“Aku bisa merasakannya,” ucap Iris.
“Aku tidak akan menyakiti tuanmu,” ucap Vexy dengan cepat dan diselingi suaranya yang jelas terlihat dalam kepuasan.
“Aku tidak mengatakan aku ingin menyakitinya. Aku hanya ingin kau bekerja sama denganku, bahkan Maria bukan lagi tuanmu, kau tidak perlu khawatir,” ucap Vexy.
Salah satu iblis yang mendengar apa pembicaraan yang ada di dalam, membuatnya emosi. Iris mudah sekali menerima tawaran seperti itu, ia akan bekerja sama dengan Vexy untuk mencelakai tuannya. Leah tidak akan membiarkan itu terjadi, karena emosinya yang memuncak sehingga menyebabkan tanah di sana bergetar. Tubuh mereka berdua yang goyah tidak bisa menahan getaran itu dan gemetar. Leah menatap tajam ke arah Iris.
“Kau tidak boleh bekerja sama dengannya, dia ingin menyakiti tuanmu, dan sesudah tuanmu habis, kau yang akan dibuangnya," ucap Leah.
Vexy berbalik dengan santai. Gaun merah gelapnya bergerak lambat, seperti air yang tidak mau tumpah. Ia menatap Leah dari ujung kaki sampai ke ujung kepala, kemudian tertawa kecil.
"Kau yang pernah masuk ke tubuh sopir truk itu, ya?" tanya Vexy. "Iblis rendahan yang menumpang tubuh manusia. Berani sekali kau menggetarkan tanah di halaman Tuan Haww."
"Aku memang rendahan," jawab Leah. "Tetapi aku tidak pernah menjual tuanku."
Getaran tanah berhenti. Bukan karena Leah menahan diri, melainkan karena Vexy mengangkat satu jarinya dan menekan udara di sekitar mereka. Tubuh Leah langsung tertarik ke bawah, lututnya menghantam tanah hitam, dan napasnya tersendat.
"Dengarkan aku baik-baik, kalian berdua," ucap Vexy sambil berjalan mengitari keduanya. "Segel di dada wanita itu sudah hampir hilang. Kalian tahu artinya, kan? Begitu segel itu lepas, kalian bukan lagi iblis penjaga siapa pun. Kalian bebas. Kalian bisa kembali ke sini dan naik derajat, bukan mengekor ke sana kemari di dunia manusia sambil dipanggil dengan nama-nama yang dikarang seenaknya oleh gadis itu."
Iris tidak menjawab. Tetapi ia juga tidak melangkah mundur, dan Leah melihat itu.
"Malam ini mereka akan membuka segel itu," lanjut Vexy. "Semua luka yang selama ini ditanggung Putra Mahkota akan kembali kepada pemiliknya. Yang aku minta cuma satu, jangan ada yang tertinggal di tubuh Yang Mulia. Sedikit pun jangan. Kalian berdua yang paling dekat dengan wanita itu, kalian yang paling mudah melakukannya."
"Itu akan membunuh Nona," ucap Leah dari bawah, giginya terkatup rapat.
"Dia memang akan mati, dengan atau tanpa aku," jawab Vexy dengan tenang. "Bedanya, kalau aku ikut campur, Yang Mulia hidup. Kalau kalian menghalangiku, dua-duanya mati. Aku hanya sedang menyelamatkan Putra Mahkota, dan kalian menyebutnya kejahatan."
"Kau tidak sedang menyelamatkan siapa-siapa," ucap Leah. "Kau hanya tidak sanggup melihat dia memilih manusia."
Wajah cantik Vexy berhenti tersenyum. Percikan api muncul di matanya, sama seperti malam ketika ia berdiri di luar kamar Axel dan mendengar semuanya. Ia menunduk, mendekatkan wajahnya ke wajah Leah, dan berbisik.
"Kalau kau mengatakan itu sekali lagi, aku akan mengeringkanmu di halaman ini, lalu tidak akan ada yang bertanya ke mana perginya seekor iblis penumpang," ucap Vexy.
Tekanan di punggung Leah dilepaskan. Vexy menegakkan tubuhnya, merapikan lengan gaunnya, kemudian melangkah pergi ke arah pilar tempat ia datang tadi. Sebelum menghilang, ia menoleh sekali kepada Iris.
"Pikirkan tawaranku. Aku tidak menunggu lama," ucap Vexy.
Halaman itu kembali sunyi. Leah bangkit sambil memegangi dadanya. Di tempat jarinya menekan tadi, ada bekas hitam yang terasa panas dan dingin pada saat yang sama. Iblis kelas atas memang tidak perlu bertarung untuk melukai, cukup menekan udara saja. Leah menatap Iris, dan Iris menatap tanah.
"Kau diam saja dari tadi," ucap Leah.
"Aku sedang memikirkan sesuatu," jawab Iris.
"Memikirkan apa?" tanya Leah dengan suara meninggi.
"Memikirkan bahwa perempuan itu benar tentang satu hal," ucap Iris pelan. "Segel itu memang hampir hilang. Dan waktu Nona bertanya kepadaku sore tadi, kenapa segel itu memudar, aku tidak menjawab. Aku tidak berani. Itu pertama kalinya aku menyembunyikan sesuatu darinya."
Leah membuka mulutnya, tetapi tidak jadi berbicara. Ia sendiri juga diam waktu itu.
