—————————————————————-
Setelah perbincangannya dengan Lenna tadi, lalu Edler beranjak pergi keluar untuk menikmati sejuknya suasana pagi di istana tuan Belanda.
Lalu dia teringat akan janji dengan temannya itu, Marinus.
Karena mereka sudah berjanji hari ini akan bertemu untuk merundingkan rumah yang akan di beli oleh Edler untuk dijadikan rumahnya selama dia berada di Buitenzorg(Bogor).
"Ya ampun. Aku lupa jika hari ini ada janji dengan temanku. Aku harus cepat-cepat kesana. Dia pasti sudah menungguku." gumam Edler.
Lalu ia berniat kembali menemui Lenna untuk berpamitan padanya.
Ia bergegas mencari keberadaan Lenna.
Kesana kemari dalam istana rumah yang besar itu ia tidak menemukan Lenna.
Lalu ia menanyakan Lenna pada seorang pelayan disana.
"Apa kau melihat Lenna?" tanya Edler pada salah satu pelayan perempuan.
"Tadi saya lihat Lenna sedang berada di aula tengah, tuan. Dia sedang bersama ibunya." jawab pelayan itu.
"Baiklah. Trimakasih banyak." jawab Edler.
"Sama-sama tuan. Permisi.” ucap pelayan itu.
Lalu ia segera bergegas menuju aula tengah yang di tunjukkan oleh pelayan tadi.
Sesampainya disana, Ia menemukan Lenna yang tengah berbincang dengan ibunya.
Tanpa basa-basi ia segera menghampiri Lenna dan ibunya itu.
Karena kebetulan ada ibunya, ia sekalian berniat pamitan pada ibunya juga.
"Lenna, ibu." ucap Edler.
"Eh, Edler." jawab Ratih.
"Lenna, ibu, aku akan pamit dulu." ucap Edler.
"Kenapa cepat sekali? Bukankah kamu belum lama disini?" tanya Lenna.
"Iya, Lenna. Aku sudah ada janji dengan temanku di Buitenzorg (Bogor). Untuk melihat-lihat rumah yang akan ia jual. Dia pasti sudah menungguku sejak tadi.” jelasnya.
"Oh begitu. Baiklah. Hati-hati di perjalananmu." ucap Lenna.
"Iya. Oh ya, ibu. Nanti aku akan mengajak Lenna makan malam bersamaku di sebuah restoran hotel di Buitenzorg (Bogor). Aku ingin ibu juga ikut ya. Aku ingin mengajak kalian berdua." ucap Edler menawarkan.
"Emmm. Tapi, Edler. Ibu dan Lenna tidak punya pakaian yang pantas untuk bepergian ke tempat seperti itu. Bukankah itu tempat orang-orang kaya? Mana mungkin kami berpenampilan seperti rakyat biasa. Itu akan menjatuhkan harga dirimu Edler." jelas Ratih.
Edler tersenyum mendengar penjelasan Ratih.
Jelaslah dia sudah mengetahui hal itu.
Mana mungkin dia membiarkan gadis pujaan dan ibunya berpenampilan kusut di tempat umum dan mewah seperti itu.
Dia sudah merancang rencananya akan hal itu.
"Hehe. Ibu dan Lenna tidak perlu kawatir. Aku akan mempersiapkan pakaian yang jauh lebih pantas untuk kalian nanti. Aku akan persiapkan segalanya jika kalian menyetujui.” ucap Edler.
"Baiklah kalau begitu. Jika kamu tidak keberatan, Ibu akan ikut." ucap Ratih.
Mendengar jawaban ibunya dan Edler, Lenna merasa senang bukan main.
Ia dan ibunya akan di beri pakaian elit untuk pergi nanti malam.
"Terimakasih Edler. Jika kamu sudah mempersiapkan semua itu." ucap Lenna.
Edler tersenyum, "Iya, sama-sama Lenna."
"Baiklah. Aku harus segera pamit. Aku sudah terlalu lama terlambat. Temanku pasti sudah menungguku disana." sahut Edler lagi.
Ratih dan Lenna mengangguk. “Iya.”
"Edler, hati-hati di perjalananmu." ucap Lenna.
"Iya. Hati-hati di perjalanan Edler." ucap Ratih juga.
"Iya. Ya sudah. Aku pamit dulu. Aku akan jemput kalian nanti sore setelah kalian selesai bekerja." ucap Edler.
Ratih dan Lenna mengangguk. “Iya.”
"Sampai jumpa, sampai bertemu nanti ibu, Lenna." ucap Edler lagi.
Terlihat Lenna melambaikan tangan pada Edler saat Edler hendak berjalan meninggalkan mereka.
Begitu pula dengan Edler yang melambaikan tangan juga pada Lenna.
Ratih yang melihat hal itu merasa heran.
Dia berpikir mungkin ini waktunya untuk anak perempuan satu-satunya merasakan yang namanya cinta.
————————————————————-
Kemudian Edler berjalan menghampiri kusir kudanya yang terlihat sedang bersantai di atas kereta kudanya.
