Lima tahun berlalu.
Grand Ballroom hotel yang sama kembali dipenuhi dengan kemewahan, namun kali ini suasananya jauh lebih eksklusif. Acara lelang amal tahunan ini dihadiri oleh para taipan papan atas dari seluruh negeri. Di tengah kerumunan, Bara berdiri dengan segelas wine di tangannya, meski pikirannya terasa hampa. Hidupnya sukses secara bisnis, namun ada kekosongan aneh yang selalu menghantuinya sejak malam perceraian lima tahun lalu.
"Bara, lihat ke sana," bisik Elena—kini istrinya—yang berdiri di sampingnya dengan gaun yang sangat mahal. Namun, suaranya terdengar tegang.
Bara menoleh ke arah pintu masuk aula. Saat itulah, musik latar seolah berhenti di telinganya.
Seorang wanita melangkah masuk.
Dia mengenakan gaun hitam satin dengan potongan punggung terbuka yang elegan namun berani. Berlian melingkar di lehernya, berkilauan setiap kali dia bergerak. Rambutnya disanggul modern dengan gaya yang memancarkan otoritas. Namun, yang paling membuat orang terpaku adalah tatapan matanya—tajam, tenang, dan memiliki aura seorang ratu yang tidak bisa diganggu gugat.
Itu Kiara. Namun, bukan Kiara yang dulu tampak kusam dan pendiam. Dia terlihat seperti versi dirinya yang paling mematikan dan mempesona.
"Siapa dia?" bisik salah satu tamu.
"Itu Kiara, mantan istri Bara. Kau tidak dengar? Dia sekarang adalah CEO dari grup investasi asing yang baru saja mengakuisisi separuh saham industri mode di kota ini."
Bisikan itu menyebar seperti api. Bara mematung. Gelas di tangannya hampir terlepas. Dia tidak bisa memalingkan pandangan. Wanita yang dulu ia buang layaknya sampah, kini berdiri di sana dengan status yang bahkan lebih tinggi dari dirinya.
Kiara tidak berjalan ke arah Bara. Dia justru dikelilingi oleh para pewaris kekayaan yang berebut untuk sekadar berbicara dengannya. Dia tersenyum—senyum yang indah namun dingin—membuat para pria di sekitarnya tampak tunduk.
Tiba-tiba, Kiara berbalik. Tatapannya bersinggungan langsung dengan Bara.
Bara merasa seolah-olah waktu berhenti. Dia ingin melangkah mendekat, ingin mengatakan sesuatu, namun kakinya seolah terpaku di lantai. Aura Kiara terlalu kuat, membuat siapa pun yang menatapnya merasa kecil.
Kiara tidak membuang muka. Dia justru memberikan anggukan kecil yang meremehkan ke arah Bara, lalu kembali berbincang dengan rekan bisnisnya seolah Bara hanyalah orang asing yang tak penting.
Bagi Kiara, ini adalah awal dari rencananya. Bara tidak perlu didekati dengan kemarahan; dia akan dihancurkan dengan cara yang lebih elegan. Keberhasilan Kiara di depan mata Bara adalah tamparan paling menyakitkan bagi pria yang dulu menganggapnya tidak berharga itu.
Kiara menyesap champagne-nya dengan santai. Dia bisa merasakan napas Bara yang memburu dari kejauhan. Permainan baru saja dimulai, Bara, batinnya tenang.
Malam ini, dia bukan lagi istri yang diceraikan. Dia adalah ancaman yang akan mengambil alih segalanya.
Bara tidak bisa memfokuskan dirinya pada pembicaraan bisnis. Matanya terus mencuri pandang ke arah Kiara. Namun, tiba-tiba sebuah suara melengking memecah kerumunan.
"Dasar wanita tidak tahu diri! Berani-beraninya kau muncul di sini setelah dipermalukan anakku lima tahun lalu!"
Itu suara Mama Bara. Wanita paruh baya itu melangkah mendekat dengan angkuh, diikuti Bara dan Elena di belakangnya. Dia menatap Kiara dengan kebencian yang sama seperti dulu, seolah Kiara masih menantu yang bisa ia injak-injak.
Elena menyeringai, merasa memiliki bala bantuan. "Benar, Ma. Dia datang ke sini hanya untuk cari perhatian."
Kiara membalikkan tubuhnya perlahan. Ia tidak menunduk seperti dulu. Ia menatap mata wanita tua itu dengan sorot mata sedingin es yang membuat Mama Bara terhenti sesaat.
"Ah, Tante," sapa Kiara dengan nada yang sangat tenang, bahkan terdengar sopan namun menusuk. "Masih sama seperti dulu, ya. Hobi mencampuri urusan orang lain."
"Jangan berani-berani kau menyebutku Tante!" bentak Mama Bara. "Kau hanyalah bekas menantu yang dibuang karena tidak becus melayani suamimu!"
Bara yang berdiri di sana merasa gelisah. Ia ingin menghentikan ibunya, tapi egonya tertahan. Ia ingin melihat bagaimana Kiara bereaksi.
Kiara tertawa kecil. "Tante, apakah Anda sudah lupa fakta kecil? Perusahaan keluarga yang Anda banggakan, termasuk rumah mewah tempat Anda tinggal sekarang, sebagian besar sahamnya telah saya akuisisi minggu lalu."
