"Apa?"
Alvin tak menanggapi protes isterinya. Ia malah tidur memunggunginya. Nabila, nama wanita itu, ia kesal setengah mati melihat ulah Alvin.
Tiba-tiba ia mendorong Alvin hingga jatuh ke lantai. Terdengar suara berdebum yang cukup keras. Nabila tertawa cekikikan.
"Aw, kamu kasar banget jadi perempuan." Alvin mengelus punggungnya.
"Penjahat macam lo wajib dikasarin." Nabila menjulurkan lidahnya ke arah Alvin.
"Penjahat apa? Wajah innocent gini."
"Kayak gue nggak tau aja kehidupan lo di luar negeri." Nabila mencibir sikap Alvin yang pura-pura polos.
"Tau apa kamu? Kamu pikir semua orang itu sama?" Alvin tak terima dituduh Nabila dengan semena-mena.
"Nyenyenye ...." Nabila menirukan ucapan Alvin.
"Jangan mentang aku laki-laki dan gak bisa buktiin ke kamu, terus kamu nuduh aku seenaknya, ya." Alvin kesal karena ia dituduh laki-laki murahan.
Alvin mengalah, ia berjalan ke arah sofa dan bersiap tidur. Badannya yang tinggi membuatnya tak nyaman tidur di sana. Tampak kakinya yang menjuntai ke lantai.
Ia menyudahi perdebatannya dengan Nabila, tak ada gunanya, toh ia tak akan menang, draw saja sudah untung.
Alvin memandang langit-langit kamarnya, kenapa hidupnya selalu seperti ini. Memang kesalahan apa saja yang pernah dilakukannya saat masa lampau?
Ah, ya ....
Selain menyiksa Nadia, dia juga pernah menyiksa kucing, mengganggu cicak kawin menggunakan lidi, juga kodok bekas praktek pelajaran biologi di lab.
Tapi saat itu 'kan ia masih belum dewasa? Apa semua binatang itu berdoa untuk kesengsaraannya?
Setahunya doa mahluk yang teraniaya itu diijabah. Menyesal sekali Alvin pernah menyiksa mereka. Penat berpikir akhirnya Alvin pun tertidur.
Tengah malam Alvin terbangun, ia ingin ke kamar kecil. Sementara Nabila tidur memakai selimut hingga ke ujung kepala. Udara malam ini memang terasa begitu dingin. Mungkin karena sedang musim penghujan, ditambah AC di ruangan itu.
Setelah bu4ng air kecil, dengan terkantuk-kantuk Alvin berjalan dengan memejamkan mata. Tanpa sadar ia tidur di atas ranjang, di samping Nabila.
*****
Malam berganti pagi, cahaya rembulan telah berganti hangatnya sinar mentari. Sulur-sulur cahaya merambat melalui celah-celah kelambu.
Alvin membuka matanya dengan susah payah, ia terbangun karena merasa sesak di dadanya.
Setelah mengumpulkan nyawanya yang tercecer, ia memfokuskan pandangannya. Tampak sebuah, eh bukan! Sepasang kaki yang mulus bertengger di atas dadanya.
Oh, cuma kaki. Apa? Kaki?
Alvin segera menyingkirkan kedua kaki itu dari atas dadanya, bukannya menjauh kedua kaki itu bak boomerang yang malah menghantam wajahnya.
"Bangun!"
Dengan kesal Alvin memarahi Nabila yang tidur bak kuda lumping. Nabila mengucek matanya dengan malas. "Apa?"
"Kamu biasa tidur seperti itu?"
"Apaan?"
"Mana ada wanita tidur seperti pemain sirkus?" protes Alvin.
"Jangan fitnah, gue kalau tidur kayak putri Aurora di Disney, anteng banget." Nabila menjawab dengan mata masih terpejam.
"Kalau anteng kenapa kepala kamu bisa ada di bawah?"
"Em, nganu ...."
"Apa kamu tidur berotasi searah jarum jam?" Alvin melemparkan bantal ke arah Nabila. Membuat Nabila kesal.
"Lagian lo ngapain ikutan tidur di sini? Bukanya semalam tidur di sofa?" Nabila menguap sambil meregangkan badannya, ia merasa cuek saja saat Alvin memandangi bagian bahunya yang melorot.
"Jangan mengalihkan pembicaraan," ujar Alvin.
"Bilang aja lo mupeng melihat gue tidur, dasar otak VPN lo!" tuduh Nabila. Ia menendang selimutnya ke arah Alvin.
Mupeng dari mana? Lihat saja wanita di depannya ini, muka tercetak motif bantal, rambut acak-acakan bak sarang burung. Beda sekali dengan ....
Ah, sudahlah Alvin. Tak baik mengingat isteri orang pagi-pagi.
"Biarpun kamu nari streaptis aku nggak bakal tergoda." Alvin berkata datar.
"Yakin?"
"Tipe aku nggak seperti kamu."
"Kalau gini?" Nabila bangkit dan mendekati muka Alvin, ia mengedip-ngedip polos-polos manja di depan Alvin.
Alvin menelan ludah karena gugup, mukanya memerah hingga ke telinga. Baru begitu saja ia sudah malu. Payah, seperti gadis muda saja. Alvin merutuki dirinya sendiri.
"Perempuan gila."
Alvin menutup muka Nabila dengan bantal. Kemudian ia pergi menuju kamar mandi untuk mencuci muka. Malu ketahuan tergoda oleh Nabila.
"Mau ke mana suamiku? Kita 'kan belum ngelakuin morning kiss ?"
"Morning kiss aja sama sandalku." Alvin melepaskan sebelah sandalnya dan melemparkannya ke arah Nabila.
Bukannya marah Nabila malah semakin semangat menggoda Alvin.
"Suami, oy suami ...."
"Gila!"