Langit Andara
“s**l, pake acara kesiangan lagi.”
Sepeda motor lawas ini kukebut agar segera sampai tujuan. Bukan apa-apa, hari ini ada brefing dengan manager restoran karena ada penerimaan karyawan baru, bisa mati aku kalau sampai telat. Restoran tempat kerjaku selama dua tahun terakhir ini jaraknya memang tidak terlalu jauh dari kos-kosan, tapi tetap saja tidak akan sampai ditempuh dalam waktu 5 menit. s**l, gara-gara kemarin libur dan semalam bedagang main game online, malah tidur kebablasan.
Sepeda motor kutaruh asal di tempat parkir khusus karyawan. Benar saja, brefing sudah dimulai saat aku memasuki ruangan pertemuan. Manager restoran tengah berbicara dengan serius. Aku menyelinap pelan di antara barisan para karyawan. Saat berhasil berdiri di samping gadis yang sepertinya karyawan baru, dia langsung menghadap ke arahku dan matanya melotot sempurna.
“Andar ….”
“Suttt!” Belum sempat dia menyelesaikan ucapannya, mulutnya sudah kututup dahulu dengan tangan. Kalau sampai ketahuan telat, bisa bahaya aku. Gadis di sebelahku itu langsung diam dan menatapku seperti maling. Lalu, saat brefing usai, aku seperti menyadari sesuatu yang janggal. Gadis di sampingku hendak beranjak, tapi tangannya langsung kucekal. Gadis itu menghentikan langkahnya lalu berbalik ke arahku.
“Apa?” tanyanya dengan muka judes.
Aku meringis, lalu berkata seperti orang bodoh. “Annauri Senja?”
“Iya, kenapa? Udah pikun, ya, Pak Andara?” ucap gadis itu penuh penekanan.
Alih-alih menjawab, aku justru berujar, “Benar, ya kata orang. Cewek kalau udah jadi mantan malah makin cakep.”
Gadis di depanku itu hanya berdecih kemudian beranjak dari tempatnya.
Ya, gadis itu adalah mantan pacarku saat SMK dulu. Pesona seorang Andara yang terlampau ganteng ini memang susah ditolak, sehingga tidak sedikit perempuan yang mengantre untuk menjadi pacarku. Termasuk Annauri Senja, atau yang lebih sering kupanggil Senja. Sebagai siswi baru, dulu dia tergolong berani untuk mendekatiku yang sudah duduk di kelas 12. Ah, mengingat itu rasanya lucu juga. Namun, kenapa Senja sekarang galak seperti itu, ya? Setahuku, dulu dia gadis yang baik dan ramah. Ah, 6 tahun memang bukan waktu yang sedikit untuk bisa mengubah karakter seseorang. Hanya kegantenganku saja yang tidak pernah tergerus dan berubah oleh waktu. Ck
"Kenal?" Laki-laki berkacamata yang dari tadi memperhatikan aku dan Senja itu menghampiri.
"Kayaknya," jawabku sambil merapikan rambut yang sedikit berantakan.
"Gelo maneh. Kenal semua perempuan dari seluruh penjuru negeri kayaknya," seloroh Hendra kurang ajar.
Aku berdecak pelan, lalu beranjak sambil berucap, "Mantan, Bro."
Hendra menggumam samar. Entah apa yang dia katakan, toh itu tidak penting. Sekarang aku harus mulai bekerja dan bertemu Senja tentunya. Sepertinya menyenangkan menggoda Senja seperti tadi. Ck, gadis itu. Berani-beraninya mengataiku pikun. Rupanya keberaniannya sudah semakin bertambah, ya, sekarang.
Aku menghampiri gadis dengan seragam merah maroon dengan rok selutut warna hitam yang tertutup celemek warna senada dengan ukuran yang sedikit lebih pendek dari roknya. Rambutnya dikuncir kuda, sesuai dengan peraturan di restoran ini. Dia tampak serius memerhatikan beberapa hal yang tengah dijelaskan oleh Raka, rekan kerjaku selama dua tahun ini.
“Ka, yang ini biar gue aja,” ucapku memberi kode pada Raka, lalu beralih menatap Senja dan mengedipkan sebelah mata.
