Setelah lewat satu jam pelajaran, akhirnya bel istirahat berdering. Seketika murid-murid beranjak dari duduknya, tentu setelah berucap terimakasih pada guru.
“Nanti kamu mau makan apa, Keya?” tanya Mila selagi tangannya sibuk menyimpan bukunya di tasnya.
“Biasa. Ayam semur, sukaan aku,” jawabnya, sebelum balik melontarkan pertanyaan yang sama. “Kamu sendiri, makan apa?”
Mila menyengir, dan menyusul berjalan di samping Keya menuju ke luar kelas. “Aku makan sup sayur aja nanti, sama buah, dan tanpa nasi. Mau diet aku, Key.”
Keya meliriknya dengan mata menyipit, tak percaya. “Ah, yang benar … ”
“Ih, ini serius aku mau diet. Berat badan ku udah mau 50 tau. Di ejek buntel sama abang tadi pagi, nyebelin banget! Makanya aku mau diet!” mantapnya semangat sambil mengangkat satu tangannya meninju ke langit.
Oke, seharusnya begitu, tapi seperti dugaan Keya, gadis itu lagi-lagi melenceng dari tujuannya.
Keya menatap Mila dengan datar, sambil menyuapkan makanannya ke mulutnya sendiri. Gadis yang tadi berkata semangat untuk diet, sekarang duduk di depannya dengan dua porsi soto ayam dan satu gelas besar es teh.
“Lapar aku, Key, jadi dietnya besok aja,” ucap Mila beralasan. Dan Keya hanya bisa mendengus kasar sambil memutar bola matanya.
Di saat mereka sedang asik menyantap makan siangnya, tiba-tiba sekelompok murid laki-laki mendatangi meja panjang yang mereka tempati itu.
Salah satunya bahkan dengan santainya duduk di samping Keya, dan menaruh lengannya di sandaran kursi belakang bahu gadis itu.
“Hi, my baby Keya. Lagi makan apa, Sayang?” tanyanya dengan nada main-main, sedangkan teman-teman se-gengnya itu bersiul menggoda sebelum tertawa.
Sangat … menyebalkan. Itu lah yang di rasakan Keya sekarang. Ia menoleh sinis, ketidaknyamanan terlihat jelas dari gestur tubuhnya yang bergeser memberi jarak.
“Kamu ngapain?” tanya Keya jutek.
“Nemenin kamu dong, Sayang.” Ia menyeringai nakal, membuat Keya menatapnya semakin jijik.
Bahkan Mila yang mendengarnya, sampai rasanya ingin memuntahkan kembali makanannya dan melemparnya ke laki-laki sok keren itu.
Salah satu temannya menceletuk. “Keya, udah dong ngambek nya.”
Murid di sampingnya menambahi. “Kan, Erga nganterin Luna cuma karena kasihan, bukan karena apa-apa, kok. Ya, kan, Ga?” Ia menaikkan dagu menatap laki-laki di samping Keya.
“That’s true, beb. Yang aku sayang kan cuma kamu, Luna gak ada apa-apa nya di banding kamu, sweety,” bujuk Erga sambil jemari tangannya memainkan ujung rambut Keya yang bergelombang.
Mila mendengus kasar sampai menarik perhatian laki-laki itu. Gadis itu berdecih dengan raut muak yang tak segan ia tutupi.
“Racun banget omongannya. Itu kalau di sandingkan sama bisa ular Black Mamba kayaknya bisa ularnya gak ada apa-apanya di banding omongannya,” gumam Mila namun masih bisa di dengar oleh mereka.
Rahang Erga mengeras mendengarnya, tatapannya tajam menatap Mila. ‘Nih, cewek ganggu mulu, anj*ng,’ batin laki-laki geram.
Keya menyadarinya tatapan Erga pada Mila, sontak ia mencetus, “Gak usah lihat teman aku kayak gitu. Lagian yang dia bilang itu benar kok, omongan kamu itu racun.” Keya pun beranjak dan mengajak Mila pergi.
Erga langsung menahan tangannya. “Please, beb … aku gak bermaksud buat kamu marah atau nyakitin hati kamu. Luna yang maksa-“
“Shut up, baby,” potong Keya rendah.
