Pagi ini cuacanya cukup dingin, Maria masih keluar berjalan kaki. Tiba-tiba ia teringat mimpinya tadi malam ia merasa merinding lagi. Maria terpaksa mengambil rute lain, karena kemarin jalan itu diblokir. Setelah berjalan sebentar, ia melihat seorang wanita bertengkar dengan delapan wanita lainnya. Kedelapan wanita itu kehilangan kesabaran dan bergegas untuk memukul wanita itu. Maria berlari untuk melerai perkelahian itu.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Maria membantu seorang wanita itu. Sedangkan kedelapan wanita lain pergi meninggalkan mereka.
"Kau tak perlu khawatir," jawab wanita itu sambil menggelengkan kepalanya.
"Terima kasih banyak," lanjutnya berterima kasih kepada Maria.
"Tidak apa-apa. Tapi ... kenapa mereka mengeroyokmu?" tanya Maria lagi.
"Tidak baik mengatakannya di sini. Kau mau ikut aku sebentar? Ada kedai kecil di ujung jalan itu," ucap wanita itu sambil menunjuk sebuah bangunan kayu yang atapnya sudah miring.
Maria mengangguk. Mereka berjalan berdampingan, wanita itu berkali-kali menoleh ke belakang seolah takut kedelapan wanita tadi kembali lagi. Kedai itu sepi, hanya ada seorang nenek penjual yang sedang mengipasi tungku. Keduanya duduk di bangku panjang di sudut, jauh dari pintu.
"Namaku Ratih," ucap wanita itu sambil menyeka sudut bibirnya yang berdarah.
"Maria," jawab Maria singkat. Ia menuangkan air dari teko ke gelas dan mendorongnya ke depan wanita itu.
Ratih meminumnya sedikit, tangannya masih gemetar. Umurnya mungkin belum empat puluh tahun, tetapi rambut di pelipisnya sudah banyak yang memutih. Bajunya sobek di bahu, dan di lengannya ada bekas cakaran yang masih baru.
"Mereka tetangga satu gang denganku," ucap Ratih memulai. "Dulu mereka baik. Mereka juga yang membantuku ketika anakku meninggal setahun yang lalu."
"Anakmu meninggal?" tanya Maria.
"Namanya Wulan. Umurnya sepuluh tahun. Dia dianiaya sampai meninggal oleh suamiku sendiri, ayah tirinya," ucap Ratih. Suaranya datar, seperti orang yang sudah terlalu sering mengucapkan kalimat itu sehingga tidak sanggup lagi menangis di tengah-tengahnya.
Maria meletakkan gelasnya. Napasnya tertahan sebentar. Di kepalanya, gambar dari mimpi tadi malam kembali muncul: seorang gadis kecil dengan seragam sekolah yang berlumuran darah, rambut acak-acakan, dan wajah yang berubah bentuk karena dipukuli.
"Apakah anakmu ... memakai seragam sekolah waktu itu?" tanya Maria pelan.
Ratih mengangkat kepalanya cepat-cepat. Matanya melebar dan bibirnya bergetar.
"Dari mana kau tahu? Tidak ada koran yang memberitakannya. Aku tidak pernah bercerita kepada siapa pun kecuali kepada polisi," ucap Ratih.
"Aku hanya menebak," jawab Maria. Ia tidak mungkin mengatakan bahwa ia melihat anak itu semalam, di dalam mimpi yang sebenarnya bukan mimpi.
"Lalu kenapa mereka memukulmu?" tanya Maria lagi, mengalihkan pembicaraan.
Wanita itu diam lama sekali. Nenek penjual di depan tungku berpura-pura sibuk, tetapi telinganya jelas mendengarkan. Ratih menunduk dan menggenggam gelasnya dengan dua tangan.
"Karena aku mencabut laporanku," ucap Ratih akhirnya. "Keluarga suamiku datang membawa uang. Mereka bilang, kalau perkara ini diteruskan, aku juga akan ikut diseret, ibu yang membiarkan anaknya disakiti di rumahnya sendiri. Aku takut. Aku menerima uang itu dan mencabut laporan itu. Suamiku bebas."
"Kau menjual anakmu," ucap Maria dengan suara dingin. Kalimat itu keluar begitu saja sebelum ia sempat menahannya.
"Ya," jawab Ratih tanpa membantah sedikit pun. "Itu juga yang mereka teriakkan tadi. Aku tidak marah kepada mereka."
Maria menarik napas panjang. Ia ingin berdiri dan pergi dari situ, tetapi ada sesuatu yang menahan kakinya di bangku itu.
"Tiga hari yang lalu suamiku ditemukan mati di dekat taman," lanjut Ratih. "Polisi bilang tidak ada luka senjata di tubuhnya. Orang-orang di gang bilang aku yang mengirim sesuatu untuk membunuhnya. Sejak malam itu, listrik di rumah mereka padam bergantian. Anak-anak mereka mengigau dan menyebut nama Wulan. Mereka bilang aku yang membawa celaka ke gang itu, jadi aku harus pergi dari sana."
Maria menegakkan punggungnya. Mayat di dekat taman. Ia dan Marion yang menemukan mayat itu malam itu, dan senter ponselnya berhenti tepat di wajah orang itu.
"Nona!" Suara Iris tiba-tiba bergema di kepala Maria. "Arwah itu bukan hantu biasa. Dia ditahan, bukan gentayangan sendiri. Ada kekuatan besar yang menyimpannya."