Gadis itu membuang muka lalu bergidik, sedangkan Raka sudah berlalu entah ke mana.
“Jadi, udah paham apa yang diajarin temen gue tadi?”
Senja hanya berdehem sambil terus membuang muka.
Ck, gadis ini memang harus diajari sopan santun.
“Kalau diajak ngobrol itu lihat ke orangnya, dong. Jangan buang muka gitu, gak sopan,” ujarku sambil menggeser tubuh ke dekatnya.
Gadis di depanku itu langsung menoleh, jarak wajah kami yang begitu dekat membuat Senja tertegun sejenak. Untuk beberapa saat, aku berhasil menikmati maha karya Tuhan ini. Setiap detail wajahnya tidak berubah, dia masih Senja yang dulu. Gadis dengan senyum hangat dan tatapan ramah. Bibir tipisnya sedikit terbuka yang membuatnya terlihat semakin menggemaskan.
Aku mengulum senyum, saat kemudian Senja menjauhkan wajahnya dan berteriak, “Dasar m***m!”
Setelah tadi pagi membuat keributan, siang ini Senja melewatiku begitu saja saat kami tak sengaja berpapasan di belakang dapur. Padahal, aku sudah dibuat malu olehnya. Semua karyawan menatapku dengan sorot yang entah. Aku hanya bisa menggaruk kepala yang tak gatal dan tersenyum garing tadi. Kini aku mencekal tangannya, tapi dia buru-buru melepaskannya.
“Woi, gak mau minta maaf?” semprotku dengan sedikit sewot.
“Lho, memangnya gue salah apa?” tanyanya tak kalah sewot.
Wah, udah berani ngomong lo-gue, nih ini anak. Apa gak ingat dulu saat dia mati-matian mengejar cintaku.
“Elah, pake pura-pura gak tahu, lagi. Gara-gara lo, gue jadi malu di depan karyawan baru yang cantik-cantik itu.”
“Salah sendiri pagi-pagi udah mes*m,” sungutnya. Bibir mungilnya itu terlihat semakin menggemaskan.
“Bukannya dulu suka, ya?” godaku sambil menaik turunkan alis.
Senja menghentakan kaki, berlalu dari hadapanku.
“Jalma gelo.”
Walaupun pelan, aku masih bisa mendengar gumamannya. Ck, sekarang dia sudah pintar mengumpat juga ternyata. Aku tersenyum tipis, kemudian berlalu menuju dapur. Mengikuti langkah Senja yang sudah jauh berada di depan.
****
Hari ini cukup melelahkan untukku. Mengajari anak-anak baru bukanlah hal yang mudah. Apalagi, jika mereka melakukan kesalahan, yang pertama akan dipanggil adalah trainer-nya. Untung saja karyawan baru hari ini termasuk yang cepat tanggap. Diajari sekali, langsung paham. Kerjaan mereka pun baik. Salah satunya Senja. Dia terlihat paling cekatan di antara karyawan yang lain. Ah, dasar gadis aneh. Waktu 6 tahun membuat banyak perubahan pada dirinya. Tadi pagi, saat aku mengatakan dia semakin cantik, itu bukan hanya gombalan belaka. Namun, memang kenyataannya seperti itu. Dulu, saat sekolah, dia memang sudah cantik, tapi masih sangat polos. Tanpa polesan bedak atau lipstik. Saat kami dulu sering jalan berdua di akhir pekan pun penampilannya tidak pernah terlalu mencolok. Berbeda dengan teman-teman sekelasku, yang jika berpapasan di luar sekolah kadang aku tidak mengenali mereka. Namun, kini Senja terlihat lebih menarik. Selain karena sudah kenal make up, dia pun pintar memadu padankan busana. Saat berpapasan di tempat parkir restoran siang tadi, dia tampak cantik dengan kaus pendek warna putih, rok panjang dan cardigan. Belum lagi rambut panjangnya yang dicempol asal, dengan poni dan beberapa anak rambut yang dibiarkan berantakan. Tambah manis dengan hiasan kepala yang entah apa namanya. Aku tidak terlalu paham dengan nama pakaian dan pernak-pernik wanita. Hanya tahu beberapa saja.
