-Awali dengan Bismillah, dan akhiri dengan Alhamdulillah-
Wanita.
Mudah rapuh dan mudah patah.
Bagaikan ranting pohon, jika kamu kasar pada ranting itu, maka akan patah.
Seperti kaca, jika terlalu keras, maka akan pecah.
Wanita, tidak menginginkan kemewahan, tetapi menginginkan kebahagiaan.
Ia bisa sangat patuh padamu, tetapi ia juga bisa sangat keras padamu. Semua tergantung pada caramu memperlakukannya.
Lelaki beriman, ia akan selalu memuliakan wanitanya.
Ia akan selalu menjaga dan melindungi wanitanya.
Karena, wanita adalah istimewa.
Wanita, adalah perhiasan. Dan, sebaik-baik wanita yaitu istri shalihah.
Dariku, wanita yang menantimu dalam ketaatan.
Wanita yang ingin menjadi bidadari syurga-Mu.
Untukmu, Imam masa depanku.
Bagi Nayla, kasih sayang orangtua itu sangatlah berarti dalam hidupnya. Setiap anak pasti menginginkan kasih sayang dari orangtua.
Ya, benar sekali. Tetapi Nayla harus menerima takdir bahwa sesungguhnya yang membesarkan ia selama ini bukanlah orangtua kandungnya.
Bukan ibu yang mengandung dan melahirkannya. Juga bukan ayah yang di mana darahnya adalah darah dari ayah kandungnya.
Apa yang kamu bayangkan jika kamu berada di posisi Nayla? Mengetahui kebenaran itu di saat wanita yang membesarkanmu baru saja mengembuskan napas terakhirnya. Dan yang lebih menyakitkan adalah, ibu kandungmu adalah saudara dari wanita yang membesarkanmu.
Haruskah marah dengan keadaan? Membenci kebenaran? Atau justru menangisi takdir.
Itu semua bukanlah jalan keluar dari suatu masalah. Hal itu bisa memperkeru keadaan.
Berdamailah dengan kehidupan, dan ikhlaskan segala ketetapan Allah. Itu adalah jalan dan solusi terbaik dari ujian hidup yang di alami.
"Anakku."
Tangan dingin itu menangkup wajah imut Nayla. Di tatapnya wajah gadis yang ia panggil anak itu.
"Putri kesayanganku." lanjut perempuan setengah abad lebih. Diana, nama perempuan itu.
Putri kesayangan? Benarkah begitu. Kalau sayang, kenapa di buang. Batin Nayla.
Nayla terus beristighfar agar tidak berprasangka buruk pada orangtuanya. Ia berusaha agar membuang semua rasa benci dan dendamnya pada kedua manusia yang mengaku sebagai orangtua kandungnya.
Perlahan kaki Nayla melangkah masuk ke dalam rumah yang tak kalah besarnya dari rumah yang Nayla miliki. Walau begitu, Nayla belum bisa merasa nyaman di sana, hati dan pikirannya terus bertolak belakang.
"Mulai sekarang apapun yang kamu inginkan, akan kami kabulkan. Kami adalah orangtua kandungmu. Istana ini khusus untukmu." ucap Albert.
Lelaki berperawakan tinggi tegap dengan wajah khas orang Barat. Lelaki asal Amerika, Labertus Albert adalah ayah kandung dari Nayla Malika Albert.
Nayla meringis mendengar ucapan sombong dari sosok manusia lemah itu. Bagaimana bisa lelaki yang sedarah dengannya itu berkata dengan sangat sombong, tak sadarkah ia kalau semuanya yang ia sombongkan adalah milik Allah.
"Jangan merasa canggung dengan kami, dear. Dady sangat menyayangimu." Albert merangkul Nayla. Walau lelaki itu adalah ayah kandungnya, tapi Nayla merasa singkuh, ia segera menepis lengan lelaki itu.
"Ya Allah. Hilangkan prasangka buruk dalam hati hamba. Tanamkanlah rasa cinta hamba kepada kedua orangtua hamba, Ya Rabb."
Nayla menangis dalam solatnya. Ia benar-benar merasa tidak betah dan ingin meninggalkan tempat itu. Ia merasa takut dan tidak aman berada di sana.
"Ya Rabb, lindungi hamba. Jauhkan hamba dari hal berbahaya. Hamba serahkan semuanya kepada Engkau."
Nayla mengakhiri do'anya dengan bersujud panjang. Perlahan hatinya menjadi tenang. Sujud adalah obat paling mustajab untuk menenangkan hati.
Tokkk, tokkk, tokkk.
Nayla segera bangkit dan membuka pintu kamar yang semula ia kunci. Mukenah masih menempel di badan mungilnya.
"Nayla,"
Ternyata itu adalah Diana, ibu kandung Nayla. Ia berusaha mengembangkan sebuah senyuman untuk menghapus ke kakuan yang ia rasakan.
"Ayo kita makan malam, Nak."
Perempuan itu merangkul Nayla dengan penuh kasih sayang. Nayla mengangguk, ia segera mengikuti langkah sang ibu menuju lantai bawah.
