Elva Alessia Ardana berdiri di depan cermin besar di kamarnya, menatap bayangan dirinya sendiri dengan mata yang sulit dijelaskan. Tubuhnya tinggi dan langsing, lekuknya sempurna seolah diciptakan untuk menarik perhatian. Kulitnya putih bersih, mulus bak salju yang belum tersentuh matahari—nyamuk pun seakan tak berani mendekat.
Piyama putih tipis membalut tubuhnya, nyaris memperlihatkan garis-garis lembut di d**a yang cukup besar untuk seorang gadis perawan seumurannya. Bokongnya menonjol indah, membentuk kontras yang memikat dengan pinggang ramping. Refleksi itu menatap balik padanya, menantang dan menggoda sekaligus.
Elva menghela napas panjang. “Seberapa jauh aku bisa bertahan?” gumamnya pelan, suaranya nyaris seperti bisikan. Matanya yang besar dan berbinar mencoba menangkap sesuatu dalam cermin, mencari jawaban yang mungkin tidak pernah ia temukan.
Lalu, langkah berat terdengar dari luar kamar. Hatinya berdegup lebih cepat, campuran antara rasa takut dan sesuatu yang jauh lebih menggelitik. Pintu terbuka perlahan, dan sosok yang selama ini menghantui pikirannya muncul dengan jas hitam yang rapih dan aroma parfum yang khas, menyusup masuk tanpa permisi.
Rafa.
Tatapannya dingin tapi penuh gairah, seperti badai yang menunggu untuk meledak. Matanya tidak pernah lepas dari tubuh Elva, membuat bulu kuduknya meremang tanpa bisa dijelaskan.
“Sudah lama aku ingin melihatmu seperti ini,” suaranya dalam dan berat, membuat udara di ruangan itu tiba-tiba menjadi panas.
Elva hanya bisa menahan napas, merasakan sensasi aneh yang mengaduk-aduk seluruh indra dan pikirannya. Ada sesuatu yang salah, tapi dia tak mampu menolak.