"Heh! Muka lo kenapa lagi? b***k amat!" Mega menegur Nadia yang sejak tadi cemberut sambil menggeser layar ponselnya dengan malas.
"Kalau gue b***k terus lo apa?" balas Nadia. Mega berdecak, ia sadar baru saja melecehkan seorang primadona kampus. Ia sadar, dirinya hanya bagaikan remahan rengginang jika disandingkan dengan Nadia.
"Buruan makan, tuh mi lo udah ngembang kayak tambang." Mega menggeser mangkok mi milik Nadia. Mi itu masih penuh, belum terjamah sama sekali. Mengherankan, karena setahu Mega mi ayam adalah makanan favorit Nadia.
"Lo mau? Makan aja. Gue nggak nafsu makan." Nadia menjawab malas seraya menggeser mangkoknya ke arah Mega.
"Terus ngapa lo pesen, Hayati? Lo Kebanyakan duit ?" Mega berdecak sebal. Kalau saja dirinya tidak kenyang, pasti tak akan dia tolak rejeki nomplok itu.
"Gue nggak enak sama Bang Sul. Masa gue duduk di sini tapi nggak pesen makanan." Nadia menyeruput es teh nya. Bang Sul adalah owner kantin ini.
Kebetulan Mega melihat Bimo yang sedang duduk di dekatnya. "Gue kasih si Bimo, ya?"
"Serah, belum gue apa-apain kok itu mi, masih virgin." Nadia masih fokus pada kegiatannya menggeser layar ponselnya.
"Virgin pala lo!" Mega mencubit pinggang Nadia, sembarangan saja bicara. Mana ada mi Virgin? Besok-besok ada mi janda juga.
Mega melambaikan tangan ke arah cowok yang dimaksud, cowok bertubuh bak atlit, em ... sumo, itu bergegas menghampiri.
"Apa?" tanya Bimo.
"Lo mau mi?" Mega menunjuk mangkok mi di depannya.
"Mau, tumben lo baik? Lo lagi ultah ya?" ujar Bimo senang.
"Kagak, gue abis menang binomo." Mega menjawab malas.
"Thanks ya, sering-sering sedekah kayak gini. Gue 'kan anak yatim." ujar Bimo seraya pergi membawa mangkok mi.
Mega menggeleng pelan, mana ada anak yatim setua itu? Ada-ada saja Bimo ini. Mega beralih ke Nadia, sahabatnya itu masih sibuk dengan ponselnya.
"Lo dari tadi ngapain, sih?" Mega sebal karena dari tadi Nadia mengabaikan dirinya.
"Nunggu telpon."
"Si Alvin?"
"Siapa lagi pacar gue?"
Mega mencebik, ia sudah menduga ini pasti gara-gara si biang keringat itu. Mega heran, apa yang membuat Nadia betah menjalin hubungan dengan cowok itu. Suka sekali disakiti, ini namanya sabar atau nagih?
"Ngapa nggak lo yang nelpon duluan, sih?" Mega bertanya keheranan.
"Gengsi."
Mega memutar mata, cewek dan gengsinya. "Pasti lagi konflik. Bukannya kalian semalem baru ngerayain anniversary?"
Nadia melirik malas ke arah Mega, ia menjawab dengan lirih. "Dia nggak dateng."
"Apa? Nggak dateng? Parah!" Mega berteriak sambil memukul meja. Nadia memegangi gelas es teh miliknya yang hampir tumpah.
"Emang." Nadia menghela nafas berat. Seperti dadanya ditimpa barbel Agung Hercules.
"Pasti gara-gara si ular kadut itu lagi, ya?" tebak Mega, tepat sasaran. Yang dimaksud Mega adalah Karin. Gadis yang dianggap Alvin seperti adik sendiri.
Gadis itu bagai duri dalam daging bagi hubungan Alvin dan Nadia. Sebagian besar masalah yang timbul diantara mereka, sebagian besar bersumber dari si Karin ini.
"Hm ... Lo tau, nggak? Gue nungguin dia ampe cafe mau tutup, gue ampe diusir ama waiters di sana." Akhirnya Nadia tak tahan juga untuk tidak bercerita pada Mega.
"Bucin banget, sih! Lagian ngapa lo nggak manggil gue?" cibir Mega.
"Udah, telpon lo sibuk mulu, bangsul!" Nadia kesal karena teringat kejadian semalam. Berulang kali ia mencoba mengubungi Mega, tapi tak sekalipun diterima.
"Oh, iya. Gue kemarin telponan ama Ferdi ampe malem." Mega senyum sok imut sambil memamerkan deretan behel yang baru dipasangnya dua hari lalu. Masih berkilau, buricak burinong kata orang Sunda.
"Gue mau putus aja 'lah! Capek gue diginiin terus." Nadia menelungkup di atas meja. Ia membenturkan pelan dahinya ke meja.
