Bangunan itu berdiri di pinggir lembah, dekat jalan yang menuju pasar, sebuah kerangka beton dan bata yang sudah lama kehilangan atap dan jendela dan, untuk waktu yang lebih lama lagi, kehilangan tujuannya. Adama membawa Maharani ke sana pada sore yang tenang, ketika debu tidak terlalu tebal dan matahari sudah cukup rendah untuk dipandang.
"Dulu ini sekolah," kata Adama. Ia berdiri di ambang yang dulu pintu, tangannya menyentuh kusen yang berlubang peluru. "Aku belajar di sini. Membaca pertama kali di ruangan itu." Ia menunjuk ke sudut yang kini penuh puing. "Lalu perang datang, dan sekolah jadi gudang. Bukan gudang beras. Gudang senjata. Selama bertahun-tahun, anak-anak lembah ini tumbuh tahu satu hal tentang bangunan ini: di dalamnya ada yang membunuh, bukan yang mengajar."
Maharani memandang sekeliling. Ia bisa melihatnya: rak-rak yang dulu mungkin berisi buku, lalu berisi peti amunisi, kini berisi tidak ada apa-apa kecuali bayangan dan sarang burung. Sebuah papan tulis tua masih tergantung miring di salah satu dinding, permukaannya tergores, dan ia bertanya-tanya apa yang terakhir ditulis di sana sebelum kapur diganti mesiu.
"Aku ingin mengembalikannya," kata Adama. Suaranya datar, tapi Maharani sudah cukup lama mengenalnya untuk mendengar apa yang ada di bawah datar itu. "Bukan karena lembah butuh sekolah. Lembah butuh banyak hal. Air, klinik, jalan. Tapi sekolah ini," ia menepuk kusen sekali, "sekolah ini harus jadi sekolah lagi, justru karena ia pernah jadi gudang senjata. Supaya anak-anak yang tumbuh di lembah ini tahu bahwa bangunan bisa berubah. Bahwa tempat yang dulu menyimpan kematian bisa menyimpan kata-kata lagi. Kalau bangunan bisa, mungkin orang juga bisa."
Maharani memikirkan Adama yang ia temui di hari pertama, di bawah menara pengawas, penerjemah dengan wajah waspada yang menjaga jarak dari orang asing yang datang dan pergi. Yang menerjemahkan kata-kata kedua faksi dengan ketelitian yang ia kemudian sadari adalah cara bertahan hidup: salah satu kata bisa berarti maut bagi pembawanya. Adama yang menerjemahkan kebohongan dengan rapi karena pekerjaannya adalah menyampaikan, bukan menilai. Adama yang nyaris dijadikan kambing hitam, yang nyaris diserahkan ke faksi yang berarti kematian, yang diselamatkan Maharani karena Maharani menolak membiarkan satu lagi nyawa hilang ke dalam celah birokrasi.
Dan kini Adama yang sama berdiri di reruntuhan sekolah masa kecilnya dan bicara tentang membangun masa depan dengan tangannya sendiri. Bukan menerjemahkan masa depan orang lain. Menulisnya.
"Pos punya bahan," kata Maharani, dan ia sudah memikirkannya sebelum kalimatnya selesai. "Barikade yang dibongkar. Kayu, seng, beberapa palet semen yang tidak terpakai. Bagas akan menyetujui, dia sudah mencari cara mengurangi jejak militer pos sekarang setelah kepungan usai. Mengubah bahan perang jadi bahan sekolah, dia akan suka itu. Dan ada satu kontainer di pos yang sudah kosong, yang dulu jadi gudang amunisi cadangan. Kita bisa pindahkan ke sini, jadikan ruang kelas sementara sambil bangunan diperbaiki. Dan klinik. Kita bisa sisihkan satu ruang untuk klinik. Anak yang sekolah dan ibu yang berobat di tempat yang sama."
Adama memandangnya, dan untuk pertama kalinya dalam ingatan Maharani, ia tertawa. Bukan senyum kelelahan yang nyaris jadi tawa. Tawa sungguhan, pendek dan terkejut, seakan ia sendiri tak menyangka tubuhnya masih bisa.
"Kau tahu," katanya, "di hari pertama, ketika kau datang dengan kotak obatmu dan keyakinanmu bahwa nyawa tidak punya bendera, aku pikir kau salah satu dari mereka. Orang asing yang datang dengan ide besar dan pulang sebelum musim kering berikutnya, meninggalkan ide besarnya membusuk di lembah kami seperti semua ide besar sebelumnya."
"Aku memang akan pulang," kata Maharani pelan. "Suatu hari nanti. Itu bagian dari pekerjaan ini. Aku selalu pulang."
"Aku tahu," kata Adama. "Tapi itulah bedanya. Sekarang aku tidak takut kau pulang. Karena yang kau bangun di sini tidak pulang denganmu. Sekolah ini akan tinggal. Klinik akan tinggal. Penolong persalinan yang kau latih akan tinggal. Itu yang aku tidak mengerti di hari pertama. Orang asing yang baik bukan yang menyelamatkan kami. Orang asing yang baik adalah yang membuat kami bisa menyelamatkan diri sendiri setelah dia pergi."
Mereka mulai bekerja minggu itu. Bukan upacara besar, bukan pita yang digunting. Adama datang ke reruntuhan setiap sore selesai tugas, mengangkut puing dengan gerobak, dan perlahan orang lain bergabung. Beberapa pemuda dari kamp pengungsi, yang dulu nyaris direkrut milisi, kini mengangkat batu untuk membangun ruang tempat adik-adik mereka akan belajar. Seorang tukang kayu tua dari faksi barat datang dengan perkakasnya tanpa diminta, dan keesokan harinya seorang tukang batu dari timur muncul, dan keduanya bekerja di bangunan yang sama tanpa banyak bicara, karena ada hal-hal yang tak butuh penerjemah.
Maharani berdiri di pinggir suatu sore, memandang papan tulis tua yang sudah dibersihkan dan digantung lurus, masih kosong, menunggu. Dan ia berpikir bahwa dari semua hal yang ia saksikan di lembah ini, ini mungkin yang paling membumi dan paling penting: bukan panglima perang yang ditangkap, bukan negosiasi di jembatan, bukan reformasi protokol di ruang dingin. Melainkan seorang lelaki yang dulu menerjemahkan kata-kata orang lain, kini menulis kata pertama di papan tulis sekolahnya sendiri. Kata itu sederhana, dalam bahasa lembah, dan Adama menerjemahkannya untuk Maharani sambil menulis. Pulang. Itu kata pertama yang ingin ia ajarkan. Bukan perang, bukan damai, bukan kemenangan. Pulang.