"Broto, Ayo berangkat, kita harus segera ke Buitenzorg (Bogor). Aku sudah terlambat." ucap Edler.
"Baik, Tuan." jawab kusirnya yang bernama Broto itu.
Tanpa berpamitan pada Van Heots, Lalu mereka berangkat menuju Buitenzorg(Bogor) saat itu juga.
Edler sudah membuat janji untuk kembali menemui Marinus di pabrik besinya itu.
Sesampainya disana, Edler kemudian langsung bergegas mencari Marinus.
"Dimana Marinus?" tanya Edler pada seorang pegawai disana.
"Tuan Marinus ada di ruangannya tuan." ucap pegawai itu sambil menunjuk ke arah ruangan Marinus.
"Baiklah, trimakasih banyak." ucap Edler.
"Sama-sama tuan." jawab pegawai itu.
Lalu Edler berjalan melewati panasnya ruangan tempat dimana besi-besi itu sedang di bakar dan di tempa.
"Panas sekali suasana disini. Bisa-bisanya dia membuat ruangannya sendiri di tengah neraka seperti ini." gumam Edler yang merasa tak tahan dengan suhu panas di ruangan besar itu.
Tak lama, ia sampai di depan pintu ruangan Marinus.
Terlihat Marinus yang sedang bersantai dengan cerutu di mulutnya.
Tok..tok..tok..
Edler mengetuk pintu.
"Masuk." terdengar suara Marinus mempersilahkan tiap tamu yang hendak masuk ke ruangannya.
Lalu Edler membuka pintu dan masuk dalam ruangan pribadi Marinus itu.
"Hallo, Marinus. Maaf keterlambatanku." sapa Edler.
"Hai, Edler. Lama sekali kamu ini. Kupikir kamu membatalkan janji temu kita." ucap Marinus.
"Tentu saja aku tidak akan membatalkan janjiku begitu saja. Tadi aku sempat singgah dulu di istana tuan Van Heots. Jadi aku sedikit terlambat." ucap Edler menjelaskan.
"Oh begitu. Kamu di utus ayahmu untuk urusan disana?" tanya Marinus.
"Bukan. Aku hanya bertujuan menemui seseorang disana. Bukan untuk tuan Heots." ucap Edler.
"Menemui seseorang? Apa ada orang penting lain disana selain tuan Heots saat istananya tak ada tamu?" tanya Marinus.
"Ah. Sudahlah. Itu bukan urusanmu. Tidak perlu kamu tau." jawab Edler.
"Hmm. Yaaaah. Lagipula itu juga urusanmu." sahut Marinus.
"Oh ya. Lalu bagaimana dengan tujuanku sekarang?" tanya Edler kembali ke inti pembicaraan.
"Lebih baik kamu lihat saja dan pilih sendiri. Rumah mana yang cocok untukmu." jawab Marinus.
"Lalu apa bisa kita berangkat sekarang?" tanya Edler.
"Tentu saja. Sejak tadi aku menunggumu untuk ini." jawab Marinus.
"Baiklah. Ayo berangkat. Kita menggunakan kereta kudaku saja." ucap Edler.
Marinus mengangguk.
Lalu mereka keluar dari ruangan Marinus dan bergegas menuju kereta kuda milik Edler.
Mereka berjalan melewati tiap-tiap ruangan besar tempat penempaan besi-besi.
Terlihat Edler yang tak tahan dengan suhu panas disana.
"Lain kali, bisakah kita bertemu di tempat lain saja? Bukan di neraka seperti ini?" ucap Edler.
"Memangnya kenapa?" tanya Marinus.
"Tempat ini benar-benar seperti neraka untukku!" gerutu Edler sambil menutupi kepalanya dengan jasnya.
"Memangnya kamu sudah pernah berada di neraka? Hey! Ada apa dengan kepalamu? Kenapa kamu menutupi kepalamu begitu?" ucap Marinus.
"Panas sekali! Rambutku takut terbakar." ucap Edler.
"Sudahlah! Jangan banyak menggerutu! Tidak usah berlebihan seperti itu! Rambutmu tidak akan terbakar jika jika bukan aku yang membakarnya!" ucap Marinus.
"Dasar! Bisa-bisanya kamu membuat ruangan di tengah-tengah neraka seperti ini. Merepotkan saja!" ucap Edler kembali menggerutu.
"Tidak ada ruangan lain! Semakin besar pabrikku, semakin banyak pula uangku! Terserah aku membuat ruanganku sendiri." ucap Marinus.
Tak lama setelah mereka berjalan melewati ruangan-ruangan pengapian besi, tibalah mereka di pintu keluar.
"Hahaha! Kenapa wajahmu menjadi merah seperti itu?" ucap Marinus meledek wajah Edler yang memang terlihat memerah karna kepanasan.
"Diamlah! Kita langsung saja menaiki kereta kudaku. Aku ingin segera pergi dari tempat panas seperti ini!" ucap Edler.
Marinus hanya terkekeh mendengar celotehan dari sahabatnya itu.