Selina seketika membatu di tempatnya, gadis itu refleks menutup mulutnya dengan kedua tangan. Selina berjalan perlahan sembari menggelengkan kepala tak percaya dengan apa yang sedang dia lihat di depan matanya saat ini.
"MAHESA?!" pekik Selina lebih kencang.
Gadis itu berlari menghampiri Mahesa yang masih tergeletak di lantai, matanya terpejam. Langsung saja Selina bersimpuh di dekatnya. Selina memutar tubuh Mahesa, yang awalnya tengkurap menjadi terlentang. Pahanya dia gunakan untuk bantalan Mahesa.
"Sa, bangun, Sa!"
Dengan sangat panik Selina terus berusaha membangunkan Mahesa dengan menepuk pipi cowok itu. Di dekat Mahesa juga masih ada ponsel cowok itu. Berarti benar saat telfon tadi Mahesa sudah tidak baik-baik saja. Kini Selina menangis. Bagaimana tidak, Mahesa sama sekali tid