Suasana di sekitar mereka mendadak senyap. Tamu-tamu lain mulai menoleh ke arah mereka.
Wajah Mama Bara memucat. "Apa... apa yang kau bicarakan? Jangan berbohong!"
Kiara mengeluarkan sebuah dokumen tipis dari tasnya dan menyerahkannya kepada Bara. "Bara, mungkin kau bisa menjelaskan pada ibumu. Bahwa mulai hari ini, keputusan besar di perusahaanmu ada di tanganku. Dan jika ibumu terus berbicara sekasar ini, saya tidak akan ragu untuk menyita aset terakhir yang dia banggakan."
Bara membaca dokumen itu dengan tangan gemetar. Itu benar. Kiara benar-benar telah memegang kendali atas aset mereka.
"Kau... kau melakukan ini hanya untuk membalas dendam?" tanya Bara dengan suara parau.
Kiara melangkah mendekat, membisikkan sesuatu yang hanya bisa didengar oleh Bara dan keluarganya. "Bukan balas dendam, Bara. Ini namanya keadilan. Dulu kau dan ibumu menganggapku tidak berharga. Sekarang, setiap sen yang kalian habiskan adalah hasil belas kasihan dariku."
Kiara melirik Adrian, pria yang berdiri di sampingnya. "Adrian, ayo pergi. Tempat ini mulai berbau sampah."
Kiara berjalan pergi dengan anggun, meninggalkan Mama Bara yang terduduk lemas karena shock, dan Bara yang terpaku dengan rasa malu yang membakar harga dirinya. Elena hanya bisa menatap Kiara dengan mata yang dipenuhi rasa takut.
Malam itu, Bara menyadari bahwa ia tidak sedang berhadapan dengan mantan istrinya yang dulu. Ia berhadapan dengan predator yang sudah memegang leher perusahaan keluarganya.
Satu minggu setelah pesta lelang, suasana di kediaman mewah keluarga Bara jauh dari kata tenang. Kabar tentang Kiara yang kini memegang kendali atas sebagian besar aset keluarga telah menjadi skandal yang menghancurkan reputasi mereka di kalangan elit.
Di ruang tamu, Mama Bara duduk dengan wajah pucat pasi. Ia terus menggenggam cangkir tehnya yang gemetar. "Bara, lakukan sesuatu! Aku tidak mau rumah ini disita oleh wanita tidak tahu diri itu! Bagaimana bisa dia mengambil semuanya?"
Bara hanya diam, memijat pelipisnya yang berdenyut hebat. Ia merasa terpojok dari segala sisi. "Aku sedang berusaha menstabilkan saham, Ma. Tapi setiap kali aku bergerak, ada tangan Kiara yang memotong jalanku."
Elena, yang berdiri di ambang pintu, mendengar percakapan itu dengan kemarahan yang meluap. Ia merasa tidak aman. Jika harta keluarga ini jatuh ke tangan Kiara, maka posisinya sebagai nyonya rumah akan hilang. Ia tidak bisa membiarkan itu.
Dia harus disingkirkan, pikir Elena dengan mata yang menyala penuh kebencian.
Tanpa sepengetahuan Bara, Elena pergi menemui seseorang di sebuah kafe tersembunyi—seorang pria bayaran yang dikenal di dunia hitam untuk melakukan pekerjaan kotor.
"Aku tidak peduli caranya," bisik Elena sambil menyerahkan sebuah amplop tebal berisi uang tunai. "Hancurkan reputasinya. Sebarkan foto-foto yang sudah kupalsukan, buat dia terlihat seperti wanita yang mendapatkan hartanya dengan cara menjijikkan. Aku ingin semua orang di kota ini meludahinya."
Pria itu tersenyum licik. "Mudah. Hanya butuh waktu dua puluh empat jam."
Namun, Elena tidak sadar. Di balik meja sudut kafe itu, seseorang sedang merekam seluruh percakapan mereka dengan lensa kamera yang tersembunyi.
Keesokan harinya, bukannya berita tentang Kiara yang hancur yang muncul di layar lebar kota, melainkan sebuah rekaman video yang sangat jelas memperlihatkan wajah Elena saat menyuap pria tersebut. Video itu diputar secara otomatis di semua layar digital raksasa di pusat bisnis, tepat di depan kantor Bara.
Ponsel Bara bergetar hebat. Pesan masuk dari asistennya: 'Tuan, lihat layar di pusat kota. Nyonya Elena... dia baru saja menghancurkan reputasi perusahaan kita sendiri.'
Di kantornya, Kiara menyesap kopinya dengan santai sambil menonton siaran langsung di televisi. Ia tidak perlu turun tangan untuk menjatuhkan mereka. Cukup dengan sedikit "umpan" yang ia letakkan di jalan Elena, wanita itu sendiri yang akan menggali kuburannya.
Pintu kantor Kiara diketuk. Adrian masuk dengan senyum lebar. "Kiara, rencanamu berhasil sempurna. Sekarang polisi sedang dalam perjalanan menjemput Elena atas tuduhan percobaan pencemaran nama baik dan fitnah."
Kiara tersenyum tipis. "Ini baru permulaan, Adrian. Mereka ingin bermain kotor? Mari kita lihat berapa lama mereka bisa bertahan di lumpur yang mereka buat sendiri."