Telah seminggu sejak kedatangan Via kembali ke rumahnya ini. Ia selalu bermain dengan semua keponakannya. Anak dari Abang dan juga Kakaknya.
"Ntyy! Look! Ayum etik unga!" Arumi yang baru berumur Tiga tahun mendekatinya seraya membawa bunga yang di petik gadis mungil itu di taman milik Ibunya. Via tersenyum saat Arumi memberinya bunga itu. "Makasih ya sayang"
Arumi langsung di gendong Via untuk segera masuk ke dalam rumah. "Abi, Alen, ayo masuk" Tidak lupa Via juga memanggil Fabian dan jugan Alen untuk segera masuk ke dalam rumah. Pakaian kedua anak lelaki itu telah kotor karna bermain di tanah.
"Iyaaa aunty"
"Astagaa, kalian benar-benar menikmati hari bermain kalian bersama aunty Via ya?" Ucap Hamira istri dari abangnya yang berkunjung ke rumah orangtua Gilang- abangnya. Hamira menggelengkan kepalanya melihat Alendra anaknya yang kotor begitu juga dengan Arumi yang berada dalam gendongan Via dan Fabian.
"Hihi, Alen main sama Aunty Bunda. Asik!"
Melihat anaknya yang ceria Hamira ikut senang juga.
"Nah sekarang mandi. Ayo Kids" sahut Wini Kakaknya yang baru keluar dari dapur. Ia tidak kaget lagi melihat Fabian yang kotor. Itu sudah biasa baginya karna ia tidak membatasi Fabian untuk bermain asalkan masih dalam pengawasannya.
"Yeayyyy!!" Fabi dan Alen langsung berlari ke arah kamar mandi di kamar Kak Hamira di ikuti Hamira. Begitu juga Arumi yang langsung minta di turunkan agar bisa menyusul Ibunya.
"Kamu juga mandi Via, lihat tuh kotor semua baju kamu" Via juga menyadari kalau pakaiannya kotor dan ia melaksanakan ucapan Kakaknya.
Sebelum menaiki tangga dimana kamarnya berada Via menatap Kakaknya. "Umm. Kak, Via dua hari lagi harus ke Jakarta. Karna udah dapat panggilan Kerja sama perusahaan tempat Via ngelamar pekerjaan" sebenarnya ia sudah melamar pekerjaan di Perusahaan property sebagai sekretaris dan Alhamdulillah ia diterima dan di minta untuk langsung ke Jakarta untuk proses Wawancara.
"Wah itu bagus. Tapi kenapa baru kasih tahu sekarang?" tanya Wini karna ia kira Via akan lama di disini. Ternyata tidak. Adiknya itu pasti masih merasa sedih jika harus kembali ke rumah yang menjadi saksi tragis yang pernah di alaminya.
"Via baru tahu juga tadi Kak" Via berbohong. Padahal ia sudah mendapatkan panggilan itu Tiga hari yang lalu dan baru sekarang ia bilang.
"Kalau memang begitu, ya gak apa-apa. Semoga kamu diterima dan betah bekerja. Kakak selalu mendoakan yang terbaik. " Via langsung memeluk Adiknya.
. . . . . . .
"Hilya, apa kamu sudah mendapatkan asisten baru untuk saya?" tanya Nicholas Gerion Armadani pada sekretarisnya.
"Sudah Mr. Gerion. Ada tiga pelamar yang memenuhi kriteria seperti yang telah anda perintahkan. Saya telah memanggil mereka untuk tes Wawancara"
"Kapan jadwal wawancaranya?"
"Dua hari lagi Mr. Anda akan hadir untuk melihat langsung pelamar itu Mr?"
"Iya. Karna saya ingin yang terbaik."
"Baiklah Mr."
Hilya langsung pamit setelah menyerahkan beberapa berkas penting yang harus di tanda tangani oleh Nicholas.
Sepeninggalan Hilya sekretarisnya, Nicholas memandang sendu pada Potret keluarganya yang di ambil saat istrinya tengah hamil tujuh bulan. Empat tahun berlalu tapi ia masih tidak bisa untuk melupakan istrinya itu. Bahkan ia belum memenuhi permintaan terakhir istrinya yang tidak bisa ia lakukan. Itu sulit, karna seumur hidupnya ia hanya mencintai Rahayu Diandra.
Telpon genggamnya berdering. Senyumnya langsung menggembang mengetahui jika yang menelpon adalah Putri kesayangannya.
"Papa!" pekikan Putrinya yang pertama kali ia dengar saat ia mengangkat telpon itu.
"Halo sayang. Princess Papa lagi apa?"
"Abel lagi main sama Oma. Telus Abel angen ama Papa. Papa apan ulang? "
"Sebentar lagi Papa pulang. Princessnya Papa mau di bawakan apa?"