"Ditahan oleh siapa?" batin Maria.
"Aku tidak berani menyebutkan namanya di dunia manusia, Nona," jawab Iris.
Maria mengerti. Anak itu sendiri yang mengatakannya semalam, dia masih ada di sini karena Pangeran. Kalau begitu, arwah kecil itu bukan urusan dukun kampung, bukan urusan garam dan azimat, dan jelas bukan urusan polisi.
"Bu Ratih," ucap Maria. "Malam ini jangan tidur sendirian. Nyalakan semua lampu. Kalau kau mendengar suara anak kecil tertawa, jangan menjawab, dan jangan menyebut namanya."
"Kau ... percaya kepadaku?" tanya Ratih heran. Selama setahun ini tidak ada satu orang pun yang percaya, semuanya menganggapnya perempuan gila yang dikejar rasa bersalahnya sendiri.
"Aku percaya," jawab Maria.
Ratih menangis. Kali ini benar-benar menangis, bahunya berguncang dan air matanya jatuh ke atas meja kayu itu. Maria membiarkannya. Nenek penjual di depan tungku menyeka matanya dengan ujung kain.
"Ada satu hal lagi," ucap Ratih setelah tangisnya reda. Ia menoleh ke kiri dan ke kanan, kemudian mencondongkan tubuhnya. "Wulan bukan satu-satunya. Sebelum dia, ada dua anak lagi di gang kami yang meninggal. Orang tua mereka juga menerima uang. Sampai sekarang tidak ada yang berani menyebut-nyebutnya."
Belum sempat Maria menjawab, lampu di langit-langit kedai berkedip. Sekali. Dua kali. Api di tungku nenek itu menunduk seperti ditiup dari bawah, padahal pintu dan jendela sama sekali tidak bergerak.
"Hi ... hi ... hi ... hi ...."
Tawa anak kecil terdengar dari arah pintu. Ratih menjerit dan menjatuhkan gelasnya, pecahannya berhamburan di lantai. Nenek penjual itu mundur sampai punggungnya menempel di dinding. Maria berbalik dengan cepat.
Di ambang pintu ada bayangan kecil, tingginya tidak sampai sepinggang orang dewasa. Bayangan itu berdiri diam, tetapi kepalanya miring ke satu sisi, terlalu miring untuk leher yang masih utuh. Maria melompat berdiri dan berlari ke pintu. Angin dingin menampar wajahnya. Bayangan itu sudah tidak ada di sana.
"Leah!" panggil Maria.
"Aku di sini, Nona," jawab Leah dari belakang punggungnya.
"Kejar dia!" perintah Maria.
"Tidak bisa, Nona," ucap Leah. "Dia tidak berjalan di jalan ini. Dia hanya menampakkan diri di jalan ini."
Maria mengepalkan tangannya. Ia melangkah keluar dan menunduk ke tanah becek di depan kedai. Di sana ada jejak kaki kecil, basah, dengan pola sol sepatu sekolah. Jejak itu berjalan tiga langkah ke arah gang, lalu berhenti begitu saja. Tidak ada langkah keempat.
"Dia melihat kita," ucap Maria pelan. "Bukan dia yang mengikuti Bu Ratih. Dia mengikuti aku."
Maria kembali masuk, memberikan sisa uangnya kepada nenek penjual untuk mengganti gelas yang pecah, kemudian mengantar Ratih sampai ke mulut gang. Wanita itu berkali-kali mengucapkan terima kasih, dan berkali-kali pula Maria menyuruhnya cepat masuk ke rumah.
Dalam perjalanan pulang, langit sudah berubah warna menjadi jingga. Maria berjalan sambil menunduk, kepalanya penuh. Axel masih terbaring dengan kabel di sekujur tubuhnya di rumah sakit, dan tubuh iblisnya entah ada di mana. Marion sendirian di rumah. Ibunya bergantian menjaga di rumah sakit. Dan sekarang ada arwah anak kecil yang menyimpan dendam kepada orang dewasa yang melihat lalu memilih diam.
"Kau dan satu orang lagi melihatku," batin Maria mengulang kalimat anak itu. "Malam itu yang ikut melihat mayat itu adalah Marion."
Kakinya melangkah lebih cepat. Ia hampir berlari ketika sampai di gerbang rumahnya. Lampu teras menyala, pintu terkunci rapi, dan dari dalam terdengar suara televisi. Maria menghela napas lega.
"Kakak? Kenapa pulang bau asap?" teriak Marion dari ruang tengah tanpa menoleh, matanya masih menempel pada layar.
"Diam kau," jawab Maria sambil melempar sandalnya ke arah adiknya. Anak itu tertawa dan menangkap sandal itu dengan wajah puas.
Maria naik ke lantai dua dan masuk ke kamarnya. Ia melepaskan jaketnya, duduk di pinggir ranjang, dan menatap segel milik Axel yang samar di dadanya. Warnanya tidak sepekat kemarin. Maria menyentuhnya dengan ujung jari.
"Iris, kenapa segel ini memudar?" tanya Maria dalam hati.
Iris tidak menjawab. Leah juga diam. Untuk pertama kalinya sejak keduanya mengikuti Maria, kedua iblis penjaga itu sama-sama membisu.
Di luar jendela, angin berhenti bertiup. Udara di dalam kamar mendadak turun beberapa derajat, dan lantai kayu di lorong berderit pelan, seperti diinjak oleh sepasang sepatu.