Ia membungkuk, dengan tangannya bertumpu di bahu laki-laki itu. Membuat laki-laki itu kesusahan menelan ludah karena kedekatan mereka yang tidak di sadari Keya sendiri.
Namun yang di katakan gadis itu setelahnya, berhasil membuat ekspresi Erga berubah tak menyangka.
“Aku muak sama sikap kamu. So, we have to break up, alias putus!” tukas gadis itu seketika, dan langsung pergi dari sana menghiraukan panggilan laki-laki itu.
Di tengah ramainya kantin, suara panggilan Erga menggema sampai murid-murid menoleh penasaran. Namun Keya tak menoleh, padahal sejujurnya lututnya sudah hampir mau copot.
‘Sial, baru putus doang, kenapa rasanya kayak habis nantang mafia sekolah?!’ batin Keya baru merasa panik setelahnya.
Hampir semua murid di SMA Cakrawala, sekolah swasta bergengsi ini kenal dengan Keyyanara Ishikana, gadis berparas cantik dan tubuh yang ideal. Karena itulah ia di jadikan brand ambassador sekolah, dari situlah banyak yang mengenalnya.
Dan hubungannya dengan salah satu anak donatur, yaitu Erga Devano juga telah banyak yang mengetahuinya. Dari awal masuk sekolah, laki-laki itu terus saja mengejar Keya meski banyak murid perempuan mengelilinginya.
“Gila tuh cowok,” maki Mila setelah mereka berhasil keluar kantin. “Semoga aja gak ngejar, Key. Dia itu dari awal udah ngincar kamu tau, makanya aku bilang jangan mau pacaran sama tuh cowok. And see, he’s real jerk, right?” omel nya sembari mereka berjalan beriringan.
Keya menghela napas panjang. “Yaudah lah, Mila. Namanya juga pengen coba, aku kan juga penasaran gimana sih rasanya pacaran sama cowok b******k playboy itu.”
“Iya, kamu itu sekali bloon nge-bloon banget. Sekali mancing, dapat piranha, mana piranha nya di bawa pulang lagi,” ucap Mila kesal.
“Btw, kaki aku masih lemes,” ucap Keya sambil berusaha berjalan normal.
“Tadi acting kita gak keterlaluan, kan? Ngeri juga kalau sampai tuh anak donatur dendam sama kita,” Mila menggandeng lengan Keya untuk keseimbangan langkahnya yang agak gemetar sejak keluar kantin.
Keya menoleh ke belakang, memastikan mereka sudah jauh dari laki-laki itu. “Haduh, mampus deh aku, Mila. Ternyata ngejar anj*r!” sontaknya segera berlari menarik lengan Mila, kala melihat Erga menyusul di belakang mereka dengan wajah marah.
Mila menoleh sekilas dari bahunya, matanya seketika mendelik. “Ini sih bukan Erga lagi, ini Ergila?! Kenapa aku ikut di bawa lari, Keya!”
***
Sepulang dari sekolah, Keya langsung masuk ke kamar, melempar tasnya asal dan merebahkan tubuhnya di atas kasur. Hari ini terasa melelahkan, karena seharian ia bersusah payah menghindar dari Erga.
“Tau gini gak ku terima dia pas itu,” gumamnya menyalahkan kebodohannya saat itu.
Kemudian ia berteriak kesal dan menghentak-hentakkan kakinya di atas kasur. “Erga, b******k!”
Ia meremas geram bantalnya sampai kusut berharap rasa kesalnya mereda. Rasa marahnya semakin menjadi saat mengingat kejadian kemarin saat hujan.
Bisa-bisanya dia menawarkan tumpangan mobil ke siswi lain, di saat melihat pacarnya sendiri kehujanan.
“Apa, katanya? Luna yang maksa? Cuih! Jelas-jelas dia yang menawarkan sendiri, malah nyalahin orang,” omel Keya geram.
Tiba-tiba bel pintu rumah berbunyi, membuat Keya terduduk. “Siapa, ya? Oh, iya, Mama pulang hari ini!”
Segera ia berlari keluar kamar, menuruni tangga dengan langkah setengah berlari. “Eh, Bi, biar Keya aja yang buka!” serunya kala melihat Bi Sinta, si art yang baru keluar dari dapur.