"Hummm" Nicholas tersenyum saat mendengar gumaman anaknya yang pasti tengah berpikir dan wajah imut Anaknya itu langsung membuatnya merindukan anaknya.
"Ah! Abel au Papa ulang elamat telus awain Abel sate! Ya! Abel mau sate Pa!"
Nicholas terkekeh, ia sudah menebak apa yang akan di minta oleh Abelia padanya. "Oke sayang. Papa akan bawakan Abel sate. "
"Abel sayang Papa! Love you"
"Love you too sayang"
Setelah itu panggilan teleponnya langsung di ambil alih oleh Ibunya sendiri. Ia berbicara singkat pada Ibunya karna ia selalu menghindari untuk membicarakan tentang perempuan-perempuan yang selalu di jodohkan ibunya pada dirinya. Bahkan itu terjadi sejak tiga tahun setelah kematian Istri tercintanya. Dengan dalih yang selalu ibunya ucapkan "Abel masih kecil Nick, Dia pasti membutuhkan kasih sayang seorang Ibu. Terlebih ia tidak pernah merasakan kasih sayang itu "
. . . . . . .
Via memasukan semua bajunya ke dalam koper lagi. Baru seminggu kemarin ia mengeluarkan pakaiannya tapi kini pakaiannya itu masuk lagi ke dalam koper karna besok adalah jadwal penerbangannya ke Jakarta.
Untuk tempat tinggal, Ia di tawari Runa sahabatnya untuk tinggal di apartmentnya yang telah lama tidak perempuan itu tinggali lagi semenjak menikah dengan Mahardika.
Sebenarnya Via ingin menyewa kontrakan saja daripada harus tinggal di apartment mewah di kota Jakarta itu. Tapi, Runa selalu mempunyai cara untuk memaksanya. Dan ia mau tidak mau memenuhi keinginan Runa untuk tinggal disana.
"Kamu sudah siap untuk besok dek?" Abangnya-Gilang masuk kedalam kamarnya tanpa mengetuk pintu. Kebiasaan lama, dan ia mendengus kesal karna hal itu. Abangnya selalu seenaknya.
"Sudah Bang. "
"Kenapa gak kerja di salah satu anak perusahaan Ayah yang ada di sini atau di perusahaan yang di pegang oleh Om Indra?"
Via menghela napas sebentar sebelum menjelaskannya pada Abangnya itu. "Abang tahu sendirikan kalau Via itu maunya apa? Lagian, Via gak bisa kalau harus bekerja di perusahan Papa atau Om Indra. Via mau mencoba suasana dan tantangan yang bakalan Via hadapin Bang. "
"Adik Abang udah besar ya. Waktu cepat sekali berlalunya. "
"aihhhh. Abang kok melow gitu sih?" Via tertawa. Ia selalu mentertawakan Abangnya yang mendadak melow begini. Ia geli jika Abangnya bertingkah seperti tiu.
Tak!
"Ouchh!!"
Kening Via terasa sakit karna sentilan sadis Abangnya yang masih sama. "Dasar perusak suasana."
"Lah, Abang itu bukan tipe-tipe melow gitu. Jelas, Via jadi geli."
Gilang mendengus menatap adiknya. "Abang kangen sama kamu dek. Enam tahun gak pulang-pulang, Betah banget disana ya" ucap Gilang membawa adik macannya karna dulu kelakuan Via dan dirinya sama. Bahkan Via adalah adik yang selalu ia ajak bermain permainan anak laki-laki. Gilang memeluk Via.
"Betah dong! Gajinya besar Bang. Mata uangnya gak Rupiah lagi. Yaiyalah Via betah"
"Dasar."
Cukup lama mereka terdiam masih dengan Via di pelukan Gilang pelukan yang selalu di berikan Gilang saat dirinya sedih karna jatuh dari sepeda atau Mobil remotnya yang di bawa lari anjing tentangga mereka dulu. Dan pelukan yang melindunginya dari luka enam tahun lalu meskipun tidak ampuh. Karna nyatanya luka itu masih ada dan terasa.
"Kamu sudah ikhlaskan sama semuanya yang terjadi enam tahun yang lalu? Karna Abang ingin kamu bangkit dan kembali jadi adik abang yang galak tapi manis. Dan abang tahu meskipun kamu berkata "Baik-baik saja" tapi kenyataannya "Kamu gak baik-baik saja."
Via tersentak dan seketika ia menanyakan juga pertanyaan itu kepada dirinya sendiri saat kalimat itu terucap di bibir abangnya.
Sudahkah ia ikhlas atas semuanya itu? Atau dirinya masih belum ikhlas dan menerima semua kejadian yang telah berlalu cukup lama itu.
Tbc
Friday, 2 February 2018