Suara mesin truk yang berhenti di utara tidak diikuti oleh apa pun selama hampir satu jam. Kesunyian itu lebih buruk daripada bunyi. Maharani berdiri di mulut tenda medis, menghitung napasnya sendiri, dan mendengar Bagas di radio internal mengulang satu kalimat ke setiap pos: jangan menembak duluan, catat waktu setiap pergerakan, lindungi yang di dalam.
Lalu lembah pecah.
Tembakan pertama datang dari lereng utara, deretan yang tidak terarah, lebih untuk membuat takut daripada untuk membunuh. Maharani merasakannya di dadanya sebelum telinganya selesai mengenali bunyinya. Di menara pengawas, ia tahu, Wanto sedang berbaring di balik karung pasir dengan jari di luar pelatuk, menunggu syarat yang selama berbulan-bulan diajarkan untuk tidak pernah ia harapkan datang.
"Mereka menembak ke perimeter barat," suara Patar di radio, datar dan cepat, persis seperti yang dilatih. "Belum ada arah ke menara. Belum."
"Tahan," kata Bagas. "Tahan sampai mereka melewati pagar."
Maharani membalik ke dalam tenda. Mama Nzira sudah memindahkan dua pasien lama ke sudut yang terlindung dinding kontainer, menumpuk kasur tipis sebagai pelindung sekenanya. Fatou menenangkan barisan anak-anak yang meringkuk di lantai dengan suara rendah dalam bahasanya, suara yang dipakai ibu sejak dunia ada. Maharani menata ulang mejanya: gunting, kasa, infus, tourniquet, semuanya dalam jangkauan tangan kanan. Ia tidak tahu apa yang akan datang melalui pintu tenda itu, hanya tahu ia harus siap untuk apa pun.
Di luar, gelombang pertama milisi maju ke perimeter barat. Maharani mendengarnya dalam pecahan: teriakan, derap, lalu suara karung pasir yang dipukul peluru. Ada jeda. Lalu suara Bagas, bukan di radio kali ini, melainkan dilemparkan ke seluruh pos dengan corong tangan, dalam bahasa yang akan dimengerti penyerang lewat penerjemahan kaki mereka sendiri yang dulu pernah jadi tentara.
"Kalian menyerang pos pasukan perdamaian dengan warga sipil di dalamnya. Mundur sekarang."
Jawabannya adalah deretan tembakan ke arah suara itu.
Dan saat itulah ketiga syarat yang ditulis dalam mandat — yang selama ini hanya kalimat di kertas yang dibawa Maharani dalam hati seperti batu — bertemu pada satu titik di lembah ini. Pos diserang langsung. Warga sipil ada di dalam area tanggung jawab. Tidak ada jalan mundur yang tidak menyerahkan nyawa. Membela diri menjadi sah. Bukan pilihan nurani melawan aturan. Untuk pertama kalinya keduanya menunjuk arah yang sama.
"Menara," kata Bagas di radio, dan suaranya berubah. "Kalian boleh membela."
Maharani membeku sesaat dengan kasa di tangannya. Ia tahu apa artinya kalimat itu bagi Wanto.
Di menara, tembakan pertama dari helm biru tidak menggelegar seperti yang ia bayangkan dalam mimpi buruk. Itu hanya satu letusan pendek, lalu satu lagi, terukur, dengan jeda di antaranya. Wanto tidak menyemprot. Ia memilih. Setiap peluru ditujukan untuk menghentikan, bukan untuk mengisi udara dengan kemarahan. Maharani membayangkannya di atas sana, lelaki yang menghabiskan tugasnya menjaga garis antara membela dan membunuh, kini berdiri tepat di garis itu dan menolak melewatinya bahkan saat ia akhirnya boleh menembak.
Gelombang milisi di perimeter barat goyah. Bukan hancur, hanya goyah. Mereka tidak menyangka pos akan membalas. Selama ini helm biru adalah perisai diam, dan menyerang perisai diam tidak ada risikonya. Kini perisai itu menggigit balik, terukur dan dingin, dan rasa terkejut itu cukup untuk menahan gelombang pertama.
Pintu tenda terbuka. Patar dan seorang prajurit baru menyeret seseorang masuk — bukan warga, melainkan Oddie, tangan kirinya menempel ke bahu kanan yang basah merah.
"Serempet," kata Oddie, mencoba tertawa dan gagal. "Bu Bidan, ini cuma serempet."
Maharani sudah di sisinya sebelum kalimat itu selesai. Ia membuka kerah, menemukan luka di otot bahu, peluru sudah lewat, perdarahan banyak tapi bukan arteri. Tangannya bekerja sendiri sementara kepalanya tetap mendengar lembah. Tekan. Kasa. Tourniquet improvisasi di pangkal lengan. Ia berbicara pada Oddie tanpa benar-benar memikirkan kata-katanya, suara tenang yang ia pakai untuk menahan pasien tetap di dunia.
"Lihat aku. Kau akan baik. Tetap di sini."
Di luar, tembakan menjadi tidak beraturan, lalu menjauh. Gelombang pertama mundur ke lereng untuk menyusun ulang. Maharani mendengar Bagas memerintahkan penghitungan: siapa terluka, siapa di posisi, siapa kehabisan amunisi. Suara komandan yang dulu kaku oleh prosedur kini menjadi tali yang menahan pos tetap utuh, menerjemahkan kekacauan menjadi tugas-tugas kecil yang bisa dikerjakan orang.
Maharani menyelesaikan balutan Oddie dan baru menyadari tangannya berlumur darah sampai pergelangan. Ia memandang darah itu, lalu memandang tenda yang dipenuhi anak-anak yang masih bernapas, perempuan yang masih hidup, pasien lama yang masih di sudutnya. Di luar, helm biru telah menembak — dan lembah masih punya orang-orang yang hidup karena tembakan itu menahan, bukan membantai.
Ia pernah membenci senjata di pos ini. Ia pernah berdiri di tepi sungai membenci garis yang melarangnya bertindak. Kini ia mendengar peluru terukur Wanto sebagai sesuatu yang lain: bukan pelanggaran nurani, bukan pula kepatuhan buta, melainkan pembelaan yang sah atas orang-orang yang tidak punya siapa-siapa lagi.
Fatou datang dengan baskom air, menuangkannya ke tangan Maharani tanpa diminta. Mata mereka bertemu sesaat. Tidak ada kata. Di utara, mesin truk menyala lagi. Gelombang berikutnya sedang disusun. Kepungan baru saja dimulai, dan malam masih panjang.
Maharani mengeringkan tangannya, mengambil kasa baru, dan menunggu pintu tenda terbuka lagi.