“ Apakah itu Manusia…?”
“ Siapakah Saya … ?”
“ Untuk Apa Saya Dilahirkan … ?”
Itulah yang selalu muncul dibenakku setiap aku membuka mata di pagi hari, biasanya aku membutuhkan waktu sekitar 15 menit untuk sekedar bangung dari kasur yang sangat nyaman ini. Didapur sudah teredengar suara kompor yang menyala, suara pisau, serta suara nyanian istriku yang sedang menyiapkan sarapan pagi untuk diriku dan putriku, yang tentu saja sama seperti aku yang masih rebahan di kasurnya. Istrika bernama Adriana, kami sudah menikah selama 14 tahun, sedangkan putriku bernana Cecil, yang tahun ini berumur 13 tahun, tepatnya bulan september nanti.
Adriana biasanya sudah bangun jam setengah 5 pagi, yang sampe detik ini menjadi misteri bagiku bagaimana dia bisa bangun sepagi itu, padahal kami berdua sama sama bekerja 8 jam perhari, kadang sering overtime. Jam tidur memang berbeda kurang labih 1 jam, karena aku biasanya merokok dan minum segelas kopi dahulu baru tidur, sedangkan adriana biasanya melihat drama dulu sebelum tidur, itu pun biasanya jam 9 sudah tertidur sedangkan smartphonenya dibiarkan menyala untuk melihat dia tidur. Seringkali aku bangunkan untuk sekedar mengingatkna bahwa smartphone nya masih menyala. Atau kadang aku bangunkan untuk hal yang lain juga hehehe.
Kurang lebih 5 menit setelah aku terbangun, drama pagi biasanya di mulai
“ Cecil, ayo mandi !, mau mandi jam berapa kamu ? “ Teriak Adriana.
“ Iya, aku sedang mengumpulkan nyawa dulu “ Balas Cecil.
“ Mau berapa lama mengumpulkan nyawanya?”
“ Lima menit bun…”
setiap hari dialog seperti itu pasti terjadi, terkecuali di hari minggu, karena kita semua pasti bangun siang.
Jujur saja cecil belajar mengumpulkan bahasa “ mengumpulkan nyawa “ karena mencontoh diriku ketika dibangunkan Adriana.
Biasanya urutan untuk mandi adalah Cecil terlebih dahulu, baru diriku, karena kami hanya memiliki 1 kamar mandi. Adriana tidak masuk hitungan karena biasanya sudah mandi dari jam 4 pagi .
Singkat Cerita, kurang lebih setengah jam kami melakukan proses itu setiap pagi ( Biasanya waktu sudah menunjukan pukul 6 pagi kurang 5 menit ). Biasanya aku akan kedepan untuk memanaskan mobil biru tua milik kami, sambil menunggu Adriana dan Cecil.
Perjalanan kami menuju tempat kerja kami masing masing dan sekolah cecil memakan waktu kurang lebih 45 menit. Adriana adalah seorang guru taman kanak kanak, dan cukup galak menurutku, sedang Cecil siswa kelas 7. Rute pertama adalah mengantarkan Adriana dahulu, biasanya di sekolahnya sudah penuh dengan orang tua yang mengantar anak anak nya ditempat Adrianan bekerja, dan disini aku harus menjaga emosi diri, karena pernah aku mengejar mobil yang menyerempetku , yang ternyata adalah orang tua siswa.
Setelah menurunkan Adriana, berlanjut ke sekolah Cecil. Proses menuju tempat Cecil bersekolah membutuhkan proses presisi mengeker mobil yang akurat, karena kami harus melewati dua sekolah yang cukup padat jalannya ( jujur saja aku bisa mengendarai mobil dengan cepat dan akurat karena setiap hari harus melewati jalanan seperti itu, jadi istilahnya learning by doing ).
Setelah memakan waktu 20 menit dari tempat Adriana bekerja, akhirnya kami tiba di sekolah Cecil.
“ Nanti jemput jam 3 ya “ kata Cecil
“ Siap Bos “ balasku
responku memuat mata cecil menyipit sinis menandakan dia tidak suka disebut bos, aku sering iseng menggoda dia seperti itu.
