Hari datang ketika Maharani tidak bisa lagi menunda perhitungan yang ia takuti.
Ia berdiri di tenda medis sebelum fajar, menatap kotak persediaan yang hampir kosong di hadapannya. Antibiotik tersisa untuk beberapa pasien. Cairan infus, beberapa kantong. Obat demam, segenggam. Dan di luar tenda, lebih banyak orang sakit daripada yang bisa dirawat dengan apa yang tersisa.
Ia mengenal perhitungan ini. Mereka mengajarinya di pelatihan, kata yang dingin dan klinis: triase. Memilah yang bisa diselamatkan dari yang tidak, yang paling butuh dari yang bisa menunggu, dan, di sudut tergelap yang tidak pernah mereka katakan dengan lantang, yang sepadan dengan obat terakhir dari yang tidak.
Ia tidak pernah membenci kata mana pun seperti ia membenci kata itu pagi ini.
Pasien-pasien terbaring di hadapannya, dan setiap satu adalah wajah, bukan kasus. Anak perempuan delapan tahun dengan demam tinggi yang tidak turun, yang ibunya menatap Maharani dengan harapan yang menyayat. Lelaki tua dengan infeksi yang menjalar dari luka lama, yang mungkin bisa diselamatkan dengan antibiotik penuh, atau mungkin tidak, dan jika ya, dengan biaya obat yang bisa menyelamatkan tiga anak. Seorang ibu muda dengan perdarahan pascasalin yang membutuhkan cairan yang tidak cukup untuk semua orang.
Maharani merasakan kelumpuhan lama itu mencoba mencengkeram, hantu pasien pertama yang ia kehilangan bertahun-tahun lalu di tanah air, beban yang ia bawa tujuh belas jam ke selatan dan tidak pernah ia letakkan. Suara di kepalanya yang berkata: kau akan kehilangan seseorang lagi, dan kali ini kau yang memilih siapa.
Ia menutup mata. Bernapas. Dan menolak tenggelam.
Fatou menemukannya berdiri di sana, dan membaca wajahnya dalam sekejap. "Berapa yang tersisa?" tanya Fatou pelan.
Maharani memberitahunya angkanya. Fatou tidak menyusut darinya, tidak juga berpura-pura itu lebih mudah dari yang sebenarnya. Ia hanya berdiri di samping Maharani, menatap pasien-pasien yang sama.
"Di kampungku," kata Fatou setelah lama, "ketika perang masih segar dan tidak ada apa pun, perempuan tua membuat keputusan seperti ini. Mereka tidak menyebutnya memilih siapa yang mati. Mereka menyebutnya menjaga yang bisa dijaga. Itu bukan kata yang lebih lembut. Tapi itu kata yang benar. Kau tidak membunuh yang tidak kau tolong. Perang yang membunuh mereka. Kau hanya menyelamatkan yang bisa diselamatkan dengan apa yang ada."
Maharani menatapnya. "Bagaimana kau menanggungnya?"
"Aku tidak menanggungnya sendiri," kata Fatou. "Itu rahasianya. Perempuan tua tidak memutuskan sendiri. Mereka memutuskan bersama, supaya tidak ada satu pun yang harus memikul seluruh dosa imajiner itu di pundaknya. Kau bukan dewa, Maharani. Kau tidak boleh menjadi dewa. Itu akan menghancurkanmu."
Kata-kata itu mengubah sesuatu. Maharani memanggil Mama Nzira dan dua perempuan paling berpengalaman yang ia latih. Bersama, di hadapan kotak yang hampir kosong, mereka memutuskan. Bukan satu tangan yang menulis siapa mendapat apa, tapi banyak tangan, banyak penilaian, banyak pengalaman. Antibiotik penuh untuk anak perempuan dan ibu muda, yang punya peluang paling besar dengan obat penuh. Lelaki tua mendapat dosis yang bisa dibagi, perawatan luka maksimal, dan, yang paling sulit, kejujuran tentang peluangnya. Cairan dijatah, diukur tetes demi tetes, dilengkapi dengan oralit buatan tangan dari garam dan gula yang Maharani ajarkan.
Mereka bekerja sepanjang hari, banyak tangan menggantikan satu, dan Maharani menyadari beban yang dulu ia pikul sendiri kini ditanggung bersama. Perempuan-perempuan yang ia latih bukan lagi murid; mereka rekan, masing-masing memegang sebagian dari beban yang terlalu berat untuk satu jiwa.
Lelaki tua itu meninggal menjelang senja. Maharani memegang tangannya saat napasnya melambat, dan ia menangis, tidak malu, di hadapan keluarganya. Tapi anak perempuan delapan tahun itu demamnya turun pada malam hari, dan ibu muda itu berhenti berdarah, dan dua nyawa yang dijaga bernapas sampai fajar.
Malam itu, Maharani duduk di luar tenda dengan Fatou dan Mama Nzira, ketiganya kelelahan sampai ke tulang, dan untuk pertama kalinya ia memahami sesuatu tentang pasien pertamanya, hantu yang ia bawa bertahun-tahun. Ia tidak pernah bisa menyelamatkan semua orang. Tidak seorang pun bisa. Beban itu menghancurkannya karena ia memikulnya sendirian, seakan setiap kematian adalah kegagalannya pribadi, seakan ia seharusnya menjadi sesuatu yang lebih dari manusia.
Tapi di sini, di lembah yang dikepung, dengan persediaan terakhir di tangan, ia belajar arti sebenarnya menjadi bidan: bukan tak pernah kehilangan, melainkan terus hadir meski tahu kehilangan mungkin, dan tidak memanggul beban itu sendirian. "Terima kasih," katanya pada kedua perempuan di sampingnya. Mama Nzira hanya menepuk tangannya, tangan tua yang sudah menarik ribuan nyawa ke dunia dan melepas tak terhitung yang lain, dan dalam sentuhan itu Maharani menemukan sesuatu yang menyerupai kedamaian, rapuh dan lelah, tapi nyata.