***
Di lantai atas mansion, kamar itu diterangi lampu biru yang tidak berapi. Axel terbaring di ranjang hitam, wajahnya pucat sampai ke bibir, dan rambutnya yang biasanya hitam legam sekarang berwarna kemerahan di ujung-ujungnya. Napasnya pendek-pendek. Maria berlutut di sisi ranjang dan menggenggam tangan suaminya, yang terasa dingin seperti besi yang ditinggalkan semalaman di luar.
Mata Axel terbuka sedikit. Butuh beberapa detik sampai ia benar-benar mengenali siapa yang ada di depannya, dan begitu mengenalinya, ia langsung mencari sesuatu dengan pandangannya.
"Haww," ucap Axel dengan suara serak. "Kau membawanya ke sini."
"Ya," jawab Haww yang berdiri di dekat pintu, sama sekali tidak berusaha membela diri.
"Aku akan membunuhmu," ucap Axel.
"Silakan, kalau kau sudah bisa duduk," jawab Haww.
Maria mengangkat tangan Axel dan menempelkannya di pipinya sendiri.
"Buka segelnya," ucap Maria.
"Tidak," jawab Axel cepat, terlalu cepat untuk orang yang sedang sekarat.
"Axel, dengarkan aku," ucap Maria. "Kau menanggung tabrakan itu untukku. Kau menanggung jatuh dari mobil itu untukku. Aku tidak minta, kau memberikannya sendiri. Sekarang aku yang minta, kembalikan semuanya kepadaku."
"Kau akan mati," ucap Axel.
"Kau juga," jawab Maria.
"Aku iblis," ucap Axel.
"Dan aku istri iblis," jawab Maria. "Kalau kau mati, apa yang harus aku katakan kepada Ibu? Bahwa menantunya meninggal karena menahan sakit yang seharusnya milikku, dan aku duduk manis menonton dari kursi rumah sakit?"
Axel menutup matanya. Sudut bibirnya bergerak sedikit, mungkin hendak tersenyum, mungkin hanya menahan sakit.
"Kau selalu begini sejak malam pertama di hutan itu," ucap Axel. "Tidak ada yang bisa menghentikan keputusanmu."
"Sekarang kau baru sadar?" tanya Maria.
Wanita itu menunduk dan mencium punggung tangan suaminya. Di kepalanya berputar gambar yang sama sekali tidak cocok dengan ruangan sedingin ini, yaitu Marion yang duduk di sofa dengan kaki di atas meja, ibunya yang membawakan bekal ke rumah sakit, dan pesona kecil yang ia selipkan ke tangan adiknya beberapa jam yang lalu. Semua itu masih ada karena pria yang terbaring di depannya ini menahan sakit yang seharusnya sudah menghabisi Maria berkali-kali.
"Kalau nanti aku tidak bangun lagi," ucap Maria, "jaga Marion. Anak itu berisik, tetapi dia sayang kepadamu."
"Kau tidak akan mati," ucap Axel dengan suara yang hampir habis. "Aku tidak mengizinkannya."
Haww melangkah maju dan berhenti di kaki ranjang.
"Putra Mahkota, ada hal lain yang harus kau dengar," ucap Haww. "Arwah yang kau tahan sudah mulai lepas. Anak perempuan dari gang itu sudah membunuh satu orang di dunia manusia, dan dia mendatangi istrimu."
Mata Axel langsung terbuka. Warna merah menjalar cepat di irisnya, kemudian meredup lagi karena tubuhnya tidak sanggup menahan perubahan itu.
"Berapa yang lepas?" tanya Axel.
"Baru satu yang aku pastikan," jawab Haww. "Tetapi kalau kau habis malam ini, semuanya lepas sekaligus. Ada ratusan, dan mereka semua mati dengan dendam. Kota tempat keluarga istrimu tinggal akan menjadi kuburan dalam satu malam."
Ruangan itu hening. Angin dari luar menggeser tirai hitam di jendela.
"Anak itu bukan roh jahat," ucap Maria pelan. "Aku melihat matanya. Dia hanya ingin ada yang mengakui bahwa dia pernah ada. Kalau kau bangun, dia bisa ditahan lagi. Kalau kau mati, dia akan menjadi seperti pengantin di gedung itu."
Axel menatap istrinya lama sekali. Kemudian ia menghela napas, dan napas itu terdengar seperti sesuatu yang pecah pelan-pelan di dalam dadanya.
"Haww," ucap Axel akhirnya. "Siapkan ruang segel."
"Baik," jawab Haww sambil membungkuk. "Aku butuh waktu sampai bulan berada tepat di atas menara. Segel ini bukan tali yang bisa dipotong sembarangan, salah sedikit, dua-duanya habis."
Haww keluar dari kamar. Di lorong, ia berpapasan dengan dua bayangan yang berdiri menunggu di ujung tangga. Leah masih memegangi dadanya, sedangkan Iris berdiri tegak dengan wajah yang sulit dibaca.
"Tuan Haww," ucap Iris tiba-tiba. "Waktu segel itu dibuka, harus ada yang memegang ujungnya dari sisi Nona, kan? Biar aku yang memegangnya."
Haww berhenti melangkah. Ia menoleh sebentar kepada iblis kecil itu, lalu mengangguk.
"Baiklah. Kau yang memegang," ucap Haww, kemudian ia melanjutkan langkahnya menuruni tangga.
Leah tidak bergerak dari tempatnya. Matanya menempel pada punggung Iris, dan untuk pertama kalinya sejak mereka berdua mengikuti wanita manusia itu, Leah tidak yakin siapa yang sedang berdiri di sampingnya.