Rumah itu terlalu besar dan berlebihan bagi Nayla. Terlalu banyak gambar lukisan-lukisan di sana, membuat Nayla meringis kesal.
Kenapa rumah ini tidak ada sedikit pun asma Allah. Atau hal yang berbau islami. Batin Nayla.
Walau rumah itu mewah, namun terlihat menyeramkan kalau banyak lukisan-lukisan hewan dan sebagainya.
Setelah 30 menit ia habiskan untuk makan malam, dan sedikit berdialog dengan orangtuanya, Nayla memutuskan untuk kembali ke kamar.
"Belum satu hari di sini, aku sudah merasa seperti satu bulan." rengek Nayla.
Dia membuka lemari dan mengambil mushaf Al-Qur'an yang ia bawa dari Palembang. Mushaf yang menjadi teman setianya menghafal Al-Qur'an.
Sudah hampir satu juz Nayla membaca Al-Qur'an, ia hentikan saat mendengar ketukan pintu dari kamarnya. Nayla meletakkan kembali mushaf Al-Qur'an itu ke tempat semula. Nayla segera membuka pintu, dan ia mendapati sosok lelaki yang baru beberapa jam ini ia kenali.
"Darling, kenapa belum tidur?"
Albert masuk ke dalam kamar Nayla tanpa permisi, ia mengedarkan pandangannya di ruangan segi empat itu.
Nayla mengembuskan napas gusar. Ia benar-benar kesal. Seperti tidak ada sopan pada putrinya sendiri, masuk tanpa salam dan nyelonong saja.
"Ini mau tidur. Selamat malam, Yah." Nayla masih berdiri di ambang pintu, ucapannya sudah cukup untuk menyuruh lelaki 60 tahun itu keluar dari kamarnya.
"Please Darling, jangan panggil Ayah. Itu terlalu kuno, di Amerika tidak ada panggilan seperti itu. Mulai sekarang panggil saya Daddy, itu lebih menyenangkan." pintanya santai.
Nayla semakin kesal mendengar ucapan Albert. Sebisa mungkin ia menahan amarahnya.
"Maaf, ini adalah Indonesia bukan Amerika, Ayah. Oh ralat, maksudku Daddy. Baiklah, mulai sekarang aku akan memanggilmu, Daddy."
Nayla berkata pasrah. Bagaimanapun juga ia harus menjadi anak yang berbakti, walau itu terasa sulit baginya harus berinteraksi dengan orang asing.
Albert tertawa santai, matanya fokus menatap Nayla yang terlihat semakin tak nyaman dengan sosoknya.
"Good night, darling. Daddy mencintaimu." Albert mengelus kepala Nayla yang terbalut jilbab panjang.
Nayla hanya mengembangkan seulas senyum, ia tidak berniat untuk menjawab ucapan Albert. Nayla merasa risih melihat lelaki itu, walau mereka adalah seorang anak dan ayah.
Nayla menutup kembali pintu kamarnya, ia membuka lemari pakaian dan mengambil bingkai foto.
"Papa, Nay rinduu." Nayla memeluk bingkai foto itu. Sosok Albert dengan sosok Arya yang selama ini selalu mencintainya, sangat berbeda jauh.
Arya selalu memperlakukannya dengan sangat baik, berbeda dengan Albert yang selalu menyombongkan kekayaan miliknya.
Puluhan tahun Nayla tinggal dan dibesarkan oleh Arya dan Siska. Keduanya selalu memperlakukan Nayla dengan sangat baik. Tidak ada k********r, bentakan, ataupun hal yang menyakiti Nayla.
Mereka memang bukan orangtua kandung Nayla, tetapi kasih sayang dan cinta mereka melebihi orangtua kandungnya.
Terpisah dengan orangtua kandung puluhan tahun, itu sungguh menyakitkan.
"Astaghfirullah. Jauhi hamba dari sifat buruk, Ya Rabb." Nayla menghapus air matanya dan menyudahi rasa rindu itu, ia memutuskan untuk istirahat, terlalu lelah baginya hari ini.
Nayla bangun pukul 04.00 dini hari. Ia terkejut saat menyadari dirinya bangun kesiangan. Segera ia mengambil air wudhu dan menunaikan shalat tahajud.
Setelah selesai shalat tahajud Nayla melanjutkan dengan berdzikir hingga adzan subuh berkumandang. Segera ia melaksanakan shalat qabliyah subuh dan di lanjutkan shalat fardhu.
Nayla selalu ingat nasihat dari sahabatnya hingga detik ini, Fatimah selalu mengingatkannya agar shalat dua rakaat sebelum subuh. Itu adalah shalat yang lebih baik daripada dunia dan seisinya.
Seperti di jelaskan dalam sebuah hadist, "Dua rakaat (sebelum) shalat fajar (subuh) lebih baik dari dunia dan seisinya." (H.R. Muslim)
Setelah selesai shalat, Nayla ingin muroja'ah 2 juz dari hafalannya. Nayla berusaha keras agar bisa selalu mengingat semua hafalan-hafalan Al-Qur'an yang selama ini ia hafal, dan ia berusaha untuk bisa mengamalkannya.
