—————————————————————
"Hey! Apa yang kamu lihat-lihat! Jangan suka mengintip orang yang sedang mandi!" ucap Edler pada Broto yang memang terlihat mengintai-ngintai Lenna dan Ratih yang sedang mandi.
Karna sumur tempat mereka mandi memang terlihat jelas dari balai depan rumah.
"Tidak tuan. Hanya melihat ke arah pekarangan itu, siapa tau ada harimau." ucap Broto yang terlihat kikuk.
"Ah, mana mungkin di tempat seperti ini ada harimau. Ada-ada saja kamu ini." jawab Edler.
"Tuan, neng Ratih walau sudah berumur 40 tahunan masih terlihat cantik ya. Masih kencang tubuhnya. Apalagi neng Lenna. Kira-kira tuan akan memilih siapa?" tanya Broto.
"Bicara apa kamu ini. Jangan bicara yang aneh-aneh!" tegas Edler.
"Hehe. Ya siapa tau tuan memilih neng Ratih yang sudah jelas matang begitu." ledek Broto.
"Jangan bicara yang bukan-bukan! Mana mungkin aku memilih ibunya. Aku tetap memilih Lenna. Hatiku sudah terpaku padanya." jelas Edler.
"Hehehe.. Maaf tuan. Bercanda." ucap Broto.
Setelah Ratih dan Lenna selesai mandi, mereka kemudian membalut tubuhnya kembali dengan kemben.
Dan berjalan masuk ke dalam rumah melalui pintu dapur mereka yang terletar di samping belakang rumah.
Sesampainya mereka dikamar...
Mereka berdua melepas ikatan kembennya.
"Ibu, aku ingin coba pakai gaun itu." ucap Lenna.
"Cobalah, dan rapikan dirimu." jawab Ratih.
Lalu Lenna mengambil gaun yang Edler berikan tadi.
Dan kemudian ia memakainya.
Gaun itu terlihat sangat cocok di pakai oleh Lenna.
Dengan warna merah hati, dan beberapa tali yang ada di punggungnya, gaun model evening dress siluet line itu terlihat sangat pas dengan ukuran bentuk tubuh Lenna.
"Bu, bisa tolong ikatkan tali yang berada di belakangku?" ucap Lenna.
"Boleh, kemarilah." jawab Ratih.
"Apa ikatannya terlalu kencang atau tidak?" tanya Ratih.
"Sudah bu. Sudah pas." jawab Lenna.
"Boleh sisirkan rambutku tidak bu?" ucapnya lagi.
"Iya. Sini biar ibu yang menata rambutmu." jawab Ratih.
Ratih yang masih terlihat telanjang bulat pun malah sibuk merias putrinya itu.
Perlahan dia menyisir rambut lembut putrinya itu.
Memberinya bedak pada wajahnya dan lipstik pada bibirnya.
Setelah menyisir rambut Lenna, Lalu Ratih mengambil kalung yang sudah di siapkan dan memakaikannya pada leher putrinya itu.
"Cobalah pakai kalung ini. Ini akan membuatmu semakin terlihat berkharisma." ucap Ratih sambil mengenakkan kalung pada Lenna.
Setelah memakaikan kalung pada Lenna, Lenna bangkit berdiri dari kursi yang berada di depan cerminnya itu.
Ia mengamati penampilannya yang jauh berbeda saat ini.
"Bagaimana menurut ibu?" tanya Lenna.
Ratih tersenyum, "Kamu terlihat sangata cantik." ucapnya.
"Oh iya, ini jangan sampai lupa. Pakai parfum ini. Agar tubuhmu berbau wangi. Ini parfum yang mahal." sahutnya lagi.
"Iya bu. Boleh ibu semprotkan?" ucap Lenna.
Lalu Ratih menyemprotkan parfum itu di bagian-bagian tubuh Lenna.
Seketika saat parfum itu di semprotkan, seluruh ruangan kamarnya menjadi wangi. Sangat wangi.
"Wah. Harum sekali parfum ini. Seisi kamar menjadi wangi seluruhnya." ucap Lenna.
"Namanya juga parfum mahal, Lenna." ucap Ratih.
"Ibu, ibu masih bertelanjang seperti itu, lekaslah pakai gaun ibu." ucap Lenna.
"Karna ibu mengurus penampilanmu dulu, makanya ibu belum sempat berbusana." ucap Ratih.
"Ibu! Ya ampun. Sejak tadi kita terlalu fokus berdandan, pintu kamar sampai lupa belum tertutup!" ucap Lenna kaget.
"Hah! Benar juga. Aduh. Daritadi kita begini ada yang mengintip tidak ya." ucap Ratih sambil menutup pintu kamarnya.
Lalu Ratih berjalan menuju jendela kamarnya untuk melihat kedua tamunya itu masih berada disana atau tidak, takut kalau mereka tidak berada di tempatnya, berarti mereka sempat masuk dan mengintip pikirnya.
Tapi untungnya, mereka masih berada di tempatnya dan terlihat sedang mengobrol.
Jadi Ratih merasa lega, tidak ada yang mengintip kejadian itu.
Hanya karna keasyikan mencoba gaun dan terlalu fokus berdandan, mereka sampai lupa menutup pintu kamarnya.