Setelah dua “ Bos” ku diantar , aku menuju ke tempat kerjaku , Jam absen kantorku pukul 8 pagi, sedangkan sekaramg masih menunjukan pukul 7 pagi, seperti biasa aku mampir ke “warkop “ langgananku yang posisinya tidak jauh dari tempat aku bekerja, Ketika sampai di warkop , seperti biasa aku disambut oleh Ibu Lena
“ Kopi seperti biasa mas?” sapa Bu lena
“ Seperti biasa bu hehehe “ Jawabku
sebenarnya Umur Ibu Lena dan Aku tidak terlalu jauh, hanya terpaut 2 tahun, tapi aura keibuan Ibu Lena sangat terasa, makanya aku langsung menyembut beliau ibu, walaupun beliau sering meminta untuk dipanggil teteh.
Biasanya di warung kopi Lena, aku menyiapkan diri selama setengah jam untuk bersiap kekantor. Jujur saja, tempat kerja ku menyenangkan , yang membuat tidak nyaman hanya kepala divisiku yang bernama Pak Bambang, yang sebagian besar kantor akui memang orangnya agak unik. Jika ada masalah di rumahnya pasti anak buahnya kena marah, entar dari tas kotor, sepatu kotor ,tadi malam telepon tidak diangkat, dan lainnya, yang menurutku bukan sesuatu hal yang perlu dipermasalahkan. Yang paling mengganggu adalah jika Pak Bambang sedang memiliki konflik dengan karyawan yang lain, Beliau pasti menggiring opini dan “ mewajibkan ‘ agar yang lain ikut tidak suka dengan orang yang berkonflik dengan beliau. Aku harus mempersiapkan “topeng” ramah dan tersenyumku untuk kupersipakan dikantor. Tempat kerjaku merupakan kantor distribusi alat alat perwatan industri, dimana posisi ku sebagai sales lapangan.
Tidak terasa setengah jam sudah berlalu , Aku pun langsung bergegas kekantor, hanya memakan waktu 5 menit untuk sampai tempat kerjaku. Tempat kerjaku merupakan sebuah rumah besar 2 lantai yang “disulap” menjadi kantor. Lantai Bawah diisi oleh para administrasi dan satu ruangan kepala cabang, sedang lantai dua diisi oleh ruangan divisi. Setelah memakirkan mobil di parkiram ,aku langsung bergegas mengisi absensi masuk , lalu menuju ke ruangankau, tidak lupa sambil memasang “ topeng “ senyumku .
Ruanagn divisi ku berada diposisi paling pojok, terus terang saja menurutku ruangan itu terlalu gelap. Sudah jam 8 kurang 10, belum ada yang masuk keruangan divisi, bianya yang lain lebih senang untuk berkumpul di halaman parkir, biasanya untuk mejilat para atasan atau bergosip. Ketika aku masuk ruangan divisi yang gelap itu, sudah ada “penunggu” ruangan yang biasa berdiri di pojok ruangan, Penunggu itu biasanya agak melayang karena kakinya tidak menempe di lantai, berambut pendek berwarna abu abu agak berantakan. Memakai fashion retro 70 an, aku memnggilnya Itin. Entah kenapa aku menyebutnya Itin, itu yang mencul dibenakku pertama kali ketika aku pertama kerja di tempat ini. Biasanya itin akan berpindah keruangan divisi sebelah dengan cara menembus tembok , aku selalu mengajak senyum, tetapi wajah Itin pasti selalu datar dan pucat. Memang ada beberapa karyawan yang disini yang menggosipkan disini ada “penunggu” sehingga pada enggan ke lantai 2 jika masih sepi. Karena aku memilki bakat untuk melihat makhluk yang tidak terlihat , jadi aku sudah terbiasa. Walaupun awalnya ketika mengetahui aku bisa melihat dua dunia, aku cukup stres dan butuh waktu yang cukup lama untuk beradaptasi . Jika Semua Ruangan Divisi sudah diisi para sales, biasanya Itin akan berpindah ke tangga atau ke Tangki penampungan air. Memang rata rata makhlluk astral bentuknya agak unik karena dimensi nya berbeda, mungkin untuk mereka manusia yang masih hiduplah yang bentuknya unik, karena persepsi kacamata dimensi memiliki aturan yang berbeda. Aku tidak pernah bercerita kepada siapapun mengenai kemampuan unikku ini. Waktu muda aku menceritakan kemampuanku ini, ada beberapa reaksi, ada yang kagum, ada yang menganggap penyakit kejiwaan, ada yang menganggap cari perhatian, dan reaksi lainnya yang sudah tidak bisa aku ingat. Kemampuan ini kadang suka membuat fokusku pecah ketika sedang bekerja dilapapangan. Jujur saja performa penjualanku sedang menurun .