Mega mencibir, tak yakin dengan tekat sahabatnya dari PAUD itu. Ini sudah sering terjadi. Tapi besoknya Nadia sudah kembali bersama Alvin. Seperti lingkaran setan. "Halah, ntar dia ngasih seblak aja lo luluh lagi."
Nadia menertawakan dirinya sendiri. "Murahan banget gue, ama seblak aja luluh."
Mega merasa prihatin juga dengan beban hidup temannya itu. Walau sebagai penonton, ia merasa sedikit muak juga.
"Emang apa, sih? Yang buat lo berat ninggalin dia?" Mega mengelus pelan bahu Nadia, mencoba memberi dukungan.
"Lo 'kan tau, gue nih cewek setia. Gue nggak mau ganti-ganti pacar kayak lo. Kalau bisa gue pacaran sampai nikah." Nadia memang tidak mau repot move on melupakan mantan setelah putus.
"Namanya juga masa pencarian, wajar 'lah ganti-ganti. Nyari yang pas kan nggak mudah?" Mega merasa sebal karena Nadia membawa-bawa namanya.
"Kayak sandal jepit aja, putus nyari yang baru." Nadia mencibir.
"Nenek gue aja sebelum ketemu kakek gue juga gitu." Mega tak terima dengan pendapat Nadia yang menyindir kebiasaannya berganti pacar.
"Nurun ke lo, nenek lu fuckgirl juga, ya?" Nadia malah balik meledek Mega.
"Udah, ngapa bahas nenek gue, sih? Fokus ke masalah lo." Mega berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Pokoknya gue mau putus!" kata Nadia lagi.
"Gue dukung!" Mega menyahuti dengan semangat yang menggebu.
"Kok lo ngomporin gue?" tanya Nadia curiga.
"Siapa yang ngomporin lo, sih? Sebagai temen yang baik, gue ngenes liat lo. Masih pacaran udah dipoligami."
"Ntar kalau gue nyesel gimana?" Semangat Nadia kembali surut. Ia tak yakin bisa move on dari Alvin, mengingat Alvin adalah cinta pertamanya.
"Hilih, k*****t!" Mega memukul bahu Nadia dengan kesal. Ia gemas dengan sifat Nadia yang plin plan. Mega lelah memberi pencerahan kepada sahabatnya ini.
"Seriusan, gue takut nyesel setelah mutusin dia." Nadia jadi semakin bimbang.
"Kayak lo nggak laku aja. Gue yakin setelah putus dari dia sebulan kemudian udah ada yang nembak lo."
"Cepet amat?"
"Emang kenapa? Lo 'kan nggak perlu masa Iddah kek orang cerai."
Nadia mempertimbangkan usul Mega. Ada benarnya juga. Ia harus berani memulai, ia tak mau terus terpaku di satu titik. "Ntar kalau gue kangen ama dia gimana?"
Mega menjambaki rambutnya sendiri. "Sebenernya lo niat putus nggak, sih?"
Mega kesal karena Nadia mulai lembek lagi. Putus tinggal putus, nggak perlu pakai ke pengadilan agama aja susah banget, Mega mengeluh dalam hati.
"Nggak tau."
"Ini yang bikin lo diremehin ama si Alvin gelo itu. Lo lembek gini!" Mega mulai emosi sendiri.
"Gitu, ya?"
"Hadeh, lo nggak bosen dinomor duakan sama dia?" Mega jadi kasihan kepada Nadia, ia jadi teringat sosok istri yang teraniaya di sinetron.
"Si Karin itu udah tanggungan dia, Mega!" Nadia membela diri. Ia berusaha positif thinking kepada Alvin, walau susah.
"Gue ngeliat posisi lo udah kek istri kedua, dia yang bini tua." Mega mencibir.
"Gue capek!" Nadia tak tahan lagi. Ia merasa hibungannya dengan Alvin hanya berputar-putar di satu titik, dan ia mulai muak.
"Karena lo nggak ada niatan mengakhiri ini semua." Mega mengelus punggung Nadia.
"Iya juga, sih." Nadia membenarkan ucapan Mega. Semua memang tergantung padanya.
"Mau dipikirin ampe otak lo varises juga nggak bakal nemu solusinya."
Benar juga, Nadia sudah sering membicarakan masalah yang sama dengan Alvin. Selalu buntu.
"Separah itu, ya?"
Mega memutar bola mata malas, "Emang lo nggak ngerasa?"
"Terus gue harus gimana?" Nadia merasa lelah pikiran, ia bertekad mengakhiri semua keruwetan ini. Ia akan mengikuti semua saran Mega.
"Di kosan 'kan ada tipi?"
"Terus?" Nadia tak paham maksud Mega. Kenapa jadi bahas televisi?
"Ntar sore lo tonton chanel ikan terbang."
"Sinetron azab?"
"Kelar itu."
"Apa, sih?"
"Suara hati istri, cocok ama kisah lo."
"Bangsul!"
***