Andai dulu hubungan kami tidak berakhir, apa sekarang kami sudah menikah, ya? Aku menertawakan diri sendiri karena pikiran konyol itu.
Sudahlah, dari pada terus-terusan memikirkan gadis itu, lebih baik aku bergegas mandi. Badan rasanya sudah lengket dan bau dapur. Saat kebagian shift pagi seperti hari ini, sebenarnya tidak terlalu menyenangkan. Selain harus bangun awal, juga siangnya malas keluar. Untuk nongkrong bersama teman-teman, lebih asik jika dilakukan malam hari. Suasana kota lebih bagus. Melihat lampu-lampu kota yang gemerlap, juga kendaraan yang tidak terlalu banyak berlalu lalang, juga beberapa pedagang kaki lima yang menjajakan dagangan mereka dengan gerobak. Sekadar makan nasi goreng, atau minum bajigur di pinggir jalan bersama teman-teman saja sudah sangat menyenangkan. Berbeda dengan siang hari seperti ini, malas rasanya saat harus terjebak macet di tengah panasnya suasana kota Bandung.
****
Tanpa terasa hari sudah beranjak sore dan perut juga sudah berteriak minta diisi. Akhirnya, setelah bangun tidur dan mencuci muka, aku memutuskan untuk keluar mencari makan. Tujuanku adalah warung Ceu Diah. Selain masakannya enak, Ceu Diah juga orangnya baik. Suka ngasih lauk gratisan. Jadi bisa lebih hemat pengeluaran. Lumayan.
Warung Ceu Diah yang berada tak jauh dari kosan, membuatku lebih memilih untuk berjalan kaki. Suasana warung Ceu Diah selalu ramai pembeli. Entah itu pagi, siang, atau malam. Kadang aku berpikir, jika warung ini menggunakan pesugihan. Namun, selalu aku tepis jauh-jauh. Masalahnya, cuma ini warung makan terdekat dan yang punya juga gampang dirayu. Bodo amat sama air liur pocong atau kuntilanak. Asal makan kenyang, dan ngirit, ya gas saja.
“Loh, ini yang jualan ganti, kah?” tanyaku saat sampai ke warung dan hendak memesan makanan.
Perempuan paruh baya di depanku tampak kaget lalu menjawab, “Ganti gimana? Ini Ceu Diah atuh kasep.”
“Eh, iyakah? Kok, keliatan lebih muda.”
Ceu Diah tertawa sambil memukul pundakku pelan.
“Aduh, Ceu. Sakit banget ini dipukul-pukul,” rengekku.
Ceu Diah bukannya berhenti, malah semakin keras memukul pundakku.
“Dasar, suka banget ngegoda orang tua,” ucap Ceu Diah.
Aku hanya tertawa. Ini adalah jurus rahasia agar dapat makan banyak dan murah.
“Biasa, ya, Ceu.”
Ceu Diah tak menjawab, tapi tangannya sibuk menyiapkan nasi, bihun goreng, ayam kecap, tahu goreng, juga tak lupa sambal terasi dan lalapan. Menu yang setiap sore aku pesan. Kalau pagi, siang, atau malam tentu beda lagi, dan Ceu Diah sudah hapal tanpa perlu kukasih tahu. Atau terkadang, Ceu Diah akan menyajikan apa saja, dan aku tidak keberatan. Justru rasanya sudah seperti dilayani ibu sendiri.
“Ini, Jang.”
“Makasih, ya, Ceu.”
Ceu Diah berlalu ke tempatnya semula. Saat aku hendak menikmati makanan di piring, pandanganku teralihkan pada sosok perempuan yang seperti tidak asing bagiku. Alih-alih makan, aku justru menghampiri sosok perempuan yang tengah memesan makanan itu.
“Kalau jodoh emang gak kemana, ya,” ucapku pada sosok itu.
Keterangan : Gelo maneh – Gila kamu.
Jalma gelo – Orang gila.
Kasep – Ganteng.
Jang – Kependekan dari Ujang, yang merupakan panggilan untuk laki-laki lajang.