"Huhf. Syukurlah mereka masih ada di tempatnya, itu artinya tidak ada yang mengintip." ucap Ratih lega.
"Ya sudah. Ibu mau berdandan dulu." ucap Ratih.
"Iya bu." jawab Lenna.
Lalu Ratih mengambil pula gaun pemberian Edler.
Lalu ia mengenakannya.
Gaun itu bermodel hampir sama dengan Lenna.
Berbahan sama. Terbuat dari bahan satin.
Setelah memakainya, Ratih kemudian merapikan rambutnya, menggulungnya dan mengikatnya menyesuaikan penampilan busananya.
Lalu ia memoleskan bedak pada wajahnya.
Mewarnai bibirnya dengan lipstik.
"Bagaimana? Apa ibu terlihat cocok?" ucap Ratih.
Lenna terdiam melihat penampilan ibunya.
Yang jelas terlihat jauh dari penampilan kesehariannya yang terlihat seperti wanita kampung ataupun pembantu.
Tapi kali ini, ia kagum dengan penampilan ibunya.
Yang ternyata masih terlihat cantik dan anggun jika sudah berdandan.
"Wah. Ibu benar-benar terlihat jauh berbeda dari biasanya. Ternyata ibu cantik juga ya kalau sudah berdandan." puji Lenna pada ibunya.
"Ya iya lah. Kalau ibu tidak cantik, ayahmu yang tampan dulu juga tidak akan jatuh hati pada ibu." ucap Ratih.
Setelah mereka berdua selesai berdandan, kemudian mereka hendak berjalan keluar untuk menemui Edler dan Broto kusirnya.
Yang sudah sejak tadi lama menunggu.
"Lenna, semuanya sudah siap. Ayo kita keluar menemui mereka." ucap Ratih.
"Ayo bu." jawab Lenna.
"Ibu yakin pasti Edler akan semakin menyukaimu dengan tampilanmu yang sekarang ini." ucap Ratih percaya diri terhadap penampilan putrinya itu.
"Hmm. Belum tentu juga bu." jawab Lenna.
Lalu mereka berdua berjalan keluar dari kamar dan menuju balai depan rumah mereka.
Melihat hal itu, mata Edler terpaku dengan kecantikan Lenna.
Ia merasa tidak salah pilih dalam membeli gaun.
Terutama ia tidak merasa salah pilih wanita juga.
"Edler, bagaimana penampilanku dan ibuku? Apa terlihat pantas? ucap Lenna.
"Benar-benar luar biasa. Kamu dan ibumu sangat terlihat cantik. Tidak terlihat seperti rakyat biasa. Kamu terlihat menawan hari ini." ucap Edler memuji.
Tampak pula raut wajah Broto yang terpaku pada kecantikan Ratih.
"Neng Ratih, eleuh eleuh, geulis pisan neng." ucap Broto memuji.
Ratih tersenyum dengan pujian Broto, "Trimakasih." ucapnya.
Sepertinya dari cara Broto memandang Ratih, ia tampak menyukai Ratih saat kedekatan mereka pertama itu.
Kebetulan, Broto juga masih berstatus lajang saat itu.
"Edler, pak Broto, maaf ya sudah membuat menunggu lama." ucap Ratih.
"Tidak apa-apa neng." sahut Broto.
"Iya tidak apa-apa bu. Wanita memang begitu, sangat lama bila sudah berdandan." ucap Edler.
"Silahkan habiskan dulu minumannya. Maaf aku tidak punya makanan untuk di suguhkan pada kalian." ucap Ratih.
"Tidak apa-apa. Tidak masalah. Aku memaklumi keadaan kalian." ucap Edler.
Lalu terlihat Lenna mulai duduk di kursi sebelah Edler.
Dari situ, Edler mulai timbul pikiran kotornya.
Sesekali ia mencuri-curi pandang dari arah samping ke arah pada belahan Lenna.
Yang saat itu memang terlihat jelas karna bagian d**a dari gaun itu memang terlihat agak lebar dan agak turun ke bawah.
Begitu pula dengan Ratih.
Jadi wajar saja jika belahan Lenna dan Ratih juga terlihat.
Terlebih, Lenna tidak memakai pakaian dalam saat itu.
Karna pada zaman itu belum terlalu ramai dengan yang namanya Bra.
Tanpa Edler sadari, lirikan matanya itu di ketahui oleh Ratih.
"Edler, apa yang kamu lihat pada Lenna?" tanya Ratih yang menyadari kelakuan Edler itu.
"Oh! M-m-maaf. Aku hanya melihat kalung yang di kenakan Lenna. Tidak ku sangka, kalung itu sangat cocok di pakai oleh Lenna." ucap Edler gugup.
"Oh, begitu. Aku kira kamu melihat yang lain." jawab Ratih.
"Oh! B-b-bukan! Bukan kesitu arahku. Maaf jika salah paham." ucap Edler.
Edler menjadi salah tingkah karna kelakuannya tanpa ia sadari ternyata di pergoki oleh Ratih.
"Hmm. Dasar! Sudah ketahuan saja masih mengelak. Sudah jelas jika matanya tertuju ke arah belahan putriku." batin Ratih.
Tapi Lenna hanya bersikap biasa saja dengan sikap lugunya itu.
Seakan dia tidak tau apa yang dimaksud arah pembicaraan ibunya dan Edler.