“Oh, oke, Neng!” beliau kembali masuk ke dapur melanjutkan aktivitas memasaknya.
Keya membuka kunci pintu utama, dan membukanya dengan senyum lebar. “Mama!” serunya, dan langsung memeluk wanita itu.
“Oh, Sayang … kangen Mama, ya?” Weni mengusap kepala putri semata wayangnya.
“Ayo masuk, Mama bawa oleh-oleh dari Jogja buat kamu,” ajaknya yang langsung di angguki gadis itu.
Setelah melepas rindu dan bercengkerama, akhirnya mereka makan malam bersama di ruang makan.
“Ih, Mama tau gak, kemarin hari rabu Keya sama Mila kehujanan tau sepulang sekolah,” cerita Keya di sela-sela acara makan mereka.
“Kok, bisa? Emang gak di jemput Pak Artono?” tanya Weni. Pak Artono adalah supir pribadi yang di sewa Weni untuk antar jemput Keya, kemanapun putrinya pergi.
“Kan, Pak Artono izin libur hari itu, karena istrinya sakit. Mama lupa?”
Weni menepuk jidatnya. “Ah, iya, Mama lupa.”
Kemudian ia meminum air dalam gelas, sebelum melontarkan pertanyaan lagi.
“Terus, Erga mana? Kamu gak di antar dia pulang?”
Mendengar nama laki-laki itu, membuat nafsu makan Keya hilang seketika. Ia meneguk minumnya hingga tandas, sebelum berucap dengan sebal.
“Dia ngantar pulang cewek lain, emang sampah tuh cowok! Kalau aja dia bukan anak donatur, udah Keya ludahin mukanya, Ma!” cacinya tak tertahankan.
Weni mendelik sampai hampir terbatuk. “Hah? Kok- astaga … terus, kamu masih mau pacaran sama dia?”
“Udah putus. Takut Keya lama-lama sama dia,” cetusnya jujur.
“Bagus, emang harus di putusin.”
Melihat wajah masam putrinya, Weni berdeham dan membenarkan posisi duduknya, sebelum memberi pengumuman yang sangat tiba-tiba.
“Sudahlah, gak usah mikirin masalah dia. Kamu tenang aja sekarang, dia gak bakalan bisa ganggu kamu lagi, karena kita mau pindah,” ujarnya mengumumkan.
Seketika Keya menoleh dengan mata melebar. “Hah, pindah? Tiba-tiba? Kemana?” tanyanya cepat.
“Ke Jogyakarta, Sayang ku,” jawab Weni sembari beranjak dari kursinya dengan piring kotor di tangannya.
Alis Keya mengernyit, ia ikut mengekori mamanya ke dapur. “Jogyakarta? Bukannya Mama baru ke sana, soal bisnis? Tiba-tiba banget pindah ke sana?”
“Yah, Mama suka suasana di sana. Orangnya juga ramah dan baik. Lagian Mama juga di pindah tugaskan di sana, dan gak mungkin ninggalin kamu sendirian di sini, kan,” jelasnya.
Keya bersandar di meja dapur, sambil bersilang d**a menatap mamanya yang sibuk mencuci tangan.
“Em, suka suasana baru, atau suka orang baru di sana, Ma?” tanya Keya blakblakan.
Melihat sikap mamanya yang berubah, Keya langsung tau tanpa perlu di jelaskan. “Oooh! Mama dapat pacar selama kerja di sana, ya?!”
“Ih, Keya, udah deh. Iya-iya, pacar alias calon suami baru, dan calon Papa baru kamu,” jelas Weni dengan senyum berseri-seri.
Melihat mamanya yang akhirnya jatuh cinta lagi, setelah bertahun-tahun menyendiri sepeninggalnya papanya 3 tahun lalu. Keya ikut merasa bahagia melihat mamanya kembali ceria seperti dulu, dia berharap orang baru itu benar-benar mencintai mamanya dengan tulus.
“Dua hari lagi, Mama kenalkan kamu sama mereka.”
“Mereka?” alis Keya naik sebelah. “Emang calon Papa aku ada banyak?” cengonya.
Weni sampai menoleh menatap datar. “Bukan gitu, Keya. Mereka maksud Mama itu, calon papa kamu, dan calon abang kamu.”
“Abang? Abang tiri?”