Jam menunjukkan pukul 06.00 pagi, segera Nayla membersihkan diri dan akan turun ke bawah untuk membantu ibunya.
Setelah selesai bersiap-siap, Nayla segera turun. Ia melihat kamar kedua orangtuanya masih tertutup rapat. Ada pertanyaan dalam hati Nayla, sudahkah ibunya shalat subuh?
Perlahan Nayla mengetuk pintu kamar yang terbuat dari ukiran marmer berlapis emas. Setiap apa yang di lihat Nayla di dalam rumah itu selalu membuat hatinya meringis.
Rumah itu sungguh berlebihan, membuang uang dengan hal yang tidak ada gunanya. Nayla tahu kalau Allah tidak menyukai orang yang berlebihan. Dan Nayla kini harus menyaksikan hal berlebihan itu di dalam rumah yang saat ini ia tempati.
Andaikan ada sosok Fatimah di dekatnya, pasti sahabat sekaligus saudari bagi Nayla itu, akan membantunya membenahi rumah istana itu, dan membuatnya nyaman dengan kesederhanaan seperti Rasulullah.
Ah, andaikan....
"Nayla,"
Tiba-tiba Nayla di kejutkan dengan sosok perempuan yang sudah berdiri di depan pintu kamar itu.
"Aaa, Ibu." Nayla tersenyum dan menyalami tangan ibunya.
"Nay sudah bangun? Ibu kira Nay masih tidur." ucapnya sambil mengelus kepala Nayla.
Nayla terkekeh mendengar ucapan ibunya, mana mungkin ia masih tidur di saat matahari sudah mengedarkan sinarnya.
Bukankah tidur di pagi hari itu di larang. Selain menutup pintu rejeki, penyakit juga banyak di dapati di pagi hari.
"Nay sudah bangun dari jam 4, Bu." jawab Nayla.
"Pagi sekali, apakah Nay tidak bisa tidur semalam?" tanya wanita itu penasaran.
Nayla menggeleng sambil tersenyum lemah. "Ibu tidak sholat?" tiba-tiba pertanyaan itu keluar dengan sendirinya.
Wanita itu merasa salah tingkah, ia menggaruk kepalanya yang tidak tertutup jilbab.
"Ibu lupa, caranya sholat." wanita itu menunduk seolah ada penyesalan dalam hatinya.
Nayla menahan tangis, ibu kandungnya sendiri tidak ingat caranya shalat. Ya Rabb, ampuni orangtua hamba. Batin Nayla.
"Selesai sarapan, Nay ajarin ibu sholat ya." Nayla akan mengajarkan ibunya solat. Walau rasa sakit masih terasa di dalam hatinya, jika mengingat semua perlakuan orangtua kandungnya saat ia masih bayi. Namun ia berusaha untuk ikhlas dan sabar menerima semuanya.
Nayla terkejut saat melihat gelengan dari ibunya. Apa yang ada di dalam hati wanita itu. Tahukah dia apa hukuman yang akan dia dapatkan, karena telah meninggalkan kewajibannya sebagai seorang muslim.
Nayla semakin bingung dengan pola pikir dua manusia yang tidak lain adalah orangtua kandungnya ini.
"Daddy-mu akan marah jika mengetahui ada yang sholat di rumah ini." gumamnya.
Deggg,
Bagai di sambar petir, badan Nayla menjadi gemetar. Dosa apa yang telah ia lakukan, melihat kenyataan buruk yang telah di lakukan oleh kedua orangtuanya.
Apakah yang ia dengar barusan adalah sebuah mimpi? Atau pendengarannya yang salah. Jika benar ini mimpi, Nayla harap tidak akan terjadi di dunia nyata.
Nayla tahu, Albert bukanlah orang yang beragama Islam. Itu adalah alasan utama ia tidak mau tinggal bersama orangtua kandungnya sejak ia mengetahui semuanya.
Ayah kandungnya adalah orang kafir.
Namun, ini adalah hal yang sangat mengejutkan. Larangan untuk ibadah. Apa yang telah di lakukan Albert sungguh keterlaluan. Di mana letak toleransi Albert sebagai ummat beragama.
Nayla berlari menuju kamarnya yang berada di lantai atas. Ia urungkan semua niatnya pagi ini, hatinya benar-benar hancur. Ia mengunci diri di dalam kamar.
Nayla ingin pulang. Rasanya dia tidak sanggup berada di rumah itu. Menyesakkan dan menyakitkan.
"Ya Allah. Dosa apa yang telah di lakukan oleh orang-orang yang ada di dalam rumah ini. Apa yang harus hamba lakukan Ya Rabb. Kemungkaran dan kebathilan ada di depan mata hamba sendiri." isak tangis itu semakin jadi.
"Ampuni dosa-dosa mereka, Ya Rabb. Dan berikan hidayah pada kedua orangtua hamba. Jadikan mereka sebagai umat muslim yang sebenarnya." ucap Nayla lirih.
Air mata itu adalah saksi bagaimana perasaan Nayla saat mengetahui kezholiman yang ada di rumah besar itu.
-Utamakan shalat dan membaca Al-Qur'an dalam segala hal-