya berdiri saja.” titah Ratih menyuruh Lenna agar dia tidak terus-terusan di pandangi Edler.
"Iya bu." jawab Lenna.
“Ehhemm.”
Ratih berdehem.
Edler seketika menjadi salah tingkah di depan Ratih dan langsung memalingkan mukanya ke arah lain.
Lalu Edler mengalihkan kembali pembicaraan.
"Apa orang-orang desa disini jika mandi itu selalu di luar rumah?" tanya Edler.
"Tidak juga. Hanya saja kami tidak mempunyai kamar mandi. Daripada harus ke sungai, malu di lihat orang. Lebih baik membuat sumur sendiri." jelas Ratih.
"Oh, begitu." jawab Edler sambil mengangguk-ngangguk.
Sesekali Edler terus mencuri arah memandangi Lenna yang berada di sumur yang sedang mandi itu.
Kebetulan sumur tempat Lenna mandi memang terlihat jelas dari sudut balai depan rumah.
Jadi Edler dari kejauhan pun dengan mudah bisa memperhatikan Lenna yang mulai melepas kembennya, melepas ikatan rambutnya, sampai melihat Lenna yang mulai mengguyur tubuhnya.
Walau semua itu tak di lihat sepenuhnya oleh Edler.
"Emm.. Apa yang kamu lihat Edler?" tanya Ratih yang menyadari Edler terus mengamati Lenna.
"Eh! Tidak ada. Aku hanya memperhatikan buah yang ada di pohon sebelah sumur itu. Apa nama buah yang berduri itu?" tanya Edler beralasan.
"Oh. Itu buah nangka." jawab Ratih dingin.
Edler hanya mengangguk. “Oh, buah nangka. Aku baru pertama kali melihatnya, karena di negeriku buah seperti itu tidak ada.” Ucap Edler beralasan.
Padahal Ratih sudah mengetahui jika itu hanyalah alasan Edler semata.
Ratih kemudian memindahkan posisi duduknya yang semula berada di samping Edler, kini pindah menghadap ke arah Edler dengan tujuan agar Edler tidak memandang ke arah sumur yang disana terdapat Lenna yang sedang mandi.
Jelas hal itu akan membuat Edler salah tingkah dan malu untuk kembali memandangi ke arah Lenna.
Lalu setelah Lenna selesai mandi, dia bergegas masuk menuju kamar melalui pintu dapur yang berada di samping belakang rumah.
Seampainya di kamar. Kemudian ia mengambil pakaiannya dan memakai pakain yang ia pilih.
Dan setelah selesai memakai pakaian, ia segera kembali menuju balai rumah untuk kembali menemani Edler dan ibunya.
"Sudah selesai mandimu? Bagaimana? Terasa segar?" tanya Ratih.
"Lebih baik dari sebelumnya bu. Lebih segar." jawab Lenna.
"Lenna, kamu semakin terlihat cantik saja setelah mandi." ucap Edler.
Lenna hanya tersenyum tersipu malu mendengar ucapan Edler. “Emm, terimakasih atas pujiannya tuan.”
"Ibu, ibu tidak ingin mandi dulu?" tanya Lenna.
Ratih menggeleng, " Tidak. Nanti saja, ibu masih berkeringat." jawab Ratih.
Padahal dia sebenarnya juga ingin mandi membersihkan tubuhnya, tapi setelah melihat kelakuan Edler tadi yang memperhatikan Lenna saat mandi, dia jadi berpikir berkali-kali.
Takut di intip juga olehnya.
"Oh ya. Baiklah, hari sudah semakin sore. Aku akan segera pamit dulu." ucap Edler.
"Tidak di habiskan dulu minumannya?" ucap Ratih.
Lalu Edler meminum dan menghabiskan minuman yang di suguhkan itu.
Ia bersiap untuk pamit dan kembali di hotel kala itu.
Ia mengambil topinya dan memakai kembali topinya, setelah itu ia langsung berpamitan pada Ratih dan Lenna.
"Ibu, aku pamit dulu." ucap Edler mengulurkan tangannya pada Ratih untuk bersalaman.
“Iya, hati-hati dijalan, terimakasih sudah sudi untuk berkunjung ke tempat kami.” Ucap Ratih.
“Iya bu, suatu kehormatan pula bagiku bisa di terima baik disini.” Ucap Edler.
Lalu dia beralih pada Lenna.
"Lenna, aku pamit dulu. Terimakasih sudah mengijinkanku berkunjung ke rumahmu ini." ucap Edler sambil mengulurkan tangannya juga pada Lenna.
“Iya tuan. Terimakasih atas kunjungannya.” Ucap Lenna tersenyum.
Lenna meraih tangan Edler dan bersalaman dengannya.
Lalu tiba-tiba Edler mencium tangan mulus Lenna saat dia bersalaman.
Sontak Lenna dan Ratih terkejut dengan apa yang dilakukan Edler.
Edler hanya tersenyum atas yang dilakukannya baru saja.
"Sampai berjumpa lagi, Nona cantik." ucap Edler pada Lenna.
Wajah Lenna seketika menjadi memerah karna kelakuan Edler itu.
Dia malu setengah mati. Karna Edler melakukan hal itu di depan mata ibunya juga.
Dan juga karna Lenna baru pertama kalinya di perlakukan seperti itu oleh pria.
Lalu Edler berjalan melangkah pergi meninggalkan mereka berdua.
Sebelum benar-benar pergi, Edler kembali menoleh ke arah mereka berdua sambil tersenyum dan melambaikan tangannya.
Lenna spontan membalas lambaian Edler yang dilihat oleh ibunya.